[Writing Prompt] Protes Makhluk Bumi

Pahlawan Kesiangan

by @titayuu

credit image here

.

Kalau bisa hidup lagi, aku tidak ingin hidup sebagai orang-orang yang berjalan di depanku. Tidak karena mereka berlagak pilon dan bersikap apatis dengan keberadaanku. Tidak pula karena mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga kadang melupakan kodrat. Tapi karena mereka manusia, sumber kehancuran.

Tiba-tiba aku teringat obrolan singkat dengan kumbang sewaktu sore. Saat itu dia mampir untuk melepas lelah, juga mengistirahatkan sayapnya setelah terbang tak tentu arah. Dia mengeluh tentang rumahnya yang dibabat habis oleh pengusaha tak punya otak. Dia juga merungut tentang terbatasnya sumber makanan untuk dia dan koloninya. Katanya, jika orang-orang itu kehabisan stok otak atau pasokan rasa empati, mungkin tempat tinggal kami semua akan hancur kurang dari seratus tahun.

Si Kumbang juga menyepakati pendapatku, dia lebih baik mati dan tidak perlu hidup dua kali kalau suatu saat Tuhan memperbolehkannya hidup sebagai manusia. Dia tidak mau membuang kepercayaan Tuhan kalau nanti ikutan sinting seperti orang-orang itu. Lebih baik mati selamanya sebagai kumbang, katanya.

Kawanku, Matahari, dia juga terlalu tua dan lelah untuk menonton kekacauan yang ada di bawahnya. Aku tak sering bicara banyak dengannya, tapi dia pernah sekali berkomentar ketika Si Kumbang menyingkir untuk cari makan lagi. Katanya, sudah terlalu banyak drama yang ia tonton dari atas, sudah banyak pula adegan yang membosankan hingga yang membuat emosi memuncak. Dimulai dari drama tentang es di ujung selatan yang semakin menipis, juga tentang manusia yang tak jarang mengeluh karena keberadaannya. Mereka menyalahkannya seperti penjahat tak tahu diri, padahal mereka sendiri yang memulai semua ini.

Matahari tak pernah bisa melakukan banyak hal untuk ikut campur atau ambil bagian dalam lakon drama itu. Tapi dia penonton yang berharap drama itu segera usai. Setidaknya, aku tahu kalau dia sudah dibisikkan oleh Tuhan tentang saat di mana ia tak harus muncul lagi di bumi dan mengakhiri semua drama.

Jangan sangka kalau aku benci semua manusia. Dari semua yang memiliki wajah malaikat sementara hati setan, ada sekelompok orang yang benar bertekad menjadi pagar terdepan untuk melindungi kami. Orang-orang yang peduli pada kondisi kami. Mereka berorasi ke berbagai tempat, memberi contoh pada yang lain untuk bersama-sama menjadi malaikat sesungguhnya dan menjadi teman kami. Dimulai dari mengurangi penggunaan kantong plastik yang tak bisa musnah dalam ratusan tahun, sampai membangkitkan hobi yang sudah lama tergerus waktu; berkebun.

Usaha-usaha mereka memang tidak bisa dianggap remeh. Tapi jutaan orang lain belum tentu punya telinga dan nalar yang bagus untuk langsung mengikuti. Mereka tak bisa menghipnotis. Mereka hanya bisa menginformasikan apa yang kami rasakan sampai mulut mereka berbusa. Dan aku tak tahu harus sampai kapan mereka bertahan untuk menyadarkan otak perusak itu.

Keluhan demi keluhan dari rumput dan pohon bersemayam di telingaku. Protes kadang dibawa angin yang menjelajah sambil menebarkan kabar. Aku hanya diam dan menyaksikan, karena buang tenaga untuk protes tak berbalas, hanya sia-sia. Tidak ada yang mendengar, tapi aku tahu mereka suatu saat akan ambil tindakan. Drama tentang tanah yang rapuh menjadi satu balasan. Jika Tuhan mengizinkan kami bersatu, manusia hanya satu titik dari ribuan garis yang bersatu di atas kertas kosong.

Semakin berkurang jumlah orang yang memperjuangkan hak kami, kehidupan mereka akan semakin terancam pula. Suatu saat—mungkin dalam hitungan menit, besok, atau puluhan tahun lagi—aku yakin mereka hanya meratapi kesalahan karena kerusakan akibat ulah mereka sendiri. Mereka akan tiba-tiba datang, lantas mengaku sebagai teman.

Terlambat. Kalau hari kehancuran semesta itu nyaris tiba, kami tidak butuh sosok penjahat berkedok pahlawan kesiangan. Biarlah, kita semua binasa tanpa perlu mendengar lagi protes berkepanjangan.

End.

Advertisements

8 thoughts on “[Writing Prompt] Protes Makhluk Bumi

  1. Kesannya percuma ilalang2 hutan jadi pahlawan karena sekalian aja kiamat ya.. alamak serem =_=
    Drama tentang tanah rapuh menjadi suatu balasan >> ini jadi inget hotel runtuh yang deket tebing, alamak, itu nyindir yang alus menurutku..syuka :^

    Paling favorit ini nih >>
    Setidaknya, aku tahu kalau dia sudah dibisikkan oleh Tuhan tentang saat di mana ia tak harus muncul lagi di bumi dan mengakhiri semua drama.
    Aku sebenere merinding, jika pas gerhana bulan sama matahari berenti bergerak, trus gelapnya sampai berbulan2, merinding. Karena entah ada rasa apaa gitu, pas gerhana total kemarin itu, suasana atmosfer bumi rada aneh..gelap tapi cuma semenitan tiba2. =_=

    Sukaa, cerita ini jadi bahan introspeksi buat aku 😀

    Like

    1. Hallo dhila, maaf baru sempet bales komenmu huhuhu
      Iya, manusia tuh gitu kdang. Mereka ngeluh padahal mereka yg ngelakuin (buang sampah, bakar hutan dll). Trs klo udah ada bencana baru deh pada sadar :’)
      Pas gerhana jujur aku ga liat secara langsung tp emang serem kalau tau2 matahari ga muncul lagi….

      Makasih udah baca ya 🙂

      Liked by 1 person

  2. wah titaaa aku suka banget fiksinyaaa. kesannya nyentil banget sama orang orang yang udah nggak peduli lingkungan, tapi malah orang orang itu juga yang mengeluhkan lingkungan haha. ibaratnya si A maen cat, tapi si A juga yang kesel gegara bajunya kena cat. dipikir pikir geblek juga yaaa heum. susah ya jaman sekarang nemu orang yang sadar diri. gausah jauh jauh deh, masalah tempat sampah aja. cuma jauh dikiiit doang beda berapa langkah, teteup aja bekas botol maen lempar ._. udah gitu pengusaha pengusaha sekarang kayaknya gak bisa liat tanah kosong yha. ada area dikit bikin ruko, bikin mall. akhir akhirnya ga kepake soale harga jualnya tinggi terus malah kaya ditinggalin gitu malah serem kan ._. riweuh emang ah.

    aku sukaaa banget. berharap ada satu nyasar baca cerita kamu, terus pada sadar :” keep writing titaa aku sukaa fiksinya ehe 😀

    Like

    1. Iya kak, aku sendiri jadi mikir pas nulis tema ini. Aku kadang (atau sering tp ga sadar) buang sampah karena males ngantongin pas ga ada tempat sampah. Manusia emang gitu, klo udah ada akibatnya, pasti nyari kambing hitam. Pdhl manusia jg yg salah :’)
      Nah, semoga ini bisa jadi pengingat aja biar gak tambah khilaf…
      Makasih udah baca kaak ♥♥

      Like

  3. FINALLY ada fiksi yang sesuaiiiiiiiiiiiiiii banget!

    ^nyentil banget sama orang yang ga peduli lingkungan, tapi malah orang itu juga yang ngeluhin lingkungan.

    ‘Si Kumbang juga menyepakati pendapatku, dia lebih baik mati dan tidak perlu hidup dua kali kalau suatu saat Tuhan memperbolehkannya hidup sebagai manusia. Dia tidak mau membuang kepercayaan Tuhan kalau nanti ikutan sinting seperti orang-orang itu. Lebih baik mati selamanya sebagai kumbang, katanya.’ aduh enggak cuma kumbang, kalo aku harus reinkarnasi mending enggak usah jadi manusia, yang pada akhirnya bergabung dalam kelompok yang menganut aliran hedonisme 😥 mending enggak usah.

    enggak banyak komen deh, pokoknya fiksi ini sesuai banget sama keadaan sekarang! keep writing dan sentil orang-orang hedonis itu dengan rangkaian kata!

    zy, garis nol tiga.

    Like

    1. Hai merseu! Maaf baru bisa bales komen kamu huhu
      Iya, gak tau lagi gimana buat nyadarin orang2 buat sayang lingkungan. Buang sampah aja males, tp pas banjir malah nyalah2in. Ini jadi pengingat buat kita semua (juga aku). Semoga bumi kita masih sayang buat jadi tempat tinggal kita dan gak semakin rapuh..
      Btw, makasih udah bacaa ♡

      Liked by 1 person

  4. haluw titaaaaa
    kusuka dan ehem miris yaaaa (lalu tetiba inget kasus selfie sana-sini, injek sana-sini)
    kalo sentimentalku lagi kambuh biasanya aku paling suka ngatain manusia itu cuma punya dua tabiat inti: kalo ngga ngerusak, ya ngomel.
    (padahal barusan aku ngomel juga, which is…? pft)
    overall aku suka suka suka ini Tita, nylentiknya tuh tzades! semuanya kena sentil semuanyaaa!!!

    dan aku suka yang ini: Mereka hanya bisa menginformasikan apa yang kami rasakan sampai mulut mereka berbusa.

    Daripada rempong nge-set panggung buat penyuluhan aku lebih suka kalo “mereka” langsung turun ke lokasi, bawa kantong plastik, mungutin sampah 🙂 trus abis itu ngga balik naik mobil dan buang sampah tisu dari jendela (lagi)
    anyway, act speaks louder than words, rite?

    TITA KUSUKA INIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII ❤ THANKS FOR WRITING DIZ!

    Like

    1. Hai filzaa..
      Iya kadang (atau emg seringnya) manusia khilaf sih. Mereka ngomel panas trs nyalahin polusi padahal mereka sendiri yg bikin polusi dan bikin bumi makin panas huhuhu

      Aku setuju, drpd ngumbar2 ngomong tp gapernah didenger lbh baik prakteknya supanya pada sadar. Tp apadaya kesadaran susah bgt gatau mesti gimana ((ditonjok pun kayanya ttp gabisa sadar)) hahah

      Makasih udah baca yaaaa ♥

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s