[Writing Prompt] Afeksi Hening

financial-planner-q-a-how-do-you-invest-your-own-money

Defisit

By Jung Sangneul

“Defisit. Kamu defisit, Kil. Kayak aku.”

.

.

Keuangan menjadi masalah nomor satu untuk siswa SMA yang hidup di perantauan seperti Kila. Gadis berambut sepanjang bahu itu tinggal di kos sempit yang memuat berpuluh-puluh bukunya, kasur di sudut, serta seperangkat komputer dan dispenser di sisi lain. Sekolahnya hanya berjarak beberapa meter saja, dan tanpa keberadaan transportasi yang memadai, ia cukup berjalan kaki. Jika kesiangan, konsekuensinya adalah mengubah berjalan menjadi berlari.

Bukan masalah biaya kos yang dia risaukan, karena orang tuanya yang berada di kota lain mengirimkan uang khusus untuk pembayarannya. Bukan juga masalah daftar ulang atau pembelian buku, karena hal seperti itu akan diurus pribadi oleh sang Bunda. Juga salah jika dikira ia ribut masalah SPP, karena kecanggihan teknologi membuat orang tuanya tinggal transfer ke rekening tabungan khusus untuk pembayarannya. Bank tinggal memotong uang tersebut tiap bulan, sedangkan Kila hanya bertugas mencetak bukti pembayarannya agar tidak dituduh menunggak di keuangan.

Justru masalah krusial Kila ada pada satu hal yang terlihat paling sepele: uang saku.

Memang, dengan memberikan jatah uang saku setiap bulan dapat mengajari—sedikit memaksa juga—Kila untuk belajar membuat manajemen pembukuan keuangan serta berhemat demi perut. Tapi, ada kalanya Kila betul-betul pusing dengan masalah ekonominya. Jadi serupa dengan ibu-ibu yang mengeluh gaji suaminya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Duh, terus yang buat kaos kelas pakai uang apa? Buat beli bahan prakarya? Buat tiket berenang Jumat nanti? Ya ampun, kenapa udah tinggal segini aja, sih?” gerutuan itu terpaksa terlontar begitu saja, meski gadis itu tahu dia masih di area kelas. Bukan di kosnya tempat ia biasa bicara sendiri.

“Yah, masih pagi udah marah-marah sendiri. Obatnya abis, Neng?” teman laki-lakinya yang kebetulan baru tiba menyindir sambil tertawa kecil.

“Iya, abis. Beliin dong, nggak punya duit, nih, sampai nggak bisa beli obat.”

Lintang, temannya itu hanya cengengesan mendengarnya.

“Kamu tahu nggak, istilah apa yang tepat buat penderitaanmu ini?” dia menunjuk pada buku keuangan Kila (isinya kolom pemasukan, pengeluaran, berikut saldonya. Dan sekarang di kolom saldo hanya tertera angka 25.000, dan ini masih tengah bulan!) sambil tetap tersenyum.

“Apaan emang?”

Muka Kila tetap saja kusut meski sudah dipancing senyum manis Lintang. Tidak peduli meski cowok itu terkenal melumerkan hati cukup dengan tersenyum. Pikirannya masih tetap pada saldo yang tidak mungkin ditambahi angka nol di belakangnya.

“Defisit. Kamu defisit, Kil. Kayak aku.”

Kila mendengus. Wajahnya semakin kusut. Lintang tidak membantu apa-apa. Ia tahu, cowok itu juga susah sekali disuruh membayar kas, keuangannya macet terus seperti bus antarkota. Terkentut-kentut, tidak stabil. Ia juga tahu, cowok itu tidak mampu menambah nominal saldonya, justru hanya akan ikut mengeluh bersama Kila dan membuat kepalanya semakin pusing seperti terkena badai tornado—

“Tapi, aku punya solusinya.”

Baiklah. Pikiran Kila spontan terhenti. Gadis itu menoleh dengan semangat.

“Coba kamu inget-inget, deh, ada yang punya hutang sama kita, terus belum dibayar ….”

Gadis itu menatap Lintang dengan kening berkerut. Ia belum paham.

“Beberapa bulan yang lalu, kamu menang lomba esai, ‘kan? Dan beberapa bulan yang lalu juga, aku menang lomba puisi—”

Kila melonjak seketika. “Iya, aku inget! Uangnya belum cair! Oke, kita kemon ke ruang keuangan kalau gitu!”

Lintang ingat, Kila tidak pernah dekat dengannya. Mereka senasib, hidup di perantauan, berusaha mengatur uang sehemat mungkin, dan juga sekolah jalan kaki. Malah, Lintang lebih jauh rumah kosnya.

Tapi, hari ini, seperti mimpi, tiba-tiba Lintang tahu rasanya ditarik Kila menuju ruangan keuangan setelah sebelumnya melalui prosedur di ruang wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Pencairan dana berlangsung, mata Kila berbinar-binar.

Di antara binar mata itu, Kila tidak pernah tahu kalau saat itu pula ada yang hatinya lega. Ada yang tersenyum di sebelahnya, bersyukur sebab mampu mencarikan jalan keluar bagi masalah Kila.

Ya, itu Lintang.

Dia tak apa, baik-baik saja jika dilanda defisit. Tapi, satu yang ia tahu sejak bertemu Kila: ia tidak ingin gadis itu sedih, apalagi hanya karena perkara defisit.

 

—fin.

Advertisements

15 thoughts on “[Writing Prompt] Afeksi Hening

  1. Pernah ngalamin macam hal ini nih. Masih pertengahan bulan, dompet udah tipis aja. Muter otak lah biar uangnya sampe akhir bulan nanti -_-

    Dan si Lintang ini tuh suka kan sama Kila? Tapi dia diem-diem aja? Trus jadi satria baja hitamnya Kila? Hihi

    Suka sukaaa sama ini 😀

    Like

  2. Iiih, kamu nyodorin fluff kyk gini bkin aku kangen masa2 SMA ×_× bner2 berasa gimanaa gitu ada cowok ga dikenal2 amat ngasih solusi pas lagi ada masalah, padahal aslinya masalah dan solusinya cukup simpel, tapi ttp aja bedaa gitu, adududuu..*0*

    Trimakasih atas ceritanya niis.. 😀

    Liked by 1 person

    1. Hihi iya kak dhil, ini aku banget sih abisan. Cowok di kelasku juga meski ga deket sebenernya care gt (tapi ga cinlok ky lintang kok wkwk) eniwei makasih komennya ❤

      Like

  3. Awwww rapi banget, sukak.
    Bacanya enak kayak lagi makan pizza di pinggir pantai (itumah elo)
    hmmm bilang apa lagi yess?
    Pokoknya kerenlah. Gk ada penjabaran muluk2 tapi aku bisa ngerasain perasaan Lintang ke Kila, so sweet~

    Like

  4. CIE LINTANG CIEEEEE ((aseli aku mah gabisa tenang kalo udah bawa bawa fluff jaman SMA gini HAHAHAHA maafkan aku ya nis, tiba tiba ngerusuh pagi pagi)). tapi kamu bawainnya smooth banget sumpah. aku kira si lintang nih emang temen deket kila kalo udah bawa bawa keuangan sama perantauan (lintang ini merantau juga kan), eeeee taunya pas di bawah bawah dijelasin kalo lintang taunya lega juga karena hal lain HAHAHAHA ketauan kamu, mas lintaang xD yosh niswaa ini manis sekalii hihi. keep writing yaaaa ❤

    Like

    1. Bawaannya kangen masa SMA gitu ya kak? Wkwk
      Iyaa nggak papa ngerusuh pagi siang sore malem mah its okay wae sama niswa xD makasih komennya kak, keep writing too ^^

      Like

  5. Bentar, aku salah fokus bayangin Lintang sebagai kenalanku yang super gak cocok melakukan hal macam ini HAHAHA.

    Endingnya manis banget, parah, parah, niswa kamu pintar sekali bikin yang fluff-fluff bikin greget tapi gak kelewatan X) Dan defisit yang menurutku bahasan tinggi, kamu bawain jadi nyantai gini 👍👍👍

    Keep writing ya!

    Like

  6. WA. ni gimana urusannya masa klop banget sama daftar pengeluaranku yang isinya ya; jersey kelas, bayar renang, kas kelas, belom lagi klo osis ngadain acara trus suruh iuran lagi. Defisit lah defisit. Yhhaaa biarin aku salah fokus ya biarin. Soalnya sejak Kika bahas ttng peneluarannya dia buat tiket berenang dkk, aku ga fokus bacanya. Kenapa? udah keinget kantong sendiri masalahnya. Tengah bulan saldo segitu fix bgt puasa tiap hari.

    Dan Lintang, imej mu beda ya tang(?) cowok pelumer hati kaya kamu itu yang biasanya ke sekolah bawa roda empat kudunya. Etanya podo ra nduwe duek piye thoo tang… KKKKKKKKKK

    Gatau sudah kenalan blm sama kamu. Tapi hai aku mia 99 line. Slm kenalll

    Like

    1. Karena kita seumuran sihh, dan jelas pengeluaran itu emang pengeluaranku juga duhh wkwk. Ini kan fiksi curhat banget xD

      Etapi ada kok pelumer hati yg kaya lintang gt di sekolahku ehehehe. Salam kenal juga miaa, thanks komentarnya ^^

      Liked by 1 person

  7. nice bangetttt…emm, sebelumnya salam kenal, aku Lisa 99line..:)
    jujur aja sedari awal enggak ngliat bakal ada rambu2 (?) fluff dan pas si lintang datang bawa solusi, aku yg bacanya masih biasa aja….tetiba di akhir, dudududu….eh ternyata si lintang ini macam udang dibalik rempeyek aja, datang pagi2 bawa solusi supaya si kila bisa senyum…XD
    ringan banget dan fluffnya kenak ngett, aseli…..
    keep writing! love your writing!

    Like

    1. Halo juga lisa, ehe ketemu juga akhirnya sama yg satu line 🙂 salam kenal yaa aku niswa.

      Hehehe iyaa lintang tak terduga, dan kilanya ga peka pulak wkwk. Makasih komennya anyway 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s