[Writing Prompt] Tinja Sang Ninja

I9MU9BA0EB

Prompt: Ninja

.

Cuma potongan kisah kurang penting Om Ninja dan Tinjanya.


Perut Rika sangat mulas. Bukan karena dia mau buang hajat, melainkan karena dia kepingin melahirkan. Air ketuban sudah menetes-netes di balik dasternya. Mulutnya mengaduh-aduh. Ibu mertuanya panik. Beliau menelepon anaknya—suami Rika, tapi panggilannya dialihkan ke kotak suara. Beliau lupa kalau menjaring ikan-ikan di laut bukanlah perkara santai yang punya kesempatan curi-curi waktu untuk menerima panggilan telepon, apalagi main COC. Kalau tidak konsen, bisa tenggelam. Jangan main-main.

Ibu mertua Rika, Mirna, berusaha menggembleng tetangga terdekat, tapi masing-masing sedang sibuk semua, tidak bisa diganggu.

Ibu Putri sedang mengaduk dodol yang hampir matang. Kalau kompornya dimatikan tanggung, kalau dibiarkan menyala bisa memancing maut. Sedangkan ia adalah janda yang tak punya anak, atau pun seseorang yang sukarela memantau kualinya. Bapak Ivan sedang sibuk memperbaiki sesuatu di bawah mobilnya, dan ia takut kalau ia mengerjakannya setengah-setengah, ia bakal lupa. Ibu Fika sedang merajut topi. Sebenarnya ia baik, tapi ia tuli. Saat Mirna berteriak-teriak, ia tak dengar. Saat Mirna menggedor-gedor pintu rumahnya, ia tak dengar. Saat Mirna berbicara lewat jendela, Ibu Fika malah nyeletuk, “Maaf, saya nggak bisa makan siang di rumah ibu lagi. Sudah terlalu sering, ah. Jadi nggak enak.”  Ervina sedang mengerjakan PR. Ia akan sudi membantu sekaligus mengganggu. Apa pula yang bisa diperbuat anak kelas 6 SD sepertinya?

Lalu di tengah keputusasan Mirna, terdengar disonansi knalpot yang jelek sekali, yang bising sekali. Seseorang yang mengendarai vespa lawas delapanpuluhan berwarna sebiru tabung elpiji berhenti di depan rumahnya. Ia mengenakan topeng kain warna hitam—yang hanya menyisakan sepasang matanya, kemeja lengan panjang warna hitam, dan juga celana kepanjangan warna hitam.

Orang aneh itu mendekati Mirna. Sedikit terbirit sambil memegangi sabuknya. “Cepat tuntun anak Ibu ke motor saya. Saya siap membawanya ke rumah sakit bersalin!” Suaranya teredam dan berat.

Mirna hanya ternganga, belum siap atas tawaran mendadak. “Anda siapa?”

“Panggil saya Om Ninja, dari Ojek Go Ninja. Sekian perkenalannya. Nanti bayinya keburu lahir.”


Go Ninja tidak sebeken Gojek. Belum bisa pesan online juga. Tapi kalau dalam soal visi dan prinsip, hampir sama. Penampilan Go Ninja sudah tentu mirip ninja, bukannya gorila. Selalu cepat datang apabila dibutuhkan dan mengantarkan penumpang dengan selamat dan tidak menyasar. Go Ninja cuma punya satu member, yang biasanya dipanggil Om Ninja. Wajar jika banjir orderannya lumayan bikin pusing. Ia tidak memiliki kemampuan astral, sih. Oh iya, Go Ninja hanya ada di Kampung Kuku.  Mau franchise boleh. Tapi belum ada tawaran seperti itu.

Om Ninja pastinya punya nomor ponsel. Tapi tidak akan kubabarkan di sini, karena aku tidak mau menambah kesibukannya yang sudah gila-gilaan itu. Selain menolong Rika, yang akhirnya telah melahirkan seorang bayi perempuan yang kini masih pinky-pinky, ia juga menjemput Nenek Akom dari pasar, sambil memboyong belanjaan seabreknya—wajar, soalnya dia pedagang nasi uduk terenak sekampung. Ia juga membantu pedagang bubur kacang hijau memindahkan gerobaknya, mengantar jemput anak sekolahan, mengantar karyawan pergi bekerja, mengantar orang yang sakit parah ke UGD, mengantar muda-mudi ke bioskop, sampai kadang-kadang, mengantar gundik ke rumah bordir rahasia—jika dipaksa-paksa terus.

Penghasilan Om Ninja lumayan. Capeknya juga lumayan. Saking capeknya, ia kadang berkhayal seandainya Tinja, nama motor kesayangannya (aku tahu itu agak jorok), punya sayap dan bisa terbang. Mungkin ia tidak hanya bisa mengantarkan kliennya keliling kampung, atau ke kota, tapi juga bisa ke luar negeri. Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Spanyol, Hongkong. Lumayan hemat kan, soalnya kucing saja tahu kalau tiket pesawat ke sana tidak murah.


Ada pepatah yang bilang kalau semakin tinggi pohon, semakin kuat angin yang menggodanya, menghunjamnya, mengganggunya, menggugurkan daunnya.

Om Ninja merasakan itu di tahun pertama ketenarannya. Tinja menghilang dari teras rumahnya.

Om Ninja panik luar biasa. Tetapi karena usianya sudah cukup tua, ia lumayan bijaksana. Tidak mencak-mencak, kejang, histeris, atau pingsan. Ia menilik ke sekitar, yang dipenuhi ilalang panjang dan pepohonan berdaun lebat dan lebar-lebar, tempat yang nyaman untuk gugusan kuntilanak. Nihil. Ia tak punya tetangga, sengaja. Supaya tidak ada orang yang mengetahui identitas orisinalnya.

Namun, mungkin sekarang sudah ada yang tahu. Mungkin orang tercela itu membuntutinya sampai ke rumah, lalu membobol pagarnya, lalu menyeret Tinja, lalu kabur. Soalnya tidak mungkin kuntilanak mau menjual motornya. Uh, siapa pun itu, jahat sekali, jahat. Om Ninja yang kala itu tidak mengenakan seragam kerjanya, hanya mengelus dada.

Bagaimana ini?

Kalau ia laporkan hal ini kepada Pak RT, ia bisa ketahuan. Motor itu pamornya sungguh menyilaukan. Tak ada yang tak tahu plat cantiknya, B 1111 JA.

Bagaimana nasib orang-orang yang memerlukan jasanya? Bagaimana kalau itu bersifat darurat?

Om Ninja termenung di ambang pintu. Pagi itu ia hanya sarapan kegetiran, kepahitan, dan kebingungan.

Kasihan.


Om Ninja memutuskan untuk tidak melaporkan peristiwa pencurian Tinja.

Ia mengirimkan pesan singkat kepada orang-orang yang pernah menggunakan jasanya; pemberitahuan penting! mulai sekarang sampai saat yang belum ditentukan, Om Ninja mau holiday!

Balasan-balasan kekecewaan segera membanjiri ponsel butut milik Om Ninja. Ia jadi sedih melihatnya. Lalu ia buru-buru menonaktifkan sang ponsel, menindihnya dengan bantal, lalu ia sendiri meringkuk di balik selimut. Dirinya sudah kenyang. Tak mau lagi menyerap kekecewaan.


Setelah sebulan ‘holiday’, Om Ninja tak sanggup lagi jika hanya diam di rumah, berpangku tangan dan kaki, sambil merokok, atau menonton televisi. Tinja memang belum kembali, dan mungkin takkan kembali, tapi ia masih punya tenaga diri. Ia bisa bekerja, dengan atau tanpa imejnya sebagai Om Ninja. Tetapi ia putuskan untuk tetap menjadi Om Ninja, dan bukan Om-Om yang lain.

Ia mengaktifkan kembali ponselnya yang berdebu, dan entah kenapa bisa melesak di kolong tempat tidur, mengetikkan beberapa patah kata, lalu mengirimnya lagi ke semua nomor yang ada di kontaknya.

‘Om Ninja sudah selesai holiday, nih. Tapi sayangnya, motornya nggak ikut dibawa. Om Ninja sumbang tenaga aja, ya. Boleh??


Dan Om Ninja masih banjir orderan. Rejeki memang tidak ke mana.

Om Ninja ke mana-mana pakai angkot. Awalnya semua pada memelototinya, menganga, latah, dan sebagainya. Pandangan mata mereka bertanya-tanya. Tetapi Om Ninja menjelaskan garis besar soal apa yang terjadi. Semuanya prihatin akan kemalangan yang menimpa Om Ninja, memberikan semangat, dan mendoakan Tinja cepat ditemukan. Ya, Om Ninja juga tidak membuang-buang kesempatan itu untuk mempromosikan jasa barunya.

Om Ninja membantu apa saja. Menemani anak SD pulang ke rumah, mengambilkan balon yang tersangkut di pohon, mengecat dinding masjid, memperbaiki saluran air, ronda malam, mengangkat belanjaan, mengaduk dodol, mengawasi toko yang ditinggal pemilik, bahkan menyetrika pakaian. Apa saja. Semua ia kerjakan dengan baik dan profesional. Tak ada kata malas dan remeh dalam kamusnya. Semua orang suka akan hasil kerja kerasnya.

Seorang remaja lelaki yang sering duduk di sebelah Om Ninja di angkot berkata, “Saya kagum sekali sama Om.”

Om Ninja hanya cengengesan sambil menepuk punggung remaja itu. Agak nge-fly. Orang-orang sering memujinya, tapi tidak pernah mengaguminya.

Tetapi remaja lelaki itu sudah terlalu sering mengucapkan kata kagum pada Om Ninja. Seperti kebanyakan makan donat-donat manis, enek jadinya.

Hebatnya, remaja lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Abok itu, seakan tahu jadwal naik angkot Om Ninja. Duh, ia sudah punya fan. Bukannya Om Ninja mau bersikap tidak sopan, tapi jujur, ia sudah bosan melihat tampang kumal dan kelam milik Abok. Pasti tidak mandi sejak lebaran dua bulan lalu. Dan bau badannya juga membuat Om Ninja mengucap-ucap.

Abok juga tahu jadwal pulangnya Om Ninja pakai angkot, waktu itu sudah malam sekali, hanya tinggal mereka berdua di sana, dan Om Ninja mulai merasa dingin di lehernya. Asalnya bukan dari kucuran keringat, tentu saja.

“Om, makan malam di tempatku, yuk. Kebetulan Ibuku masak banyak.”

Mungkin Om Ninja sudah berucap tidak sekitar hampir seratus tiga puluh tujuh kali, dan Abok masih memaksa. Sampai angkotnya sudah berhenti di terminal pun, Abok masih mengoceh, membujuk.

Dan Om Ninja akhirnya menyetujui. Karena diancam jika tidak mau, Abok bakal menggelitikinya sampai subuh.

Walaupun Om Ninja tahu Abok hanya bercanda, tapi tetap saja ia merasa ngeri.


Rumah Abok hanya petak kecil di pinggiran kampung. Tidak jauh dari terminal. Dan mereka langsung menuju dapur.

Ibu Abok memang masak banyak, tapi berhari-hari yang lalu, dan sekarang semua makanannya memang masih banyak. Banyak yang basi. Om Ninja yang tidak menguji kelayakan makanan di awal, menelan lauk beberapa sendok sambil mengangkat sedikit topeng di bagian mulutnya, dan perutnya langsung merintih. Ia izin ke toilet, buat muntah. Tapi Abok bilang, di sana lubang pembuangannya sempit. Jadi muntahlah di pekarangan belakang saja. Setelah diberitahu letaknya dengan sedikit arahan, Om Ninja menurutdan berlari ke sana.

Om Ninja menemukan pekarangan belakang itu dipenuhi sesemakan liar, banyak binatang malamnya, tidak terawat. Tapi itu semua tidak mampu menutupi apa yang kebiru-biruan terang di tengah-tengahnya, bermandikan sinar bulan, tengah terbaring.

Rasa mualnya hilang, digantikan kesenangan sesaat, lalu kemarahan, lalu kepalanya pusing, lalu keluar busa putih dari mulutnya.

Bagus sekali. Tuhan membimbingnya menemukan Tinja, dan sang pencurinya, dan pembunuhnya.

Karena selain basi, makanan itu juga diracuni.

Kagum apanya, hah?

.

.

.

Sedihnya, kalian tidak bakal tahu siapa identitas Om Ninja sebenarnya. Aku pun tidak.

.fin.


MALU BANGET NGEPOST INI SUMPAH.

Advertisements

8 thoughts on “[Writing Prompt] Tinja Sang Ninja

  1. Aku udah ngakak di sepanjang cerita dan sukses melongo begitu ceritanya habis.

    Abok, dirimu tega.

    Padahal aku juga ngefans sama Om Ninja.

    Sekian.

    PS: Lia, aku sukaaa banget dengan ceritanya. Lucu, nyablak, tapi maknanya dalem. Trus twistnya nggak ketebak dari awal, cuma curiga sama Abok. Koreksi dikit, bordir seharusnya bordil, karena kalau rumah bordir artinya rumah tempat produksi kain bordiran 🙂 (cmiiw).

    Keep writing, ya, lii 🙂

    Like

  2. Kak liaaaa ngakak parah ihh. Lucu tapi dapet banget maknanya. Emang banyak ya orang bermuka dua plus pengkhianat keji ke orang yg sebaik om ninja 😦 ((jadi kesel sendiri))

    Udah oke semua, koreksiku sama kayak kak ami hehe. Keep writing yaaa~~

    Like

  3. udah mau berhenti baca di pertengahan karena jujur aja aku sempet mikir ini apaan coba. tp untungnya gajadi dan aku terusin sampai akhir dan maigat ga nyangka endingnya bakal kaya gini. kirain ini tadi komedi lucu-lucuan gitu ceritanya eh ternyata…
    bagusssss banget, jebakan betmen…atau jebakan tinja ;D

    Like

  4. Ini super sekali alamak aduh aku menyesal melewatkan cerita ini huhuhuu…
    Dah lama aku gak baca cerita bernarasi asoy geboy kayak gini, huhu, syukaa. Ini keren kak, pinter banget menjelaskan betapa ketjenya Om Ninja dan vespa tinjanya..adudu..

    Endingnya, sumpah aku gak kepikiran penutup ceritanya seperti itu #standingapplause

    Cerita2 sangtae *?* kayak gini diperbanyak bole juga kak.. keep writing yaa 😀

    Like

  5. LIA PECAH LIIII!!!
    ITU BARU BERAPA BARIS KENAPA UDA ADA COC KENAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    LIA SUASANA KAMPUNGNYA KOK AKU SUKA SIH KENAPA AKU BELET NGARUNGIN SATU-SATU X’D
    YAMPUN ABOK :”( TEGHA KAMU YHA TEGAAAAAAA!!!
    DEMI NAGA BONAR BINTITAN ABOK HERO OF THE DAY! FLIPS UNIVERSE!!! ❤ Li, above all, note mu bikin final mules ketawa sek kenapa sih li ini tuh uda FIN uda selese kenapa ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

  6. Dari mules sampe mulut berbusa, racunnya racun bnget HAHAHAHAHAHA Lia ini tiap aku baca, narasinya dan penyampeannya selalu ngelawak. padahal endingnya misteri, semisteri identitasnya Om Ninja. Jadi mau berduka sama kematiannya malah ga jadi xD pertahankan ciri khasnya, Lia!

    Like

  7. Ini komedi tragis… ckckck Tapi aku ngakak parah… bahasanya enak sih… tapi susun lagi ya… wkwk
    Keep writing thor!
    Baca mirna jadi ingat sianida wkwkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s