Namanya Aku

tumblr_nizzcjTZ911rs8w78o1_540.jpg

©Lt. VON 2016

.

Kalau boleh jujur, aku tidak mau jadi seperti Aku.

.

Aku adalah seorang gadis belia, usianya di akhir belasan tahun, dan tinggal seorang diri di kamar kos yang telah disewa satu setengah tahun lamanya. Aku tidak keberatan berteman sepi, namun tanpa persetujuannya, setiap hari ada satu kawan yang tiba-tiba datang dan memaksa tinggal bersama untuk kurun waktu yang cukup lama.

Teman baru pertamanya bernama Dep, yang datang tepat setelah Aku menerima hasil studi semester terbarunya. Semenjak hari itu, Dep mengekor ke mana pun Aku pergi. Awalnya Aku risi dengan kehadiran Dep, terlebih soal lidahnya yang punya otot karet. Di sisi lain, Dep cukup mengesankan karena dalam kurun waktu yang cukup singkat ia telah fasih merunut faktor pendukung betapa hidup Aku tak berguna dan sia-sia.

Segambreng nilai acak-acakan dari kapasitas otak yang kritis; penampilan di bawah garis modis; teman-teman bertopeng Vendetta berlapis; miris. Jangan tanya betapa keras gaung cercaan Dep menggema dari setiap sudut kamar Aku dalam sehari. Syukurlah, dengan begitu Aku jadi lebih terbiasa dan bisa menerima. Ada baiknya Aku berdiam diri di kamarnya, daripada menyebar kebodohan dan menambah polusi ke seantero kota, seperti kata Dep.

Teman baru yang kedua bernama Xia, yang entah sejak kapan bertandang ke kamar Aku. Dengan tubuh yang kurus kering dibanding Dep, ia dapat dengan mudah menyelipkan tubuhnya di antara sekat lemari pakaian dan lemari pendingin mini. Meski begitu, astaga, lidahnya tak kalah tajam dari lidah berotot karet milik Dep. Bedanya, Xia gemar memaki Aku dengan imbuhan lengkingan tajam tiap kali Aku menyentuh gagang lemari pendingin untuk menjemput keluar sebotol yoghurt rendah lemak. Aku tidak perlu makan lagi, katanya. Karena makan hanya akan membuat Aku tidak ada bedanya dengan buntalan daging busuk, yang pantas digelindingkan di jalan raya agar terlindas truk sampah.

Xia ada benarnya. Maka hari ini, Aku juga tak makan.

Genap sepuluh hari sudah Aku tidak makan karena kenyang dicekoki cercaan Xia yang akurat. Semakin hari, semakin menumpuk rasa jijik pada lemak bergelambir yang menyerobot spasi untuk lengkungan di antara pinggang dan pinggul Aku, tiap kali dihadang pantulan dirinya sendiri di cermin. Aku tidak mau jadi seperti Mia. Salah satu teman baru, yang kerjanya membabat isi kulkas, semenjak Aku mogok makan sesuai saran Xia.

Keberadaan Mia cukup membantu keberlangsungan program diet paksa yang tengah Aku jalani, karena Mia menggambarkan dengan nyata bagaimana makanan dari dalam kulkas hanya akan bertransformasi menjadi gumpalan lemak, yang kemudian menempel pada tubuh, lantas menyebabkan sakit mata pada siapa pun yang melihatnya.

Karena tidak makan, lambung Aku mencabik-cabik dirinya sendiri. Menimbulkan rasa perih tak tertahankan hingga inginnya Aku cepat-cepat mati. Sayang, tekad nekatnya hanya sebesar biji sawi. Saat tengah sekarat, Aku melihat seorang kawan baru yang memperkenalkan diri sebagai Anxi. Kerjanya duduk diam di pojok kamar, dan besar kemungkinan untuk Aku melewatkan kedatangannya, karena ia gemar memandangi Aku dari sudut kamar yang gelap.

Sembari menikmati pergumulan antara Aku dan rasa sakit di lambung, tanpa membubuhkan semburat rona simpatik, lengan kurus milik Anxi terjulur dengan satu strip tablet parasetamol di ujungnya. Aku mencoba satu, dan langsung jatuh cinta pada kinerjanya yang sangat cepat, meski tidak bertahan untuk jangka waktu yang lama. Tentu, Aku pasti membutuhkannya lagi dan lagi, dan Anxi akan selalu bersedia membagi tablet ajaib itu lagi, dan lagi, tiap kali rasa perih di lambung Aku kembali mendera. Kapan saja Aku butuh, Aku boleh meminta bantuan padanya.

Hingga akhirnya Anxi kehabisan stok pil, sementara Aku tak lagi mampu diam menahan rasa sakit yang rupanya kini tidak puas hanya mencabik-cabik lambung, dan mulai menginvasi sekujur tubuh. Lagi-lagi, seorang teman baru datang, dan yang satu ini namanya Selfha. Ia menyarankan Aku untuk melukai area tubuhnya yang lain, agar rasa sakit yang datang berkurang. Selfha mengajukan lempengan baja kecil dan tipis, lalu membimbing Aku menggores area lengan kurus pucat miliknya.

Benar saja.

Rasa sakit di lambung Aku mereda kala itu juga, dan perlahan membuatnya ketagihan. Hari ini goresannya lebih dalam, esok harinya semakin dalam, dan keesokan harinya lagi akan lebih dalam lagi. Begitu seterusnya sampai ia mampu mengalihkan diri dari rasa sakit yang mendera. Sayang, kini kedua lengan Aku sudah penuh goresan dan terlalu perih untuk diberi goresan lain. Harus bagaimana lagi Aku mengurangi rasa sakit yang semakin hari semakin berlipat?

Apakah kabel charger ponsel di atas nakas, atau buku-buku jemari kurus kering, yang harus Aku lilitkan di leher untuk mengakhiri rasa sakitnya kali ini?

~끝~

PANG’s Note:

  1. Dalam rangka turut meramaikan open prompt dari Scattered Lines.
  2. The characters are based on this pict:
    1. Dep as Deppression.
    2. Xia as Anorexia.
    3. Mia as Bulemia (binge eating disorder).
    4. Anxi as Anxiety (suicidal tendencies).
    5. Selfha as Self-harm.
  3. As always thanks ping satus to sadayana atas koreksi yang datang secepat kilat! ♡♡♡
  4. Credit Pict
  5. Seqian.
Advertisements