[Writing Prompt] Spring of 1884

Spring of 1884 © Fantasy Giver

Prompt: The Smell of Fresh Paint

.

“Makanya, Tony, nikmati saja momen-momen selagi Dad sibuk dengan kopinya—kau baru punya alasan mengunjungiku tahun depan, lho.”

.


.

Tuan McDonald punya kebiasaan yang tak pernah terlewat setiap tupai-tupai di Big Woods mulai bangun dari tidur panjangnya. Musim semi adalah masa untuk memperbaharui warna kereta. Kereta yang digunakan mengangkut berbagai barang—jerami, jagung, apel, oat, labu, kacang-kacangan, dan berember-ember susu—untuk dijual di kota itu bertudung lengkung dari kanvas, berwarna cokelat tua (dan akan selalu cokelat tua, hanya diperbaharui saja), dan biasanya ditarik oleh dua ekor mustang kesayangan si pemilik.

Pekerjaan cat-mengecat dilakukan saat musim semi sebab musim dingin di Minnesota terkadang terlalu ganas untuk kerja lapangan, sementara musim gugur selalu menjadi lumbung emas bagi Tuan McDonald. Jika daun-daun berubah cokelat dan mulai meranggas dari pohonnya, maka dapat dipastikan musim panen datang, dan tentu saja, akan gencar dilakukan penawaran ke kota. Dan karena Tuan McDonald merupakan orang yang selalu memperhatikan penampilan, sekaligus untuk menghindari adanya loss of opportunity, tentu ia tak ingin keretanya terlihat usang.

Bersinggungan dengan oknum pengecat kereta Tuan McDonald, Anthony David Woodworth, seorang sherrif muda merangkap atlet rodeo dari kota sebelah, menjadi nama yang bertanggung jawab untuk setiap polesan di sana.

Yah, seharusnya aktivitas itu bisa dilakukan siapa saja, sih, tapi pada musim semi beberapa tahun yang lalu, Anthony menawarkan diri dengan memberikan testimoni bagaimana ia mengecat kantor sheriff Wisconsin jadi terlihat lebih apik dibanding kota lain. Tuan McDonald yang sudah melihat hasilnya tentu percaya, jadi sejak saat itu, Anthony wajib datang tiap musim semi.

Dan, ya, Anthony tidak memanfaatkan bakat terpendamnya secara cuma-cuma. Bukan uang yang diincarnya; ia bisa dapat banyak dari berbagai kejuaraan rodeo plus gajinya—lagipula Anthony cuma dibayar sedikit oleh Tuan McDonald. Satu hal yang hanya mampu didapatkan Anthony dari pekerjaan tahunan itu hanya satu: Jennifer McDonald.

Akhir musim semi 1884, tepat ketika Tuan McDonald memutuskan sudah saatnya cat kereta diperbaharui dengan memanggil Anthony, yang tiba tak sampai dua jam kemudian, memiliki cerita lain. Biasanya ketika Anthony datang, Jenny hanya berani bicara diam-diam di belakang rumah ketika berpamitan, namun pada hari itu, Jenny menyusul Anthony ke padang rumput dan menemaninya mengobrol diselingi membaca buku.

“Aku selalu suka aroma cat basah,” cericip Jenny bersamaan dengan bunyi renyah sampul tebal yang ditutup. Gadis itu duduk di bagian dalam kereta yang tudungnya sedang dilepas agar kanvasnya tidak terciprat cat. Pride and Prejudice berada di pangkuannya.

Anthony menyeringai di balik kaleng cat. Ia berani bertaruh Tuan McDonald akan membunuh dan menguliti dirinya hidup-hidup jika ketahuan menjalin hubungan dengan si anak bungsu—Sang Kesayangan. “Memang kenapa?”

“Entahlah. Hanya suka, kurasa.” Jenny mengulum senyum simpul.

Anthony menegakan tubuh, lalu meregangkan punggungnya ke kiri dan ke kanan. Jenny tidak tahu apakah pria itu sengaja melepas kausnya sehingga kini spektrum solar bisa menyorot dada bidangnya puas-puas atau ia benar-benar gerah karena musim panas mulai mengintip. Ada hangat yang merambat ke kedua pipi si perempuan.

“Ayolah, pasti ada alasannya,” goda Anthony lagi. “Aku kenal kau dan tidak pernah satu pun perlakuan atau kesukaanmu tidak didasarkan alasan tertentu.”

Anthony diam-diam mengagumi cara angin menerbangkan surai emas gadis itu ketika ia berdiri dan melompat turun. Kaki-kaki jenjangnya terendam rumput hijau sebetis saat melangkah anggun. Buku kesayangannya berada di depan dada—Anthony jadi teringat jantungnya sendiri yang berdentum-dentum penasaran.

“Mm, yah … kau benar. Kau tak tahu betapa sering aku mengecat pot-pot tanaman Mom beberapa musim kemarin hanya karena senang dengan aromanya.” Kini gadis itu berada di hadapan Anthony dalam jarak yang dekat untuk diraih, namun masih terhitung normal, sopan dan manis.

Anthony terkekeh renyah. “O … ke. Satu hal; kau aneh. Hal lainnya; apa alasannya?”

“Apalagi? Masa kau masih bertanya?” Matanya membulat gemas.

Butuh beberapa waktu bagi Anthony untuk mencerna hingga kesadaran muncul dalam kepalanya. Sumpah, kalau untuk deduksi-deduksi berhubungan dengan kriminal, otak Anthony biasanya langsung mau bekerja, tapi kenapa kalau dihadapkan dengan teka-teki Jenny, otaknya buntu? Padahal itu termasuk kasus kriminal juga; Jennifer McDonald ‘kan mencuri hatinya.

Pria itu segera tertawa hingga matanya menyipit. “Aku?”

Tawa Jenny membuat Anthony menyandarkan telapak tangan pada kereta, namun lupa bahwa lapisan cat di sana belum kering sepenuhnya. Kini tangannya dipenuhi cat dan tawa si gadis semakin berkobar. Seketika Anthony merasa bodoh.

Pria itu baru saja ingin mengambil kaus yang tertumpuk tak jauh dari roda ketika Jenny menahan tangannya dan memberikan sapu tangan bersih dari kantong gaun musim panasnya. “Pakai saja,” katanya cuek. Anthony mengangguk, membersihkan tangan di sana, meskipun alih-alih bersih, warnanya malah semakin melebar. Menyerah, Anthony hanya mengepal benda itu.

“Jadi aku yang membuatmu suka aroma kimia dari cat basah?” ulangnya, berusaha mengalihkan topik dari kebodohan sebelumnya.

“Aroma cat mengingatkanku padamu, jadi, yah ….” Jenny mengedikan bahu sebelum membentuk kurva gula-gula. Ia maju lagi selangkah hingga kedua lengannya kini bergantung pada bahu Anthony yang berkeringat. “Makanya, Tony, nikmati saja momen-momen selagi Dad sibuk dengan kopinya—kau baru punya alasan mengunjungiku tahun depan, lho.”

Anthony ingin menyelipkan anak rambut Jenny ke belakang telinga, namun ia tak ingin membuat semua jelas dengan bekas-bekas cat di tubuh gadis itu. Tak ayal, pria itu hanya mampu membalas dengan menyandarkan keningnya di kening Jenny, menghirup aroma kamomil dari tubuh si gadis yang bercampur dengan cat dan padang rumput musim semi.

Oh, ya, Anthony Woodworth sangat menikmati momen ini.

.

Fin

.

.

A/N:

  1. Cheesy and wrecked. Saya malu. Maaf.
  2. Serius, deh, kayaknya saya salah pilih prompt. Tapi kesampaian juga akhirnya bikin western themed, meskipun rasanya juga ga western-western amat.
  3. Big Woods sebuah daerah perhutanan yang kebagi dua: sebagian kecil di Wisconsin, beberapa bagian di Minnesota. Saya ambil jadi setting karena pas kecil kebanyakan baca Little House of the Prairie. Salah satu classic children book yang bagus.
  4. Karena ditulis baru-baru ini… mind the kakuness.
Advertisements

8 thoughts on “[Writing Prompt] Spring of 1884

  1. eviiiiiin x)) sebenernya aku udah baca dari tadi pas ficnya dipublish tapi maafkeun komennya baru berjam-jam kemudian hahaha xD tadi kepotong ini itu, yasudah daripada komen buru buru gaenak xD

    komennya aku buka dengan fangirlingan ke anthony boleh gaaaak? sumpah yhaaa pas nama anthony muncul aku tuh yang: OMG ANTHONY!! THE MOST GORGEOUS NAME EVER. sumpah aku jatuh cinta banget sama nama ini gara gara baca bukunya jonathan stroud. hahahaha. teruuuus perilaku dia dooong yang bagian akhir pas dianya bingung gimana mau nyentuh jenny. omg eviiiin. nempelin jidat ke jidat is the most sweetest thing eveeeeer asli lah vin aku tuh baca ini senyum senyum sendiri pas baca bagian akhirnyaaa hahahah xD cheesy, but not too much. jatuhnya fluff yang bikin pengen gigit guling wkwk. yosh vin keep writing yaaaah ❤

    Like

    1. santai aja kak fikaaaaa xD duh, kayak sama siapa aja deh hahahaha. iyaaa kaaak, emang nama anthony tuh classy manly gitu yaa, aku juga suka banget namanya xD terus bagian akhir itu dia emang mati banget gegara tangannya kena cat, kalo nyentuh jenny nanti ketauan papanya dong HAHAHA makasih banyak yaa, kak fikaaa! kakak semangat teruuus! ❤

      Like

  2. Tbh, the moment I read ‘Tony’, the one that appear on my mind was Tony Stark hahah XD

    “… Tak ayal, pria itu hanya mampu membalas dengan menyandarkan keningnya di kening Jenny, menghirup aroma kamomil dari tubuh si gadis yang bercampur dengan cat dan padang rumput musim semi.” — FLUFF. SO MUCH FLUFF I NEED THIS THANK YOU SO MUCH EVIN ILY!!! ❤ ❤ ❤

    Duh, beneran ya, Titan geloleran gak jelas di karpet pas baca cerita ini 😀 Cheesiness and fluffiness are mah layfe lol ❤ ❤

    Like

    1. haloo, titan! hahaha tony-nya untungnya bukan tony stark, soalnya kalo tony stark ntar dia player-player yang tebar pesona sana-sini, dong hahaha. makasih banyak yaa, tan, udah baca dan komen. kamu semangat teruuus! 🙂

      Liked by 1 person

  3. iya, kak, emang jenny-nya agak bold gitu hahaha xD mia mah engga bold, cuma mungkin hobi baca bukunya sama ehehehehe. makasih banyak yaa, kak put, udah baca dan komen. santai aja, sependek atau sepanjang apa pun, dua-duanya berharga! semangat terus, my fav writer!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s