[Writing Prompt] Sea of Masks

seaofmasks

Sea of Masks

Pesta Topeng

by lianadewintasari

.

Dia bukan pencipta topeng, melainkan topeng itu sendiri.

.

Angin mengabarkan pada Ariadne bahwa malam ini, Dionysus, Dewa Anggur dan Kegembiraan, beserta sekelompok pengikutnya akan singgah di Pulau Naxos. Itu aneh. Dionysus gemar berpetualang, kaumnya hampir tidak pernah pergi ke tempat yang sudah pernah dikunjungi—dan Naxos, Ariadne ingat, justru menjadi tempat inisiasinya sebagai peserta ritual Dionysia. Apa kira-kira yang membawa Dionysus kembali ke dataran penuh kenangan itu? Mungkinkah Dionysus kembali untuknya?

Tidak, tidak. Ariadne tidak ingin sombong meski ia menyadari dirinya memang punya kendali atas Dionysus. Sehebat apa pun ‘mengendalikan dewa’ terdengar, buat Ariadne itu bukan hal yang patut dibanggakan, malah menimbulkan kecemasan. Ariadne pikir dirinya terlalu lama menghilang dan Dionysus bisa saja lepas kontrol karena itu, lalu menenggelamkan diri dalam ekstasi berlebihan yang membahayakan bahkan untuk makhluk abadi.

Beruntung, kini Ariadne sudah berlabuh di Naxos pula, berjalan menyusuri hutan yang ikut menyaksikan pertemuan pertamanya dengan Dionysus, memutar kenangan beberapa tahun silam. Ia saat itu masih menjadi putri raja Kreta yang tak banyak tahu dunia, sehingga dengan mudahnya jatuh cinta dan kabur dari istana demi seorang ksatria… hal mana Ariadne sesali belakangan. Theseus sang ksatria ternyata tidak pernah mencintainya, maka setelah memanfaatkannya untuk mengalahkan monster penjaga Kreta, Theseus mengabaikannya di pantai Naxos.

Oh, betapa menyakitkan.

Tapi kemudian satu tangan terulur untuk Ariadne, menyelamatkannya dari kesedihan berlarut-larut. Hangat telapak itu melingkupi tangan Ariadne yang lebih mungil, begitu ramah menyambut, dan Ariadne merasa aman. Ia tidak bakal lupa kelembutan genggaman yang menariknya hati-hati ke kehidupan baru itu. Tak heran si empunya tangan masih menguasai mimpi-mimpi indah Ariadne… dan Ariadne berharap ia juga belum pindah dari mimpi-mimpi indah lelaki itu, Yang Mulia Dionysus-nya tercinta.

Ariadne tersenyum. Sebentar lagi, rasa rindunya akan segera terpuaskan.

“Astaga, apa mataku masih terpengaruh anggur semalam, ya?”

“Sama denganku…. Apa kau juga melihat Yang Mulia Ariadne di sana?”

“Mirip, sih… tapi bukannya Yang Mulia Ariadne sudah—“

“Itu benar dia, kok! Yang Mulia Ariadne telah kembali, sulit dipercaya!”

“Mustahil! Para satyr juga sudah bercerita apa yang terjadi pada Yang Mulia Ariadne, bukan?”

Bisikan-bisikan ragu yang berangsur terganti keyakinan ini tertangkap oleh Ariadne, jadi ia berpaling untuk mencari asal suara. Senyumnya melebar tatkala mendapati tiga gadis muda—para maenad, pengikut wanita Dionysus—buru-buru bersembunyi ke balik semak lantaran takut ketahuan menguntit. Percuma sebetulnya, Ariadne terlanjur memergoki mereka dan tiga maenad tersebut meringis malu. Terbata, gadis-gadis itu berusaha menjelaskan tindakan mereka barusan.

“Anu… kumohon jangan salah tanggap… Kami tidak bermaksud jahat, kamu hanya mirip dengan orang yang kami ke—“

“Kalian Iante, Issa, dan Delias, apa aku benar?”

Tiga maenad seketika terbelalak. Hanya satu orang yang bisa mengingat nama mereka begitu baik karena orang itu jugalah yang pertama memberi mereka nama. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah….

“Yang Mulia Ariadne!!!” Segera para maenad bersujud, menyembah-nyembah ratu mereka, “Beribu ampun!!! Kami telah sangat lancang membicarakan Anda tadi, ampuni kami!!!”

“Aduh, hentikan, hentikan. Bangkitlah kalian semua,” Ariadne meraih tangan para maenad satu demi satu, membantu mereka berdiri, “Kalian ada di sini, berarti tenda Dionysus tidak jauh. Tolong tunjukkan aku di mana tempatnya.”

“T-tentu, Yang Mulia, tetapi… anu…“ Maenad bernama Iante tampak ragu. Delias menyikutnya sebagai peringatan. “Jangan bicara ngawur lagi, deh! Laksanakan perintah Yang Mulia Ariadne segera!”

“Tidak apa-apa,” sela Ariadne, “Sebelum kau mengungkapkan keinginanmu, bisa ceritakan bagaimana keadaan Dionysus selama kepergianku?”

Tiga maenad menjelaskan bahwa Dionysus baik-baik saja (Apa? Dia tidak sedih aku pergi? Jangan-jangan dia menemukan wanita lain? Huh, awas saja kalau itu sungguh kejadian!, gerutu Ariadne diam-diam), malah selama kepergian Ariadne, Dionysus menambahkan satu lagi seni dalam ritual pemujaannya. Suatu waktu, ia membawa topeng ke perkemahan tempat para pengikutnya bermalam dan sebelum pesta pemujaan dimulai, ia menunjukkan cara memakai topeng itu untuk bersenang-senang. Pesta pemujaan jadi lebih hidup akibat ciptaan menakjubkan Dionysus ini.

Topeng, ya?

Kening Ariadne berkerut. Ia tidak pernah tahu benda apa itu.

“Sepertinya ini akan menjadi perbincangan panjang. Bawa aku ke kemah dulu, kalau begitu. Masukkan aku ke tenda paling tersembunyi; aku belum siap bertemu Dionysus dalam keadaan seperti ini.”

***

Matahari baru saja berbalik ke peraduannya. Senja merah digeser oleh malam hitam bertabur bintang-bintang paling terang. Beberapa maenad dan manusia setengah kuda—golongan satyr—masih mondar-mandir di depan tenda Ariadne; mereka amat sibuk bahkan sebelum senja turun. Persiapan pesta Dionysia malam ini tampak lebih rumit dari sebelumnya dan Ariadne jadi makin antusias menantikan itu. Ia mengusap topeng (ternyata benda itu adalah penutup muka) yang menampakkan tawa dengan lebar tak masuk akal, yang kata para maenad harus dipakai di wajah agar ia diperkenankan mengikuti ritual Dionysia yang baru. Ya, Ariadne tengah menyamar jadi salah satu maenad dan berniat membongkar identitasnya waktu pesta berlangsung, sebuah kejutan kecil yang ia pastikan akan sangat menyenangkan Dionysus. Konsekuensinya, ia harus menuruti aturan baru ritual—dan menutupi kecantikannya dengan topeng buruk rupa.

“Setelah pakai topeng ini, apa yang harus kulakukan?”

“Anda hanya perlu menari seperti biasa di akhir penampilan pemeran utama, Yang Mulia. Kami akan menemani Anda nanti. Sebelum itu, nikmati saja lawakan yang disuguhkan kelompok pemeran utama! Nah, saat kita menari, Yang Mulia Ariadne harus menunggu hingga Yang Mulia Dionysus turun ke lingkaran kita, cepat atau lambat Anda pasti akan mendapat giliran menari dengannya.”

Dari penjelasan si maenad, Ariadne menyimpulkan bahwa ‘pemeran utama’ memang diperintahkan Dionysus secara khusus untuk melucu, sementara topeng akan menunjang ekspresi mereka. Pantas raut yang diukir di topeng konyol-konyol, gumam Ariadne sembari mencoba memasang topeng di wajahnya. Sebuah piala perak kecil memantulkan bayangannya dan Ariadne susah-payah menahan diri untuk tidak tertawa sendiri. Ekspresi yang ditampilkan topeng itu terlalu jelek dan berlebihan!

Aih, dari dulu Dionysus memang suka mencipta barang dan tradisi yang unik. Kreatif.

“Yang Mulia Ariadne, mari bersiap-siap,” Seorang maenad bertopeng melongok ke dalam tenda Ariadne, “Oh, Anda sudah mengenakan topeng Anda? Mari, mari, kita langsung bergabung dengan kelompok!”

Ariadne mengekor di belakang si maenad yang lebih paham prosesi baru ini ketimbang dirinya, berharap ia tidak melewatkan satu tahap ritual pun.

Para pemuja Dionysus mengatur posisi rapi-rapi di depan tenda agung dewa mereka. Ariadne berdebar, menanti-nanti kekasihnya muncul dari tenda tersebut. Dua ekor harimau tutul, sepasang jantan-betina, mendahului Dionysus keluar tenda, seolah membuka jalan untuk sang dewa dan ketika akhirnya Dionysus menampakkan diri, napas Ariadne tertahan. Ia menggigit bibir gugup; mengapa ia harus berdiri di sini sementara Dionysus berada beberapa kaki di seberangnya, terlihat luar biasa memikat? Sudah sekian bulan lamanya ia tidak mengagumi keindahan Dionysus ini! Jika tidak ingat rencananya, Ariadne pasti sudah melepas samaran maenadnya dan melompat dalam dekapan Dionysus yang seharum anggur. Duh! Kelamaan jadi peserta Ritual Dionysia membuat Ariadne agak kesusahan menahan diri. Benar sekali kata maenad, Dionysus terlihat baik-baik, melegakan sekaligus mengesalkan Ariadne: lega karena Dionysus tidak hancur selepas kepergiannya dan kesal karena Dionysus tidak merindu sebesar dirinya.

Dua satyr menyiapkan singgasana Dionysus yang berhias kain sutra terbaik dan kulit harimau selagi seorang maenad mempersembahkan piala emas berisi anggur merah sewarna rambut Ariadne. Dionysus menerima pialanya, menghirup wangi minuman yang ia berkati sendiri, dan mengangkat piala itu dengan senyum bangga sebelum menyesap anggurnya.

“Pengikutku, malam ini akan menjadi satu lagi malam gila! Para pemeran utama, hibur aku dan kawan-kawan kalian! Nikmati anggur kalian dan tertawalah sepuasnya!!!”

Kata-kata ini memancing sorakan ekstatik para pengikut Dionysus yang lebih dari siap untuk bergembira. Dionysus duduk di singgasananya, satu tangan menyangga sisi kepala selagi tangan yang lain membelai-belai harimau tutul kesayangannya. Wajah sang dewa masih menunjukkan kebanggaan diri, tidak ternoda oleh kemuraman segores pun.

Apa sih yang sebenarnya ia pikirkan? Adakah aku di dalamnya? Bukannya aku ingin dia sedih… tetapi masa segampang itu dia melupakanku?, Ariadne membatin, matanya terus terfokus pada sosok indah di singgasana.

“Hahahaha!!! Aduh, perutku sampai sakit! Dasar satyr bodoh!!!”

Ledakan tawa tiba-tiba menginterupsi serangkaian spekulasi, mengoyak lamunan Ariadne. Sang ratu mengerjap kaget, buru-buru mengalihkan perhatiannya ke panggung sederhana di mana si satyr tampil, dan menyimak cerita yang dituturkan. Sekali lagi Ariadne dikejutkan ketika si satyr tanpa peringatan melompat dan berputar, mengeluarkan suara aneh dari balik topeng yang menyebabkan Ariadne terkekeh. Belum selesai, si satyr berguling-guling di panggung sampai topeng batu yang ia pakai sedikit miring, menghias bualannya dengan gaya berlebihan, dan para penontonnya (termasuk Ariadne) terpingkal makin keras.

Ritual Dionysia kali ini sungguh mengocok perut!

Memasuki waktu menari, para maenad dan satyr terhuyung-huyung bangkit, lalu meneguk anggur di piala masing-masing sesuai komando Dionysus. Mereka berteriak kegirangan, beberapa bermuka merah karena sudah mabuk duluan. Musik dimainkan, para maenad dan satyr menari dengan semangat mengikuti irama, ada satu-dua yang bergerak suka-suka, ada lagi yang masih melawak menggunakan tubuh mereka. Ariadne sangat menikmati ini. Ia benar-benar merasa ada di rumah, merasa ‘pulang’, merasa disambut oleh orang-orangnya kendati identitasnya masih belum terbongkar. Tinggal satu hal yang ia perlukan untuk melengkapi itu semua.

Tiga maenad lagi dan Dionysus akan menghampiri Ariadne.

Dua maenad lagi dan Ariadne akan merangkul Dionysus.

Satu maenad lagi dan topeng kayu yang lumayan berat ini akan Ariadne tanggalkan.

Dan akhirnya….

Tunggu.

Demi Olympus, jantung Ariadne seakan berhenti berdetak saat Dionysus meraih tangannya. Lidah Ariadne kelu, tak dapat bicara, aksara yang semula tersusun apik di ujung bibir menguap begitu saja. Dionysus menatap Ariadne lurus, menyesakkan Ariadne dengan wangi tubuhnya yang manis, senyumnya melambungkan yang disenyumi. Sayang, topeng membuat Ariadne tidak berbeda dari peserta ritual yang lain, maka Dionysus pun memandangnya sama seperti yang lain itu.

Padahal Ariadne istimewa dan ingin diistimewakan.

Tak mampu menahan lagi, Ariadne melepaskan topengnya, menarik Dionysus mendekat, dan mempertemukan bibir mereka. Perlahan. Dalam. Ariadne memanjakan diri dengan kenangan penuh kasih di Pantai Naxos, ketika mereka terbungkam oleh kehangatan satu sama lain sebagaimana sekarang, saling merasai sisa anggur yang turut diberkati dewi pernikahan, Hera, dari istana langit sana. Dionysus merengkuh Ariadne erat, menjanjikan keabadian perasaannya, dan memasangkan diadem bertatahkan batu-batu mulia terbaik di puncak kepala Ariadne. Setelah itu, Dionysus memandang Ariadne dengan mata berbinar, terheran-heran bagaimana seorang manusia biasa bisa menjeratnya begitu kuat, sedangkan Ariadne mendapati bayangan dirinya yang amat mulia pada manik coklat-merah Dionysus, sesuatu yang tak pernah ia temukan pada milik Theseus dulu.

Ketika ciuman diakhiri, binar itu kembali hadir, bercampur keterkejutan dan keharuan.

“A-Ariadne? Ini sungguh kau?!”

Yang ditanya mengangkat alis, senyumnya terkembang jahil.

“Tidak ada ‘selamat datang’ untukku?”

***

Pesta makin gila sesudah Ariadne melucuti samaran maenadnya, memancarkan aura yang persis dengan Dionysus, aura bercahaya makhluk-makhluk sempurna dari istana Olympia. Dionysus tentu menjadi yang paling bahagia, mengangkatnya dengan satu lengan dan membawanya berputar-putar sambil berulang kali berseru: ‘ratu kita telah kembali, bersoraklah semuanya, puja Ariadne-ku yang jelita!’, menyalakan gairah pesta lebih dan lebih lagi. Anggur dituang sendiri oleh Dionysus ke piala perak Ariadne sebagai hadiah penyambutan, yang mana diteguk Ariadne dengan senang hati. Pesta berlanjut terus hingga larut, sebagian besar maenad dan satyr tumbang akibat kelelahan atau mabuk, dan saat itulah Dionysus meraih tangan Ariadne, mengisyaratkannya untuk menyelinap pergi.

Ke pantai barat Naxos mereka menuju.

“Aku butuh penjelasan.”

“Aku juga.”

Dionysus tak menduga tatapan kangennya akan dibalas galak oleh Ariadne. “Jangan marah. Apa aku melakukan kesalahan, Cintaku?” godanya, memerahkan pipi Ariadne yang segera memalingkan muka. Meski tampak masih jengkel, nyatanya nada bicara Ariadne melunak dan Dionysus tersenyum menang. Yah, siapa lagi yang mampu menaklukkan hati Ariadne kalau bukan dewa sehebat dirinya?

“N-nanti saja, kau akan tahu salahmu. Apa yang harus kujelaskan?”

“Banyak sebenarnya, tetapi untuk sekarang, jelaskan saja bagaimana kau keluar dari dunia bawah,” Serta-merta Dionysus menjawab, “dan menjadi seorang dewi. Siapa yang mengubahmu, terutama.”

Ariadne diam sejenak, merunut peristiwa di dunia bawah.

“Zeus yang Agung turun ke Elysium, diantarkan Yang Mulia Hades langsung padaku. Ia memerintahkanku untuk meminum ambrosia yang dibawanya dari Olympus agar aku dapat lahir kembali sebagai dewi yang kekal. Hadiah ini tak cuma-cuma; Zeus yang Agung berkata ‘si edan’ Dionysus kecurian dan cuma aku yang bisa membantu menemukan harta yang tercuri itu, jadi ia memberiku waktu yang sangat panjang buat mencari harta tersebut.”

Zeus, raja para dewa yang jarang meninggalkan istananya kecuali ada urusan yang amat mendesak. Bagaimana bisa Ariadne menjadi salah satu sosok yang ‘mendesak’ itu hingga Zeus mengejarnya ke Elysium, negeri makmur tempat tinggal manusia sesudah mati? Apalagi sampai menawari Ariadne minuman penghapus kefanaan segala! Tapi Zeus bilang Dionysus kecurian? Seingat Dionysus, ia tidak kecurian apa-ap—

Ah.

“Giliranku!” Ariadne bersedekap, sifat kekanakannya kembali mengemuka, “Jelaskan mengapa kau tidak sedih sama sekali, padahal aku pergi darimu sangat lama? Kau berpacaran lagi dengan Aphrodite, ya, sampai tidak kangen aku? Ayo, mengakulah!”

Nyaris saja Dionysus tersedak. Ia pikir Ariadne hendak menanyakan sesuatu yang lebih serius. Rupanya, sang ratu khawatir posisinya digeser oleh si dewi cinta, mantan kekasih Dionysus?

“Aphrodite sudah menikah, tetapi tidak denganku. Kau tidak perlu cemaskan dia.”

“Aku tidak akan cemas andai aku menemukan segores saja kesedihan di wajahmu. Sepanjang pesta, kau masih tampak gembira tanpa aku di sampingmu!”

Dionysus menghembuskan napas panjang.

“Sedemikian besarkah keinginanmu melihatku menderita, Ariadne?”

Mendadak Ariadne takut salah bicara karena kegelapan menaungi raut Dionysus, memuramkan senyum yang perlahan memudar. Apa ungkapan kecemburuan Ariadne terlalu berlebihan?

“Sebegitu pentingkah bagimu,” Dionysus memangkas jaraknya dengan Ariadne, lalu melingkarkan lengannya di pinggang sang dewi, menariknya mendekat, “mengetahui sekian banyak upayaku melupakanmu, melupakan yang terjadi di Argos, melupakan kematianmu? Kau betul-betul ingin tahu?”

Ariadne tak berani menjawab, terlebih setelah Dionysus menenggelamkannya dalam pelukan hingga ia tidak bisa melihat apa-apa, tidak pula mendengar apa-apa selain suara berat yang gemetar memendam lara.

“Ayahanda Zeus benar tentang pencurian itu. Aku memang bodoh membiarkanmu terjun ke medan perang Argos, menyela pertarunganku dengan Perseus yang angkuh, dan melindungiku dari tameng Medusa miliknya. Aku yang bodoh ini tidak bisa berbuat apa-apa saat tubuhmu mulai membatu akibat kutukan mata Medusa, hanya mematung menyaksikanmu menjerit tanpa suara, kepingan tubuhmu berserakan di hadapan Perseus yang memenangkan pertempuran,” Kata-kata Dionysus kian lirih, “Tak kucegah Saudari-Saudari Takdir memotong benang hidupmu dan akhirnya Kematian mencurimu. Bersama itu, ia rampas pula seluruh rasaku….

“Tapi aku adalah dewa kegembiraan, mengapa mesti terbenam dalam luka? Kuracik anggur terlezat untuk kutenggak banyak-banyak di setiap pesta, kuciptakan pertunjukan sarat canda, dan kulempar mahkota yang kaukenakan pada malam pernikahan kita jauh-jauh ke angkasa… semata-mata agar aku dapat hidup seperti sebelum ada dirimu.

“Tanpa kusadari, aku telanjur mati rasa, Ariadne, dan baru malam ini rasa itu pulang,”—Satu kecupan tertanam di puncak kepala sang ratu— “mengiringi kedatanganmu.

“Jadi, masih adakah pertanyaan yang harus kujawab?”

Lemah Ariadne menggeleng, kewalahan menghadapi serangan nyeri yang disalurkan Dionysus melalui ceritanya. Ariadne duga tadi belum semua; Dionysus jelas enggan memperinci kepedihannya lebih dari itu. Bagaimana malam-malam panjang mendingin tanpa Ariadne, ritual-ritual menyenangkan masih dijejali kenangan tentang Ariadne, aroma anggur dikaburkan oleh wangi tubuh Ariadne yang tertinggal, tawa para maenad dan satyr terdengar sumbang tanpa merdunya tawa Ariadne, mimpi-mimpi terus memutar ulang tragedi yang menimpa Ariadne….

Di balik topeng tak kasatmata dan keutuhan raganya, Dionysus menyembunyikan jiwa yang sekarat. Ia bukan pencipta topeng, melainkan topeng itu sendiri, demikian tebal dan kuatnya hingga tak tertembus kecuali oleh satu dewi.

Satu wanita.

“Dionysus.”

Pelukan sang dewa melonggar. Ariadne menggunakan kesempatan ini untuk menengadah, menghapus bulir bening yang mengancam turun dari sudut mata Dionysus. Syukurlah, tipuan yang selama ini mencegah siapa pun menggapai Dionysus kini meluruh, menyuguhkan kejujuran untuk Ariadne seorang.

“Kita berdua sama-sama pernah melewati masa kelam, tetapi kurang tepat rasanya bila kita berharap untuk kembali ke masa-masa sebelum itu. Dalam kasusmu… kumohon, jangan lagi berharap kembali ke masa di mana tidak ada diriku. Jangan. Kau menutup masa lampauku yang penuh penyesalan di pantai ini, sekarang izinkan aku melakukan hal yang sama buatmu. Kita akan mulai lagi bersama, kali ini sebagai sepasang jiwa yang kekal.”

Benar.

Keabadian dalam darah Ariadne akan mengikat mereka dalam cinta selama-selamanya, menghalau nestapa akibat perpisahan, sehingga topeng kepalsuan tidak lagi dibutuhkan untuk menyamarkan luka. Air mata Dionysus mengering membayangkan masa depan bersama Ariadne yang terbentang tanpa batas. Ditangkupnya wajah mantan putri Kreta itu sembari mengulas senyumnya yang bebas kepura-puraan.

“Terima kasih telah membawa pulang perasaanku, Ariadne.”

“Sudah tugasku,” Ariadne membalas senyum itu sama tulus, “Cintailah aku sebagai balasannya dan jangan biarkan Aphrodite menyela kita.”

Dionysus terkekeh, keningnya bertemu kening Ariadne, telapaknya menempelkan telapak Ariadne amat dekat dengan jantungnya.

“Bahkan Aphrodite tidak bisa menggesermu dari tahta di dalam sini, wahai ratuku.”

TAMAT

phew, panjang banget >.< di blog pribadi lagi ngerjain EXO portraying GreekMyth, sehingga kebawa-bawa ke writing prompt. maaf kalo ini OOC (out of canon-and-character) dan portrayalnya pake muka2 asia yang mungkin merusak imajinasi penggemar asli GreekMyth :p tapi utk siapapun yg sudah membaca (apalagi ngelike dan ngomentarin) ini, terima kasih banyak!

Advertisements

4 thoughts on “[Writing Prompt] Sea of Masks

  1. Langsung baca cerita ini karena castnya KaiStal >< rasanya itu semacam nemuin oase di padang gurun gitu(?)

    Awalnya langsung ngerasa kalau ini mungkin ceritanya tentang dewa-dewi kuno yunani karena namanya itu. Tapi masih belum nangkap sih kenapa si Ariadne nya ninggalin Dyonisus, hehehe.
    Dan feelnya dapat banget. Ini aja masih ngebayangin ada dewa-dewi yunani dengan wajah bias xD

    Ah, dan baru tahu juga kalau Dyonisus itu dewa kegembiraan. Mungkin kalau castnya Chanyeol lebih cocok, kan dia happy virus 😀
    Tapi Kai juga cocok kok. Cocok karena pasangannya Krystal xD kkkkk

    Liked by 1 person

  2. KA LIANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AKU BUBAR JALAN YHA HUHUF PUAS PUAS PUAAAAAAAAAAASSSSSSS BANGET KAK SEPANJANG INI TAPI BISA KUNIKMATI SANGAT!!!

    KAK AKU BUBAR JALAN PART DUA BIKOS INI KAISTAL!!!!! (kyaaaaaaaaaaaaaaaa)

    KAK AKU BUBAR JALAN PART TIGA KA LIANA NGEMASNYA ENAK BANGET KAK HUHUF AKU GAMAU MATIIN KEPSLOK AKU BENERAN JEJINGKRAKAN ON THE SPOT SELESAI BACA INI AWAWAWAWAWA SWEET BUT SLIGHTLY ANGST PLUS KAISTAL TUH GIMANA GA BUYAR SAMPE LEBARAN HAJI KAK BAGAIMANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    KA LIANA I ADORE YOU AND YOUR WRITING!!! ❤ ❤ ❤

    Like

  3. Tak kirain Dionysus nya Chanyeol. Ternyata Kai. hehehe, maaf, posternya gak kebuka.
    Pantesan kamu bilang OOC, Li. Karena emang yang pantes gombal kayak gitu cuma Chanyeol seorang. Gak bisa bayangin si Jongin yang malu-maluin, eh, malu-malu kucing itu kalo disuruh gombal jadinya kayak apa. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s