Paralysis

person-1053160_640

credit: Antranias

by aminocte

Pada akhirnya, aku sadar bahwa pilihan yang begitu banyak justru membuatku lumpuh.

Takdirku untuk hidup di sebuah negara demokrasi yang relatif aman dan damai membuatku bersyukur. Sebagai salah satu dari ratusan juta penduduk, aku merasakan nikmatnya kebebasan dalam menentukan pilihan, yang dijamin oleh negara.

Kebebasan dalam memilih tidak selalu identik dengan sesuatu yang muluk-muluk. Misalnya saja, kebebasan memilih makanan. Aku bebas memilih makanan bergizi maupun makanan cepat saji minim nutrisi. Negara tidak memaksaku untuk makan buah di pagi hari, protein dan sayuran di siang hari, serta nasi dan sayuran di malam hari. Sah-sah saja bagiku untuk menggantinya dengan mi instan di pagi hari, mi instan di siang hari, juga mi instan di malam hari. Bicara soal mi instan, aku pun bebas memilih merek yang kusuka. Tidak harus membeli merek tertentu yang diproduksi oleh pemerintah, maupun merek lainnya yang diproduksi negara X yang begitu dermawan memberikan pinjaman bagi negara ini. Bila bosan dengan nasi atau pun mi instan, aku bisa saja menggantinya dengan oat instan ataupun oat cepat dimasak, sereal gandum ataupun minuman sereal, roti manis atau roti tawar, pisang goreng atau ubi goreng. Perkara lauk, tidak ada peraturan yang membatasi setiap penduduk untuk hanya memakan protein nabati ataupun protein hewani. Aku bisa memilih olahan telur, tempe, tahu, ayam, ikan, maupun daging sapi; dimasak tradisional atau ala Barat; manis, asin, atau pedas, berkuah ataupun kering. Bicara soal sayur-mayur dan buah-buahan, aku bisa memilih produk segar maupun kalengan, mengonsumsinya mentah ataupun dalam bentuk olahan, dimakan bersama saus kacang, bumbu rujak, sambal terasi ataupun rajangan cabai rawit.

Tidak hanya makanan, hampir semua barang dan jasa yang menjadi kebutuhanku, juga kebutuhan semua warga negara pun merupakan komoditi yang bebas dipilih. Aku boleh memilih shampoo beraroma mint, sabun beraroma mawar, dan pasta gigi beraroma sirih bulan ini, kemudian menggantinya menjadi shampoo beraroma mawar, sabun beraroma sirih, dan pasta gigi beraroma mint pada bulan depan. Perkara kosmetik, tidak ada yang membatasiku untuk memilih pelembap berbasis gel ataupun berbasis krim, alas bedak berbentuk krim ataupun cair, bedak tabur maupun padat, BB cream atau CC cream, buatan dalam negeri maupun luar negeri. Aku pun bebas memilih lip balm yang dikemas dalam bentuk stik ataupun jar, lip gloss transparan atau berwarna, lipstik padat, cair atau semipadat, matte atau glossy. Baik gawai buatan Finlandia, Amerika Serikat, Korea Selatan, atau versi tiruannya yang entah buatan negara mana, memiliki kesempatan untuk kupilih dan kujadikan milik pribadi. Pun tentang media sosial, tidak ada yang memaksaku untuk menggunakan media sosial A jika masih ada media sosial B, C, D, hingga Z dengan fitur beragam dan bisa kusesuaikan dengan kebutuhan.

Sama seperti kebutuhan materi, berbagai kesempatan yang lebih abstrak dan sulit untuk dikuantifikasi pun bisa kudapatkan dengan memilih. Bisa saja aku melanjutkan ke sekolah kejuruan maupun SMA selepas menyelesaikan sembilan tahun wajib belajar. Boleh saja aku memilih melanjutkan kuliah ataupun tidak setelahnya. Pendidikan tinggi bisa kujalani di dalam negeri maupun luar negeri, biaya sendiri ataupun beasiswa, di universitas negeri maupun swasta. Lepas dari dunia kampus, aku boleh memilih akan bekerja di perusahaan multinasional ataupun BUMN, menjadi aparatur sipil negara maupun karyawati swasta, purnawaktu maupun paruh waktu. Kalaupun tidak mencari kerja, selalu terbuka kesempatan bagiku untuk membuka usaha, entah itu peternakan atau pertanian, bergerak di bidang produksi atau distribusi, berdagang di pasar atau di toko online. Setelah selesai dengan diri sendiri, aku bisa memilih satu dari sekian lelaki yang serius ingin mengajakku untuk memulai kehidupan baru. Bila tidak satu pun pilihan itu mampu menarik hatiku, aku pun bebas memilih untuk menganggur atau menunggu dijodohkan, atau dua-duanya.

Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupku jika serba diatur, serba dibatasi. Harus menggunakan produk yang telah ditentukan negara, tidak boleh yang lain. Harus berbelanja ke pasar, tidak boleh ke supermarket. Hanya boleh membaca buku-buku yang mendukung pemerintah, tidak boleh membaca buku-buku berisi kritik, apalagi menentang pemerintah. Harus mencuci pakaian dengan sabun batangan dan mencuci piring dengan abu gosok, tidak boleh menggunakan detergen. Hanya orang-orang yang sangat cerdas dan sangat kaya yang berkesempatan untuk menjadi mahasiswa, sisanya harus langsung bekerja selepas sekolah. Bagi perempuan, hanya ada satu pilihan setelah menamatkan sekolah menengah: dipingit untuk kemudian dijodohkan. Oh, betapa suramnya kehidupan yang seperti itu. Tak ada bedanya dengan kerbau dicucuk hidung, yang pasrah saja disuruh membajak sawah di tengah garangnya matahari dan laparnya perut yang kurang diisi.

Untungnya, aku masih diberikan kesempatan untuk memilih. Alih-alih dipaksa menjadi angka nol atau satu dalam bilangan biner, aku bebas menunjuk satu dari lima, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, bahkan sejuta.

Akan tetapi, kesempatan untuk memilih tidak selalu mendatangkan manfaat bagiku.

Segala pilihan yang nyaris tiada batas itu tak jarang membuatku diam di tempat, tak mampu bergerak. Tak jarang aku mematung di hadapan rak makanan ringan di sebuah supermarket hanya untuk memilih keripik kentang rasa apa yang hendak kubeli. Seringkali pelayan kafe yang sering kukunjungi menatapku tak sabar karena aku terlalu lama memilih makanan dan minuman yang hendak kupesan. Tak jarang pramuniaga di sebuah toko sepatu menatapku gusar karena aku terlalu lama terpaku dengan begitu banyaknya pilihan sepatu yang bisa kubawa pulang. Beberapa tahun yang lalu, aku tergesa-gesa mengantarkan formulir pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi negeri pada batas tenggat waktu yang telah ditentukan, hanya karena aku bimbang dalam memilih jurusan. Saat teman-temanku berkutat dengan seleksi penerimaan karyawan di berbagai perusahaan, aku masih menimbang untung ruginya bekerja di perusahaan swasta atau di instansi pemerintah. Kala aku sudah diterima bekerja di sebuah rumah sakit, performaku stagnan karena dibayangi keraguan: apakah harus tetap bertahan atau memilih satu dari banyak kemungkinan yang ada di luar sana. Entah itu bekerja di tempat lain, bekerja paruh waktu, membuka usaha sendiri, atau melanjutkan sekolah lagi.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa pilihan yang begitu banyak justru membuatku lumpuh.

Kelumpuhanku dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang nyaris tak berbatas tak sampai membuatku cacat fisik, tetapi cukup untuk membebani pikiran. Tak sampai membuatku gila, tetapi cukup untuk membuatku resah karena terlampau sibuk memilih. Tak sampai membuatku ingin mengakhiri hidup, tetapi cukup untuk membuatku berkelindan dalam penyesalan untuk setiap kesempatan yang kulewatkan.

Akan tetapi, aku bisa apa?

Pilihan yang begitu banyak membuatku mati akal, tidak ada pilihan membuatku mati kutu. Hidup dengan pilihan yang begitu banyak membuatku senantiasa ragu, hidup tanpa pilihan lama-lama membuatku dungu.

Ah, bahkan memilih antara keduanya saja sudah membuatku lumpuh untuk yang kesekian kalinya.

fin

Author’s note:

1. Terinspirasi dari salah satu video TED talk bertajuk The paradox of choice oleh Barry Schwartz pada September 2006 lalu. Sebenarnya, ada banyak hal yang beliau sampaikan dalam video itu (salah satunya adalah mengapa pilihan yang begitu banyak belum tentu membuat orang bahagia), tetapi dalam tulisan ini, aku menekankan sulitnya memilih jika kita memiliki terlalu banyak pilihan.

2. Aku berpikir untuk menulis sebuah cerita yang sebenarnya, dengan narasi disertai dialog, tetapi cukup sulit untuk keadaanku sekarang, jadi tulisanku berakhir seperti ini (solilokui).

3.  Aku merasa tulisan ini kurang maksimal, jadi kritik dan saran sangat diapresiasi.

4. Terlepas dari bagaimanapun pendapat kalian soal pilihan, semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Advertisements

11 thoughts on “Paralysis

  1. Ada typo setitik. . di awal kalimat ada ‘dalm’
    Dari baca paragraf pertama sampe pertengahan aku masih mikir2, smua cerita kebebasan dan kemerdekaan(?) ini mau dibawa ke mana dan ternyata. . .jdaaar! nyes! jreng! :’)))))) ya githu lah, namanya juga manusia, terutama yg udah tua /uhuk/ diikat tertekan, dilepas bimbang. pengene opooo? fuh. . tulisanmu ckup bisa bwt jadi perenungan :’)
    aku malah ga bisa buat solilokui gini hehe

    Like

    1. Makasih fatim. Aku nulisnya juga nggak terlalu dipatok mau diarahkan ke mana jadi maaf bikin bingung juga. Syukurlah bisa dijadikan bahan renungan.
      Hihi, mungkin bisa suatu saat nanti dicoba 🙂

      Like

  2. mantap ceritanya, nyantol banget bin greget!
    awal cerita sampai ke pertengahan banyak2 mikir juga sih, soalnya full monolog…tapiiii bahasanya luwes jadi enggak bikin macet dan bisa sampai ke ending dengan selamat (?)
    suka banget sama cara nyampein pilihan2 yang sebegitu banyaknya dan tahu2 matung waktu disuruh milih salah satu XD…emang dasarnya manusia si ya, dikasi dikit ngedumel, giliran ada banyak bingungnya setengah mati..
    good job buat ka aminocte…keep writing!

    Like

    1. Makasih ya, Lisa :). Mudah-mudahan fiksi ini tidak ditangkap dengan cara yang salah. Sebenarnya semi uneg-uneg, sih, jadi kuharap bisa diambil pelajarannya dengan bijaksana 🙂

      Liked by 1 person

  3. Halo Kakput, terima kasih banyak atas koreksinya. Sudah kuperbaiki semua (dan aku masih harus belajar soal penggunaan partikel pun). Soal kalimat itu.. sebenarnya aku juga nggak begitu nyaman (setelah kubaca lagi), tetapi aku tidak kepikiran kalimat lain waktu itu.

    Terima kasih atas masukannya, Kak. Keep writing juga buat Kakput :).

    Like

  4. haluu 😊 pertama kali komentar di writer’s secret setelah sekian lama mondar-mandir gak jelas.
    huuuh, siap siap ngetik komentar, mesin sudah nyala, tarik nafaaas….

    aku ngebayangin jadi si ‘aku’ itu hidupnya flat yah. banyak banget pilihannya dia, tapi akhirnya juga bingung sendiri mau pilih yang mana.
    aku jadi ketampar pas sampe bagian pilih jurusan, pilih sekolah. well, kalo kriteria nggak memenuhi, nggak bisa masuk ke sekolah yang dipilih juga …

    agak tahan nafas juga sih pas liat narasi semua. Tapi, jengjeng, sampai juga di akhir 😂

    oh iya, tapi rasanya(faktanya) masih ada juga yang nggak punya pilihan sebanyak itu. malah dia nggak punya pilihan, kayak… dia nggak bisa milih hari ini mau makan nasi, roti. bisa jadi mi instan mulu. hmmm, mikirnya oot ya, heheh /maafkeun/

    K E E P W R I T I N G /kedip kedip/

    Liked by 1 person

    1. Hai Tia..terima kasih ya sudah mondar-mandir dan berkomentar di sini 🙂
      Iya, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama dengan kamu. Jadi pas nulisnya, berasa dekat banget denganku.
      Maaf ya kalau narasinya bikin berat atau nggak nyaman. Dan pendapatmu nggak oot, kok, memang benar, terlepas dari banyaknya pilihan dalam hidup sebagian orang, sebagian lainnya justru hidup dengan pilihan yang terbatas.
      Terima kasih banyak! Keep writing juga yaa 🙂

      Liked by 1 person

  5. terlalu banyak pilihan tidak lantas membuat seseorang bahagia–kaya pilihan jodoh ya ka ami…

    (((LALU DISABLAK INDOMII)))

    secara pribadi, karena related dengan daily fact dan fakta di lapangan, aku nyaman dengan topiknya. hanya saja aku agak kesentil dengan eksekusi paragraf yang kadang “waw panjang sekali ya” kadang pas… (atau mungkin aku yang lebih prefer ke paragraf mini-mini) tapi ngga masalah kan ini presepsi setiap orang. Tapi tidak mengurangi keberhasilan penyampaian isi hati–soliloquy–nya menurutku, Ka ami 🙂

    Jadi, aku hanya ingin bilang kalau aku menikmati hanya saja kurang nyaman. Overall sudah menyenangkan ka ami keep writeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s