Strangers: Deus ex Machina

27-1

by La Princesa

warning: trigger material // previous: Damsel in Distress

Aku ingat, pada suatu sore yang basah, kau bertanya padaku ketika si pahlawan super sedang bertempur melawan musuh bebuyutannya.

.

“Kau punya cerita apa hari ini?” tanyamu.

Aku tak merta menjawabmu, dan kau masih sesabar biasanya menungguku menyuarakan jawabanku. Adegan di televisi sedang menayangkan perjuangan si pahlawan yang akhirnya menggunakan jurus pamungkasnya untuk mengalahkan lawannya yang bertangan delapan. Kau melewatkan bagian paling seru hanya untuk mengamatiku yang sibuk mengunyah popcorn, Jongin? Apakah aku secantik itu?

“Pahlawan supernya mati sebentar lagi karena ia gagal menggunakan jurusnya, lalu bumi dalam bahaya. Tapi bantuan akan datang karena sang sutradara tak mau membiarkan filmnya berakhir dengan si penjahat menguasai dunia. Paling-paling pahlawannya akan bangkit dari kubur karena ternyata dia belum mati, lalu pertempuran terjadi sekali lagi tapi kali ini dimenangkan si pahlawan.”

Aku menoleh, kau sedang mengulas senyum. Pendek, senyummu singkat dan ringkas. Sederhana tapi aku suka. Seringnya aku akan ikut tersenyum setelah melihat senyummu.

Deus ex machina.”

“Solusi yang dibuat-buat untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya sudah tak bisa diselesaikan, ya. Kenapa tidak terima saja dengan ending apa adanya?”

Kau diam lagi. Aku tahu kau enggan berkomentar, aku tahu kau menunggu jawabanku—jawaban yang sesungguhnya. Tatapanmu lekat. Aku suka sepasang matamu jika sedang menatapku seperti itu, Jongin, memaksa namun tidak memaksa. Aku jadi ingin tersenyum—benar kan kataku, senyummu menular.

Jongin, kau belum mengerti rupanya, aku baru saja menjawabmu.

“Ternyata pahlawan supernya tidak bangkit dari kubur, bumi diselamatkan oleh alien yang tiba-tiba datang melalui portal yang terbuka. Which leads to another plot holes, don’t you think? Bagaimana jika alien-alien itu nantinya berkhianat pada manusia bumi?”

“Aku tak membicarakan filmnya,” katamu akhirnya.

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Aku memutar bola mata—kagum. Kau selalu bisa mendapatkan seluruh atensiku, Jongin, kau hebat. Dan yang lebih membuatku semakin kagum padamu, kau bahkan tak memaksa. Kau sabar, kau halus, you’re so suave, Jongin. Oh Lord, kau mungkin tak sedang berusaha merebut perhatianku—you just do. Jongin, aku menyukaimu.

“Aku tak punya cerita.”

Kini kau yang mendesah. Kau bukan tipe orang yang mudah hilang kesabaran, tapi aku tahu—tahu saja—strip sabarmu mulai berkurang. Artinya… aku semenyebalkan itu. Apa aku sekeras kepala itu, Jongin?

“Tak punya cerita atau tak mau cerita?”

Aku terkekeh—kau tahu jawabannya. Kau menjangkau pergelangan tanganku, jemarimu berlari di atas milikku dan aku tertawa. Jangan tanya padaku apa yang sedang kutertawakan, aku juga tak tahu. Menurutku ini lucu, segala hal yang terjadi padaku, di hidupku, adalah bukti bahwa Tuhan punya selera humor yang bagus.

Dan kalau aku boleh jujur, aku masih tak mengerti apa maksud Tuhan membuatmu menemukanku. Maksudku, apa yang sedang kau lakukan, Jongin? Kau tak seharusnya seperti ini. Kau seharusnya seperti mereka—tak peduli. Kau seharusnya tak usah menemukanku, kau seharusnya meninggalkanku dan membuat justifikasimu. Apa yang kau lakukan, Jongin?

“Mengapa kau bertanya, Jongin?”

Menjadi dekat denganmu membawa perubahan untukku—pertanyaanku barusan, buktinya. Aku tak tahu apakah ini pertanda bagus atau justru sebaliknya. Yang kutahu kepalaku justru semakin kusut dijejali hal-hal seperti ini. Aku kalang kabut—tapi tidak, Jongin, aku tidak menyalahkanmu. Aku menyalahkan diriku sendiri.

Aku ingat dulu, di suatu sore yang lengas, kau menemukanku yang tengah terduduk sendirian di sofa ruang tengah apartemenku dengan lampu serumah yang tak kunyalakan. Kau bertanya ‘kau kenapa?’ dan aku menghabiskan sepuluh menit persis untuk membuat berbagai asumsi mengapa kau bertanya.

Dulu aku tak pernah terpikir untuk menanyai alasanmu bertanya. Aku lebih memilih berasumsi karena aku juga tak punya hak untuk bertanya. Apalagi setelah tahu kau pintar sekali menjaga privasiku, aku harus melakukan hal yang sama padamu.

Lihat apa yang kau lakukan padaku sekarang, Jongin—kau mengubahku. Apa yang membuat diriku begitu mudah bertanya padamu, kini?

Kau diam dulu—selalu begitu—kau selalu hati-hati memilih jawabanmu. Mengobrol denganmu lebih banyak disela keheningan, tapi aku tidak protes. Kau mengajakku mengobrol saja aku sudah senang. Lagipula punya kewenangan apa aku untuk memprotes? Aku saja sering menjadi si berengsek yang tidak menjawab pertanyaanmu.

Lalu kau tersenyum—jemarimu bergerak lagi di atas milikku, kali ini genggamanmu lebih erat. Tapi tak seerat itu hingga aku ingin menyentak tanganmu. Aku suka caramu menggenggam tanganku, Jongin, kau selalu tahu menjaga privasi. Jongin, aku menyukaimu.

“Karena aku ingin tahu jawabannya,” jawabmu.

“Tapi aku tak punya jawaban, Jongin.”

“Benarkah?” tanyamu lagi. “Tak punya jawaban atau tak mau menjawab?”

Aku masih mengingatnya dengan jelas; sebuah sore yang lengas ketika kau menemukanku. Kau bertanya ‘kau kenapa?’ dan aku serampangan berspekulasi. Sampai sekarang aku masih tak tahu alasanmu bertanya, Jongin, dan mungkin juga aku tak mau tahu. Aku terlanjur nyaman dengan kesimpulanku, bahwa kau bertanya karena kau peduli. Aku tak mau kau memberitahuku alasan yang sesungguhnya. Mungkin karena aku takut mendengar jawabanmu. Kau bertanya karena ingin tahu, atau cuma basa-basi—bukan karena peduli.

Ya, ya, begitu. Salahku juga yang terlalu cepat mengambil kesimpulan padahal ada banyak kemungkinan. Tapi apa yang kau lakukan setelahnya? Menungguku sampai aku selesai menangis, bukannya kabur dan membuat justifikasimu, membuatku semakin mudah jatuh pada kesimpulanku. Bahwa kau peduli.

Jika sekarang aku bertanya, sudah tepatkah waktunya, Jongin?

“Mengapa kau peduli padaku, Jongin?”

Sesuai tebakanku, kau tak langsung menjawab. Kau justru menatapku dengan kedua alismu yang bertemu di tengah dahi—sampai menciptakan satu, dua garis kerutan di sana. Tanganku yang bebas genggamanmu terulur. Kau selalu memijat keningku dengan jarimu saat alisku mengerut. Katamu aku tak boleh sering-sering begitu—membuatku cepat tua saja. Sekarang giliranku melakukan hal yang sama untukmu.

Kau terkekeh hangat, aku senang mendengarnya. Kekehanmu singkat tapi matamu membentuk sepasang sabit yang cantik saat kau melakukannya. Aku senang melihatnya. Jongin, aku menyukaimu.

“Apa mempedulikanmu harus punya alasan?” tanyamu.

“Tentu saja,” jawabku.

Kau menghela napas saat kau membenarkan posisi dudukmu menjadi lebih tegak. Aku diam—menunggu jawabanmu, tentu. Jadi begini rasanya menjadi dirimu—menunggu lawan bicaramu memuaskan penasaranmu.

Human nature, I guess?” jawabmu singkat. “Katamu aku orang baik.”

Aku mengangguk setuju. Kau orang baik, dan hanya orang baik sepertimu yang bisa memanfaatkan instingnya untuk membantu orang lain hingga menjadi kepuasaan tersendiri untuknya. Tentu saja, human nature. Sudah jelas kan, memang ada lagi yang lain? Kenapa aku berharap terlalu banyak?

“Tapi kau bodoh,” komentarku.

“Tak apa-apa,” balasmu. “Jadi kita setimpal. Aku ingat aku pernah mengataimu bodoh, dulu.”

Lalu kita tertawa—aku tak tahu alasannya, mungkin tertawa saja. Menertawai kebodohan kita, atau menertawai kekompakan kita yang sama-sama bodoh. Tak tahu, mungkin karena tawamu menulariku dan tawaku menularimu.

“Kau seharusnya tak peduli padaku, Jongin.”

“Kenapa tidak?” Kau menjungkitkan alismu—ah, aku tahu. Kau sedang menebar umpan. Kau menyebalkan, Jongin. Aku jadi ingin cemberut, sementara kau masih hening menungguku menjawab. Sentuhanmu hangat saat telapak tanganmu menangkup pipiku. Kau menebar umpan habis-habisan.

“Kau membuang waktumu,” jawabku jujur. Kau tertawa. Kau pasti mengerti maksudku.

“Tak masalah, aku punya banyak waktu.”

Kau keras kepala, aku baru sadar. Sama sepertiku—ternyata kita punya banyak persamaan, ya? Kita sama-sama tak bisa bermain catur, sama-sama suka film fiksi, sama-sama keras kepala, sama-sama membuang waktu, sama-sama bodoh. Oh Lord, jangan-jangan kau menjadi bodoh karena berteman denganku, Jongin? Jika benar begitu, kupikir aku akan merasa sangat bersalah padamu. Semoga kau memang bodoh sejak sebelum bertemu denganku, jadi aku punya teman yang bodoh sepertiku tanpa harus merasa bersalah.

“Tapi aku senang mendengarmu,” katamu lagi. “Kau juga senang didengar, jadi setimpal.”

“Tahu dari mana?”

Kau tertawa—derai tawamu hangat. Sehangat kuah kari yang cocok dimakan di cuaca seperti ini. Aku tak terlalu suka kari, tapi aku tetap suka derai tawamu yang hangat, Jongin, kau tak perlu khawatir. Tawamu juga terdengar lembut—selembut kain sweater favoritku yang kubeli di flea market setahun yang lalu. Kesimpulannya, aku suka mendengarmu tertawa. Kalau bisa, derai tawamu itu ingin kumasukkan ke botol dan kudengarkan tiap kali aku susah tidur. Kau mungkin belum tahu, Jongin, tapi segala hal tentangmu sering membuatku mengantuk.

“Kau masih menganggapku orang asing?” tanyamu lagi.

Aku mendengus keras-keras. “Jongin, kau mengubah topik.”

“Tidak juga,” jawabmu ringan. “Jawab saja.”

Aku merengut lagi—kau keras kepalanya melebihi aku, tahu. “Aku tak ingin mengotakkanmu menjadi satu kategori.”

“Tapi kau bilang aku orang baik?” tanyamu.

“Satu itu saja, lainnya tak perlu.”

Kau malah menyeringai—seringaimu menyeramkan. Aku jadi berpikir ada sesuatu yang akan datang bersama dengan seringaimu itu. Entahlah, pertanyaan tak masuk akal, mungkin? Hal-hal mengerikan apa yang bisa dilakukan orang baik sepertimu, Jongin?

“Tak mau atau tak enak padaku?”

Benar, kan?

Kau tak menunggu jawabanku. Kekehanmu yang menjadi bukti, menggema di dinding apartemenku. Aku senang mendengar derainya—oh, tunggu. Aku sudah mengatakan hal itu seribu kali sepertinya.

“Aku tak pernah menganggapmu orang asing,” katamu.

Tidak.

Berhenti mengagetkanku, Jongin, kau tak pernah kehabisan cara membuatku terkejut ya? Aku masih ingat di sore yang lengas itu kau menawariku pelukan—kau bilang aku butuh. Asal kau tahu, saat itu kepalaku penuh dengan perkiraan-perkiraan tanpa dasar. Salah satunya mengira kau akan menganggapku aneh. Tapi kau malah menawariku pelukan.

Berhenti, Jongin, kumohon berhenti. Kau mungkin tak tahu, tapi kau merangsek maju di peringkat satu hal-hal yang kutakuti. Ya, Jongin, aku takut. Aku takut berhutang terlalu banyak padamu… kau terlalu baik padaku, aku tak tahu bagaimana nanti membayarmu. Aku takut padamu, Jongin, lebih tepatnya… aku takut menggantungkan harapan terlalu tinggi padamu. Aku takut kau mengecewakanku, walau aku sadar: jika suatu saat aku kecewa padamu, itu karena aku yang terlalu berharap. Bukan salahmu, Jongin, kau tak salah apa-apa.

“Kenapa tidak?” tanyaku.

“Karena aku memahamimu,” jawabmu. “Dan semakin memahamimu setelah aku menemukanmu—dan menembus celahmu. Kupikir kau kompleks, nyatanya kau hanya ingin didengar—kau butuh didengar. Maka di sini aku, menyediakan dua telinga untukmu.”

Aku terdiam. Maunya aku langsung membalas, tapi aneh… aku kehabisan kata-kata. Mungkin otakku tengah berasap, kelebihan beban menyerap informasi.

“Kau bodoh, Jongin. Kau bodoh sekali.”

“Aku tahu.”

“Kau seharusnya berhenti.”

Kau terkekeh—bukan, kau tertawa. Tapi tawamu yang ini kering dan cenderung dingin—aku tak suka, tapi aku tak punya tempat lain untuk bersembunyi dari derai tawamu.

“Kenapa kau ingin lari?” tanyamu. “Apa tidak lelah?”

Kau gila, Jongin. Tidak, kau membuatku gila. Kau seharusnya berhenti. Kau seharusnya tidak peduli padaku. Kau seharusnya tidak menemukanku. Kau seharusnya tidak menjadi orang baik, Jongin. Kau tak boleh seperti ini.

Kau yang seharusnya lari!

Kau harus berhenti memelukku, Jongin. Berhenti asal menenggelamkanku pada pelukanmu. Kau tak tahu kan, aku senang sekali jika kau sudah memelukku. Rasanya mau mati tenggelam saja di pelukanmu—aku tak mau diselamatkan. Pelukanmu masih senyaman yang kuingat, masih hangat, masih ringan dan masih menjadi favoritku.

Kau seharusnya berhenti, Jongin.

“Kupikir kau sudah tahu kenapa aku mempedulikanmu,” bisikmu lirih. Kau tak protes saat kemeja kesayanganmu basah oleh air mataku. Demi Tuhan, Jongin, aku menyukaimu. Dan demi Tuhan, Jongin, kau seharusnya berhenti.

I want to fix you.”

Aku sesenggukan, jangan salahkan aku jika kemejamu jadi kotor. Tapi kau malah makin menjadi. Jari-jarimu menggambar pola berbentuk lingkaran di punggungku, membuatku semakin nyaman. Aku ingin tenggelam selamanya dan mati di pelukanmu, Jongin.

I don’t want to. I don’t want to be fixed. Don’t fix me.”

“Terlambat, aku sedang mengerjakannya,” katamu. “Aku orang yang kompulsif dan keras kepala. Kau tahu aku tak akan berhenti.”

You should have stopped, Jongin.

.

-end

.

  1. idk if anyone read this story but here’s the second part. makin pusing atau makin mumet? part depan sudah chapter terakhir dan long-ass author notes kok, aha aha aha.
  2. this isn’t riddle, tapi kalau kalian penasaran, perhatikan lagi dialognya dan percakapan tentang film. isinya metafora tentang bagaimana si aku memandang hidupnya dan dia yang menganggap Jongin sebagai deus ex machina-nya. yah spoiler, kan.
  3. keseluruhan cerita ini memang berkisah tentang depression, anxiety, trust issue, panic attack even slight suicidal tendency (akan dibahas lebih lanjut di part terakhir). I’m not medical student, so I won’t put any scientific details. pendekatannya bakal lebih ke real life situation, kok. ya ditambah drama-drama dikit bikos Jongin is the only idol who can pull off that sickly look for teasers out of his ass like a miracle maker love.
  4. fyi: si aku di atas juga mengidap flight of ideas. makanya kalau ngomong berantakan, belum selesai bahas satu udah terbang ke topik lainnya (ALASAN DOANG, PADAHAL KARENA IDENYA BERCECERAN).
  5. too ashamed to ask review, but will be appreciated, HEU. meanwhile, thanks for reading.
Advertisements