[Writing Prompt] Lara yang Memangkas Jarak

c3ac89178318a63b6b48c24642bb9bb5296978e2_hq

Based on prompt: Loker paling ujung

.

© 2016 namtaegenic | picture credit: Anime Amino

.

Selamat sore, Konno.

.

Satu fakta baru tak terbantahkan dari teman-teman sekelasku, adalah bahwa mereka ternyata sangat peduli pada yang telah pergi.

Konno Tomomi meninggal dunia minggu lalu, ditabrak truk pengangkut skafolding di persimpangan Hanakotori, tak jauh dari SMA Wakabayashi, sekolah kami. Tidak ada yang menyangka Konno Tomomi akan pergi begitu cepat, tepat saat kegiatan belajar-mengajar hari Senin itu berakhir, tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa memberikan tanda apa pun.

Melewati masa berkabung, hari ini kami semua berada di depan loker paling ujung dari deretan paling akhir di dekat gudang—loker Konno Tomomi. Sembilan dari empat puluh penghuni kelas 2-1 meluangkan satu menit atau dua dengan mengatupkan kedua tangan ke bawah dan memejamkan mata. Beberapanya kulihat menangis.

Selaku ketua kelas, Saotome Wakana maju lebih dulu. Gadis itu meletakkan sebuket bunga shiragiku[1] segar ke dalam loker, lalu mundur selangkah.

“Selamat sore, Konno. Maaf, kami baru menghampiri tempat ini ketika semua kelas dan klub sudah berakhir, karena kami pikir, penghormatan ini bersifat pribadi,” begitu kudengar kalimat pembukanya. Saotome berdeham sebentar, kemudian melanjutkan. “Ada yang ingin kami sampaikan.”

Terdapat tiga detik jeda yang mengambang, memenuhi udara duka di sekitar loker. Lantas Saotome maju lagi.

“Aku mewakili seluruh teman sekelas, minta maaf padamu, apabila kami pernah melakukan hal-hal yang tidak berkenan dan bahkan melukai perasaanmu. Maafkan kami, Konno. Semoga kamu beristirahat dalam damai di sana.” Saotome mengakhiri permohonan maaf singkatnya dengan anggukan khidmat. Ia terkenal sebagai ketua kelas yang tegas dan kaku, memang. Tapi sikapnya kali ini cukup membuatku kagum.

Kobayashi Umika menggantikan posisi Saotome selanjutnya. Gadis manis berponi rata itu memasang ekspresi seperti sedang mengukur kedalaman loker. Lalu akhirnya ia mengangguk.

“Selamat sore, Konno. Aku di sini. Semoga apa yang terjadi tidak membuatmu melupakan kami.” Kobayashi menghela napas berat.

“Banyak yang ingin kubicarakan padamu, Konno. Tidak tahu kenapa semua hal ini harus tertunda hingga akhirnya kamu meninggalkan kami.” Dehaman kedua dari acara ini yang kudengar, lantas kulihat ia mengutak-atik kutikulanya.

“Untuk dua atau tiga kali kamu terkunci di toilet, itu…aku hanya iseng melakukannya.” Usai meloloskan pengakuan tersebut, Kobayashi lantas menunduk, membuat deretan poni itu mendominasi figur sampingnya. Lantas kudengar isakan halus. “Berani sumpah aku cuma iseng melakukannya. Kupikir mengasyikkan sekali melihat yang lainnya mengerjai dan menjulukimu Cicak Toilet. Aku jadi penasaran…”

Aku jadi kasihan. Inginnya sih, kurangkul Kobayashi, tapi apa gunanya jika kulakukan hal itu?

Seraya menghapus air matanya, Kobayashi mundur beberapa langkah, digantikan oleh lima orang gadis sekaligus. Yang ikal di antaranya bertukar tatap dengan yang lain. Ia yang paling jelita, omong-omong. Namanya Ayanokoji Maya. Sampai seminggu yang lalu ia masih seorang gadis pongah berjuta tingkah. Begitu pula keempat bayangannya—Sato, Inoue, Inaba, dan Yoshida. Konno Tomomi-lah salah satu bulan-bulannya.

“Jadi, Konno. Kami semua minta maaf padamu. Kami memang kurang kerjaan, sampai-sampai mencari kegiatan lain dengan mengerjaimu. Tapi hei, kamu membosankan, sih. Kami kan, jadi gemas pada—“

Dehaman ketiga terdengar dari arah Saotome. Ayanokoji menoleh ke arahnya dan mendapatkan lirikan tajam dari si ketua kelas.

“Baiklah.” Gadis itu mengulang kembali pidato dukanya yang lebih terdengar asal-asalan dan menjengkelkan. “Secara pribadi, aku minta maaf atas segala yang pernah kulakukan padamu. Tapi sungguh, kekhilafan menarikku hingga tenggelam. Mengerjaimu tidak lantas membahagiakanku. Itu hanya membuatku ketagihan untuk mengulanginya lagi. Jadi, aku—kami—mohon maaf yang sebesar-besarnya darimu. Semoga kamu tenang di sana.” Ayanokoji mengangguk santun pada loker kosong. Agak menggelikan juga, mengingat selama ini ia dikenal sebagai pribadi yang oportunis dan menyebalkan.

Embusan angin lembut sore itu menyapa kulit kami. Atmosfer yang membuat trenyuh kian merebak, kemudian Takahashi Masaya maju. Akhirnya. Akhirnya pemuda itu mengambil giliran juga. Aku penasaran setengah mati apa yang membuatnya bergabung dalam kelompok minta maaf ini.

“Halo, Tomomi. Ini aku, Masaya. Kini giliranku minta maaf.” Ia membersihkan tenggorokannya sebentar. “Ini mungkin akan menjadi permohonan maaf yang paling panjang yang pernah aku loloskan.”

Baik…lah?

“Mungkin kamu pernah berpikir, kenapa selama tiga tahun ini, kamu selalu ditempatkan, atau dipindahkan ke loker paling ujung di deretan loker paling akhir.”

Aku mengangkat alis. Kalau dipikir-pikir benar juga. Loker paling ujung di deretan loker paling akhir di dekat gudang ini selalu menjadi milik Konno Tomomi sepanjang tahun dan tahun-tahun berikutnya.

“Itu kesepakatan terselubung kami demi mempecundangimu. Awalnya kami hanya iseng. Tapi pihak sekolah tak pernah keberatan apabila para muridnya hendak bertukar loker. Dan kamu pun…” Masaya tersenyum pahit. “Kamu pun tidak keberatan.” Masaya menoleh ke belakang, ke arah Ayanokoji dan gengnya, lalu ke arah Saotome, minta dukungan moral, tampaknya. Maka, setelah dapat anggukan suportif dari ketua kelas, Masaya kembali menatap loker kosong mendiang Konno Tomomi.

“Kupikir kamu serapuh itu. Ternyata tidak. Ada yang mencuri perhatianku, ketika kamu memberikan bento[2] buatanmu sendiri padaku. Telur goreng dan onigiri[3] buatanmu enak sekali. Sambil menikmati bento itu, aku membayangkan kamu bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan bekal makan siang untukmu dan aku. Kamu berhasil membuatku memandangmu dari sisi lain.”

Wah, pengakuan cinta, toh.

“Aku pikir aku menyukaimu, Tomomi. Jadi waktu kamu menyatakan perasaanmu, kuterima langsung tanpa berpikir dua kali.”

Kulihat Ayanokoji dan kelompoknya saling pandang, kelimanya membelalak, tidak menyangka bahwa Masaya sempat punya romansa masa lalu dengan Konno Tomomi. Kujamin hal ini akan jadi bahan pembicaraan kelimanya selama sebulan penuh tanpa alot.

“Tadinya aku berniat mengakhiri permainan loker paling ujung ini dan menempatkan lokermu di dekat lokerku, Tomomi. Tapi yang lain tidak sependapat. Mengerjaimu seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Lagi pula, ditempatkan di loker paling ujung tak pernah terlihat sebagai masalah besar buatmu, begitu pikir kami.”

Masaya berhenti sebentar, menghela napas berat. Tanpa disangka-sangka, tangannya meraih tangan gadis di belakangnya. Peserta acara minta maaf terakhir, Sakuragi Kazumi. Diam-diam kuperhatikan tautan jemari mereka. Aku mengendus hawa tidak menyenangkan dari pemandangan itu, tepat ketika Inaba, salah satu dari geng Ayanokoji, menyenandungkan ‘O-oh la la~’.

Baru saja Masaya hendak buka mulut lagi, Sakuragi Kazumi menangis tersedu-sedu. Tampak tak sabar, ia menyentuhkan jemarinya ke loker Konno Tomomi.

“Aku selalu berpikir bahwa kamu tidak pantas bersama Masaya, tahu tidak? Jadi kurebut pacarmu ini! Aku bahkan tidak menyukainya sedikit pun! Aku hanya kesal padamu, tahu tidak? Tahu tidak? Tahu tidak?“

Masaya menarik Kazumi ke pelukannya. Membiarkan gadis itu membasahi seragamnya dengan air mata penyesalan.

Aku menghela napas. Kasihan juga Masaya dan Sakuragi.

Kami membiarkan angin sepoi-sepoi membelai kami sekali lagi. Konno Tomomi mungkin akan selalu dikenang, karena kulihat Saotome sudah menempelkan badge putih bertuliskan nama Konno Tomomi, ke bagian atas loker, kemudian menutup pintunya. Kata Saotome, badge itu baru boleh dilepas, ketika kami semua sudah lulus.

Kemudian tatapan mereka beralih ke arahku. Sejenak tak ada yang bicara. Baru pada sekon ketiga, mereka berkedip dan satu persatu meninggalkan loker setelah ucapan selamat tinggal.

Kini giliranku mendekati loker Konno Tomomi. Loker yang menyimpan nyaris tiga tahun sejarah si empunya nama itu kini tak ubahnya hanyalah bilik penyimpanan biasa. Namun kuakui bahwa aku cukup terkesan dengan semua pengungkapan yang baru saja kudengar.

Siapa yang menyangka, bahwa ketika aku pergi, akan ada beberapa pengakuan yang terlontar untukku. Bukannya aku tidak menyadari bahwa aku dipecundangi semasa hidup, maksudku, aku bisa menerima semua perlakuan itu. Lagi pula, mereka tidak pernah melukaiku secara fisik dan mental. Alih-alih penggencetan, itu hanya perbuatan iseng. Dan aku berlapang dada jadi objek keisengan mereka.

Namun ketika Masaya mengusulkan hal ini pada Saotome, aku jadi mengekori mereka. Ingin tahu apa yang mereka lakukan di depan lokerku yang letaknya paling ujung (tak perlu kujelaskan lagi seberapa ujung mereka menempatkanku). Oh, pengakuan mereka membuatku trenyuh. Saotome sampai terpaku tak percaya memandangi teman-teman kelas 2-1 satu persatu. Ia terlalu kaku dan serius sampai-sampai tidak menyadari kelakuan teman-teman sekelasnya. Yah, setidaknya sekarang ia paham. Kuharap lain kali Saotome bisa lebih peduli dengan sekitarnya.

Aku cukup terkejut mendengar pengakuan Kobayashi. Ia termasuk kaum yang bersikap baik padaku di kelas. Kobayashi membantuku dalam banyak hal. Aku tidak menyangka bahwa ia akhirnya tergelitik juga melakukan hal yang sama. Dasar tidak ada kerjaan. Tapi aku tetap menyayanginya. Ia pada dasarnya baik hati.

Ayanokoji memang pendengki. Tapi siapa pun tahu ia tertekan oleh tuntutan keluarganya. Ayanokoji itu putri tunggal dari pemilik Ayanokoji, Inc., dan jelas saja ayahnya berharap ia yang meneruskan usaha keluarga. Melalui Inaba yang tidak pernah bisa menjaga rahasia, kami jadi tahu bahwa Ayanokoji sudah terikat perjodohan dini dan diperintahkan untuk mempelajari materi-materi sebagai pembekalan masa depannya di perusahaan kelak.

Omong-omong, sekarang kalian tahu kenapa aku memanggil Masaya dengan ‘Masaya’ alih-alih ‘Tahahashi’ dan begitu pula sebaliknya. Karena ia pacarku. Yah, barangkali juga ia pacar Sakuragi, tapi tetap saja. Aku tidak tahu harus bilang apa mendengar pengakuannya. Tapi yah, kebenaran yang pahit lebih menyenangkan dari pada kebohongan yang manis. Lagi pula, aku sudah cukup kasihan dengan mereka berdua.

Kuhela napasku.

Kurasa aku tak bisa lama-lama di sini. Semua sudah selesai. Aku sudah selesai. Urusanku sudah selesai. Aku bisa pergi dengan tenang. Kulirik sekali lagi namaku yang ditempelkan Saotome di atas bingkai loker. Senyumku terkembang.

Aku memaafkan mereka semua.

.

| FIN.

Keterangan:

[1] Bunga shiragiku atau White Chrysanthemum di Jepang bermakna ‘kebenaran’ atau ‘dukacita’. Terima kasih pada Putri aka La Princesa yang sudah mem-beta nama bunganya (soalnya semula saya tulis bakung dan baru tahu dari Putri mengenai bunga khusus dukacita). Informasi bahasa bunga juga didapat dari Japanese Station

[2] bento = istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik. [sumber: Wikipedia]

[3] onigiri = (bahasa Indonesia: nasi kepal) adalah nama Jepang untuk makanan berupa nasi yang dipadatkan sewaktu masih hangat sehingga berbentuk segitiga, bulat, atau seperti karung beras. Dikenal juga dengan nama lain omusubi, istilah yang kabarnya dulu digunakan kalangan wanita di istana kaisar untuk menyebut onigiri. Onigiri dimakan dengan tangan, tidak memakai sumpit. [sumber: Wikipedia]

[4] orang Jepang biasanya memanggil satu sama lain menggunakan nama keluarga apabila belum akrab. Lain halnya jika sudah akrab, mereka akan saling memanggil dengan nama depan, seperti Masaya dan Tomomi. Kalau saya baca di komik sih, tidak menutup kemungkinan juga mereka masih memanggil dengan nama keluarga meskipun sudah jadian.

[5] Bagi yang bertanya-tanya kenapa saya menuliskan ‘mereka menatap ke arahku’ padahal si aku ini sudah meninggal, jangan bingung. Itu ditujukan hanya untuk menambah kesan pada ending. Nggak seru aja sih kalo ketebak sebelum ending hahaha (meskipun mungkin kalian sudah nebak).

Advertisements

11 thoughts on “[Writing Prompt] Lara yang Memangkas Jarak

  1. haiii kak echi 😀

    di awal2 ngga kepikiran kalau tokoh ‘aku’ ini tomomi, terus di tengah agak berubah pikiran, terus pas baca ‘pandangan mereka mengarah padaku’ eh, ragu lagi. dangg dangg ternyata emang bener tomomi 😀

    aku susah bedain itu nama laki2 atau perempuan kak. huhu maklum, ngga begitu paham jepang. indo aja kadang salah tebak. hehe tapi dari pendiskripsiannya bisa lumayan paham 🙂

    nyatanya semua orang punya alasannya masing2 yaa dalam melakukan sesuatu. huh, intinya sih aku terenyuh sama cerita ini. suka suka suka :3

    Like

    1. Hai, Ani ^^ gapapa kok di Jepang sama Korea itu kadang ada nama yang kita kira nama laki ternyata nama perempuan. aku juga suka keliru-keliru gitu.
      Semua orang punya alasan. tergantung alasannya bisa diterima atau enggak kali ya. hehehe. makasih Ani sudah mampir ^^

      Like

  2. waaah kaeciiiiiii x) asli lah gak ketebak dari awal kalo si aku ini ternyata tomomi. aku kira si aku ini simple as tomomi’s classmate, maybe one among them yg deket sama tomomi, terus dia nyeritain sore di mana anak kelas 2-1 itu minta maaf ke tomomi eh taunyaaaaaa xD aku suka kaaak. gaya jepangnya kerasa meski ini diceritain pake bahasa indonesia. bahkan di kepala aku yg kegambar di kepala tuh malah tokoh animeee hahaha maafkan kak aku kebanyakan nonton anime kayaknyaaa xD dan aku sukaaaa nama namanya hihi. backsoundnya jugaa :”
    yosh! keep writing yah kaeciiii ehehe

    Like

    1. beksonnya dede-dede eikebi fiiikkk haha. aku suka banget lagu ini meskipun lagunya sebenernya ga nyambung sama plot sih (kalo diliat dari liriknya sih ini kayaknya lagu yang penuh optimisme ala2 friendship ya kurang mendalami juga akunya)
      loh malah bagus kalo tergambar tokoh anime (kalo aku tokoh dorama sih ehehe) biar lebih lekat ya fik.
      makasih fika sudah mampir ^^

      Like

  3. Kaeciii awawawawa terima kasih untuk deskripsinya, Titan bisa dengan jelas membayangkan apa yang terjadi di cerita ini ❤ ❤

    Dan hell, di tengah cerita Titan uda nebak-nebak jangan-jangan tokoh aku ini Tomomi, dan yeaah, ada kesenangan tersendiri saat Titan sampai di akhir cerita dan tebakan Titan benar '-')9

    Uda lama banget Titan ngga baca cerita yang mengambil tema jejepangan pake Bahasa Indonesia. Ini seperti siraman vocab hahah ❤

    Titan sukaaa ❤ ❤

    Like

    1. Titaaannn wawawa walah siraman vocab hahaha aku juga ini masih ngewikipedia sih (kalo jenis bunga itu dikasih tau putri hehehe)
      thankiss a lot, Titan ^^

      Like

  4. tadinya malah mau pake setting sekolah militer di west point put yang kadet-kadet itu. tapi ga jadi (itulah yang kuganti plotnya jadi ini). iya ya, kenapa aku ga pake setting lokal aja?
    oke setelah tiga titik trus spasi dulu ya, sip.
    makasih putri ^^

    Like

  5. kaeciiiii, maaf baru bisa muncul dan komentar sekaraaaaanggg

    i have to say, awalnya kukira konno tomomi itu nama cowok, huehuehue, tapi ternyata cewek toh. terus aku suka banget masa sama karakterisasinya konno tomomi ini, apalagi line terakhirnya yang menegaskan: aku memaafkan mereka semua. sepertinya enak temenan sama dia, hehe.

    terus selama baca ini masa suasana yang aku dapet lebih ke friendship-nya dibanding angst-nya. soalnya apa ya… menghangatkan gitu. entah kenapa dibanding sedihnya, aku malah dapet hangatnya baca ini. kental banget pertemanannya lah.

    dan aku mau nanya, kak, ehehe, ini emang japanese culture gitu ya kalau ada yang meninggal terus di loker…. atau memang cuma plot. soalnya kalau memang cuma plot, cara kak eci nyampeinnya tuh kayak culture beneran. aku suka banget!

    semangat terus yaa, kak eci, maaf cuma bisa komentar pendek! ❤ ❤

    Like

    1. halo evin ^^ setau aku di sekolah jepang kalo di komik-komik itu, kalau ada murid yang meninggal, itu di mejanya ditaruh kembang gitu deh, kalo di loker aku gatau, di sini cuma plot aja. hehehe. iya vin aku menikmati nulis school life yang pake detil friendship.
      makasih, evin ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s