[Writing Prompt] She, He and World

a6f0e87d29f94000

Sentence

by Lucyhikaru

“The truth, however ugly in itself, is always curious and beautiful to seekers after it. ” -Agatha Christie-

.

[*]

Tercipta sebagai manusia, tidak membuatku dianggap sama dengan lainnya. Kata normal seakan sedikit jauh dari diriku. Aku tidak tahu kenapa, dan yang pasti aku tidak menghendakinya. Rasanya berbeda saat pertama kali mataku menatap dunia, aku merasa bagian dari dunia ini. Tidak lama. Hingga saat separuh penghuni dunia mulai membuatku tak mengerti.

Aku ingat saat ibu mengoceh panjang lebar dengan bahasa tingkat tinggi. Seperti perintah namun sangat kompleks. Aku bisa mendengar kata-kata acak mengalir dengan sempurna namun sama sekali tidak meninggalkan makna dalam otakku. Ia mengulanginya dengan intonasi yang berbeda. Terakhir dengan sedikit berteriak hingga aku memilih bungkam, kemudian menangis.

Lain hal di sekolah. Jika banyak yang mengatakan bahwa sekolah adalah tempat yang keren, menurutku itu neraka. Well, sekilas mereka sama denganku. Namun saat peran itu dimainkan setiap harinya, aku menjadi maskot kebencian yang bertajuk ‘Slow Magie!’ bagi seisi kelas tak terkecuali guru. Kau tahu, rasanya seperti terdampar di dunia lain, mungkin dunia monster atau alien kejam dengan sudut pandang yang bertolak belakang dengan apa yang kau lihat.

Banyak hal yang tidak kuketahui tentang diriku. Sama halnya dengan ibu, nenek, paman, bibi, tetangga-tetanggaku, bahkan rumput yang bergoyang. Aku tidak punya teman. Baiklah, mungkin punya satu atau dua orang. Tapi itu hanya seminggu atau lebih beberapa hari. Setelahnya aku sendirian lagi. Mereka bilang aku dungu, lambat dan tak bisa diandalkan. Orang tua mereka juga bilang begitu. Bahkan keluargaku tak mengelaknya.

Ibu bilang ia malu punya anak seperti diriku. Kurang lebih dia berkata begitu. Dilihat dari cara ia menjerit marah sambil menjauhkan tubuhku seakan aku ini begitu menjijikkan. Aku tidak tahu apa ayah akan berperilaku sama atau tidak seandainya ia masih hidup. Aku tidak terlalu paham apa yang ia katakan. Mungkin karena itu aku sulit mengerti apa salahku. Berulang kali aku mencoba minta maaf, tapi sepertinya pilihan kata yang kugunakan tak memperbaiki suasana hati ibu.

Aku memang sulit mengekspresikan diri dengan berbicara. Aku cenderung pendiam dan takut jika mereka tidak menerimaku. Kurasa alasannya cukup logis. Keluargaku saja tak mau menerimaku, apa lagi mereka?

Terkadang aku berpikir bahwa ini bukan salahku. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa membaca serangkaian huruf yang beterbangan, menari-nari, teracak bahkan melompat-lompat seperti sihir hingga kau merasa mual persis seperti mabuk laut ditambah sembelit parah. Belum lagi saat disuruh menulis kalimat dengan simbol-simbol terbalik yang membuatku ingin menangis muak!

Beberapa kali kucoba mengadu pada pak guru, ibu, nenek bahkan pada langit cerah dan mendung. Sayangnya mereka tak memberi respon lebih baik dari “Alasan! Dasar pemalas!” atau “Aku tidak peduli apa yang kau alami. Yang ingin kudengar adalah kau bisa membaca dan menulis kalimat itu dengan benar!”

Ya.

Andai aku bisa.

Tapi setidaknya alam, dimensi dan warna tanpa adanya tulisan membuatku selalu merasa lebih baik. Jika mual mulai berkuasa, aku akan berpaling ke arah jendela yang terbuka dan mulai membangun fantasi liar dalam benakku. Kau tahu, aku merasa jauh di luar sana—mungkin di ujung dunia—adalah tempat di mana aku seharusnya. Tempat di mana semua orang sama seperti diriku, bahkan lebih aneh mungkin. Yang pasti tidak di sini. Tidak dengan orang-orang yang membenciku, membiarkan aku merasa berbeda dan jatuh dalam pengasingan yang gelap.

Aku hampir lupa dengan Beter. Satu-satunya orang (kupikir dia adalah manusia walau namanya tak lazim) yang meninggalkan jejak sebuah kertas origami kuning dengan lipatan french fold di loker lusuhku. Tadinya kupikir itu surat cinta (walau aku yakin itu pasti nyasar) tapi hanya ada satu kalimat pendek dan tertanda nama penulis yang sulit untuk dibaca. Kukira itu bahasa perancis—aku hanya menerka-nerka. Dan mirisnya aku tidak mengingat satu pun merek (maksudku nama) orang-orang di kelasku. Bahkan butuh dua hari untuk memecahkan nama pelakunya, hingga serangan sakit kepala dan mual membuatku harus izin tak masuk sekolah.

Dua minggu setelah itu ibuku menyerah. Ia bertemu dengan kepala sekolah sekaligus guru pembimbingku, meminta maaf—walau ia tidak salah—kemudian menyeretku keluar seperti koper besar yang tergolek pasrah untuk digiring ke mana saja.

Aku tidak sekolah lagi setelah itu.

Omong-omong, Aku Magie Trace. Gadis berusia dua puluh tiga tahun yang sampai sekarang terperangkap di dunia kalian dan bertahan hidup sebagai asisten pelukis amatir yang menunggu sebuah pernyataan.

~

 [**]

Berbeda itu indah menurutku. Mungkin karena hidupku begitu sempurna—menurut orang—hingga semua terasa begitu membosankan. Seringkali aku tertarik pada hal-hal berbau aneh. Seperti seorang gadis saat di sekolah dasarku. Tidak cantik ataupun pintar, tapi ada sesuatu darinya yang membuatku penasaran. Berani taruhan, ia sendiri bahkan tak tahu apa itu.

Well, awalnya ia tidak menarik atensiku. Ia tak lebih dari gadis bodoh, pendiam dan mungkin kesulitan bicara. Itu umum. Tidak ada yang peduli padanya. Aku juga. Ia selalu duduk di sudut dekat jendela yang membuatku merasa ia persis seperti tokoh nerd di cerita fiksi.

Aku sendiri megambil bagian di baris terbelakang namun tidak di sudut. Smart one doesn’t always sit in the front, itulah prinsipku. Saat kau berada di belakang, semuanya tampak berbeda.

The closer you look, the less you see.

Itu kata-kata keren yang aku dapatkan di salah satu film favoritku. Jadi begitulah, kau bisa melihat semua aib seisi kelas mulai dari makan diam-diam, sibuk selfie jelek dengan smartphone hingga melengketkan upil di pinggiran meja atau kursi sendiri. Dalam hal ini, termasuk aib si Magie.

Setiap hari aku memperhatikan bagaimana gadis nerd itu selalu menyentuh pelipisnya dengan tekanan berlebih seakan menahan sakit, juga meringkuk tak berdaya. Berselang lima menit sekali, ia lebih tertarik berpaling ke arah jendela dan mungkin melamun hingga mengabaikan sebagian besar pelajaran yang sedang berlangsung. Tapi tingkahnya akan berbeda saat pelajaran seni dimulai. Dari kedua irisku ia terlihat normal hanya seminggu sekali.

Ini menjadi menarik bagiku. Bahkan aku semakin penasaran saat seisi kelas menertawakannya. Aku juga. Ia mengadu melihat huruf-huruf di papan tulis, buku tulis, bahkan di mana pun terbang melayang seperti sihir kemudian teracak dan berpindah posisi, membuatnya pusing dan menderita. Tidak ada yang percaya. Aku juga tidak. Tapi realitanya aku insomnia sepanjang malam.

Tak bisa meredam si curious yang agresif, aku menghabiskan weekend dengan berkutat di laptop milik ayah untuk mengetik berbagai kata kunci di Google mengenai pengakuan si Nerd. Jujur saja, aku sedikit berempati padanya. Ia terlihat tidak bohong, apalagi dengan penyampaian yang terbata-bata cukup menyihirku setidaknya 30% untuk percaya.

Dan setelah tiga jam leherku tegang, aku tetap tak menemukan hasil penelusuran yang sesuai. Bukan hanya matahari saja yang jadi hot, laptop ayahku pun ikut-ikutan memanas. Aku ingat saat itu ayah menghampiriku dan bertanya apa yang ingin kuperas dari Google. Akhirnya aku pun berceloteh tentang pengaduan si Nerd dan hasil riset gerak-geriknya yang kuperhatikan selama ini.

Untungnya ayahku pintar seperti aku—maksudku ia memang sudah pintar sebelum aku ada. Ayahku bilang bahwa besar kemungkinan si Nerd mengidap developmental dyslexia[1] yang kebanyakan orang tua belum tahu. Ia mengetahui hal ini karena anak temannya juga mendapat gejala yang mirip.

Ayahku bilang lagi kalau setidaknya tiga dari sepuluh anak yang mengalami hal seperti itu memiliki gejala berbeda sesuai penderitanya. Pantas saja tidak ada yang percaya pada si Nerd. Para peneliti juga masih mencari tahu dan melakukan riset pengembangan teori akan hal ini. Dan itu artinya si Nerd unik.

Aku berhenti memanggilnya nerd setelah lima kali dapat teguran dari orang tuaku. Menurut mereka itu tidak mencerminkan sikap menghargai bahkan bisa dikategorikan menghina. Well, aku akui itu memang sedikit kejam. Jadi setelah mendapat nasihat dari mereka aku jadi tercerahkan dan berniat membantu Magie (untuk pertama kalinya aku menyebut nama itu) agar ia paham kondisinya. Atau mungkin mendapatkan penanganan dini sehingga ia tidak membatasi diri.

Masalahnya ia sulit sekali didekati. Atau aku yang tak punya mental untuk mendekatinya. Yeah, jujur saja aku malu dekat dengannya. Kau tahu, bahan ejekan yang cukup miris apalagi sampai terdengar oleh gadis-gadis cantik di sekolahku. Harga diri jadi taruhannya.

Jadi kuputuskan untuk mengirim surat. Baiklah, bukan surat sempurna. Hanya selembar kertas origami kuning (kalau warnanya pink nanti salah paham) tanpa amplop dan kulipat dengan model french fold (jangan tanya kenapa aku memilih gaya lipatan itu). Isinya singkat, hanya sebuah kalimat pendek.

You’re dyslexic, so hurry tells your Mom!!!

-Peter-

Aku tidak tahu harus menulis apa. Dan sejujurnya ini ide bodoh. Jelas sekali kalau ia kesulitan membaca, aku malah memberinya surat peringatan. Tapi mungkin saja ide ini berguna. Bisa saja ia membawa pulang surat itu kemudian ibunya lihat dan menjadi tahu kondisi anaknya. Bukankah ideku berguna?

Sayangnya, setelah aku menaruh surat itu di lokernya, Magie malah abstain karena sakit. Apa itu karena suratku? Mungkin ibunya membawa gadis itu ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut akan penyakitnya. Aku harap begitu.

Tapi dua minggu setelah itu, ibu Magie tiba-tiba datang dan menyeret gadis itu keluar tanpa sepatah kata pun—bahkan tidak dengan cara keibuan. Semua orang terdiam. Aku juga.

Kami tak pernah melihatnya lagi di sekolah saat itu.

Aku merasa bersalah, walau sebenarnya itu bukan salahku.

Anyway, Aku Peter Joe. Direktur muda tampan yang mewarisi perusahaan besar milik ayahnya yang juga tampan, sekaligus laki-laki yang siap memberikan pernyataan pada Magie.

.Marriage.

Fin.

Catatan :

[*] Magie Trace’s POV (Penderita Disleksia)

[**] Peter Joe’s POV (Normal)

[1] Developmental dyslexsia : sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis dan mengolah kata yang merupakan bawaan sejak lahir karena faktor genetis atau keturunan.

Advertisements

16 thoughts on “[Writing Prompt] She, He and World

  1. Halo, Lucy, salam kenal, aku suka sekali dengan ceritamu. Tema disleksia yang diusung disajikan dengan asyik. Kalimat-kalimatmu mengalir untuk diikuti, tahu-tahu sudah tiba pada kata ‘Fin’. Antara Magie dan Peter juga ada kontras, sekaligus chemistry tersendiri.

    Mudah-mudahan pernyataan itu bisa segera diberikan dalam waktu dekat, deh :).

    Liked by 1 person

    1. Hi Aminocte/? XD salam kenal.. panggil nya apa ya?
      Wah thanks ya udah baca ☺
      Hehehe
      Awalnya mau menuju ke genre angst , tapi malah lebih ke curhat/? Dan humor XD

      Like

  2. waw! Dari atas aku udah penasaran, sebenernya si Magie itu kenapa. Eh ternyata dia mengidap gangguan yang agak aneh, aku aja baru tahu dari sini, hehe 😀
    aku juga suka Peter yg menurutku kelihatan apa adanya, tapi niat banget bantuin Magie.
    Btw, suka sekali sama tulisan ini 😀

    Liked by 1 person

    1. Hi Chiharu98 XD salam kenal…….
      Thanks y udah baca 😊
      Kalu pernah nonton film percy jackson seri pertama , percy juga mengidap disleksia. Hehe
      Peter nya agak pede ya /? XD

      Like

  3. Ih, ya ampun..baru aku ngeh, begitu detail hingga nama Peter jadi Beter pun gak ketinggalan..huhuhu.. Dan, iya, Peternya kepikiran bantuin Magie dg cara sesimpel itu. Sukaa 😀
    Narasinya baguus, trimakasih yaa 😀

    Liked by 1 person

    1. Hi Dhila XD salam kenal …
      Si Magie gak bisa bedain huruf2 yang bentuknya mirip, karena itu dia salah baca… hihihi… Itu aja udah usaha keras selama dua hari untuk baca nama Peter. Dia bingung juga kenapa ada orang nama nya kayak gitu XD
      Ya, ide nya absurd tapi menurutnya berguna, walau sebenarnya gak hahha
      Thanks ya udah baca 😊

      Liked by 1 person

  4. “Aku tidak tahu kenapa mereka bisa membaca serangkaian huruf yang beterbangan, menari-nari, teracak bahkan melompat-lompat seperti sihir hingga kau merasa mual persis seperti mabuk laut ditambah sembelit parah. Belum lagi saat disuruh menulis kalimat dengan simbol-simbol terbalik yang membuatku ingin menangis muak!” — I remember this kind of description. Aku pernah baca novel yang tokoh utamanya menderita disleksia, dan aku familier bagaimana si author mendesprisikannya. Goodness, aku ngga nyangka sih awalnya kalau Magie ini menderita disleksia. Tapi setelah baca paragraf itu, aku jadi yakin. Note di bawah juga membantu :3

    Dan saat Peter memberikan surat itu, wow he is so kind, huh? I adore him! ❤

    and then this:
    ".Marriage."
    One word; Whoaa x)

    Liked by 1 person

    1. Hi O ranges XD
      Thanks for reading ❤
      Magie sendiri juga gak nyangka (bahkan gak tau kalau dia penderita disleksia) /aku juga gak\
      I don’t know how to describe the ending, so i just take that in one word XD

      Liked by 1 person

  5. Aluuuu Lucy~~~ OMO! Demi deh ya aku memang penasaran (tertarik) dengan topik dysleksia… sayangnya aku sendiri ga bakat ngolah yang macam begini dan omg Lucy you did it!!! Thank you! Akhirnya aku bisa baca fic untuk refreshing dengan topik yang sedang kucari!!!

    Eksekusinya smooth dan ngga terburu, aku suka, meski ya… endingnya klise but sweet! X)
    Aku ngga nyangka aja endingnya ternyata si cowo….awwww!!!

    Lucy keep writing!!! ❤

    Liked by 1 person

  6. Endingnya duh, aw banget ya.

    Aku suka detail cerita sama cara pembawaan dari Magienya yang emang terkesan dia terkena penyakit, dan baru dijelasin diakhir kalo dia dyslexia. Terus pernyatannya dong, love it, mungkin antara sekolah sampe mau nikahnya bisa dijelasin lebih banyak biar makin greget X)

    Keep writing ya!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s