[Writing Prompt] Old Woman

oldwoman

Dukun Wanita

by fikeey

Tapi, Gretel, kita tidak boleh makan permen terlalu banyak.

Hansel bukannya sedang mencoba peruntungan menjadi anak nakal dalam sehari, ketika ia memutuskan untuk menarik tangan Gretel dan mengajaknya pergi dari posisi di mana sang ayah meninggalkan mereka tadi pagi. Matahari sudah tergelincir dari singgasananya beberapa saat lalu, dan fakta bahwa sekarang mulai terdengar suara dari para penghuni malam adalah alasan pertama Hansel ingin sekali berada di tempat lain dan bukannya di sini.

Bulatan-bulatan kecil roti yang ia tabur di sepanjang jalan tadi pagi tidak ada di mana pun, sementara angin dingin mulai berhembus. Sendu matanya memperhatikan Gretel yang mulai bergidik kedinginan di balik mantel tuanya.

“Apakah Papa tidak jadi menjemput kita, Hansel?”

Suara adik perempuannya yang kala itu bergetar kedinginan dengan telak meninju perut Hansel yang tak kalah menggigilnya. Gretel begitu naif, mengira bahwa ayah mereka akan datang menjemput setelah menghabiskan waktu seharian mencari potongan kayu bakar untuk menambah persediaan.

Yeah, Hansel sengaja tidur telat semalam ketika didengarnya suara pertengkaran kecil antara ayah dan ibu tirinya di ruang tengah. Pintu kamar kakak-beradik itu sudah ditutup dan dikunci dari luar sejak makan malam berakhir, dan ketika derap langkah ayah mereka terdengar―sangat samar―dari pintu depan, saat itulah Hansel memutuskan untuk tetap terjaga.

“Persediaan makanan kita menipis.”

“Aku tahu. Cobalah untuk memangkas jatah makanan sedikit lagi.” Itu ayah mereka yang berbicara, terdengar lelah ketika menaruh peralatan berburunya.

Ada decak samar terdengar, disusul dengan dentum kaki di lantai setelahnya. “Aku sudah memperingatkanmu tentang ini sebelum-sebelumnya! Tidakkah kau mengerti? Terlalu banyak mulut yang harus disuapkan makanan!”

“Apa yang kau bicarakan?”

Pada detik ini, huru-hara di balik pintu kamarnya berangsur mereda. Hansel berguling kikuk di tempat tidurnya, ingin sekali pergi dari sana dan menghambur ke pintu, setidaknya untuk mendapat intensitas pendengaran lebih baik. Gretel telah tertidur pulas tepat di seberangnya, maka sang anak lelaki dengan lihai meminimalisasi pergerakan agar tidak menimbulkan terlalu banyak suara saat bangkit dari dipan reyot itu.

Suara ibu tirinya masih terdengar lirih meskipun Hansel sudah menempelkan telinga rapat-rapat ke pintu. Rasa takut yang luar biasa seolah menyergapnya dari belakang ketika apa yang dikatakan wanita pemarah itu sampai di telinganya. Hansel ingin membuka pintu dan berteriak bahwa bukan hak wanita itu untuk mengusir ia dan adiknya keluar dari rumah, dan bukan salah mereka pula keluarga kecil itu kekurangan bahan makanan. Hidup mereka baik-baik saja ketika mendiang ibunya masih bernapas dan tertawa bersama mereka. Namun mengingat ia kini terkunci dan tak berdaya, Hansel hanya berusaha untuk menahan tangisnya lalu kembali ke tempat tidur.

Dan nyatanya, rencana untuk pulang menggunakan bulatan roti sebagai penunjuk jalan gagal dengan sia-sia. Hansel tidak memperhitungkan banyaknya burung lapar yang mungkin melihatnya menjatuhkan sarapan paginya itu saat meniti langkah menuju hutan.

“Hansel, aku lapar.”

Gretel tak hentinya menarik-narik lengan baju Hansel beberapa jam terakhir ini, seringnya mengeluh karena ia kedinginan ditambah rasa takut yang menggerayang kala dedaunan pohon di sekitar mereka mulai bergemerisik. Hansel tak menyalahkan adiknya karena berlaku demikian. Tidak ada yang pernah mengajarkan bahwa hutan di kala malam adalah tempat bermain yang aman untuk dua orang anak kecil yang tengah tersesat. Jadi, ia hanya bisa menarik Gretel mendekat serta membisikkan satu dua kalimat penenang.

Jalan setapak yang mereka lalui semakin lama semakin menyempit, pun udara yang kian dingin dengan latar belakang sekawanan burung hantu ber-uhu sangat berisik.

Hansel mungkin sudah sangat kelelahan dan mulai berhalusinasi, karena setelah ia mencoba memindahkan batang pohon yang malang melintang di jalan, ada sebuah rumah berwarna neon yang dinaungi dua buah pohon raksasa di masing-masing sisinya. Warna neon membuatnya terdengar fantastis, memang, tapi yang benar-benar membuat mata kedua bocah itu membelalak adalah benda berkilauan yang menyelimuti rumah sepetak itu di setiap jengkalnya. Berwarna-warni dan sungguh memikat.

“Hansel … apakah itu permen?”

Anak lelaki itu mungkin tidak akan menyadari pertanyaan adik perempuannya apabila suara dari perutnya yang luar biasa keroncongan tidak segera naik ke permukaan.

Iya, benar apa kata Gretel barusan. Permen. Di mana-mana. Di pintu, di bingkai jendela, di genting, di cerobong asap, bahkan ada lolipop raksasa yang menghias jalan setapak menuju pintu depan si rumah mungil. Tidak ada lentera yang terpasang di halaman depan, namun sinar bulan malam itu cukup menerangi jarak pandang.

Gretel sudah beringsut maju untuk menjawab rengekan perutnya yang semakin menjadi-jadi, pun Hansel yang terlihat seperti anak kuda kelaparan minta disusui. Tapi alih-alih mengekor di belakang adiknya yang sudah mengambil langkah, Hansel justru berdiri diam seperti ditembak panah.

Masih terpancang di posisinya, Hansel memperhatikan punggung Gretel yang kini berbalik.

“Apakah kau tidak lapar, Hansel? Mungkin … mungkin pemilik rumah ini adalah orang baik dan mereka bisa memberi kita sedikit makanan?”

Hansel menggeleng. “Tapi … Gretel, kurasa ini bukan ide yang bagus.”

“Kenapa?” Sepasang mata bulat milik Gretel seolah menghakiminya yang tak juga mengizinkan, namun ada dorongan dari dalam sana yang masih dengan setia menjaganya agar tidak pergi ke mana-mana.

“Gretel, apakah kau tidak ingat perkataan Mama dulu?” Hansel berkilah dengan suatu pertanyaan yang nyatanya berhasil menarik adiknya kembali ke posisi semula. “Kita tidak boleh makan permen terlalu banyak, ingat?”

Kedua bahu Gretel terjun bebas dan wajahnya berubah murung. Ada rasa bersalah hinggap sejemang di hati Hansel, tapi ia bersyukur adiknya tidak serta merta merengek dan berbalik memusuhinya. Anak lelaki itu hendak menarik tangan Gretel untuk meneruskan perjalanan ketika tiba-tiba indera penciumannya bereaksi akan sesuatu.

Mungkin ia sudah benar-benar berhalusinasi sampai-sampai hidungnya pun membaui aroma roti panggang terlezat yang pernah ia temukan dalam hidupnya. Melonjak dengan semangat, Hansel beralih pada Gretel.

“Apa kau juga merasakan itu?”

Gretel mengangguk tak paham―kemungkinan besar atas tingkah laku sang kakak yang berubah dalam hitungan detik. Beberapa langkah lagi ditambah sedikit menyusuri jalanan sempit di seberang danau besar, dan sumber dari kegelisahan mereka terkuak sudah.

Berdiri tepat di samping ceruk gua yang terlihat menakutkan namun ramah, berdiri sebuah rumah mungil lain yang diterangi lentera kekuningan dengan aura hangat. Hansel membayangkan ada sepiring roti panggang dan secangkir teh panas di dalam sana lengkap dengan perapian di ruang tengah. Jalan setapak berbatu yang akan mengantarkan mereka hingga ke depan pintu terlihat sangat memikat, dan lagi bangunan ini juga tak kalah lucu dengan satu yang mereka temui sebelumnya.

Jika tadi ada rumah yang diselimuti permen, bangunan yang ini terlihat lebih menyehatkan dengan roti berbagai bentuk di mana-mana.

Detik berikutnya ketika Hansel hendak melangkahkan kaki, pintu kayu beberapa jengkal di depan mereka lebih dulu terbuka.

Penyambutan dengan roti panggang dan selusin kehangatan yang ditawarkan di pintu depan seolah menjadi bualan belaka kala kaki-kaki mungil Hansel dan Gretel membawa mereka masuk ke dalam rumah yang telah diidam-idamkan itu. Bau dupa yang menyengat seketika menyergap pada langkah pertama, karpet beludru dengan dominasi warna ungu dan hitam terhampar di seluruh ruangan, belum lagi kuali besar yang kala itu menggantung tepat di tengah rumah.

Gretel merapatkan diri pada kakak lelakinya yang saat itu tidak kalah bergidik karena ketakutan. Mereka tidak kedinginan di dalam sini―tidak, justru di sini jauh lebih hangat daripada di luar―namun suasana muram ini seakan membawa hawa buruk. Hansel menghentikan gerak kakinya, hendak berbalik lalu berlari ketika disadarinya pintu depan terbanting hingga menutup. Sosok bungkuk yang sangat ringkih itu berdiri di sebelah meja makan―beberapa langkah dari kuali raksasa yang masih mengepul―menarik dua buah kursi dengan senyum kikuk di wajah.

“Kemari, ‘Nak. Kalian terlihat kurus dan menyedihkan sekali.”

Suaranya bahkan memunculkan memori Hansel akan uhu-uhu rendah kawanan burung hantu dan pekik lengking gemerisik dedaunan di hutan. Anak lelaki itu berniat untuk tidak menyentuh makanan apa pun yang akan dihidangkan, namun sosok adik perempuannya yang berlari kecil seperti memperoloknya.

“Tidak apa-apa. Ini hanya roti panggang manis dan segelas air hangat,” kata si sosok lagi. “Keputusan bagus karena kalian berhasil lepas dari jeratan rumah permen di sana.”

“Ada apa dengan rumah permennya?” Gretel bertanya dengan mulut penuh roti. Remah-remahnya berhamburan memenuhi cekungan rok di pangkuannya kala ia duduk dan wajahnya mulai memerah karena hangat.

Syukurlah, batin Hansel diam-diam, yang akhirnya menjejak lantai menuju ke tempat adiknya dan si sosok asing tengah bercengkerama.

Ada desah pelan sebelum si sosok ringkih melanjutkan. Tangan keriputnya yang lebih terlihat seperti tulang berlapis kulit terangkat, menarik tudung lusuh yang sedari tadi melingkupinya. Perut Hansel bergejolak seketika, ngeri memikirkan apabila ada belalai keluar dari dalamnya, atau sepasang taring macan siap menerkam. Namun nyatanya hanya ada sebentuk wajah wanita tua yang renta dan terlihat bersahabat. Pipi tirus karena usia dan sepasang mata biru yang seolah memancarkan cahaya.

Hansel duduk tanpa suara, menerima sodoran makan malam yang terlihat seperti jamuan pesta. Matanya mengawasi sang pemilik rumah yang tengah memanaskan sesuatu di dalam kuali.

“Apakah orang tua kalian tidak pernah menceritakan legenda ini?”

“Legenda apa?” Akhirnya Hansel buka suara.

“Tentang seorang dukun wanita yang gemar memakan daging anak-anak.” Si wanita tua mengatakannya dengan lirih, sedikit menggantung waktu ia meletakkan pengaduk di sisi pengaman kuali. “Dia memiliki seorang saudara perempuan yang tugasnya berkelana ke seluruh desa mencarikan korban untuk kakaknya. Biasanya mengaku seorang pelancong dan butuh sekali pertolongan, lalu ia akan menyergap korbannya saat sepi.

“Tapi tentu, tidak ada anak kecil mana pun yang berani berbicara dengan orang asing, ‘kan? Jadi tidak jarang pula ia memakai taktik baru.”

Gretel bertanya begitu si wanita berhenti bicara untuk mengambil napas. “Apakah ia membunuh orang dewasa juga?”

“Tidak, ‘Nak, tidak.” Sang empunya cerita tersenyum hangat menanggapi pertanyaan Gretel, pun Hansel yang terkikik sembari mengunyah rotinya. “Tidak semua orang dewasa ia bunuh―setidaknya ia memiliki beberapa batasan. Seorang wanita, berkeluarga, dan memiliki anak. Ia akan berpura-pura baik, menjadi ibu tiri para anak-anak malang itu karena ibunya meninggal, dan mengirim mereka ke hutan apabila sudah tiba waktunya. Begitu selesai, ia akan meninggalkan sang kepala keluarga sendirian, hingga akhirnya kebanyakan dari mereka akan bunuh diri dirudung rasa bersalah.”

Hansel diam. Gretel pun demikian.

“Jadi cerita itu benar adanya?”

“Begitulah.” Si wanita menjawab pertanyaan Hansel yang kelewat lirih untuk bisa didengar. Setelahnya, ia bangkit lebih dulu sembari membawa piring dan gelas Hansel yang kala itu sudah kosong tanpa sisa makanan apa pun. Bak cuci terletak di seberang kuali, menempel pada dinding. Bau dupa tercium lebih kuat di sana karena ada lemari gantung khusus yang memuat persediaan lilin harum itu dalam jumlah banyak.

Dilihatnya Gretel tengah menandaskan air putih dalam gelasnya, kemudian sang adik bangkit dan membawa peralatan makannya ke belakang. Sosok kecilnya berdiri di samping sang pemilik rumah, mengangsurkan perabotan lusuh dari dekapan mungilnya.

“Bagaimana dengan Anda?” tanya Gretel.

Di sebelahnya, ada desis tawa yang tertahan. “Aku? Ah, aku hanya wanita tua yang gemar membantu.”

Tapi siapa yang ia bantu?

*


 

  • sebenernya jawabannya udah jelas sih hehe. btw tapi ini mah bukan riddle xD
  • another fairy-tale retelling setelah Hook ahaha.
  • mas Andrew Garfield as Hansel is the best thing ever! itu fotonya featuring Lily Cole as Gretel sama Lady Gaga as the Witch. cari aja: ‘Little Girl & Lost Boy’ by Annie Leibovitz, Vogue December 2009
  • thank you for reading!
Advertisements

18 thoughts on “[Writing Prompt] Old Woman

  1. ARGGHH AKU BAHAGIA LIAT ANDREW GARFIELD NYEMPIL /salah fokus/dikampleng/

    wihihihihihiiii…. aku sukaaaakk bgt sm retoldnya, secara hansel and gretel itu dongeng kesukaan sblm tidur dulu, selalu diceritain sm oma ((curhat))

    Lalu, lalu yha fikk… ga nyangka kalo endingnya gitu omo… si emak2 bangka itu malah cuma ‘pembantu’, padahal aku bener2 ngira kalo doi nenek sihirnya lho… abisan ada kuali2 gt kan, ternyata bukan yha?
    Bagiku ini tetap riddle, siapa yg dibantuu hayoooo…

    Btw, kalo hanselnya andrew garfield, aku rela deh jd kakak iparnya gretel /ngarep/ditendang.

    Udah ah, aku komen cuma ngerusuh, menuh2in lapak fika, buang ajha aku fik buang…..
    Buang ke pelukan hansel garfield.

    Keep writing pokoknya♡
    Bikin beginian yg byk /plak/

    Like

    1. BECCAAAAA x)) aduh emang andrew garfield gantengnya suka kebangetan becc, aku pun ga kuat kalo liat doi lama lama hahahaha xD

      samaaa. aku juga suka banget sama hansel and gretel. penasaran kenapa belom ada yang bikin remake dongeng ini yha. kebanyakan yang diremake dongeng yang princess princess heu :” nopeee yaampun kalo riddle mah tulisan aku belom nyampe becc, aku ngga kuadh bikinnya hahahaha.

      HAHAHA aku pun mau jadi kakak ipar gretel xD omg hansel garfield hahaha beccaaaa xD makasih yaa becca sudah baca dan komeen. iyah semoga bisa bikin retold retold yang lain lagi ihihi. makasi sekali lagiii 😀

      Liked by 1 person

  2. Kok aku nangkepnya si dukun yg bantuin itu ya dukun yg makan anak2 itu, dan adeknya itu ya ibu tiri mereka yg tinggal sm ayahnya. Bener ga sih kak fik?

    Ihh ini cara penceritaannya dapet banget loh magisnyaaa, aku sukakk!! Keep writing yaa ♥

    Like

    1. hayo hayo siapa hayoooo (ini fika minta digampar banget sumpah hahaha). sebenernya udah ketebak koook xD perhatiin kalimatnya si nenek ajaa hehe. ada maksud terselip di dalamnya (hanjay bahasa fika) hahaha xD
      makasi yaa niswaa sudah baca dan komeen. kamu keep writing juga yaaa ❤

      Like

  3. Aku mikirnya kok si nenek2 ini adiknya dukun yg diceritain. hansel sm gretel terlalu polos buat nyadar siapa sbnrnya si nenek asing..
    Menurutku kunci riddle nya ada di paragraf terakhir😋 hehehe..dr sana bs ketauan identitasnya

    Like

    1. waaa nuruul ini bukan riddle kok :”) aduh da fika mah tulisannya belum sampe tahap ridldle-riddle gituu belum kuat hahahaha. tapi sebenernya mah udah ketebak kok ini si nenek temennya pemilik rumah permen, atau bukan ehehe. btw makasi yaa nurul sudah baca dan komeen x)

      Like

  4. “Tapi siapa yang ia bantu?” — APA INI SUMPAH TITAN MERINDING BACANYA D:

    Duh kak Fika, pas pertama kali baca ini pikiran Titan uda heboh macem; Ini Hansel dan Gretel bakalan dipanggang ngga ya? Atau malah mereka yang memanggang si wanita??
    Biasalah kak fairy tale Titan uda ternoda oleh Grimm Bersaudara jadi mau ngga mau pikiran gore mulu pas baca fairy tale eheh :”v

    But really, Titan baca sampe akhir and it was completely unexpected and took me off guard ❤ Titan sukaaaa ❤ ❤

    Like

    1. titaaaan x)) OMG DIPANGGANG xD sek aku mikirin hansel ama gretel dipanggang beneran tau ga. atuh ih si titan :” iyanih emang pas aku baca baca fairy-tale versi grimm tuh aku yang: wah parah jadi dongeng yang dulu aku baca……..dan aku merasa dibohongi xD

      makasi banyak ya titaaan udah baca dan komeeen hihi luvvvsss ❤ ❤

      Liked by 1 person

  5. Keren Kak Fika! Ga kalah serem sama aslinya sih :,D

    Ya, ini si wanita tuanya komplotan ibu tirinya. Lepas kandang singan masuk kandang buaya /halah/ X,D Kalau aku jadi mereka, langsung kabur. Aku sendiri hampir nonton versi movienya Jeremy Renner sama Gemma Arterton tapi ga sampai selesai. Karena niat awalnya pengen liat versi anak kecil unyu githu kayak cerita aslinya, belum ada yang bikin ya? :/

    Like

    1. hello cherryy 😀 waa makasih yaa cherry sudah baca dan komeen x)

      hehe iya yang filmnya renner sama arterton emang hansel and gretel versi badass yhaa hahaha. tapi filmnya bagus kok, but banyak adegan adegan keji sih tapi worth to watch koook hihihihi. setau aku belom ada sih kayaknya. kalopun ada (kayaknya ya) film jaman dulu gituu :” tau nih kok disney belom munculin remake hansel and gretel yha, padahal ini dongeng favorit aku dulu :” makasih sekali lagi ya cherry x)

      Like

    2. Yap, aku juga suka dongeng ini. Terutama karena nyebut2 rumah permen dan gulali. Bayangin aja udah manis hahhaha /salah fokus/

      sama-sama kak 😉

      Like

  6. Waah, Kak Fika amaziiing. Detail dan telaten banget menulis ceritanya, dan endingnya creepy abis. Aku banyak belajar dari cerita ini. Makasih, Kak, sudah menulis Hansel and Gretel versi yang ini :).

    Like

    1. hai amiii. waa makasi yaa amii, dan aku senang pabila bisa membantu sedikit dari tulisan akuu hehe. makasi sumpah ya allah aku terharu beneran :”””” sama sama amiii. ami keep writing yaaah x)

      Like

  7. Kak fikaaaa, fairy tale retellingnya gak pernah gagal deh :”)

    Aku sempet agak bingung soalnya buatku kakaknya itu hansel, the brothers Grimm gak ngejelasin sih LOL. Dan aku cinta banget yang hawanya gloomy gini HAHAHA, udah lama gak baca (dan gak buat), terus kak fika nulis dan dan bagus sekali :””

    Ini si neneknya pembantu ibu tiri Hansel Gretel bukan sih? Terus yang ada di rumah permen itu apa ya?

    Oh kak, IMO, kalimat ini, “Tidak semua orang dewasa yang ia bunuh—…”, ganjel gitu kayak kelebihan kata ‘yang’? Tapi mungkin aku aja sih yang terlalu ribet LOL.

    Terus keinget OUAT pas Hook disinggung, aku mandek di season 4 part kedua huft.

    Nice piece and keep writing kak, laf laf ♥

    Like

    1. helo sheeer x) omg syukurlah pabila kamu sukaa hihihi. pertamanya bingung ini yang mau di-twist bagian mananya xD

      oiya tentang hansel itu kakaknya… aku juga sebenere kaga tau sih sher. cuman kalo menurut buku dongeng yang dulu kubaca (bukan yang versi psiko ala grimm brothers btw hahaha) yang kakaknya tuh hansel jadi yasudahlah (maafkeun aku ya grimms pabila ku salah hehe).

      oiyaa yang masalah kalimat, iya sher emang ga baku yhaa huhuhu. maklum masih kebawa wb pas nulis kemaren (ngeles) but udah aku ediiit hehe makasi ya sheer pembenarannya hihi. HAHAHA aku give up lah nonton OUAT udah ketinggalan banyak banget. gakuadh pabila harus re-run dari pertama xD keep writing juga ya sheer, luvvvs ❤

      Like

  8. kakpuuut x)) (waa jangan gitu kak heu, ini pun idenya muncul sekelebat sekelebat ajaa haha). nawaitu dikerjain satu satu xD semoga kesampean ehe. IYA KAAAK. waa aku kira pas searching hansel and gretel kaan, terus aku tuh yang: lah kok perasaan pernah liat nama dua orang ini maen di satu film, eee taunya di dr. parnassus xD aku kira vogue lagi ngeluarin konsep foto dr. parnassus terus pas ke webnya ternyata malah featuring lady gaga ahahaha xD

    ((once again, beneran deh kakput mah jagonya menelaah tulisan fika)) hehehe. iya kak. sejujurnya… ini kebikin sebelum aku bikin last treat. terus terus… kapan hari aku buka page writing prompt eeeeh old woman taunya available lagi, jadi yah…xD tapi berkat kakak, aku barusan ngedit tulisan aku lagii, dan iya beberapa banyak yang sebenernya bisa disederhanain dan ada beberapa kata yang bisa diilangin hihihi. makasi kakpuuut dan keep writing juga ya kaak ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s