[Writing Prompt] Sal

Sal

Naked Truth

by cookiesnat94

“Well, maybe because you didn’t know what it was like to lose somebody you loved more than life itself.”

.

Tyler berusaha sebaik mungkin untuk tetap membuka matanya, dan mendengarkan apa yang Sal katakan.

“Alex mengakhiri hubungan kita, karena dia berpikir bahwa aku terlalu buruk untuknya. Aku tahu ibunya tidak pernah menyukaiku karena aku datang dari Queensland, dan aku bukanlah wanita sempurna yang ibunya inginkan. Sejujurnya aku tidak pernah berharap bahwa hubungan kita akan sedalam ini, tapi tetap itu membuatku hancur setengah mati.”

Jarum jam baru menunjukan pukul empat pagi. Kedatangan Sal, bahkan tidak pernah dia rencanakan. Dia bukanlah pria yang senang mendengar umpatan hati seorang wanita yang baru saja putus cinta. Oh, dia masih memiliki ribuan hal menarik untuk didengar selain mengamini rengekan mereka tentang patah hati.

Tapi dia tidak bisa melakukannya detik ini, yang berada di hadapannya adalah Sal—wanita berambut cokelat tua, dan bola mata berwarna cognac yang dikenalnya, tiga tahun lalu ketika wanita itu menonton sebuah pertunjukan untuk underground rapper.

Dia masih ingat pertemuan pertamanya dengan Sal. Wanita itu datang bersama Jacob, salah satu teman seprofesinya. Awalnya dia berpikir bahwa Sal adalah kekasih Jacob, di mana sebenarnya Jacob berusaha menjodohkan Tyler dengan Sal, mengingat saat itu Tyler baru saja berpisah dengan kekasihnya.

Tapi takdir berkata lain, Sal menemukan Alex, sahabat terbaik Tyler yang berada di sana. Sal merasa bahwa Alex jauh lebih menarik perhatiannya, dan mereka berakhir bersama. Tyler bahkan tidak merasa keberatan dengan semua itu, karena sejak saat itu dia berteman baik dengan Sal—mereka banyak menghabiskan waktu bersama, hanya karena Sal merasa lebih nyaman melakukan hal-hal bodoh dengannya.

If we were not different, maybe we would still together.”

Kini rasa kantuk itu menghilang saat dia melihat Sal yang menundukan wajahnya. Beribu jawaban berada di dalam pikirannya, dan beribu ‘bagaimana jika’ terputar rapih seperti sebuah roll film dalam matanya.

“Well, if Alex couldn’t accept his true-self at first place, then he doesn’t deserve you at all.

Sal menatap Tyler dengan tertarik. Mungkin jawaban yang diberikan Tyler tidak begitu diharapkannya. Mungkin dia mengharapkan sebuah jawaban yang lebih ringan seperti; ‘Kau tahu Alex memang berengsek, tapi dia sangat mencintaimu—aku akan berusaha membuat dia mengejarmu kembali.’

“Mungkin kau tidak seharusnya membuang waktumu untuk seorang pria yang tidak bisa menerimamu apa adanya,” Tyler seakan menjelaskan lebih jelas jawaban sebelumnya, menyamarkan ekspresi wajahnya dengan menyesap segelas air putih.

“The best life is always a life you didn’t know you could possibly live.” Gelas itu masih berada di dalam tangannya, dan dia membayangkan sesuatu yang lebih sederhana dari semua ini ketika menemukan Sal berada di depan pintunya.

“Well, maybe because you didn’t know what it was like to lose somebody you loved more than life itself.” Sal menjawab dengan senyuman singkatnya, dia menarik tasnya dari sana, menyesali keputusannya sendiri untuk datang kepada Tyler.

Tyler menatap Sal dalam diam, dia bahkan tidak berusaha untuk mencegah kepergian Sal.

Di belakang sana, Sal bisa mendengar bunyi derap langkah Tyler yang menemaninya hingga di depan pintu lift. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Sal memikirkan banyak hal. Betapa egoisnya dia menilai Tyler melalui satu sudut pandangnya. Dia tidak pernah tahu berapa banyak Tyler kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya—dia bahkan tidak pernah memikirkan hal itu.

Pintu lift itu terbuka. Tyler masih berdiri di belakangnya, dengan matanya yang menatap lurus ke depan. Dia membiarkan Sal berdiri di sana untuk beberapa detik, sebelum akhirnya wanita itu memutuskan untuk masuk ke dalam lift, dan menatap wajahnya.

Sal mengumpulkan keberaniannya, mencari cara untuk menyuarakan rasa penyesalannya terhadap apa yang dia katakan kepada Tyler.

Baru ketika Sal akan menyuarakan permintaan maafnya, dia bisa mendengar suara Tyler berbisik dengan rendah diiringi denting pintu lift yang bergema di dalam sana.

“I lost you.”

Lalu pintu lift itu tertutup, meninggalkan Sal dengan kebenaran yang menyeruak di dalamnya.

-fin-

Advertisements

6 thoughts on “[Writing Prompt] Sal

  1. “The best life is always a life you didn’t know you could possibly live.”
    Suka banget sama kata-kata itu. Entah kenapa langsung nempel di kepala dan bikin aku mikir.
    WEll, yeah. Kata-kata itu bener banget.

    Oh iya, ini pendapat ku ya.
    yang di kalimat “tapi tetap itu membuatku hancur setengah mati”
    Menurut ku lebih enak dibaca “Tapi itu tetap membuatku hancur setengah mati”

    Hanya sekedar saran. Karena ilmu ku pun masih cetek 😀

    Like it 🙂

    Like

    1. hallooo Kiyuroo (aku ga tau harus manggil apa hehe) terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk baca dan meninggalkan komentar. Untuk masukannya juga hihi 😀

      Like

  2. aku bacanya ambyar pas bagian: “I lost you.” WAAAAAAH :”””””””
    btw aku suka deh nama namanya. sal, tyler, hehehe. dan setting yang kamu bangun juga kerasa gituu. wah. (terus sampe sini lupa mau komen apaan).
    maafkan aku komennya pendek sama geje gini, but aku suka tulisanmu hihihi. keep writing yaaah, dan salam kenaal 😀

    Like

    1. Hallo Fikaaaa! Aduh ganyangkan sekali di komen senpai 😀 terimakasih loh sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan meninggalkan komentar 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s