[Writing Prompt] Familia Ante Omnes

familia

OCD

by O Ranges

.

Your happiness is my first priority.

.

Satu.

Kakaknya kadang melakukan hal-hal aneh yang tak bisa ia pahami.

Kala Estelle menyuarakan ini pada ibunya di tengah kegiatan afternoon tea mereka, beliau sempat tertegun sebelum akhirnya menjawab,

Obsessive Compulsive Disorder[1].

Estelle mengerjap. Kendati telah melahap beberapa buku di perpustakaan dan di sekolah, gadis cilik berusia sebelas tahun itu merasa bahwa bahasa alien baru saja keluar dari mulut ibunya. Sementara bibir sang ibu meliuk membentuk senyum tipis melihat kebingungan yang tertera jelas di wajah si anak bungsu.

“Gangguan obsesif-kompulsif,” ulang sang ibu, menyisip tehnya. Ada ekspresi aneh yang tidak bisa Estelle deskripsikan melewati wajah beliau. “Kakakmu sering menghabiskan berjam-jam membasuh tangannya ‘kan? Mengecek berkali-kali apakah pintu sudah terkunci, menata koleksi cangkir di ruang makan sesuai dengan warna dan modelnya?”

Gadis cilik itu berpikir sejenak, lalu mengangguk mengiyakan. Ia pernah melihat semua itu dilakukan oleh kakaknya pada malam hari dan diiringi oleh perubahan sikap drastis.

Washing, Checking, Arranging,” kata Mrs. Corvin. “—itu adalah sebagian kecil dari kegiatan yang dilakukan oleh para penderita gangguan obsesif-kompulsif.”

“Kakekmu dulu menderita gangguan yang sama,” lanjut Mrs. Corvin sembari menambahkan sesendok teh madu di Earl Grey-nya. “Dan itu yang menyebabkan perceraian antara kakek dan nenekmu. Dia nyaris merenggut nyawanya sendiri, menganggap perceraian itu adalah kesalahannya.”

Mrs. Corvin terdiam sejenak. “Your Grandfather’s condition escalated quickly since then. Until his last moment.

Mata Estelle melebar. “Was it… that bad?

Sang ibu mengangguk. “That bad, Darling. Obsessive Compulsive Disorder isn’t a small matter after all.

Estelle menggigit bibirnya pelan. “Lalu, apakah kakak bisa sembuh?” tanya gadis cilik itu cemas.

“Sembuh atau tidak, hal itu belum pasti,” jawab sang ibu. Manik birunya bertemu dengan manik abu-abu Estelle. Ada ketenangan dan kontrol emosi yang baik di sana. “Ayahmu memanggil dokter untuk menangani kondisi kakakmu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memberikan dukungan pada Elliot. Apa kau mengerti, Sayang?”

Kerutan menghiasi dahi Estelle. Perlahan, gadis cilik itu mengangguk. “I understand, Mummy.

That’s good, Darling,” Mrs. Corvin membelai lembut surai pirang pucat anaknya. “And remember, when you feel like giving up on him—familia ante omnes[2].

Estelle mengangguk khidmat. “Family before all.

.

Dua.

Sembilan tahun semenjak percakapan dengan sang ibu mengenai kondisi Elliot, kini Estelle tengah menghadiri pernikahan kakaknya.

Eleanor Moore adalah wanita berusia dua puluh dua tahunempat tahun lebih muda dari kakaknyayang anggun dan cerdas. Surai ikal berwarna pirang keemasan tergelung di atas kepala membentuk tatanan rambut yang rapi namun menawan. Alis tajam menaungi sepasang manik cokelat madu yang indah berbinar. Saat ini sang wanita tengah terbalut oleh gaun pengantin elok berwarna putih, disertai sebuah tiara dengan mata batu safir yang menghiasi kepala. Di sebelahnya, Elliot mengenakan setelan jas hitam yang menonjolkan rambut pirang pucat dan manik abu-abunya.

Mereka tampak bahagia.

Estelle memegang erat dompetnya, di mana satu strip Prozac[3] berada. Kakaknya menelepon semalam, meminta sang adik untuk membawakan obatnyahanya untuk berjaga-jaga. Gangguan obsesif-kompulsif Elliot masih membelenggu kuat, kendati terapi telah dijalani dan obat-obatan telah dikonsumsi. Namun pada detik ini Elliot sudah menerima kenyataan bahwa nyaris tidak ada yang bisa dilakukan untuk kelainan psikologis yang diderita selain meyakinkan diri bahwa ia bisa melakukan ini. Ia bisa melewati ini.

Atensi Estelle lalu beralih pada kakaknya yang bercakap-cakap dengan beberapa undangan pesta pernikahan, di sampingnya si pengantin wanita bergelayut manja. Sesaat kemudian musik mengalun mengisi aula, para undangan pun mulai berpasangan dan berdansa—termasuk pasangan pengantin.

Wanita bermata abu-abu itu mendengar seseorang datang menghampiri—kekasihnya, tak diragukan lagi. Ia lalu merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya, mendengar suara rendah bariton berbisik tepat di telinga,

All right there, my Star?

Estelle menggangguk, namun atensinya masih tersita pada Elliot dan si pengantin yang berdansakeduanya menjadi pusat perhatian para undangan.

Ia tidak menyuarakan kekhawatiran yang menghantui. Estelle sungguh berharap ibu dan ayahnya masih bernapas dan ada di sini, menghadiri pesta pernikahan Elliot dan menilai apakah Eleanor memang pantas untuk bergabung bersama keluarga mereka. Kakaknya menjalin hubungan dengan wanita itu delapan bulan yang lalu dan sekarang mereka telah menikah.

Semuanya terjadi terlalu cepat untuk dapat Estelle terima dengan baik. Ia belum mengenal Eleanor sedekat itu untuk bisa menerimanya sebagai kakak ipar. Mau tak mau, tumbuh kecemasan yang sekeras apa pun ditekan, berhasil menyeruak memenuhi pikiran dan meninggalkan kegelisahan yang nyata.

Apakah Eleanor benar-benar merupakan pilihan yang tepat bagi kakaknya?

.

Tiga.

Belum genap setahun semenjak pernikahan kakaknya dengan Eleanor, tiba-tiba saja si kakak ipar datang mengunjungi apartemennya saat larut malam.

“I can’t do this anymore.”

… what?

Eleanor mengacuhkannya. Ia menerobos masuk ke dalam apartemen Estelle, berjalan menapak di atas lantai kayu dengan langkah kaki panjang. Sementara Estelle menutup dan mengunci kembali pintu apartemen, kemudian mengikuti ke mana kakak iparnya pergi.

Wanita bermata abu-abu itu menemukan Eleanor duduk di ruang makan dengan kedua tangan menutupi wajah. Surai pirang keemasannya jatuh berhamburan di bahu, acak-acakan.

“Ela?” panggil Estelle, meraih tempat duduk di hadapan wanita itu.

Eleanor tak menjawab, namun sesekali bahunya berguncang. Estelle pikir ia mendengar suara isakan.

Menggigit bibir, Estelle bangkit dari tempat duduk, mengambil satu set cangkir dan teko, lalu mulai membuat teh. Wanita itu kembali ke meja dengan seteko penuh oleh Earl Grey dan dua pasang cangkir.

“Sejak kapan ia mengidap kelainan itu?” tanya Eleanor tiba-tiba, suaranya serak.

Pardon?

Eleanor mengangkat wajah. Matanya yang merah karena tangisan menuntut jawaban dari adik iparnya.

“Kau tahu apa yang kubicarakan, Estelle,” kata Eleanor tajam. Ia menyibak rambut pirang keemasannya, tak sabar. “Sejak kapan ia mengidap kelainan itu?

Kelainan, ulang Estelle dalam hati. Ia menuangkan Earl Grey panas ke dalam cangkir kakak iparnya, sementara firasat buruk mulai merayap mencengkeram hati.

“Gangguan obsesif-kompulsifnya? Sudah sejak lama,” kata si wanita berambut pirang pucat, melirik kakak iparnya yang meraih cangkir berisi teh. “Yang kuingat Kakak sudah menunjukkan gejalanya sejak aku masih kecil.”

Buku-buku jari Eleanor memutih saking eratnya ia memegang cangkir. “Dan aku baru tahu kondisinya saat kami menikah,” kata wanita itu, suaranya bergetar. “Kau tidak berpikiran untuk memberitahuku sebelumnya, Estelle?”

“Ela,” kata Estelle tenang, mencoba meredakan amarah yang menggenang kental di udara. “Aku tidak berhak memberitahumu masalah pribadi kakakku. Dan kau juga harusnya tahu kakakku bukannya tidak memberitahumu, ia hanya menganggap semua itu bukanlah hal yang aneh.”

Mengarahkan mulut teko pada cangkirnya, wanita bermata abu-abu itu melanjutkan, “Kalau kau mau, aku bisa menghubungi dokter pribadi Elliot untuk–”

Tidak.

Estelle tertegun. Tangannya membeku dalam parodi menuangkan teh. Ia melihat Eleanor menggeleng, air muka wanita berambut pirang keemasan itu mengeras.

“Andaikan aku tahu dia menderita kelainan seperti itu, aku tidak akan menikahinya,” ucap Eleanor getir. Kalimat selanjutnya mengalir begitu saja tanpa pikir panjangsuatu pengakuan, “Kau tidak tahu betapa melelahkannya menyaksikan ia melakukan ritual aneh itu setiap hari, Estelle. Aku sungguh muak dengan semua itu.”

Wanita itu lantas menghela napas dalam-dalam. “Aku menyesal mengatakan ini kepadamu Estelle, tapi aku benar-benar berpikir untuk mengajukan perceraian. Aku tidak punya waktu mengurus pengidap OCD.”

Detak jam dinding di ruangan bagaikan gema yang menyayat keheningan sesaat Eleanor selesai berbicara.

.

Empat.

Ingatan Estelle melayang ke masa lalu, dimana ibunya bercerita bahwa gangguan obsesif-kompulsif yang diderita kakeknya adalah penyebab pecahnya rumah tangga beliau. Ia ingat bagaimana ibunya berkata bahwa kakeknya nyaris bunuh diri karena menganggap perceraian itu adalah salahnya seutuhnya, dan bagaimana gejala gangguan obsesif-kompulsif kakeknya bertambah parah sejak saat itu.

Mata Estelle menyipit. Ia tidak bisa membiarkan hal yang sama terjadi pada kakaknya.

Manik abu-abu wanita itu lantas bergulir ke bawah, mengamati tubuh tak bernyawa kakak iparnya dari ujung rambut hingga kaki. Sebilah pisau menancap di punggung yang kaku tak bergerak, dengan beberapa lubang merah di bagian yang sama namun berlain jarak. Darah menggenang membasahi karpet dengan warna merahnya, sementara tangan Estelle sendiri berlumuran oleh cairan amis yang mulai mengering.

Bibir Estelle membentuk garis tipis. Ia memiringkan kepala.

Familia ante omnes,” kata Estelle, mengulang kalimat yang telah dipatrikan sang ibu dalam ingatannya sejak kecil. Wanita itu lalu menatap langit-langit putih apartemen dengan pandangan kosong.

“Kau tidak pantas menyandang nama Corvin, Ela.”

Kakaknya akan membencinya seumur hidup, tapi setidaknya ia tak akan menderita oleh perceraian yang direncanakan Eleanor.

.fin

Catatan:

  1. OCD (Obsessive Compulsive Disorder) adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Untuk informasi lebih lanjut, bisa dicek di sini atau di sini.
  2. Familia ante omnes adalah bahasa Latin untuk Family first (literally, ‘before all else’).
  3. Prozac, atau Fluoxetine Hcl adalah obat yang digunakan untuk mengatasi beberapa gangguan psikologi, seperti depresi, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan bulimia nervosa.
Advertisements

18 thoughts on “[Writing Prompt] Familia Ante Omnes

  1. “Andaikan aku tahu dia menderita kelainan seperti itu, aku tidak akan menikahinya,”
    Ngerasa gak adil banget sama kata-kata itu. Berasa Elliot tuh sakit jiwa gitu. Mereka yang mengidap OCD kan manusia juga yang punya perasaan.

    Dan endingnyaaa hohoo, entah kenapa aku suka. Estelle berusaha ngelindungin kakak nya dari keterpurukan karena mau digugat cerai Ela kan?
    Tapi, kalau Elliot tahu adiknya bunuh istrinya, gimana?

    Like

    1. well, kalau dilihat dari sisi pandang Ela, sebenarnya cukup merepotkan untuk bersama seseorang yang mengidap OCD. butuh kesabaran yang cukup besar. di sini jelas Ela tidak memilikinya :”

      dan ya, seperti itulah ending yang tertulis di sini. Estelle tidak mau nasib Elliot berakhir seperti kakeknya. seperti kalimat pembuka di awal cerita, Your happiness is my first priority = Elliot’s happiness is Estelle’s first priority.

      reaksi Elliot? well, who knows? Titan serahkan pada Kiyuroo untuk membayangkannya sendiri ❤ 🙂 🙂

      Liked by 1 person

  2. duh iya kak, kalau urusannya sama orang yang punya OCD tuh memang ngga gampang :”

    awawawa, kemarin sebenernya ‘wanita itu’, tapi titan hapus ‘wanita’nya. eeh malah ‘itu’ ketinggalan bzzt -_-

    ayesh, thank you kapuut ❤ ❤ '-')9

    Like

  3. O ranges….
    Aku kira yang bakalan ngebunuh-bunuhan itu si kakak, elliot… eh ternyata adiknya estelle…
    kalo di pikir ulang, itu si adek juga lebih ke arah pyscho kak… kayaknya butuh obat…

    O ranges… aku suka, sudah bisa di ditebak pasti kereeeen…. bisa kebayang gimana ekspresi sambil ngetik…

    Like

    1. HI CECEEE ❤ ❤
      Call me Titan, pls. No need to be shy ahay x)) /slaps/

      dan yaa, moral Estelle itu agak twisted sih kalau urusannya udah menyangkut kakaknya. Semacam overprotective. But it was a pleasure to write her this way heu 🙂 🙂

      Lol, gimana ekspresiku Ce? x)

      Thankies uda mampir dan komen yha ❤ ❤

      Liked by 1 person

    2. Ah, aku emang malu kak (malu-maluin)

      Syukurlah adek ane kgak kayak si mbak estelle
      Ekspresi titan sambil smirk trus ketwa horror…

      Aku bakalan mampir ke lebih banyak tempat…

      Liked by 1 person

  4. titaaaan maafkan aku baru drop komeen heu :” TAPI SUMPAH AKU SUKA SAMA KARAKTERNYA ESTELLE ASTAGAAAAH like, you go girl! hahahahaha (officially team estelle). oiya oiya terus aku sukaaaa gimana mamanya estelle & elliot kayak yang sabaaar banget ngejelasin ke estelle kalo apa yang diderita ama kakaknya ini emang udah turunan, dan tugas estelle sebagai keluargalah yang harus ngebela elliot x) ih aku sukaaa genre family yang agak melenceng (?) giniii wkwkwkwk.
    titaaan aku penasaran sama reaksi elliot btw huhu tapi biarlah. di pikiran aku sih elliot pertamanya kaget (pasti) tapi pas estelle ngejelasin semuanya akhirnya elliot luluh (fika emang gasuka konflik) (abaikan aja tan, abaikan) hahahaha xD yosh! keep writing titaaan ❤

    Like

    1. Glad you like her, Kafika ❤ Kusempat ragu nunjukin sisi gelap Estelle, but eehh who cares? I like writing her this way ehem.

      Sebenarnya langka banget kak buat OCD yg genetik itu, tapi di sini Elliot aja yg ngga beruntung dan kena OCD huhu :''
      The Corvins hold their family motto thru and thru. I shall adore them because of that ❤
      Dan sshh, genre family yang melenceng itu favorit Titan untuk bahan tulisan loh awawawa x)

      Beda pembaca beda reaksi, kak. Makanya Titan putusin reaksi Elliot nanti biar terserah sama reader aja. Bikos kalau terserah Titan, percayalah, akan kelihatan kalau keluarga Corvin itu sebenarnya agak… x)

      Yosh, thank you so muchie Kafika ❤ ❤

      Like

  5. YOKSI ORENJI MANSAE YHA GO OCD GO GIRL GO ESTELLE GO GO GO!!!
    BUSET INI MAENNYA PISO HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA BANGKE KEMANA ESTELLE YANG KUPUJA PERGI KEMANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH

    AKU GAMAU MATIIN KEPSLOK AUK AH GELAP SUMPAAAAHHHAN AKU GATAU AKU KUDU GIMANA AKU KUDU BILANG APA BIKOS ORENJI OLWEIS COME WITH HER OH SO SURPRISINGLY SUPRIZZZZZZZZZZZZE!!! (WHETHER YOU LIKE IT OR NOT)

    -matiin CAPS ah gasopan-

    Seryus, di bagian surprise tuh kaya yang kalo lu ngepost bawaannya harap-harap-cemas abis ini si ini diapain, ini si ini kenapa lagi, ini bakal salto ato split e jangan-jangan kayang lagi abis ini.

    Beneran otak w serancu itu tiap mau klik cerita ngana and the struggle is reeeeeeeeeeeeeeeeeeal!!!
    I think datz a good thing, isn’t it? YES, DEFINITELY!

    Udah ah ngeCAPS lagi ntar. Keep Writing ORENJI!!! ❤ ❤ ❤
    Nuhun komennya pendek soalnya uda gemes mau nyakar layar hvt

    Like

    1. UWU KAPANG ❤ ESTELLE YANG KAU PUJA SEDANG PERGI BERLIBUR~ /plak/

      wah, sampai segitunya kah? x) awawa makan pangsit dulu kapang, biar ngga rancu, kendati kapang sendiri kayae menikmati ketidakrancuan itu ahem '-')

      thank you so muchieee. mau komen pendek/panjang pun komen adalah komen. kubahagya membacanya ❤ ❤

      p.s: jangan cakar layar ih, kasian Toshi-kun x)

      Liked by 1 person

  6. Titan! Kalau aku baca cerita-ceritamu itu auranya beda: unik, menantang, gelap, indah, dan menyenangkan di saat bersamaan. Cerita yang bagus, aku selalu kagum dengan fiksi yang menggabungkan unsur psikologis seperti ini. Nggak nyangka Familia ante omnes-nya bermanifestasi dalam tindakan yang seekstrem itu.

    Btw, ini cuma saranku, sih, tapi aku berpikir bahwa kalau Titan memunculkan satu atau dua adegan perilaku OCD-nya Elliot, ceritanya akan lebih bagus lagi. Misalnya, Elliot itu kalau mencuci tangan bisa bolak-balik, berjam-jam. Apa kalau dia megang pulpen pun, langsung cuci tangan? Apakah dia histeris kalau perilakunya dihentikan, atau bagaimana? Jadi bisa kelihatan bahwa OCD-nya Elliot itu seberat apa sih untuk diterima bagi orang yang baru masuk ke dalam kehidupannya (dalam hal ini, Ela) :).

    Keep writing, Titan!

    Like

    1. aaaaaa kaami, thank you so muchiee ❤ ❤ imblushingrightnowstahpit
      dan ya, agak ekstrim ya manifestasinya? tapi kalau boleh jujur, keluarga Corvin ini memang agak… ya begitulah 🙂

      ayesh, kaami '-')7
      titan noted sarannya. danke schön x) sebenarnya titan mau menggambarkan gejala Elliot yang Ela lihat setiap malam, tapi rasanya ngga ada ruang jadi ya titan urungkan niat heu :"

      again, thank you kaami ❤

      Liked by 1 person

  7. KAK TITAAAAN. Aku udah kepikiran sih, bahwa Estelle juga tidak senormal manusia lain walaupun entah dalam ranah apa LOL. Dan setuju banget sama kak Ami, tulisan kak titan tuh gloomy, tapi gloomynya yang lebih ke menantang bukan desperate.

    Btw, kalo aku ada dalam posisi Elea (jangan sampe sih…), maksudnya punya suami dan dia gak ngasih tau masalah dia sendiri, fix sih aku marah, mungkin kepalanya aku lempar vas HAHAHAHA ((enggak kok, kutidak seganas itu)), ya kita nikah gitu lho, L malah gak ngomong apa-apa.

    Terus aku juga penasaran sih, Elliot OCDnya macem apa sampe buat Elea kayak ngeri, soalnya OCD kayak David Beckham yang nyimpen kaleng pepsi di kulkas harus genap (kalo ganjil dibuang satu LOL) isn’t that hard to deal with, jadi aku penasaran dengan Elliot!!!

    Keep writing kak Titan! Ceritamu selalu ditunggu 😉

    Like

    1. HI TARI ❤
      uwuu thank you so muuuchhh ❤ ❤

      wah, iya. titan sependapat sik. tapi di sini Elliot benar-benar beranggapan kalau OCD-nya itu bukan hal penting karena dia sendiri sanggup menanganinya. kalaupun dia butuh bantuan, yang pertama muncul di pikiran ya Estelle, lalu dokter pribadinya. duh, kesannya strata Ela pendek banget ya? hmm

      mm, OCD Elliot ini lebih ke Washing, Checking, dan Arranging. bukan ngeri, tapi Ela muak harus melihatnya (hampir) setiap hari melakukan aktivitas tersebut. belum lagi sebagai istri dia merasa harus membantu Elliot. bayangkan deh, mendampingi Elliot yang membasuh tangannya berjam-jam? dan kalaupun dia selesai membasuh tangan, dia tidak mengijinkan Ela untuk menyentuhnya (not in THAT way, but in general). tbh, i think i need to make a side-story for this, because there are a LOT of things that I want to add but I couldn't create a room for them to fit in :"

      and thank you tari ❤ titan akan berusaha terus menulis '-')/

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s