Rose

Rose

a story by Keii

Kau melakukan dua dusta fatal.

Pertama adalah ketika kau menjulukiku sebagai setangkai mawar yang indah bagi kebun hatimu yang kering; bak sebuah dermaga terakhir yang ingin kaukunjungi. Kau tertawa saat kukatakan bahwa aku telah merasakan hal yang sama, jauh sebelum kau memberikanku kode-kode hijau. Katamu, “Begitukah?” lantas aku ikut tertawa, membiarkan kalimat retorikal itu mengambang sementara netraku hanyut dalam pesonamu.

Di lain esok, aku pun terhanyut oleh pesona yang kaubagi. Sayangnya tidak ada tawa kali ini; tidak ada pertanyaan retorikal yang lain. Satu-satunya pertanyaan adalah sebuah cincin putih di jari manismu yang seolah mengolokku. Kau tersenyum pias dan aku merasa ingin muntah. Setangkai bunga mawar merah kesukaanku terjalin rapi dalam pita merah muda di atas meja, namun kau mengabaikannya. Seolah-olah durinya akan menusukmu jika kau memandangnya.

Saat itu kau mengusap tanganku, membuat gerakan jari satu arah yang monoton. “Maaf, Anna,” katamu lirih. Aku tak berharap bening indah iris hitammu akan bersirobok dengan milikku, tapi terlambat ketika kurasakan cairan bening mengisi seisi pelupuk mataku. Sepasang buliran turun dengan cepat di pipiku, seolah tak mengizinkan tanganmu untuk menyekanya. Sejemang selanjutnya kau tersenyum dan menyalami tanganku, seperti tak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Dengan tenang, kau juga meletakkan sebuah amplop besar dengan wewangian parfum di atas meja makan. Sketsa monokrom wajahmu terpeta di sana, di sisi seorang gadis arif yang nampak tersenyum dalam balutan gaun semata kaki.

“Aku akan menikah bulan ini.”

Mendadak aku kehilangan pesona keindahan dirimu dan omong kosong analogi mawarmu. Kaubilang itu cuma duri, tapi bagiku, durinya bak sebuah paku-paku yang siap menyerang kapan saja. Warna merahnya bak darah yang telah mengering dari hati yang baru saja terluka. Tangkai hijaunya bak seekor ular yang siap menyemprotkan bisanya kapan pun. Bahkan aromanya menjadi bangkai tikus yang selalu menjadi ketakutan tersendiri untukku.

Kau berdusta. Aku bukan setangkai mawar.

Hanya kumbang. Kumbang yang akan mati kehausan.

.

.

Dustamu yang kedua tak lebih baik.

Saat itu seluruh benda yang kulihat adalah sebuah dinding putih dengan sebuah kasur berseprai putih yang berada di pojok kiri. Aku duduk di lantai, dalam balutan jubah putih mengerikan. Rambutku tak sewangi dulu, pula aroma tubuhku. Hidungku sedikit bengkok ke kanan dan visiku juga sering blur secara tiba-tiba. Aku tidak merasa lapar atau haus, aku hanya merasa sakit.

Waktu terasa begitu lama ketika aku sendiri. Kadang aku merasa perlu untuk mencakar-cakar dinding, meronta dan mengoyak-ngoyak ranjangku hanya demi mengenyahkan kebosanan. Benda elektronik dengan cahaya merah berkedip-kedip, terpasang rapi di keempat sudut atas ruangan yang kutempati, bergerak otomatis mengikutiku kemana pun aku bergerak. Ketika aku risih, aku mencoba menghancurkannya dengan segala benda yang dapat kujangkau dari bawah sini, meski kadang hanya lelah yang kudapat.

Aku tidak memunyai banyak teman. Tapi jika bertanya berapa orang yang sudah kutemui sejak aku berada di tempat terkutuk ini, tak terhitung. Seluruh orang yang kutemui selalu membawa sebuah nampan stainless yang berbau seperti cairan urin. Mereka kerap menusuk kulitku dengan jarum suntik kemudian membiarkanku menggelinjang kesakitan sementara mereka dengan santainya menulis-nulis sesuatu di atas sebuah kertas. Ketika aku bangun di hari lainnya, mereka menggeleng, berbisik-bisik satu sama lain dan mengatakan, “Tidak ada tanda-tanda kewarasannya akan kembali.”

Mereka menganggap aku gila.

Aku berasumsi bahwa mereka salah, setidaknya sampai kau datang ke tempatku dengan kepala yang dibebat perban. Beberapa orang berdiri di belakangmu, salah satunya adalah pria yang membawa nampan berbau urin.

“Halo,” kau menyapaku, entah karena kau memang ingin menyapaku atau kau hanya melakukan standar prosedural biasa, aku tak ingin menjawab yang mana pun, “Kau oke, Anna?”

Aku menatapmu; luka melintang di pipimu yang nampak baru saja mengering, bibirmu yang koyak di beberapa bagian, mempertontonkan ruam-ruam daging kecil yang sangat jelas dari jarak dekat, serta pelipis mata kanan yang berubah warna menjadi biru. Kau tak lagi nampak tampan di mataku, kau menyedihkan.

“Kau yang tidak baik-baik saja,” kataku singkat. Aku mundur perlahan dari tubuhmu yang masih beraroma obat-obatan. Aku memeluk kakiku yang sudah ditekuk, kemudian bersandar pada dinding putih yang berada sejauh mungkin denganmu.

“Oh,” wajahmu nampak terangkat ragu-ragu. Kau menyeret kakimu dengan terpincang-pincang—apakah ada yang salah dengan kakimu?—kemudian duduk di sebelahku. Dari sakumu, kau mengeluarkan setangkai mawar segar yang durinya sudah dipangkas.

“Untukmu,” katamu.

Aku menerima setangkai mawar tersebut, sekaligus menerima seluruh ingatan hitam dalam beberapa hari belakangan. Aku ingat soal: sebuah balok kayu yang aku hujamkan pada kepala seorang pria, pisau kecil yang menggores pipi, hantaman keras pada pelipis kanan serta tendangan hebat pada tungkai kaki milik pria yang sama. Seakan masih belum seberapa mengerikan, teriakkan nyaring terdengar dari balik memoriku, bersamaan dengan dengungan menyeramkan dari mobil ambulans yang berlalu.

Dan ruangan putih ini adalah hukuman untuk seluruh kehitaman yang sudah kulakukan.

Aku menjatuhkan setangkai mawar pemberianmu di lantai.

“Aku baik-baik saja,” katamu lugas.

Pada saat itu, seperti sebuah analogi mawar yang kauceritakan padaku, adalah sebuah dusta. Kau melakukan sebuah dusta fatal keduamu. Jelas, kau tidak baik-baik saja dari sisi mana pun. Terkutuklah aku.

“Kau harus sembuh, Anna,” katamu penuh harap. Kau meraih tanganku, menyelipkan tangkai mawar pada sela-sela genggamanku. “Kau bisa keluar dari kegelapan ini, Anna. Aku di sini untuk membantumu.”

Kau menatapku, kau meyakinkan aku. Mungkin kau lupa suatu konsep, bahwa ketika kau mencoba meyakinkan orang lain, kau harus yakin dengan keputusanmu terlebih dahulu. Aku tidak melihat keyakinan itu pada sorot matamu. Tanganmu seharusnya menghangatkanku, bukannya membuatku mengiba seperti ini. Memangnya kau sedang melihat apa? Pengemis?

Oh iya. Aku juga pernah menjadi semacam pengemis, ya? Tentu kau merasa terganggu saat dulu aku mengemis cintamu. Baru tahu.

“Tidak.”

Aku mengenyahkan bantuanmu. Aku menarik diriku dari sebuah genggaman dan pertemuan haru nan menakutkan ini. Kau memandangku tak percaya, sekaligus lega. Lega karena si Pengemis ini menjauh?

Ugh.

“Anna, jangan hidup dalam kegelapan.”

Semakin kau bicara, semakin banyak dusta yang kaububuhkan. Bibirmu bergetar dan aku tak melihat bantuan tanpa pamrih yang akan kautawarkan. Seolah-olah, semua yang kaukatakan sudah tercetak pada lembaran skenario yang kauhapalkan jauh-jauh hari. Tidak ada penekanan emosional yang menguatkan di sana, segalanya adalah kosong. Segalanya adalah dusta. Segalanya adalah hitam.

“Pergi,” usirku tenang. “Kau akan terlihat bodoh kalau kau berada di sini.”

“Anna!” Kau memrotes. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku melihat mimik lega terpancar dari wajahmu.

“Pergi,” ulangku.

“Kau tidak begini. Kau dulu adalah gadis yang baik. Katakan pada mereka!”

Antusiasmemu terpecah menjadi teriakkan menyedihkan. Telingaku sakit mendengarnya, sampai-sampai aku tak tahan untuk balas berteriak.

“Lalu kenapa?” Aku menatapmu marah, “Lalu kenapa kalau aku orang baik? Memangnya orang baik tidak boleh gila? Lagipula hak apa kau menawarkan diri untuk membantuku? Hubungan kita tidak seperti itu. Hubungan kita seperti ini, seperti yang kaulihat hari ini. Jangan lagi memintaku untuk keluar dari kegelapan dan hal-hal konyol lainnya. Aku suka berada di sini.”

Alih-alih menurutiku, kau menghampiriku, mengguncang tubuhku dengan kasarnya. Hebatnya, aku diam saja meski beberapa orang berseragam putih sudah membuat barikade di antara kita. Aku terperenyak; bahkan di ruangan sempit ini, kau dan aku tetap berada di sisi yang berbeda. Dipisahkan.

“Kau tak lagi seperti Anna yang kukenal,” katamu frustasi.

Cih, kau berdusta lagi.

Sejak awal, hanya aku yang mengenalmu. Jadi, dari mana kau dapat kesimpulan sedangkal itu?

“Kegelapan telah menelanmu terlalu jauh, Anna,” tambahmu kemudian. Di akhir kalimatmu, mereka memisahkan kita, membawamu keluar dan mengikatku di ranjang meski aku tak menunjukkan tanda-tanda akan mengoyak-ngoyak isi kepala orang lain.

Aku tertelentang, menatap langit-langit putih pucat. Lantas aku tertawa.

Aku tahu beberapa orang sedang memerhatikanku karena lensa kamera di keempat sudut ruangan terus bergerak-gerak. Saat menyadarinya, tawaku semakin kencang sehingga aku bisa mendengarkan gaungnya memantul-mantul kembali ke telingaku menjadi berlipat-lipat.

Aku melirik ke salah satu kamera yang berada paling dekat dengan tempatku berbaring. Aku menatap ke arahnya, menunjukkan gigi-gigiku yang menguning.

“Kalian ingin aku keluar dari kegelapan? Kalian akan mendapatkannya,” aku termenung beberapa detik, mengubah ekspresiku menjadi lebih tenang dan serius. “Tapi katakan dahulu, bagaimana rasanya tempat penuh cahaya yang kalian diami? Kalau teramat menyenangkan, sekarang jelaskan lagi padaku, kenapa dahulu aku memilih terjatuh dalam kegelapan.”

Aku tersenyum keji, menggigiti bibirku hingga darah keluar dari luka-luka yang kubuat. Aku terbaring menyedihkan dengan tawa penuh kemenangan. Di sisiku, setangkai mawar tergeletak bisu di atas lantai putih yang dingin. Durinya sudah digunduli, tapi bekas yang tersisa samar pada tangkainya bak momentum penting bagiku; sebuah pengakuan diri; bahwa aku sama sekali tak nampak seperti mawar. Setidaknya, soal duri-durinya.

Duri di dalam hatiku tak semudah itu dikikis.

Tidak dengan instan.

Aku menyeringai. Hari yang berat, bahkan untuk seorang gadis sinting sepertiku.

.

.

fin


Remake dari fiksi-penggemar lamaku.

nyun.

 

Advertisements

12 thoughts on “Rose

  1. WAH NYUN x) asli bacanya tegang setegang kanebo kering (haha apasih). awalnya yaaa yang analogi duri duri tuuuh udah dark gitu feelnya heu, terus pas muncul kalimat kalo si aku lebih cocok jadi kumbang aku tuh yang: wah ini pasti ada apa apanya nih. dan bener kaaaan :”( itu si aku-nya dimasukin ke rumah sakit jiwa kah nyun? heu kasiaaan. parah bgt sama ada kameranya bruh :”( terus pas digambarin keadaannya si aku mana ngenes banget. gigi menguning, terus yang tidak seharum dulu juga aaaaaa kesannya tuh si aku bener bener yang kesiksa gitu :”( terus tetiba muncul si kau yang abis kena pukul xD wah buyar nyun buyaaar hahahaha. keep writing yah nyuun! 😀

    Liked by 1 person

  2. Waaaahhh ini nikmat/? Bener.

    Asikk, tadinya kukira ‘aku’ sinting gegara ditinggal kawin dan si cowok ini kecelakaan, trnyata oh ternyata pfffttt
    aku suka bagian yg ‘aku’ nunjukin giginya ke cctv,, suekk bener aku bisa ngebayangin semuanya dgn jelas. Sugoiiiii

    Like

  3. Asli dah kaknyunn, pas baca ini tuh aku kayak bener-bener ngerasain jadi orang gila. Secara, biasanya detail pernyataan tentang orang gila itu ga pake sudut pandang “aku”. Suka bangeeet x)))

    Keep writing sen—kaknyunnn ^^

    Like

    1. trus aku digampar batang-berduri-bunga-Mawar sama kanyun besok lyke, “ajegils yang nulis cerita sampe kena rematik jari, ini yang komen nikmat bana idupnya main bubar-jalan-grak!”

      Tbh aku pernah nulis ide orang depresi dan orang ditinggal kawin, tapi setelah baca ini aku langsung ingin teriak (tapi tida bisa karena sudah malam/tidak sopan jadinya): INI LOH FEEL ORANG DEPRESI DITINGGAL KAWIN YANG SEBENARNYA!!! Dan bener-bener jadi refleksiku pribadi kalo apa yang kutulis kemarin cuma a tip of an iceberg sekalih UWOH KANYUN TENGKIES PING SATUS SUDAH MENGINSPIRASI–SELAIN MENGAMBYARKANKU DENGAN TIDA TERHORMAT DI KASUR.

      Maaf kanyun komenku pendek nyurhat pulak. Tapi ini semua bukan karena tida menghargai kanyun yang sudah bekerja keras, pun bukan aku ingin sembunyi di balik kedok: kanyun aku sepicles (karena meski sepicles aku tetap berusaha keyboard smasinggggg)
      percayalah kalo diterusin isinya cuma kaya komen pertama, karena itulah kenyataannya ‘-‘

      tuhkan gapenting

      KANYUN KEEP WRITING KEEP ME AMBYAR TO RUMAH OPPA AND BACK!!! ❤ ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s