Capital Beauties

signature

warning: PG-17 for mature theme. I don’t encourage underages to read this fic, a broad mind is needed to understand this from other perspectives, written not to offense any party(s).

Hari ini aku gajian.

.

Ada seorang pelanggan yang menyewaku; setengah baya, berumur sekitar lima puluh tahunan, rambut kering dicat pirang keemasan, kulit keriput yang ditutup oleh kamuflase riasan setebal badut. Kalangan borjuis, kutebak. Membawa uang sekoper, dengan perhiasan serenteng yang melingkari leher dan jari-jarinya yang gemuk karena lemak.

Wanita-wanita kesepian yang tak terpuaskan oleh suami mereka. Tak jarang juga tua-tua keladi yang tak sadar umur mereka. Mungkin karena suami mereka sudah punya pelampiasan lain—gadis-gadis ranum yang mengandalkan wajah dan kemolekan tubuh untuk memenuhi isi kantong. Atau mungkin karena istri mereka yang tak lagi memenuhi ekspektasi. Untuk apa pulang dan mendapati wanita gendut di rumah jika ada banyak yang lebih muda di luar sana? Iming-imingi mereka dengan beberapa ribu dollar, mereka tak akan segan memamerkan tubuhnya.

Apa pun alasannya, aku tak peduli. Toh peranku di sini sebagai pengganti. Aku dibayar untuk mengejar kenikmatan duniawi. Semakin banyak yang datang padaku, semakin terkenal aku, semakin banyak uang yang masuk ke kantongku.

Hari ini aku gajian, dari hasil menjual diri. Ada seorang pelanggan setengah baya yang menyewaku—berambut pirang keemasan, kulit keriput, riasan setebal badut dan perhiasan serenteng. Ia memberiku uang sekoper sebagai ganti kenikmatan yang kuberikan semalaman.

Hari ini aku gajian, hari ini aku dapat uang. Uangnya kugunakan untuk mengurus enam saudaraku di rumah.

.

Saudaraku yang pertama adalah Lemon, si Gula.

Ia anak yang baik. Tak banyak bicara, pintar, disayang dan menyayangi saudara-saudara yang lain. Hanya, ia makan terlalu banyak.

Lemon selalu menjadi yang pertama meminta sarapan, yang pertama meminta makan siang dan yang pertama meminta makan malam. Ia juga yang pertama menghabiskan makanannya—bahkan aku dan saudara-saudaraku yang lain baru setengah jalan. Lemon selalu merasa lapar, ia tak mengenal kenyang. Ia bahkan sering mengambil jatah makan Crystalline.

Lemon berpipi bulat gembil seperti bakpau karena ia doyan sekali makan. Makanan pedas adalah favoritnya, setelahnya ia akan mengudap makanan manis. Ia akan makan jika ia merasa sedih, atau saat ia merasa senang, atau ketika ia sedang tak punya kerjaan.

Lemon, si Gula.

.

Saudaraku yang kedua adalah Buttercup, si Avaritia.

Ia anak yang cerewet. Pandai menyanyi, supel, sering menolong saudara-saudara yang butuh bantuan. Hanya, ia haus pujian.

Buttercup selalu mengharapkan pujian kapan pun ia melakukan sesuatu. Setelah membantu Crystalline mengerjakan pekerjaan rumah, setelah memberi Lemon sebagian jatah makannya, setelah memperdengarkan nyanyiannya yang merdu. Jika lupa, rengekannya akan terdengar memenuhi rumah sampai ia mendapatkan pujiannya.

Buttercup senang memakai pakaian yang punya banyak kantong untuk menyimpan barang-barang yang ia punya. Ia tak suka jika ada saudaranya yang lain menyentuh kepunyaannya. Apa yang saudara lain miliki, ia juga harus miliki—dalam jumlah yang lebih banyak. Buttercup bahkan tak segan mencuri jika ia tak bisa mendapatkannya.

Buttercup, si Avaritia.

.

Saudaraku yang ketiga adalah Crystalline, si Acedia.

Ia anak yang manis. Pendiam, tak membuat banyak masalah, yang paling sering mengalah pada saudara-saudara yang lain. Hanya, ia seorang pemalas.

Crystalline tak punya banyak teman di sekolah. Di rumah pun, ia tak banyak bermain dengan saudaranya yang lain. Jika ada yang mendekatinya, ia akan menjauh. Ia jarang tersenyum, ia jarang mengerjakan pekerjaan rumah yang kuberikan. Tugas sekolahnya pun seringnya Buttercup yang menyelesaikan.

Crystalline lebih suka duduk diam sendirian, atau malah tidur. Kamarnya adalah tempat favoritnya. Tak ada yang tahu apa yang ia kerjakan, ia seperti punya dunia sendiri yang lekat sekali dengan dirinya sehingga ia jadi malas mengerjakan hal-hal lain.

Crystalline, si Acedia.

.

Saudaraku yang keempat adalah Petunia, si Ira.

Ia punya dua kepribadian. Jika sedang A, maka ia adalah anak yang gembira. Ia punya seribu satu gurauan untuk membuat saudara-saudara yang lain terhibur. Hanya, jika ia sedang B, maka ia adalah sebaliknya.

Petunia adalah adikku yang tertawa paling lantang, tapi ia juga yang ledakan kemarahannya paling hebat. Jika Petunia B sedang muncul, tak ada yang berani mendekat. Ia pernah menampar Lemon saat berusaha mencuri jatah makannya. Atau menghancurkan vas bunga di ruang tamu karena Lily tak sengaja merusak susunan legonya.

Petunia akan marah jika ada seseorang yang membencinya. Kemarahannya mengerikan, lalu ia akan membenci mereka yang berani membencinya. Kebencian Petunia terhadap mereka akan jauh lebih besar dibanding kebencian mereka terhadap Petunia.

Petunia, si Ira.

.

Saudaraku yang kelima adalah Marigold, si Invidia.

Ia anak yang ramah. Mudah bergaul, punya banyak teman, juga punya kepintaran di atas rata-rata yang menjadikannya memiliki banyak ketrampilan. Hanya, ia selalu iri.

Marigold iri pada Buttercup yang—katanya—suaranya lebih merdu dibanding suaranya. Ia iri pada Petunia yang pintar memainkan berbagai jenis alat musik. Ia iri pada Lily yang paling elok. Ia iri pada Lemon, adikku yang paling tua, jadi ia bisa bebas menyuruh-nyuruh saudara-saudara yang lain. Ia iri pada Crystalline, adikku yang paling muda, jadi ia selalu dimanja. Dan ia iri padaku, yang—katanya—punya banyak uang.

Marigold tak peduli dengan apa yang telah ia miliki, ia akan selalu menginginkan milik orang lain. Ia sering lupa menghargai dirinya, bahwa ia punya banyak ketrampilan yang tak dimiliki adik-adikku yang lain. Tapi Marigold terlanjur dibutakan oleh iri itu tadi. Ia tak akan puas sampai ia memiliki apa yang orang lain miliki. Dan ia juga masih belum puas.

Marigold, si Invidia.

.

Saudaraku yang terakhir adalah Lily, si Superbia.

Ia yang paling elok. Pandai menari, memikat, punya banyak penggemar di sekolahnya—baik karena tariannya atau karena keelokannya. Hanya, ia selalu membuat masalah.

Lily tak pernah bermaksud membuat masalah. Ia tak sengaja merusak susunan lego milik Petunia. Ia tak sengaja memecahkan piring favorit Buttercup. Ia tak sengaja menghabiskan pancake yang sudah dipesan Lemon. Tapi Lily tak pernah mau meminta maaf.

Lily tak pernah merasa punya salah. Tak sengaja melakukan dan sengaja melakukan punya batas yang sangat kasat di kamus nalar Lily. Aku tak pernah tahu apakah ia hanya bersembunyi di balik alasan ‘tak sengaja’ karena belum selesai masalah satu, ia sudah membuat yang baru. Lily si egois, ia menganggap dirinya yang paling benar. Dengan semua pujian yang selalu ia terima dari penggemarnya justru membuat harga dirinya semakin bengkak.

Lily, si Superbia.

.

Dan aku? Aku adalah Jasmine, si Luxuria.

Aku tak bisa mengontrol diriku untuk terus mengejar kepuasan duniawi—uang, ketenaran, birahi. Sebagian orang menganggapku hina. Pekerjaanku tak bedanya dari pelayan bagi para budak seksual. Tapi aku tak peduli. Mereka tak mengerti. Uang, ketenaran dan birahi punya peran besar di sini.

Aku Jasmine, si Luxuria.

.

-end

.

  1. ada yang bisa nebak ini cerita berkisah tentang apa? penjelasan lengkapnya silakan ditemukan di Flower 101 (warning: MAJOR SPOILER, silakan dibaca setelah menamatkan orific ini).
  2. again, sorry for its mature and maybe controversial topic. posted with full permission from Q, but I’m in charge of all responsibilities. thanks for reading, tho. masukan diapresiasi. ❤
Advertisements

15 thoughts on “Capital Beauties

  1. kagumnya aku ke kakak tuh karena selalu bikin cerita yg fresh gitu. apalagi ini nambah ilmu banget…. aku suka aku suka.
    aku udah baca kak flower 101-nya. /jadi ngrasa dangkal banget pengetahuannya/

    makasih yaa kak udah bikin ff yg super ini. masalah rated kukira ngga masalah, selama reader bisa memetik pelajaran yg sebenarnya author pengin sampaikan :3

    keep writing kak jongin/? 😀 hehe

    Like

  2. KAKPUTRIIIIIII x)) ini jujur aja deh efeknya masih sama kayak yang dulu pertama kali kakak bikin cerita ini but dengan peran berbeda. masih yang: wah! walaupun diceritakan dengan halus sama kakak, tetep nggak ilang sama yang namanya sindiran dan efek nyelekit karena ngebahas tema itu tadi (aduh ini fika ngomong apa lah hahahaha xD maafkeun kak maafkeuuun). suka juga sama cara kakput ngasih nama latinnya. misale: Jasmine, si luxuria. soalnya kalo dipakeinnya pake yang bahasa inggrisnya jadi gimana gitu xD

    rada meringis baca yang bagian buttercup sama petunia. yang buttercup tuh… gatau sih ya anaknya beneran emang kayak gitu apa gimana, but aku pernah nemuin sifat “haus pujian” ini di dia wkwkwk (gausah sebut nama lah ya) (bukan temen deket juga sih, hahahaha. cuman ketemu di tempat les). terus yang petunia. mirisnya… di satu sisi dia bisa haha hihi mungkin ya becanda becanda, tapi kalo yang petunia B udah ngambil alih wah :””

    terus mau guling guling aja… ini feelnya dapet banget sekaligus aku bisa belajar bahasa bunga dikit dikit hehe. postingan kakak di TMD yang ngebahas Flower 101 itu ngebantu banget sumpaah hehe. jadi tertarik belajar bahasa bunga kalo gini mah hahahaha xD aku pernah baca fanfic naruto yang bawa-bawa bahasa bunga gini (bedanya kalo di situ, bunga yang dipake lebih ke bunga bunga yang nunjukin perasaan sih hehe). kakput pokoke ini mantepz bangeeeet hihi aku sukaaaa, terus aku ngefans dong sama kalimat warningnya eheheh (insert stiker moon lagi smirking). keep writing kak putriiii ❤ ❤

    Like

  3. Jujur, aku udah nebak dari awal kalau ini ceritanya tentang Seven Deadly Sins, tapi aku kagum banget karena kak putri bisa nemu bunga (atau buah in lemon case) yang melambangkan 7 hal itu.

    Setuju banget sama fika, dgn penyampaian yg smooth, hingga aku bisa nebak sndiri ini mengarah ke mana. Kereen pake bangeet!!!

    Duh ga nyesel udah follow WS hahaha ❤❤❤

    Like

  4. setuju dengan komentar anee. tulisan putri tuh selain fresh, juga selalu nambah ilmu baru :)) aduh gimana ya, idenya putri tuh nggak abis-abis. adaaaa aja. terus nggak biasa gitu. bener-bener definisi dari keren lah kamu mah. salute!
    topiknya, nama bunga beserta maknanya, cara pengemasannya, semuanya tuh bersinergi menjadi sebuah tulisan yang luar biasa bagus. eee eee aku tida bermaksud lebay, tulisan kamu memang sebagus itu put 🙂
    barusan aku sangat menikmati tulisan ini sampe sampe bengong sendiri begitu sampe di kata ‘end’. rasanya kayak lagi asik-asiknya main terus dipaksa pulang sama emak 😥 tapi aku suka banget sih sama tipe cerita yang begini, diakhiri ketika pembaca sedang klimaks (ahela) sensasinya tuh seru aja, deush! hahahaha.
    duh bingung mesti komen apa lagi, keep writing ya put :”)

    Like

  5. aku gak ngerti sama istilah-istilah di atas, mungkin udah dijelasin di link yg dikasi tp aku belom baca. cuma, yg bisa aku tangkep adalah bahwa semua orang punya plus minusnya masing2 dah gitu aja. yang masih buat aku antara ada dan tiada adalah… btw ini jasmine cewek apa cowok ya? hehehe

    Like

  6. Uwooo tadinya aku bingung lahini nama yang bener yang mana kenapa ada dua. tapi setelah baca sampe kelar dan mulai ngeh, trus buka link penjabarannya, aku paham dan ini keren banget. bisa ya put bikin kisah dengan karakter (atau simbol?) bunga sedalam-dalamnya. risetnya rajin pasti yoih pasteeehhh.
    cakep, put!

    Like

  7. Halo Kakput, aku suka deh gimana 7 Deadly Sins dan bahasa bunga berpadu dalam satu cerita. Yang kutahu 7 deadly sins ini sederhana tetapi mengerikan, tapi dikombinasikan dengan bahasa bunga jadinya cantik. Pastinya dibutuhkan riset dan ketelatenan tersendiri dalam meramu fakta menjadi sebuah karya fiksi :).

    Hanya saja, aku punya dua hal yang menjadi perhatianku terkait Capital Beauties ini, Kak. Mungkin aku yang belum bisa memahaminya, jadi mudah-mudahan Kakput mau menjelaskannya.
    1. Keterkaitan antara alinea pertama dengan kalimat pertama dalam alinea kedua. Alinea pertama menceritakan salah seorang pelanggan si Aku (Jasmine), seorang pria gendut lima puluh tahunan dengan riasan setebal badut… dst. Kemudian, dilanjutkan dengan ‘Wanita-wanita kesepian yang tak terpuaskan oleh suami mereka. Tak jarang juga tua-tua keladi yang tak sadar umur mereka. ….’
    Apakah dua kalimat tersebut masih menjelaskan karakteristik pelanggan Jasmine yang lainnya? Karena sejujurnya, struktur kalimat pertama alinea kedua, yang lebih mendekati frasa kata benda yang diperluas, membuatku bingung.

    2. Aku menemukan deskripsi untuk salah seorang pelanggan si Aku dalam alinea pertama yang senada dengan yang terdapat dalam alinea keempat.

    Ada seorang pelanggan yang menyewaku; setengah baya, berumur sekitar lima puluh tahunan, rambut kering dicat pirang keemasan, kulit keriput yang ditutup oleh kamuflase riasan setebal badut. Kalangan borjuis, kutebak. Membawa uang sekoper, dengan perhiasan serenteng yang melingkari leher dan jari-jarinya yang gemuk karena lemak.

    Hari ini aku gajian, dari hasil menjual diri. Ada seorang pelanggan setengah baya yang menyewaku—berambut pirang keemasan, kulit keriput, riasan setebal badut dan perhiasan serenteng. Ia memberiku uang sekoper sebagai ganti kenikmatan yang kuberikan semalaman.

    Apakah deskripsi yang ada dibuat senada untuk memberikan penegasan atau untuk tujuan lain?

    Oke, sekian komentarku. Keep writing, ya, Kak 🙂

    Like

  8. “Saudaraku yang kedua adalah Buttercup, si Avaritia.” — JDEER!! Langsung koneksi kaput kalo orific ini mengarah ke Seven Deadly Sins. Di Gula Titan uda mikir kayae familier banget sama Gula dan begitu sampe di Avaritia, Titan inget kalo Gula itu nama latin dari Greed. Dan sungguh, satu-satunya alasan Titan tahu mereka gegara Titan juga perna ambil prompt series dengan tema Seven Deadly Sins hahah

    Awawawa, Seven Deadly Sins + Flower Language = One gorgeous kind of story ❤ ❤ ❤

    Dan wow kalimat terakhir ini:
    "Aku Jasmine, si Luxuria." — entah kenapa di sini Titan membayangkan sosok Jasmine yang tengah menatap angkuh pembaca, seolah menantang kami untuk berani menyangkal keberadaan dirinya. Jasmine. Weird, huh? x))

    Titan sukaa ❤ ❤

    Like

    1. ya ampun iya, ngga nyadar kalau titan ngetik gula untuk nama latin greed. a slip of finger kak XD

      kapan-kapan ya kaput buat retold yang seven deadly sins. perlu banyak yang harus diperbaiki bcoz itu tulisan setahun lalu. haha x)

      and sassy!Jasmine for layfe ❤

      kaput juga keep writing yak ❤ ❤

      Like

  9. Ini adalah fiksi ke berapa (yang bisa diitung pake jari saking aku jarangnya baca fanfict apalagi yant bentuknya orific) yang bikin aku tersanjung bacanya! This is so beautifully written! Rasa kakputnya menguar banget, dan aku sama sekali gak dapet pemikiran jelek soal ratingnya atau apapun yang bisa menjurus ke sana, karena, well, sastra bukan tentang itu ajaaaaaa! 😀 Dan aku seneng banget bacanya huhu gimana ya cara bilangnya, fic ini tuh, simple tapi dalem, dalem tapi simple!

    Aku suka banget sama deskripsi tiap-tiap karakternya. Terus pas baca si Lemon : Gula aku rada mikir (hm apakah ini seperti yg kupikirkan) eh langsung dikonfirm sama Buttercup : Avaritia! Oho! Seven deadly sins! Dulu aku pernah baca-baca tapi cuma sebatas wiki dan tumblr so yeah :’ pengetahuanku cetek HAHA Terus yang bikin seneng lagi (setelah kubaca link dari kakak) adalah hubungan karakter, sins, sama bunganya sih kak! Itu cantik banget menurutku. Terus kekeluargaannya juga nyaris realistik gitu. Apa ya, kayak jenis keluarga di greek myth atau dongeng-dongeng inggris kuno! Pokoknya aku suka banget! Aku tuh orang yg paling susah buat komen sih sekarang ini 😦 tapi tulisan ini bener-bener bikin aku tertarik to the max!

    Thank you for writing this beautiful fiction! ILOVEYOU!

    p.s : SUKA BANGET SAMA JUDULNYA!
    p.s.s : and I think this is the first time in a while I’ve ever write such a long words :)) :*

    Like

  10. Kak putriiiii..kenalin aku akiko, hahah aku baru baru ini baca lagi blog nya kakput. Aaahhh gila ini keren bgt aku dapet bgt feelnya, dan udah ngerasa ini pasti 7 deadly sins tapi aku ragu karena kakput jadiin nama2 bunga buat mewakilinya. Jadinua unpredictable bgt lho ya.
    Terus pas bgt baca ini pikiran lagi gak jelas melayang2 kmna aja eeeh pas baca ini gak tau kenapa kaya dapet pencerahan gtu, buat self reminder bagus bgt. Aku gak peduli yah sama rate selama kita bisa baca dari setiap sudut nilai yg ingin disampikan penulis.
    Huaaaa keren pokoknya kak, aku jd merasa tulisan2ku itu kerdil bgt kalo abis baca tulisannya kakput…but I like it I like it so much..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s