Anything in Between

6bf8d7acb5e98b2d7a55fcc75c1709db

by La Princesa

Kau merayakan kesedihanmu ditemani secangkir kenangan dan semangkuk penyesalan.

.

Likuid dalam cangkirmu berwarna keruh, hingga dasarnya tak lagi pias. Permukaannya disesaki buih yang meletup manakala menumbuk dinding cangkir. Seharusnya menjadi lenyap dan lesap, tapi buih-buih itu tak mau habis. Seperti memaksamu agar menyesapnya lagi, menelan kembali kenanganmu. Maka kau tak terkejut ketika papilla lidahmu disapa dingin dari sesapan isi cangkir, lalu bertransformasi menjadi gigil tak nyaman yang membangkitan ketakutanmu—mungkin juga panik dan trauma—menghukummu tanpa ampun.

Dan sekeras apa pun kau berusaha menghabiskan isi cangkirmu, tak sesenti pun mereka berkurang. Porselen pias di genggamanmu masih sesak dibanjiri likuid keruh bersebut kenangan. Seperti isi kepalamu yang sama-sama keruh dijejali memori tentang seseorang yang tak sanggup kau lupakan.

Mangkuk sarapanmu seharusnya berisi sereal. Namun pagi ini, kau mengisinya dengan sebongkah penyesalan yang berakar dari ujung-ujung hatimu—tempat di mana Jongin bersedia tinggal, dulu. Sebongkah penyesalan, yang menggerogotimu telak sampai kau tak mau mengelak, tak memberimu kesempatan untuk bangkit dan berdiri. Mungkin karena kau tak lagi berhak mendapatkan kesempatan ketiga, keempat, kelima.

Ada ia yang mengisi sebagian besar mangkukmu. Jongin, penyesalan terbesar sekaligus hal terbodoh yang pernah kau lakukan. Andaikan Jongin adalah sebuah lubang di padang sabana, maka dirimulah entitas yang lebih tolol dari seekor keledai. Bahkan mereka pun tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali—kau lebih dari sekadar bersedia meluapkan kewarasanmu pada eksistensi Jongin berulang kali.

Maka kau merayakan kesedihanmu dengan secangkir kenangan dan semangkuk penyesalan, pagi ini.

Likuid kenanganmu berkisah, ada Jongin yang berdiri di sampingmu. Ia yang jemarinya sibuk memainkan anak-anak rambutmu, kecupannya terasa ringan kala menyinggung puncak kepalamu. Jongin yang sama yang menyirammu dengan miliaran kubik titik es. Dinginnya menusuk, kau merasakan napasmu tertahan di ujung peparumu saat ketakutanmu mulai menyelinap dari bawah kulitmu, memainkan perannya. Kau tercekik kala Jongin membasuh luka-lukamu dengan air garam, menyengat perih yang tak wajar. Namun kau tak bisa mengerti mengapa hal itu justru bisa menjadi adiksi tersendiri bagimu.

Mangkuk penyesalanmu mendongeng, ada Jongin yang berdiri di belakang punggungmu. Ia yang biasa merangkummu dalam sedekap pelukan sederhana, yang hangatnya melebihi puluhan gelas cokelat panas di musim dingin. Dekapannya selalu menempati daftar teratas hal-hal favoritmu, dan akan selalu seperti itu. Jongin yang sama pula yang menancapkan pisau berkarat di punggungmu, lalu mengoyaknya perlahan. Sakit tentu, tapi kau tak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan dirimu mencandu siksaan Jongin. Maka kau biarkan Jongin bertindak semaunya.

Kenangan keruhnya juga bercerita, ada Jongin di sisimu. Jongin yang gemar menyandarkan dagunya di bahumu—satu, dua kecupan tersemat di sana saat kau tak menyangkanya. Ia yang kadang-kadang menarikan jemarinya jika kecupan itu lupa ia sematkan, lalu turun hingga bertemu jemarimu. Jongin yang sama yang menggores luka-luka baru di sepanjang lenganmu, guratannya berpola acak—cukup dalam untuk mengalirkan cairan merah pekat hingga memulas kulitmu yang pias.

Dan sebongkah penyesalannya tak lupa mengingatkan, bahwa ada Jongin yang berlutut di hadapanmu. Ia yang tengah menyatukan jemari milikmu dan miliknya. Jongin yang mengecup puncak kepalamu, keningmu, kedua pipimu, hingga bermuara di bibirmu yang bergetar. Jongin yang merangkummu dalam dekapannya yang sehangat pagi di musim semi. Yang menangkup kedua pipimu. Bisikannya lirih, semua akan baik-baik saja, katanya.

Air matamu meleleh, barisan kupu-kupu di abdomenmu meledak menjadi percikan kembang api. Kau mempercayai ucapannya.

Maka di sinilah kau pagi ini, merayakan kesedihanmu dengan secangkir kenangan berisi Jongin dan semangkuk penyesalan tentang Jongin. Seorang diri.

Karena kau terlalu bodoh hingga kau melepasnya.

.

-end

.

  1. ditulis sudah lamaaaa sekali, pas banget abis patah hati trus ya … galau deh. dulu sih nganggepnya tulisan ini udah puitis banget, sekarang sih … yha. aku juga heran kenapa ku-repost.
  2. thanks for reading, anyway.
Advertisements

7 thoughts on “Anything in Between

  1. Kaput, galau banget baca ini. Sungguh deh, lagi patah hati juga soalnya 😥
    Terus aku jadi bingung mau komentar apaan karena jadinya baper banget bacanya.
    Ini hampir sama kayak aku sekarang, bedanya si Jongin yang ninggalin aku. Bukan kebalikannya.
    Duh maap Kaput jadinya curcol.

    Tapi ini bagus, emang tulisan kakak bagus semua sih hehe 🙂
    izin reblog yaa.

    Semangat KAPUT !!!!!!! XD

    Like

  2. KAKPUT IYA PANTESAN KAYAE PERNAH BACA TAPI TAPI AH SUDAHLAH CUKUP SUDAH TERNYATA KAU TAK BERUBAH (anjay ini hobi fika lagi nyambungin kalimat ke lagu yha heu) (mana lagunya lagu AFI jaman esde wakaka udah berapa taun lalu tuh buseh). ah udahlah aku ngejogrog aja atuh da kalo melepas jongin nyeselnya kaya apaa (tapi jongin kok jahad ngunu lho nusuknya pake piso berkarat lho heu). kak astaga maafin aku geje gini. kakput hayuk atuh mau dipuji bagian mananya lagi kak luvit to the max sends you lots of love and jongin (versi yang suka jalan jalan ke ikea) xD KEEP WRITING KAKPUUT ♡♡♡♡♡♡

    Like

  3. This is exactly what I felt 1-2 years ago. Coba kalau bacanya waktu 1-2 tahun yang lalu, pasti sesenggukan wakakakak. Untung sekarang udah enggak. :p
    Aku baca ini waktu antre di bank, Kak. Sampai baca dua kali saking gandrungnya sama tulisan Kak Putri (kakput-biased mode: on). XD
    Lagi dong Kak lagi lagi lagi XD ❤❤❤❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s