[Writing Prompt] Pemberhentian Terakhir

Terminal

Resti sadar, kepulangannya merupakan pemberhentian terakhir dari hubungan tak berujung mereka.

.

Sosok Resti tak lebih dari bayangan tak dianggap kecuali di waktu-waktu mengisi perut. Jangkahan kakinya tidak lebih lebar dari petak dapur dan ruang makan. Bepergian pun tujuannya tidak meleset dari gang perumahan, tempat akang penjaja sayuran ngetem menunggu pelanggan. Seminggu sekali dua kali, diskon baginya pelisiran ke pasar.

Resti bukan pendatang penting. Tapi tidak penting juga ia menangisi nasib. Asal aliran pemasukan untuk keluarga di kampung Tegal tak susut tiap bulan. Resti berlapang dada menerima dan melewati jalan hidupnya. Sampai kekosongan itu terisi oleh harapan-harapan. Keberadaanya terasa dibutuhkan.

Seperti saat ini, Resti pikir setelah mobil menepi di muka stasiun, pria itu akan pergi dengan kalimat perpisahan sederhana yang akan setengah hati diucapkan seperti, ‘Sampai jumpa!’ atau ‘Hati-hati!’. Sebaliknya, setelah memakirkan SUV putih itu, Resti harus rela digiring masuk. Mempersilakan pria itu mengantre di loket sementara dia berdiri tak jauh di belakang. Resti dibebaskan memenuhi atensinya dengan pemandangan bahu tegap itu, yang meski tenggelam dihimpit tubuh-tubuh lain, tidak juga membuatnya kehilangan pesona.

Mendadak perasaan cemas itu melanda lagi, meski tak sehebat pagi tadi. Harusnya sudah berkurang karena semua akan segera berakhir. Pertemuan-pertemuan rahasia, kode-kode kedipan yang mereka berdua cipta, pun curian canda di pagi buta ketika belum ada anggota keluarga yang keluar dari bungkus selimut kecuali mereka. Tinggal menunggu menit. Menunggu sampai Resti mendudukan diri di dalam bus jurusan Surabaya-Semarang, maka semua kekalutan ini, sudah tak berjejak lagi.

Lalu apalagi yang ia takutkan? Persoal kebutuhan sandang pangan, ia tidak akan kekurangan untuk hari-hari ke depan. Mengingat segulung uang yang pria itu selipkan di genggaman. Berikut janjinya untuk mengisi rekening Resti, tanpa minta balasan.

Mungkinkah perpisahan ini menyakiti hatinya? Benarkah ia masih memendam harapan pada hubungan tak berujung ini? Resti tidak berani mencari jawaban. Ia tak siap pada kebenaran yang akan ia temukan.

“Sudah dapat.” Pria itu mendekat, tersenyum menunjukkan dua karcis di tangan.

Resti ikut tersenyum dan mengangguk. Lalu mengikuti langkah pria itu di belakang. Melewati pos penjagaan setelah pekerja gemuk berwajah datar menyobek karcis, meresmikan mereka sebagai penumpang legal.

Keduanya sampai di ruang tunggu sekaligus tempat bus-bus diparkir. Sesekali aungan stereo mengumumkan keberangkatan, yang terdengar samar, tercampur oleh teriakan para kernet yang mencari penumpang. Para kernet itu tak ubahnya mesin rekaman. Saling beradu vokal, berebut memenuhi kursi untuk lebih dulu melaju pergi. Sambil membombardir pertanyaan ‘Mau ke mana?’, tidak peduli yang tua, muda, anak-anak sekalipun mereka tarik masuk. Terkadang mereka tak mau repot menunggu balasan. Seolah wajah lusuh calon penumpangnya telah memasang plang jurusan yang mereka butuhkan di jidat masing-masing.

“Apa kau mau makan lebih dulu?” pertanyaan itu dibarengi dagu terangkat, menunjuk jajaran warung makan 24 jam.

Jangan kira Resti tidak sempat membayangkan hal itu. Duduk berhadapan, menikmati semangkuk soto dan segelas teh hangat berdua.  Saling berbalas kalimat-kalimat kasih yang untuk sementara menepiskan ucapan selamat tinggal. Untuk yang terakhir kalinya. Tapi tidak. Resti tidak ingin menemukan diriya menanti kesempatan ‘untuk yang terakhir kalinya’ yang lain.

Resti menggeleng sopan. “Tidak perlu. Aku naik bus sekarang saja.”

“Baiklah. Kita beli nasi bungkus saja di sana.” Kali ini bukan pertanyaan. Mengenal bagaimana pria itu tidak suka dibantah, Resti mengangguk saja, sambil berusaha memadamkan gejolak kecil yang mengitari perut dan hatinya.

Mereka menemukan sebungkus nasi itu di bawah tiang kokoh menopang lahan parkir. Penjualnya adalah wanita tua bermuka ramah. Ketika Resti memilah-milah antara lauk ayam atau oseng kangkung dan telur, wanita itu bertanya, “Mau pulang kampung atau pergi dari kampung, Dhuk?”

“Pulang kampung, Buk.”

“Oh, suaminya bekerja di mana memangnya?”

Resti mendongak, matanya ikut bergulir pada sosok yang ditunjuk. Merasa jadi pusat perhatian, pria itu tertawa kikuk. Tas besar milik Resti yang terjinjing di tangannya ikut bergerak-gerak.

“Dia bukan suami saya, Buk,” balas Resti seadanya. Pria itu tidak menambahkan atau berkilah, yang diam-diam Resti sesali.

Wanita tua itu diam, percaya saja. Sebelum kembali menyerukan kalimat menyudutkan lainnya, Resti cepat-cepat menyela, “Yang ini berapa, Buk?”

Ketika Resti mengeja kata Surabaya-Semarang tergantung di kepala badan bus, mereka serempak berhenti. Resti sendiri merasa perlu berterima kasih atau apa pun itu. Setidaknya ia tidak akan kecewa  atas kediaman yang menutupi keresahannya nanti.

Ketika keberanian telah berhasil Resti kumpulkan, pria itu merespon lebih dulu.

“Aku akan berkunjung jika punya waktu luang.”

“Tidak.” Terlalu cepat Resti menyela. Tapi, apa boleh buat. Ia tak ingin direnggut dosa lebih dalam. Resti sudah bertekad untuk mengenyahkan memorinya selepas ia pulang ke Tegal. “Tidak perlu, Mas.”

Resti memperbaiki gelung rambutnya, lakon terakhir yang Resti mainkan sambil berharap pria itu akan menyesal sebab melepasnya.

“Aku pergi dulu ya, Mas.”

Resti mengambil alih bawaannya. Mendongak sebentar, memastikan tidak ada lagi yang ingin pria itu suarakan. Dan Resti menaiki bus dalam gerak lamban. Belum juga pria itu pergi dari hadapannya, Resti sudah diserang kerinduan. Ia membayangkan hari-hari penyembuhan hatinya dilewati dengan begitu hampa.

Suara berat itu tidak akan lagi didengarnya. Belai tangan yang mengirim sepaket ketenangan sekaligus kegamangan hanya berupa kenangan. Pelukan rahasia di serambi belakang akan berhenti menghantuinya sepanjang malam.

Tersekat jendela kaca, Resti menyadari kebenaran itu, adalah semu baginya melabeli pria itu sebagai miliknya. Selama Nyonya Besar mampu menyingkirkannya untuk tak melewati batas ‘wanita simpanan’.

.

Fin

Original pic here

Advertisements

15 thoughts on “[Writing Prompt] Pemberhentian Terakhir

  1. sek sek berarti yang nganterin resti tuh… wah… whaaattttt… ya allah aku kira tuh ya mereka as simple as pasangan yang kawin lari (duh maafkan imajinasiku gini amat hahahaha). terus si resti akhirnya sadar dan minta pulang kampung but si masnya rada merasa bersalah dan janji bakal ngunjungin. eh taunyaaaaa heu :”( ih kerasa banget suasana indonesianyaa aku sukaa. dan iya itu orang orang di stasiun tuh yaa maen tarik aja kadang kadang. wong gamau naik jurusan x malah dipaksa ._. nice fiic hihi. keep writing cherry! x)

    Like

    1. Maunya mereka sih kawin lari, kak (eh)
      Sebenernya aku mau nambah kode kalau hubungan mereka udah hampir ketahuan, karena itu Resti minta pulang. Tapi apalah daya, kata-katanya lepas githu aja hehe.

      Dan apalah, ini ada kesalahan kak huhu harusnya itu bus jurusan Surabaya-Jakarta, jadi si Resti langsung turun di Tegal githu. ;w; (salah fatal ini mah) Dan aku juga lupa nyebut settingnya, ini gambarannya ada di terminal Bungurasih Surabaya. Ga kesebut tapi T___T

      Maksih, kak fik! 🙂

      Like

    2. LOH AKU SALAH SEBUT x) maaf cherryyy, aku nangkep kok ini settingnya di terminal heu. akunya aja kalo ngetik tuh tangan ama otak gak sejalan. jadi aku ngetiknya apa, padahal mikirnya apaaa hahahah xD maafkeun akuuh. iyah sama sama cherryyy x)

      Like

    3. Ga, ga salah kog. Bapakku kalau nyebut terminal jadi stasiun. Makannya, di tulisan aku itu nyebutnya stasiun.. salah.. maafkeun orz hahah;;

      Like

  2. OMG KA CHERRY!!! O.O
    Nyampe bawah aku literally melongo lyke, hahahahah mampus lo kena jebak lo mampus, nyesss gitu ka :’
    Tbh, simpanan bukan sebuah hal yang bagus, tapi di sini ka Cherry bisa menyajikan POV si simpanan itu dan waw aku trenyuh sama perpisahan di busnya meski ini cinta terlarang which is harusnya aku ga trenyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhuhuhuhuhu ka cherry whyyyyy

    Ka aku suka sama pemilihan sisi pandangnya, dan yha, simpanan tetap bukan hal yang baik yha yorobun ❤ 🙂 KA CHERRY KEEP WRITING KEEP KAGHETIN AKU LAGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!! ❤

    Like

    1. Hahahha iyaaa, mungkin aku terlalu terbawa sama Heart of The Matter Emily Giffin yang soal selingkuh2 itu. Padahal aku benci bnget karakter si tukang selingkuhnya, eh, malah aku ikutan nulis juga.
      Makasih miss pang ❤❤❤. Maaf, belum bisa mampir ke tulisanmu yah :’))

      Like

    1. haha, kak aku mampir juga untuk pertama kalinya
      /readergagunabanget/, jadi waktu liat pic covernya, sebenernya aku langsung mikir post twitter kakak, oh jadi buat ini toh.

      aku butuh baca dua kali buat ngerti sih, bahasanya nuansa indonesia bgt dan hebatnya kakak bisa punya ciri khas beda buat nulis fanfic dan orific. dan ohya saya mikir dari awal itu si perempuan bukannya pasangan resmi laki laki itu, walaupun nggak mikir dia prt gitu, eh iya bener prt nggak sih? dan baru ngeh tentang bus bus dan nama tempat justru stasiun, but it’s okay. penyampaian yang nggak terang terangan di awal dan langsung di bukak diakhir itupun nggak tersirat banget, menurut aku itu keren.

      tapi kak sejujurnya aku merasa dibawah umur baca ini, hahaks, but it’s okay, kapan kapan aku bakal mampir di fic lain kak, insyaallah 🙂

      Like

    2. Hey, Vivi.
      Wah, sampai baca dua kali ya. Sorry ya. hohoho yap, Resti prt, aku jelasin di paragraf pertama. Masih ada kesalahan sih sebenernya. Harusnya itu terminal. Kalau stasiun kan pemberhentian kereta hehe.
      Jadi, kamu belum 17 o_o berasa bersalah haha.

      Like

  3. KAAAAK. AKU SHOCK TOLONG. Lah ternyata lah lah, aku pikir ini gak direstuin atau gimana, terus entah resti pembantu/pelayan, tapi ternyata cowoknya si “Tuan” ya. Dari sisi Resti ini sedih sih, cuman kalo dipikir-pikir sialan juga, udah bapaknya pasti ngeladenin juga. TAPI KOK INI BISA JADI SEDIH SIH 😦

    Pokoknya keep writing ya kak cherry!

    Like

  4. Aku benci wanita simpanan wahahaha tukang nikung tuh… Tapi tapi tapiiii kaa cherry ini kok malah berasa resti yang didzolimi yak? sebenernya diakan yang mendzolimi. Dan itu hey ‘Tuan’-nya Yasss semudah itu gitu ngelepasnya, jadi mikir bukan resti yang menggoda tapi malah digoda. Oke deh aku sukaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s