[Writing Prompt] Ian’s Flower Crown

a341d19fba228000

flower crown

by angelaranee

Josie tak lagi terkejut mendapati presensi Ian di dalam kamarnya sore itu. Sahabatnya yang nekad itu terlampau sering menginvasi kamar Josie seenak jidat, melompati balkon dan masuk lewat jendela layaknya pencuri, padahal pintu selalu dibuka lebar oleh Mama bagi laki-laki jangkung tersebut. Kalau ditanya Mama mengapa lebih suka mengambil resiko dengan melompati balkon, jawaban Ian selalu ngelantur. Kadang menjawab,’belajar susah’, kadang,’latihan jadi maling’, pernah pula menjawab,’biar keren’.

“Masih zaman mengerjakan PR?” tanya Ian sembari memainkan gitar milik Josie; menatap remeh gadis mungil berkulit sawo matang yang tengah sibuk sendiri dengan lembaran soal. “Buat apa punya teman kalau tidak bisa disalin PR-nya?”

“Ini bukan PR, sok tahu,” gerutu Josie. “Mana ada mau lulus masih mengerjakan PR?”

“Terus itu apa?”

“Latihan soal tes masuk universitas,” jawab Josie. “Kamu bagaimana?”

“Bagaimana?”

“Kamu belum punya tujuan habis lulus SMA mau ke mana?”

“Ke mana saja boleh.”

“Serius, Ian.”

“Aku serius.”

“Kamu pulang saja, deh,” sahut Josie datar, terkesan acuh tak acuh. “Berisik.”

“Malas,” jawab Ian. “Ayah sama Ibu lagi bertengkar.”

Josie memilih tidak menanggapi kalau sudah menyangkut urusan orang tua Ian yang tengah berada di ambang perceraian. “Bertengkar terus, tinggal cerai saja kenapa, sih? Yang lihat, ‘kan, ikut susah,” gerutu Ian, yang lagi-lagi tak mendapat tanggapan dari Josie.

“Terus kamu mau apa di sini?” tanya Josie, beralih sejenak dari meja belajarnya untuk mencari ponsel yang seingatnya diletakkan di atas ranjang. Alih-alih menemukan ponsel, yang ia temukan malah sebuah benda yang sepengetahuan Josie tidak pernah ada di kamarnya.

“Ini apa?” tanya Josie, menyodorkan benda tersebut di depan wajah Ian.

“Kamu tidak tahu itu apa?” Ian bertanya balik, membuat Josie berdecak.

“Tahu, flower crown,” tukas Josie. “Maksudnya ini punya siapa?”

“Punyamu.”

“Aku tidak punya flower crown.”

“Dari aku untukmu, jadi sekarang itu punyamu.”

“Buat apa?” dengus Josie, meletakkan flower crown imitasi tersebut di atas kepala Ian. “Aneh-aneh saja.”

“Buat malam kelulusan,” ucap Ian, meraih flower crown tersebut dan memainkannya sembari tersenyum lebar. “Nanti kamu pakai ini, biar cantik.”

“Ck, gila kamu, ya?” Josie memutar bola mata.

“Pokoknya kamu pakai ini.”

Kok, kamu memaksa?”

“Iya. Soalnya nanti yang jadi pasanganmu, aku.”

Josie menyipitkan kedua mata kelamnya, memandang Ian seolah-olah pemuda itu baru saja memberitahunya kalau ada bangkai manusia serigala di teras rumah Josie. “Kok bisa?”

“Bisa, dong. Memangnya kamu mau sama siapa lagi?” Ian meletakkan gitar Josie di atas lantai kamarnya yang terbuat dari kayu, kemudian menatap Josie dengan satu alis terangkat.

“Terus yang kemarin?”

“Kemarin apa?”

“Lana atau Lara atau siapa itu?”

Ah, itu. Bukan urusanku,” Ian mengangkat bahu.

Ih, tapi, ‘kan, katanya dia mau mengajakmu jadi pasangannya!” Josie menendang bahu Ian sebelum merosot dan duduk di sampingnya. “Kok, kamu jahat, sih?”

“Ya bukan salahku, dong. Dia tidak segera berinisiatif mengajakku, sih!” tukas Ian. “Lagipula aku tidak mau jadi pasangannya!”

“Terus kamu maunya sama siapa?”

“Sama kamu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Ya… berarti kamu jahat.”

Josie tergelak, sementara Ian menggaruk-garuk kepalanya hingga rambutnya yang berantakan. “Ah, serius! kamu mau tidak jadi pasanganku?” desak Ian.

“Sejak kapan kamu jadi pemaksa?” tanya Josie balik.

“Sejak kapan, ya… tidak tahu. Sejak aku mulai merasa kalau kamu itu semakin cantik setiap harinya?”

Josie mendengus remeh. Dasar Ian, ada-ada saja kelakuannya. Gadis itu meraih flower crown yang sedari tadi berada di pangkuan Ian, kemudian meletakkannya di atas kepalanya sembari merapikan rambut panjang bergelombangnya dengan jari. Gadis itu melempar tatapan usil kepada Ian. “Bagaimana?”

“Cantik,” jawab Ian singkat, menepuk puncak kepala Josie. “Aku buat sendiri, tahu.”

“Aku tidak percaya, tuh,” goda Josie.

“Sungguh. Aku buat sendiri,” Ian menunjukkan telapak tangannya yang lecet-lecet. “Tadinya aku mau pakai bunga asli, tapi nanti cepat layu. Susah itu buatnya! hargai, dong!”

“Iya, iya, besok aku pakai,” ujar Josie. “Terima kasih, ya.”

“Berarti kamu mau jadi pasanganku?”

“Tidak.”

“Tidak bisa begitu. Kalau kamu pakai itu, otomatis kamu jadi pasanganku.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Kembalikan flower crown-nya,” Ian menengadahkan tangan dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat, membuat Josie tertawa lagi.

“Jangan, deh. Sepertinya aku mulai suka sama benda ini,” sahut Josie. “Aku akan jadi pasanganmu buat prom besok.”

Josie tak menghiraukan selebrasi tidak penting Ian, dirinya terlampau antusias dengan flower crown buatan sahabatnya tersebut. Gadis itu melirik sekilas Ian yang masih betah tersenyum lebar seperti kucing Chesire. Harus diakui, Ian terlihat manis kalau seperti ini; ketika sepasang mata lebarnya membentuk dua buah bulan sabit dan pipi kirinya dihiasi lesung pipi yang dalam.

“Josie,” panggil Ian. “Aku mau kamu berjanji denganku.”

“Aku tidak mau,” Josie menggeleng. “Aku takut tidak bisa menepatinya.”

“Ayolah…” bujuk Ian. “Sekali saja. Tidak sulit, kok.”

“Janji yang seperti apa memangnya?” tanya Josie. “Kalau aku tidak bisa menepati, jangan salahkan aku, lho. Kamu yang memaksaku untuk berjanji.”

“Iya, iya, mudah, kok,” Ian mengibaskan tangannya. “Janji ya… flower crown-nya tidak boleh hilang atau rusak sampaiiiiiii… sampai kapan ya? Hehehe… sampai aku bisa belikan kamu cincin pernikahan.”

Josie mengulum senyum geli. Ia tidak tahu apakah Ian serius atau sekadar bercanda, tapi kata-katanya barusan membuat Josie tersipu. “Buat apa kamu belikan aku cincin pernikahan?”

“Karena aku mau menikah denganmu.”

“Dasar aneh.”

“Lihat saja, nanti aku akan bikin kamu jatuh cinta padaku,” Ian membusungkan dada dengan angkuh. “Dan aku akan menikahimu. Yakin, deh. Kalaupun kamu menolak, aku akan memaksa. Aku akan bawa kamu kawin lari.”

Ah, Ian… sosoknya serta pemikirannya yang sulit ditebak memang mengejutkan sekaligus menarik. Mau tak mau Josie tertawa, sembari membayangkan apa jadinya kalau ia benar-benar jatuh cinta pada sahabatnya sendiri suatu hari nanti.

So… bagaimana? Janji simpan flower crown-nya sampai aku bisa belikan kamu cincin?”

“Iya, tapi kalau ternyata kita tidak saling jatuh cinta?”

“Tidak mungkin, kita pasti saling jatuh cinta.”

“Jangan kekanakkan, deh.”

“Lihat saja nanti, kamu pasti bakal tergila-gila denganku seiring berjalannya waktu.”

Josie memutar bola mata, lantas meninju pelan bahu Ian sembari tersenyum menantang. “Ya, lihat saja nanti.”

.

.

fin

Advertisements

13 thoughts on “[Writing Prompt] Ian’s Flower Crown

    1. Hai! Angela Ranee’s here!
      I’m also a sucker for cerita cerita friendzone, kamu nggak sendirian wkwkwk 😀
      By the way terimakasih ya sudah baca dan review ^^

      Like

  1. halo angelaa x) adeuh suka deh sama karakternya ian hihihi. duh tapi dia kok cubanget sumpah alesannya ngelompatin pagar balkon orang hahahaha. yang alasan biar keren itu lhooo xD terus terus aku suka yang dia setengah maksa biar josie jadi pasangannya di prooom awawaw. semoga kalian entar nikah beneran yaaa ian sama josie ehe. nice fic! cuma tadi ada beberapa kepeleset aja. setelah tanda seru ada yang nggak dikapital hihi. keep writing angela! x)

    Like

    1. Halo juga, this is Angela Ranee 😀
      So basically guy like Ian is my ideal type sayangnya cuma bisa nulis tapi nggak bisa nemu di dunia nyata //malah curhat XD Ya mohon dimaklumi ya kekoplakan Ian hehehe…
      Thanks buat masukannya, Kak. Thanks juga sudah like dan baca ^^

      Like

  2. RANIIII.. Aku gatau kalo kamu ikutan bikin promt!! Huhuhu

    Tauga, pas baca deskripsi Ian sama cara dia maksa buat ngajak ke prom, aku malah mikir dan bayangin taehyung lol xD abisan sifat mereka kayanya sama gitu, absurd sekaligus nyenengin. Aku selalu suka sama cerita sahabatan sih gatau knp. Mau akhirnya jadian kek atau enggak, gatau knp suka aja. Dan di sini dua karakternya beda banget jadi kayanya cocok juga ((tetiba inget leamino okesip))

    Ada beberapa typo kalo gasalah tapi aku lupa yg mana(?) Pokoknya keep writing yaaa ♡

    Like

    1. Hehehe masa mirip Taehyung sih Kak? Tapi Ian tuh tipikal cowo idamanku yg tengil tolol baper-able //yha Sama Kak aku juga kayaknya terlalu mudah dibuat baper oleh cerita sahabatan. Makasih Kak Tita udah baca, like, dan ngasih masukan! Keep writing juga buat Kak Tita 😀

      Like

  3. Halou Angela! 🙂
    Lagi ngebayangin digombalin anak-kampret-next-door-ala-Ian yang hobi masuk kamar seenak jidat, awet cengar-cengir, tida patah arang nyogok flower crown sekalian ngajuin diri jadi pasangan prom, despite of his broken home problem omegad aku ngefly :’)
    Tulisanmu ngalir, meski ada beberapa redaksional yang harus dicek ulang seperti yang sudah dibahas Tita dan Kafika, tapi aku tetep suka iniiiiiiii!!! Thanks ya udah ikutan prompt dan hasilnya kuece gini, Malam Selasaku flufffff ❤ ❤ ❤ Thanks Angelaranee! 🙂

    Maaf ya komenku pendek banget

    Like

  4. Astagfirullah. Ini sweet banget. Aku suka sama karakternya Ian yang kayak cowok2 cute tapi humoris plus jujur dan blak2an dan pokoknya lucu aja, sampe ketawa-ketawa ngebayangin dia ngomongin kalimat-kalimat di atas :’))))
    Josienya juga lucu dan Ian tuh ya…. nggak nyerah dan pokoknya aku jatuh cinta sama karakternya dia ❤ ❤
    Pokoknya ini sukses abis bikin ketawa2 salting gimana gitu.
    Keep writing 😀

    Like

    1. Hai! Angela Ranee di sini ^^
      Hehehe guys like Ian will be my weakness forever too. Actually I prefer mature guys tapi gimana ya cowo yang kelakuannya bloon kayak Ian tuh unyu juga buat dimiliki //nggak
      Thanks sudah baca dan komen ya 😀

      Like

  5. Wuedan emang kalau punya temen senarsis Ian. Tapi kalau kece mayan juga sih #nahloh
    Semoga mereka bejodooh..huhuhu..
    Ceritanya enaak, bikin senam pipi lah pokoknya.. 😀 keep writing yaa!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s