[Writing Prompt] Tikungan Maut

resized

signature

Ditikung Mantan

Maesaroh baru saja putus cinta dengan kekasihnya, membuat Mahmudin diam-diam bersyukur dalam hati.

.

Bukan, bukan. Mahmudin bukan seorang high-functioning sociopath1 yang hobinya menabur garam di atas luka yang masih menganga, kok. Ia adalah seorang bujangan biasa, dan karena alasan itu pulalah, dirinya tak bisa menahan diri untuk tidak merasa bahagia serta bersyukur dalam hati saat tahu wanita yang ia sukai tak lagi menyandang label sebagai kekasih lelaki lain. Dengan status baru May—panggilan beken Maesaroh—sebagai the most recent and most wanted bachelorette2 di angkatannya, Mahmudin punya kesempatan yang sama dengan para pengagum May lainnya yang juga ingin merebut hati si gadis pujaan.

Yang mana jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit. Tapi Mahmudin sudah membulatkan tekadnya tak akan mengulang kesalahannya dan menyerah begitu saja, atau ia harus menunggu sampai May putus cinta dengan kekasihnya lagi baru dirinya bisa memperjuangkan cintanya.

Kalau mengingat-ingat yang telah lalu, Mahmudin bisa keki sendiri. Durasi pertemanan Mahmudin dengan May bisa dibilang yang paling lama jika dibandingkan dengan saingannya—para lelaki yang ingin PDKT3 ke May. Mereka adalah teman sewaktu sekolah menengah dulu, Mahmudin dan May.

Bukan tipikal teman yang dekat, sih, sekelas saja tidak pernah. Mereka cuma teman satu angkatan. Mahmudin bukan seorang siswa yang aktif di kegiatan sosial semasa sekolahnya dulu, begitu juga May yang cenderung sibuk dengan aktivitas akademisnya di luar sekolah: les, bimbingan belajar, les lagi, tutor privat, dan sebagainya. Adalah hal yang lumrah jika Mahmudin dan May tak mengenal baik satu sama lain.

Namun semua berubah saat keduanya diterima di universitas yang sama, fakultas yang sama, jurusan yang sama, bahkan program studi yang sama—hanya berbeda kelas. Mahmudin dan May jadi saling mengenal lebih baik dibanding semasa SMA dulu.

Tapi tak cukup dekat hingga Mahmudin punya akses leluasa untuk merebut hati si gadis dan menjadi pacar pertamanya. Banyak teman lelaki Mahmudin yang menyebut dirinya bodoh. Komentar-komentar bernada gurauan setengah serius seperti, “kalau aku jadi kau, May sudah kujadikan pacar dari dulu,” sudah kenyang Mahmudin dengar.

Kalau sudah begitu, Mahmudin tak bisa menahan diri untuk tidak membual cerita bahwa dia adalah teman akrab May selama SMA dulu. Keduanya adalah karib yang tak terpisahkan, dan Mahmudin mengerti benar keinginan May untuk tidak berpacaran dulu karena ia ingin fokus dengan prestasinya. Untuk itu, Mahmudin menekan perasaannya—sekaligus beralasan tak mau merusak tali persahabatan mereka.

(Padahal kenyataannya, mengobrol saja tidak pernah).

Namanya kisah hidup selalu menyimpan ujung-ujung yang tak terduga, dan di sinilah yang paling Mahmudin sesalkan. Walau mereka tak mengenal satu sama lain, bukan berarti Mahmudin tak tahu bagaimana May sewaktu SMA dulu.

May memang terkenal akan kepintarannya, berulang kali namanya disebut saat upacara karena berhasil menduduki tiga besar paralel di angkatan mereka. Tapi May bukan siswi terkenal karena paras jelitannya—tak seperti Bianca, ketua tim cheerleader yang punya darah Belanda dari ayahnya, atau Imelda, anak tunggal si bapak walikota yang berangkat dan pulang sekolah diantar sopir pribadi. May adalah siswi yang biasa saja—lebih lekat disebut kutu buku malah, karena kaca matanya yang setebal pantat botol.

Siapa yang menyangka May bertransformasi menjadi gadis manis paling ingin dijadikan pacar—baik oleh rekan-rekan seangkatan maupun kakak tingkat—setelah ia menjadi mahasiswi? Kaca mata pantat botolnya ia tanggalkan, digantikan lensa kontak bening yang mempertajam dwimanik pekatnya. May yang sekarang tak lagi memamerkan rambut legamnya yang panjang karena ia sudah memakai hijab. Tapi keputusannya itu justru membuatnya terlihat lebih anggun.

Oh, dan jangan lupakan juga prestasinya yang tetap bersinar walau banyak mahasiswa lain rajin mengeluhkan susahnya materi kuliah.

Bagaimana Mahmudin tidak menyesal? Andai ia dulu tak menilai diri sendiri sebegitu pongah, mungkin jalan baginya merebut hati May bisa terbuka lebih lebar.

.

Maka dari itu, saat Mahmudin mendapati May berdiri sendirian di halte, ia tahu ini adalah kesempatan gemilangnya. Jelas ia tak akan menyia-nyiakan momen ini. Biar sekali saja ia ditampar oleh karma—kalau ia sampai mengizinkan dirinya dicemooh karma dua kali, itu namanya bodoh berpangkat-pangkat.

Si gadis pujaan memeluk beberapa diktat tebal, sesekali mengerling gelisah ke langit yang digantungi awan-awan kelabu. Ponsel pintarnya berada di genggaman tangan satunya.

“May!”

Yang disapa menoleh ke arah sumber suara, mendapati Mahmudin yang menghampirinya sembari mengendarai sepeda motor butut kesayangannya—warisan bapak, katanya. May mengulas senyum singkat saat Mahmudin mematikan mesin motornya di depan halte.

“Kok belum pulang?”

“Tadi ke perpustakaan dulu, minjem buku.”

Mahmudin mengangguk basa-basi. Jelas ia tahu fakta itu karena ia melihat May keluar perpustakaan lima belas menit yang lalu. Tapi ia tak mau dicap sebagai penguntit, maka ia pura-pura tak tahu.

“Ayo! Pulang bareng aku aja.” Bukan keputusan yang bijak apabila ia terlalu lama basa-basi. Sembari mengangsurkan helm cadangannya, memang inilah modus yang hendak dijalankan Mahmudin: mengantarkan May pulang sekaligus mencuri satu-dua obrolan.

“Nanti malah ngerepotin. Aku udah pesen ojek online, kok.” May menolak halus—tak enak pada teman lelakinya itu, karena dengan mengantarnya pulang, ada kemungkinan Mahmudin akan kehujanan di jalan.

“Daripada kamu sendirian nunggu ojek di sini, udah sore juga, May. Rumah kita juga searah.” Mahmudin keukeuh.

May gamang, yang dikatakan Mahmudin banyak benarnya. Sejujurnya ia sendiri takut harus pulang sendirian sesore ini. Sudah lama ia tidak naik transportasi umum semenjak ia punya pacar. Walau ia selalu waspada dan mawas diri, peluang kejahatan pasti ada dan terbuka lebar.

Didorong musabab itu, May menyambut tawaran Mahmudin—tanpa tahu bahwa si lelaki tak sedikit pun merasa keberatan, justru bersorak girang-girang saat si gadis mengiyakan invitasinya. Mahmudin sudah bersiap, merancang topik obrolan yang akan ia lontarkan sepanjang perjalanan pulang. Tapi nasibnya tak bisa berbohong.

Di tikungan lima puluh meter jauhnya dari titik temu mereka, sepeda motor butut Mahmudin justru mogok.

Ia berusaha tampil kalem dan menyalakan mesin motornya berulang kali. Tapi si motor butut sedang ogah menuruti kemauan tuannya. Seolah itu saja belum membuat wibawa Mahmudin luntur di depan May, titik-titik air hujan mulai jatuh dari langit, membasahi keduanya.

May tak lagi menyembunyikan kegelisahannya sembari melindungi kepalanya dengan diktat yang ia bawa. Sementara Mahmudin masih berusaha menyalakan mesin motornya, sekali waktu melontarkan optimisme untuk May—yang malah terdengar seperti bualan di kuping si gadis.

Tepat di usahanya menyalakan motor yang kesekian puluh kali, sebuah SUV abu-abu metalik melintas. Sang pengendara melambatkan laju, lalu berhenti di samping trotoar tak jauh dari mereka. Mahmudin mendongak, mendapati May yang raut mukanya setingkat lebih cerah, juga mendapati…

…Mario, mantan pacar May, keluar dari mobilnya dengan sebuah payung di tangan. Menghampiri May bak seorang pangeran berkuda putih akan menyelamatkan Cinderella.

“May, kok masih di sini?” Mario gesit mengangsurkan payungnya, melepas jaket denimnya lalu disampirkan ke bahu si gadis, dan juga mengambil alih diktat-diktat yang dibawa May. “Ayo, cepet masuk mobil, aku anterin pulang. Hujan-hujan gini, nanti kalo kamu sakit, gimana?”

Hujan semakin deras, May tak punya waktu lama untuk berpamitan. Maka ia cuma menggumamkan permintaan maaf dan anggukan lemah ke arah Mahmudin. Sementara yang diajak mengobrol oleh May sudah kehilangan nalarnya sejak tadi, melihat apa yang ia lakukan tak ada apa-apanya dibanding yang Mario lakukan.

Segera setelah May duduk aman di kursi penumpang, Mario tancap gas. Meninggalkan Mahmudin basah kuyup, merasa merana dan nestapa.

Ia pernah dengar rumor tak berdasar dari salah satu temannya yang rajin bergosip, bahwa tikungan ini adalah tikungan keramat. Entah sudah berapa kali musibah dan hal-hal tak mengenakkan terjadi di tikungan ini. Awalnya Mahmudin hanya mendengus meremehkan… sampai sore ini ia merasakan sendiri ‘musibahnya’.

Sungguh, disenggek4 mantan pacar dari gebetannya bukan pengalaman yang patut dikenang.

.

  1. istilah diambil dari Sherlock versi TV series, heuheu. I’m sorry, I can’t just ignore. XD
  2. bachelorette is bachelor for female, berarti seorang gadis muda yang masih lajang (alias bujangan).
  3. Indonesian popular slang for pendekatan.
  4. Javanese slang for ditikung, HAHAHAHA. the word ‘disenggek’ is so popular in my inner circle, few years ago. biasalah ya, namanya anak muda tikung-tikungan. selama bendera kuning belum berkibar, mah (NGGAK GITU JUGA).

.

-end-

.

  1. ditulis di tengah writers’ block, jadi maafkan segala jenis kerancuannya.
  2. will do better next time, promise.
  3. thanks to my dear fikeey yang sudah jadi beta reader. she is indeed my saving grace. love love love ❤
  4. thank you juga kalau udah baca sampe abis ❤
Advertisements

7 thoughts on “[Writing Prompt] Tikungan Maut

  1. Haha, sumpah ya. Itu pasti keki banget dan rasanya pengen terjung dri jurang aja. Udah optimis bisa lebih deket sama May, malah terancam gigit jari. Bisa aja si May balikan lagi sama mantannya.

    Like it 🙂

    Like

  2. Pertama pas nemu ‘high fuctioning sociopath’ langsung konek ke Sherlock;;

    Gimana ya, Kak Put itu punya cara bernarasi yang bikin betah pembaca buat tetep duduk sampai baris akhir. Seperti punya bumbu sendiri buat bernarasi. Sejenis Andrea Hirata yang minim dialog tapi ga bikin bosen2 sama narasi2 panjangnya. Aku sendiri malah masih ga pede bernarasi panjang;;;

    Ada bagian yang bikin aku agak bingung Kak ‘Biar sekali saja ia ditampar oleh karma’ itu maksudnya karma si Mahmud ga maju2 ngadepin May atau karma apa ya. Mungkin akunya yang kurang konsen baca;;;;;

    Dan aku mau tanya ‘tepat di usahanya menyalakan motor’ untuk di dan usaha memang dipisah ya kak? Aku masih aja bingung sama penggunaan di, jadi sekarang pengen lebih peka. Mohon pencerahannya Kak. Atau mungkin Kak Put punya rekomendasi blog kepenulisan favorit yg bagus dan komplit? Nanti biar aku pelajari sendiri. 🙂

    Segitu aja deh kak. Maaf kalau banyak tanya hehe

    Like

    1. Oh, selama ini aku nangkepnya di dipisah kalau menunjukkan tempat atau waktu yng secara harfiah aja hhehe.
      Oke, makasih kejelasannya, Kak

      Like

  3. Ya ampun, amit2 jadi mahmudin huhuhu..
    Fix itu mario nikung mahmudin #eh #bukhaan
    Ya, semoga aja mahmudin gak kapok deketin may, kan may blom bilang nolak kan ya? Huhuhu…

    Asik baca cerita ini kak, enak, ngalir aja mnurutku..sukaa.. 😀

    Liked by 1 person

  4. melaaaaaaaaaaas
    mas mahmuddin sama eike aja *terus kak put muntah
    ha baca fic kakak itu kadang2 rada2 gimana gitu, maksudku ekspektasi yg ditimbulkan sama judulnya beda sama isinya hahaha kirain ini tuh horror apa crime gitu eeeh lha kok.
    dan awalnya aku juga ngira ini bakal jadi kisah clbk waktu baca summary, eeeh salah juga :p mahmudin ini ternyata cuma penggemar rahasia yg ngarep lebih sama mae *sumpah bagian nama beken itu aku ngakak. bisa banget maesaroh jadi may XD*
    ngenes ya ampun kak ni nasib si mahmud *eh *seenaknya aja menggal2 nama* udah motor butut, mogok, kehujanan, ‘dipepet’/? SUV pulak. hahaha aku tertawa di atas penderitaan org tapi gimana habis lucu ^^ kisah ‘penyenggekan’ yg luar biasa nikmat pembawaannya ehei.
    keep writing kak!

    Like

  5. ((aseli aku belom bisa move on dari nama bekennya maesaroh)) yaampun kakput mah kepikir aja lah nama maesaroh dijadiin may as stage name-nya hahahaha xD terus aku tuh bayangin maesaroh ini tipe tipe yang terkenal se-kampus gitu, terus si mahmudin tuh tipe tipe yang temennya cuman dikit (sumpah muup yaa mudin, bukan maksud, tapi yah…). TERUS BAGIAN DIA KECEWA SAMA DIRI SENDIRI DONG KAAAK :” aseli dari kakak nyeritainnya tuh kayak si mudin yang bener-bener nyeseeeel setengah mati. “kenapa dulu ga gue tembak” “kenapa dulu engga pdkt” hahaha duh mudiiiin x)))
    terus terus yang pas udah bagian mudin ngajak pulang may aku tuh yang: wah ini kalo pdkt berhasil tebar confetti dah buat mudin. EH TAUNYAAAA xD tapi kak asli aku kasian banget pas mudin sendirian gituu berduaan sama motornya heu:” sabar yaw mudin……:”” kak ini serius aku ngedukung pabila mau dibikin versi serinya kak hahahaha xD btw maafkeun kakput komenku pendek dan apa banget ginii huhu. dan sama sama kakpuut. kakak juga sering jadi my saving grace pabila aku lagi ada di tengah tengah wb :”) keep writing kakpuuut luvvvsss ❤ ❤

    Like

  6. KAPUT HAEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEY!!! ❤

    'ditikung mantan'–dari promptnya uda bikin deg-deg serrrr
    tarattatatataaaaaaa~~~ ditikungnya di tikungan keramat uhuy apalah arti knalpot mogok dan mobil mantan 😥 #masmahmudinyangtabah
    gatau kenapa aku kepikiran Mahmudin deserve diz at the same time XD
    kaput you deserve much more better comment than this but pls accept my heartsssss ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ terima kasih sudah mencerahkan malamku dengan menertawakan mas Mahmudin yang jodohnya ditikung mantan :')

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s