Paradoks Kupon

Hujan yang tumpah sejak pagi itu akhirnya menyisakan rintik. Masa tenggereng1 lekas membangunkan kampung itu dari kelumpuhan sehari penuh. Ayam-ayam sepakat pulang ke kandang setelah pemburuan lepas. Sementara pemilknya menyapu selokan dan pekarangan. Menimbun dedaunan basah di sisi rumah untuk dijadikan kompos.

Udara dingin mengendap. Jangkrik-jangkrik mulai berkerik-kerik di balik semak ilalang. Katak berkumpul di parit-parit. Para pejantannya saling melempar suara paling wibawa untuk dipilih betina tersubur.

Kesunyian di akhir senja itu dipecah oleh suara pukulan kentungan bambu dan alat-alat dapur. Kupon memperhatikan semua itu dari balik jendela kamar. Menunggu bagaimana rombongan yang mengular itu tampak timbul tenggelam di sela rimbun ladang jagung. Rumahnya yang tersembunyi di balik pohon nangka dan jati membuat Kupon leluasa memandang, sebab letaknya yang berada di atas lereng.

Senja mulai tenggelam. Rombongan itu hampir tak terlihat lagi kecuali nyala api kecil di ujung obor-obor yang mereka bawa dan seruan nama yang tak absen mereka sebut. Barisan itu merayap mendekat dengan lambat. Sampai di belokan batas desa, kepalanya muncul dan terus maju diikuti badan lalu ekornya. Kini jelas, barisan itu diisi pria-pria bersarung yang wajahnya telah Kupon kenal.

Ah, Kupon jadi makin memikirkan ular itu. Bahkan semenjak kemarin semua yang tertangkap matanya tampak mirip ular. Tali tambang yang digunakan bapaknya untuk menarik gelondongan kayu dilihatnya sebagai ular. Pohon nangka di belakang rumah yang batangnya meliuk-liuk tiada dua, di matanya seperti ular. Sungai yang jatuh membelah lembah desanya pun tampak bagai ular. Makhluk asing yang baru pertama dilihatnya itu terus memenuhi isi kepalanya. Mungkin pesan itu harus segera ia ucapkan sebelum korban lain berjatuhan.

“Kupon, wes surup. Dhang tutup jendelane2.”

Kupon tidak menyahut. Namun dengan patuh menuruti perintah mbah putrinya sementara kepalanya masih dipenuhi ular dan seorang anak tak berdaya.

Jam menunjuk angka delapan ketika Kupon keluar dari kamar. Bapak dan Mbah Kakung baru kembali dari surau. Mereka berjalan beriringan dan terlihat mendiskusikan suatu hal penting. Samar sekali Kupon mendengar kata-kata ‘kumpul’ dan ‘rapat’ disebut beberapa kali. Kupon tahu apa itu. Tapi dia hanya perlu menunggu. Pada akhirnya ia akan terlibat juga. Jika tidak, ia sendiri yang akan maju.

Sampai jam sepuluh malam, pertemuan itu terjadi juga. Pria-pria dewasa serta beberapa kaum muda kampung berkumpul di balai desa, tepat di samping rumah Kupon. Bambu, obor, dan alat-alat pukul lain yang tadi mereka bawa diletakkan begitu saja di pekarangan.

Sementara Mbah Kakung yang memangku jabatan kepala desa duduk di ujung lingkaran. Berhadapan dengan seluruh wajah, mendengar keluhan warganya.

“Wes rong dino iki. Sampek pucuk-pucuk deso diubengi, bocah iku ora weruh wujude. Piye ngene iki?3

“Setan tenan! Opo sesajen saben sasi gak cukup? Bocak kog iso-isone melu digondol.4

Pertanyaan serupa keluar dari selusin kepala hingga pertemuan itu berubah bising. Memecah anggota rapat menjadi kelompok-kelompok mandiri yang bermusyawarah sendiri. Kepala Desa kembali menenangkan. Menjelaskan bahwa ia sendiri belum menemukan titik terang dari semua kejadian mengerikan ini. Isu-isu bahwa anak perempuan yang hilang kemarin malam itu adalah hasil perbuatan wewe penunggu hutan bambu tidak terbukti tapi juga tak bisa dibantah kebenarannya.

Makhluk itu sudah beranak-pinak di sana jauh sebelum kepala desa sepuh itu lahir bahkan desa ini dibentuk. Peristiwa semacam wewe gondol bocah juga sudah terjadi berpuluh kali. Makhluk yang sosok besarnya tertutupi rambut itu tak pernah mau pindah. Doa-doa warga kampung serasa tak mempan. Sebagian hasil kebun dan tanah pertanian yang mereka niatkan sebagai rasa syukur ikut mereka angsurkan di bawah batang-batang bambu. Sambil membakar kemenyan, dalam selipan doanya sesepuh desa meminta makhluk itu untuk tak mengusik lagi.

Dan seperti semua orang perkirakan, hilangnya seorang anak kecil akan terulang lagi. Yang kisahnya akan kembali dituturkan kaum ibu untuk menakut-nakuti anak-anaknya yang membandel.

“Kupon, lungguh kene, Nang,5” Mbak Kakung memanggil.

Kupon—yang sejak rombongan pencari anak hilang itu berkumpul, duduk menunduk di belakang punggung bapaknya—kini akhirnya berkesempatan unjuk diri. Peristiwa-peristiwa gaib semacam ini selalu tak lepas dari sosoknya. Sebagai satu-satunya cucu, indera istimewa buyut dari silsilah Mbah Kakung mengalir di tubuhnya. Buyutnya yang dahulu adalah sesepuh kenamaan. Sebagian perannya yang sampai sekarang masih sering disanjung warga bahwa Buyut Kupon berhasil membopong penunggu-penunggu desa sampai keluar dan tak kembali lagi.

Keluarga Kupon sendiri tak tahu mengapa harus anak lelaki kurus mereka yag terpilih dari tiga generasi keluarga besar. Bahkan Mbah Kakung dan bapak tidak dibagi sejumput pun keistimewaan itu. Kupon tidak pernah merasa tersanjung atau terbebani dengan nasibnya itu. Sementara yang orang lihat, ia jadi semakin diam dan menyendiri sejak berkemampuan melihat tubuh raksasa bermata merah di rumah tak berpenghuni di tepi desa. Sejak itu pula, beberapa ada yang menjulukinya anak ajaib dan yang lain tanpa enggan menyebutnya gila.

Namun segila-gilanya orang kampung menyebut Kupon gila, ia tahu dirinya akan ditarik dalam semua kasus-kasus gaib ini. Kendati angka sepuluh belum menggenapi usianya, warga selalu menunggu petuahnya dan akan menuruti apa saja yang ia utarakan. Bahkan jika Kupon meminta orang-orang itu melemparkan tubuh ke arus sungai yang sedang mengganas di musim penghujan, demi membebaskan anak cucu mereka dari sekapan makhluk berbulu itu.

“Nang, kue reti penggaweane sopo iki?6

Kupon mengangguk khusyuk. Segala kesan anak-anak dirinya menghilang ketika ia berucap pelan, “Menungso kadang lali setan opo sing luweh gede napsune tinimbang wewe lan sebangsane. Setan-setann iku ono ning jero atine awake dewe.7

Kupon menunjuk dadanya. Matanya yang biasanya tampak kuyu, kini terpancar bara kemarahan. Rasa marah yang telah ia sembunyikan sejak mendengar pitutur sang ular penghuni sungai. Diulangnya kata-kata sang ular yang masih melekat dalam memorinya.

“Kabeh sekalian niki mboten salah wewe, setan, lan sebangsane. Mbok menawi saget ditangkletke Bapak, inggal pundi putrinipun?8

Mata Kupon berhenti pada sosok pria kurus berkumis yang paling keras menggalakkan pencarian itu. Seluruh pandangan ikut tertuju ke arah yang sama. Beberapa orang yang menangkap maksud Kupon, menahan napas. Namun sebagian besar masih bertanya-tanya. Bapak berkumis itu akhirnya menyerukan satu pertanyaan yang ingin mereka utarakan.

“Opo maksud omonganmu, Kupon?9

“Ngamputene menawi pabenan kulo kasar, Pak. Nanging panjenengan ingkang mbeto Dian, putrinipun piyambak ting dalem suwung caket deso.10

Kupon tak mengacuhkan bisik hinaan yang membanjinya. Sebab hinaan itu akan tertelan seiring terungkapnya keberadaan seorang anak perempuan yang tengah tidur tanpa daya diselimuti helai sarung bapaknya.

.

.

a/n :

[1] Tenggereng: Masa-masa sehabis hujan tapi masih ada rintik-rintik dan berkemungkinan hujan lagi (Yah, kira-kira begitu. Susah banget jelasinnya orz)

[2] Kupon, wes surup. Dhang utup jendelane: Kupon, sudah malam. Cepat tutup jendelanya.

[3] Wes rong dino iki. Sampek pucuk-pucuk desa diubengi, bocah iku ora weruh wujude. Piye ngene iki?: Sudah dua hari. Sampai ujung-ujung desa dikelilingi, anak itu tidak juga terlihat. Bagaimana ini?

[4] Setan tenan! Opo sesajen ben sasi gak cukup? Bocah kog iso-isone melu digondol.: Setan! Apa sesaji tiap bulan tidak cukup? Anak kog bisa-bisanya diculik.

[5] Kupon, lungguh kene, Nang: Kupon, duduklah di sini.

[6] Nang, kue reti penggaweane sopo iki?: Nak, kamu tahu perbuatan siapa semua ini?

[7] Menungso kadang lali setan opo sing luweh gede napsune tinimbang wewe lan sebangsane. Setan-setan iku ono ning jero atine awake dewe.: Manusia, kadang lupa setan apa yang lebih besar nafsunya dari wewe dan sebangsanya. Setan-setan itu tinggal di hati kita masing-masing.

[8] Kabeh sekalian niki mboten salah wewe, setan, lan sebangsane. Mbok menawi saget ditangkletke Bapak, inggal pundi putrinipun?: Semua ini bukan salah wewe, setan dan sebangsanya. Bagaimana kalau kita tanyakan pada Bapak, di mana anak putrinya?

[9] Opo maksud omonganmu, Kupon : Apa maksud perkataanmu, Kupon?

[10] Ngamputene menawi pabenan kulo kasar, Pak. Nanging panjenengan ingkang mbeto Dian, putrinipun piyambak ting dalem suwung caket deso: Maaf jika saya kasar, Pak. Tapi Andalah yang membawa Dian, putri Anda sendiri di rumah kosong dekat desa.

Apa ini terlalu banyak? Semoga menangkap apa yang ingin saya ungkap di sini ;w;

Kisah wewe nyulik anak ini pernah saya temukan di desa Mbah di pelosok desa Blitar. Kenangannya agak buram karena sewaktu itu saya masih bocah SD. Yang saya ingat ada serombongan penduduk yang memukul-mukul kentungan malam-malam. Mrinding pas Bulik bilang kalau mereka sedang mencari anak yang hilang di-gondol wewe. Twist-nya, anak itu ga pernah ketemu sampai sekarang ;w;

Sebenernya saya mau pakai Bahasa Jawa Timur, tapi lagi-lagi ingatan saya sudah buram. Rasanya sudah bertahun-tahun ga pernah nengok Jawa Timur lagi ;w;

Jadi sengaja di dialog Kupon nomor 7 pakai bahasa jawa kasar, sedangkan dialognya dengan tokoh bapak di nomor selanjutnya pakai krama inggil… *sengaja atau ga bisa ini perlu dicurigai* pft!

Kalau ada salah-salah tolong kasih tahu ya, nilai b.jawa saya memang agak kritis ;w;

 

Advertisements

4 thoughts on “Paradoks Kupon

  1. Hallo Cherry 😀

    langsung komen aja ya,

    Pertama, aku masih rada bingung sama “Ular” itu maksudnya makhluk astral ya? yang ngasih tau dia tentang si anak kecil yang dibawa ke rumah kosong itu? Iya bukan sih? Soalnya kan ada kata-kata “Makhluk asing yang baru pertama dilihatnya itu terus memenuhi isi kepalanya. Mungkin pesan itu harus segera ia ucapkan sebelum korban lain berjatuhan.”

    Kedua, Itu anaknya disiksa gitu ya kayak kasusnya angeline yang di Bali ? Terus masih hidup apa engga ? Baca ini tuh jadi inget kasus itu deh, orang tuanya yang paling gencar tapi ga taunya dia sendiri yang ngelakuin 😦

    Ketiga, ada typo dikit hehe di kata “pemilknya” . Dah itu aja. Aku suka sama tulisan kamu, jadi inget kampung halaman juga 😀

    Like

    1. Hello Kiyutoo,
      Yap, ularnya itu makhluk astral. Kata-kata ‘yang baru pertama dilihatnya’ maksudnya itu pertama kalinya dia lihat makhluk astral berbentuk ular. Semoga ngebantu 🙂

      Wah, iya. baru keinget ini ada kesamaannya dngn kasus angeline 😦 AKu fokusnya sama wewe gondol anak itu, sampe kebawa mimpi segala haha;;;

      Like

  2. Hai Kak Cherry 🙂
    Sorry not sorry basa jawaku juga jongkok jadi aku no comment ya nuhuun :’
    bikos selama aku ngerti kuanggap itu benar :’ (slaps)
    Kusuka idenya astaga endingnya XD

    Like

    1. late reply hadiiiir. Lho, pang juga wong jowo asli tho?
      Yah, beginilah generasi jaman sekarang. Ngomong sama orangtua aja pake b. campuran X,D

      Makasih sudah ditengok dan komennya yah~

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s