Unfortunately, Yes!

2288704df09ddc03a85681716aa4515d

signature

Oh Sehun menguap lebar selagi kedua tangannya meregang ke sana-kemari.

.

Dirasanya lelah mulai mendominasi otot kaki dan tangannya, juga kepalanya yang diserang penat. Ia mengerling sekilas arloji di pergelangan tangan kirinya. Pukul dua lebih delapan belas menit, dini hari. Pantas rumah sakit sudah sepi. Dan pantas ia mengantuk luar biasa, operasi darurat yang baru selesai ia jalani sejak sore tadi memakan waktu yang tidak sebentar.

Maunya Sehun mengeluh, rutinitasnya sehari-hari sebagai dokter muda benar-benar tak menyisakan banyak waktu untuk beristirahat. Jangankan melesakkan bokong di sofa sambil menyeruput es jeruk dan menonton drama di televisi, menghela napas saja rasanya sulit saking minimumnya waktu yang ia punya. Jadwal ini, disusul jadwal itu. Laporan ini, ditambah laporan itu. Belum presentasi ke dokter pembimbing, atau dimintai tolong untuk ikut membantu operasi darurat—seperti barusan.

Sehun bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya ia rebahan di kasur.

Maunya ia mengeluh, sungguh. Tapi Sehun sadar mengeluh tidak merta membuat semuanya jadi lebih baik. Berkeluh kesah sepanjang garis bujur bumi pun tak akan membuat waktunya dalam sehari bertambah jadi 72 jam, pun membuat para pasien sembuh seketika. Sementara inilah tanggung jawab yang harus dilakoninya. Inilah fase yang harus ia lewati demi bisa mencapai cita-citanya menjadi dokter. Maka, lelah tidak lelah, mau tidak mau, kesal tidak kesal, Sehun harus menjalaninya dengan semangat, ikhlas dan lapang dada.

Ibu jarinya bergerak gesit menyeret ikon kunci di layar ponselnya. Ada pemberitahuan baru yang berkedip di panel notifikasi dari Jongin, roommate-nya. Tanpa sadar, Sehun mendesah napas keras selesai membaca pesan masuk tersebut. Intinya, Jongin memberi kabar kalau ia tak bisa pulang malam ini. Mendapat on-call1 sejam yang lalu, katanya.

Sehun bergidik ngeri, tulang belakangnya serasa ditiup angin dingin yang meremangkan bulu kuduknya saat teringat tugas temannya malam ini. Ia tahu, ia tidak seharusnya ketakutan seperti ini. Tapi mau bagaimana? Sejak dulu, Sehun tak terlalu suka berurusan dengan mereka yang sudah tak bernyawa. Ia ingat saat pertama kalinya masuk ke laboratorium anatomi dan bertemu cadaver2, Sehun bahkan nyaris menangis saking ngerinya.

Kelak, akan tiba waktu baginya menjalani masa training-nya sebagai dokter muda di stase forensik, seperti Jongin saat ini. Tentu saja Sehun tak bisa mungkir, karena begitulah kewajibannya. Maka ia cuma bisa berharap, semoga tak banyak tamu-tamu3 yang datang saat ia bertugas.

.

Sekali lagi Sehun membuang napas berat mengingat malam ini. Ia akan tidur sendirian di flat. Masa bodoh sajalah, yang penting ia lekas bersua dengan kasur dan bisa tidur sampai pagi. Diliriknya lorong tempat ia berdiri saat ini. Sudah sangat sepi, para dokter konsulen yang membimbingnya sudah pulang sejak operasi selesai. Bahkan perawat yang membantu pun juga sudah pulang sepuluh menit yang lalu. Dalam hati Sehun mengutuki dirinya sendiri, kenapa ia malah sibuk sendiri dengan ponselnya … bukannya langsung turun bersama mereka.

Ruang operasi sendiri berada di lantai enam, hanya dua tingkat di atas lantai empat yang—menurut desas-desus dan rumor yang beredar—adalah lantai keramat. Para seniornya sempat memberi tahunya dulu, ketika Sehun masih awal-awal menjadi dokter koas, kalau kebetulan mendapat tugas jaga malam dan terpaksa harus menggunakan lift, jangan berhenti di lantai empat. Jangan pula izinkan seseorang menaiki lift yang sama denganmu. Jika kau terpaksa harus, pastikan mereka tidak memakai gelang warna merah.

Awalnya Sehun tak mengerti kenapa seniornya menasihatinya demikian. Setengah tahun berlalu dan ia mulai menghafal denah rumah sakit tempatnya magang, baru ia sadar kalau lantai empat adalah lantai di mana ruang jenazah berada. Di situ pulalah tempat Jongin berada saat ini, mengotopsi jenazah yang masuk sekitar sejam yang lalu.

Sehun mendera napas keras. Yang harus ia lakukan sekarang adalah menunggu lift turun, menaikinya hingga lantai dasar, bergegas pulang ke flat-nya yang tak jauh dari sini, lalu bergelung di balik selimutnya yang hangat dan tidur sampai pagi. Iya, sesederhana itu, asal tidak berhenti di lantai empat. Seandainya ia terpaksa berhenti, semoga itu karena rombongan Jongin baru selesai dengan tugasnya, jadi ia punya teman pulang sekalian. Sungguh, Sehun benar-benar berharap tak terjadi apa-apa padanya.

Tapi tetap saja perasaannya tidak enak.

Lift yang ditunggu akhirnya tiba. Sehun mendongak dan mendapati seseorang sudah berada di dalamnya. Wanita muda itu terlihat pucat, pun begitu masih sempat mengulum senyum. Mau tak mau Sehun membalas sembari memasuki lift. Mungkin dia adalah dokter jaga yang baru menyelesaikan shift-nya, pikir Sehun sederhana.

“Anda dari departemen apa?” Demi mengusir sepi sekaligus membuka percakapan, Sehun bertanya. Yang diajak bicara menoleh sekilas lalu mengulas senyum ramah lagi. Jawabannya terdengar kemudian.

“Kardiologi, lantai tujuh.” Senyum sang wanita awet saat bibir Sehun membulat seperti huruf O, tandanya mengerti. Namun belum sempat ia berbasa-basi lagi, lift yang mereka tumpangi mendadak berhenti. Di lantai empat.

Buru-buru Sehun menekan tombol close saat pintunya mulai terbuka. Untung mau menutup dengan cepat. Sekilas, Sehun bisa melihat sosok wanita dengan wajah pucat dan rambut hitam panjang menutupi sebagian wajahnya. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah gelang warna merah. Sepersekian detik sebelum pintu benar-benar tertutup, Sehun mendapati sosok menyeramkan itu tersenyum ke arahnya.

Bulu kuduknya meremang seketika.

“Kenapa kau tutup pintunya?” Wanita di samping Sehun bertanya. Ia sudah nyaris lupa kalau ia tidak sendirian apabila si wanita ini tidak bertanya. Yang ditanyai menderu napas keras sembari memejamkan matanya—berusaha menormalkan jantungnya yang berjumpalitan di balik tulang rusuk. “Yang tadi itu bukan manusia,” jawabnya.

“Hah?” Si wanita kebingungan sementara Sehun menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Wanita tadi memakai gelang merah. Gelang itu sebenarnya penanda untuk menyatakan seseorang sudah meninggal dunia. Dengan kata lain, wanita yang tadi sudah meninggal dunia.”

Hening kemudian, si wanita tak langsung menjawab lagi dan Sehun merasa makin tidak nyaman. Di samping karena jantungnya yang masih berdetak tak karuan, bulu kuduknya juga masih meremang, seolah memberi firasat tak baik. Sehun memejam lagi sembari merapal apa pun doa yang terlintas di serebrumnya. Menarik napas panjang-panjang guna memulai terapi mininya agar firasat buruk itu cepat lenyap.

Tapi jelas percuma saat kedua kelopak matanya terbuka lebar demi mendengar kekehan rendah dari sampingnya. Sehun menoleh ke arah wanita asing yang menaiki lift bersamanya.

Dan firasat buruknya terbukti benar, semakin menjadi malah, disusul tiupan angin dingin yang menjalar di sepanjang susunan tulang belakangnya.

“Maksudmu, gelang merah ini?” Wanita itu mengangkat pergelangannya, memamerkan sebuah gelang yang identik dengan gelang milik wanita lantai empat.

“AAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!”

.

-end

.

  1. posternya sengaja cari yg ganteng supaya pada tak menduga, mwahaha. HAYOLOH APAAN TUH DI BELAKANG! happy April’s fools day btw. ❤
  2. sehun kok gantengan yha, kubaru sadar pas browsing foto. sementara jongin ndutan. YASUDAH MARI KITA TIDAK MEMBAHAS OKNUM KJI SAAT INI. </3
  3. anw, ditulis berdasarkan urban legend di rumah sakit. intinya dari cerita temen-temen koas dulu perkara lift berpenunggu, digangguin pas jaga malam, dsb. aku bukan medstud, btw. dan kayanya ada plot holes, so i hereby would like to say sorry in advance.
  4. and glossarium singkatnya:
    1. on-call adalah panggilan buat (biasanya) anak koas forensik, supaya cepet dateng ke rumah sakit karena ada tamu. on-call ini sifatnya nggak tentu, bikos … sepengetahuan aku dari curhatan temen-temen dokter muda, koas forensik termasuk yang lumayan santai karena nggak setiap hari ada jenazah yang perlu diotopsi. tapi sekalinya ada bisa tengah malam sekali pun. kalo dari cerita temenku juga, on-call ini toleransinya sekitar sejam. jadi misal dapet on-call jam 2.30 pagi, selambat-lambatnya dateng sekitar 3.30 pagi. mungkin beda tradisi/rumah sakit beda istilah, idk.
    2. cadaver means dead-body, biasa dipake di istilah kedokteran.
    3. tamu-tamu artinya jenazah yang perlu diotopsi, another istilah buat anak-anak forensik sepertinya. feel free to correct me anyway. ❤
Advertisements

8 thoughts on “Unfortunately, Yes!

  1. ((untung bacanya nggak malem malem kak)) ((tadinya mau nekat aku simpen buat bacaan mau bobo)) ((untung ajaaaaa)) YEOKSHI SEHUN xD duh hun, makanya gausa maenan ponsel lah, selama masih ada temen pulang, pulanglaaah hahahaha. asli kebayang tau kak ini suasana rumah sakitnya. soale aku pernah juga pulang malem banget dari rs abis jengukin embah (tapi nggak separah sehun sih selesainya jam 2 pagi hahaha). jam 10, jalan berempat ama sepupu sepupu aja dempet dempet buseh ini sehun sendirian harus mendempetkan diri ke siapa :”)
    TERUS ASLI SI WANITA KARDIOLOGI HEUUU :””” aku kira yha plot twistnya ini si wanita bakal sama sama ketakutan eh taunyaaaa. oke deh oke xD anw ini april mop banget deh ah hahaha. yosh. keep writing kakpuuut luvvvss ❤ ❤

    Like

  2. TSADEEESSSSSTTTT GILAK YA AKU TUH UDAH MENDUGA KALO SI WANITA ITU SETAN KAN. NAH TRUS PAKE ACARA ADA SETAN BENERAN LAGI MAU NAEK HUVT. NAH TRUS—
    PUT.
    PUT.
    I HATE THE WAY YOU WRITE THE WOMAN LAUGH.
    KENAPA MESTI ‘KEKEHAN RENDAH’ SIH PADAHAL TINGGI AJA UDAH MERINDING TAPI BAYANGIN DONG RENDAH ITU LEBIH DINGIN LAGI!
    dan betewe yang ditiup-tiup itu… ehehe masih dendam sama yang waktu itu yaa hahaha enak ga ditiup-tiup put? (HUSH)
    Anyway. This is great. Penggunaan istilah-istilah kedokterannya bikin kisah ini lebih berbobot. Love it!

    Liked by 1 person

  3. ahh, kakputt. ketipu sama posternya >.<. awalnya aku pikir ini bakal jadi romance-fluff mengingat akhir-akhir ini kakput nulis jongin yha, kan ((oke, mari kita skip oknum KJI)) tapi waktu baca bang sehun yang jadi dokter muda, oke, aku tau ini bakal serem-buat-bulu-merinding. aku nebaknya kalau wanita gelang merah memang si hantunya /karena udah dikasitau juga di awal ya, kan/ terus ngira sehun and wanita lantai tujuh bakal ribut teriak ketakutan di lift sampai si wanita pertama nunjukin gelang merahnya dan taraaaa ((aduh, beneran deh kakput. untung aja aku enggak baca ini waktu malam))

    btw, aku jadi inget fic kakak dulu yang nulis genre gini juga tapi ceritanya ketemu si cewe yang kakinya ngambang hahhahaa
    keep writing, kak. aku suka aku sukaaa ini, kak put ❤

    Like

  4. OHSENNYA GANTENG HAHAHAHAHA
    JADI DOKTER MUDA AHHAHAHAHAHAHHA
    KETEMU SETAN MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAA
    LA PRINCESSA TSADEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEST!!!

    dahlah dokter mudaku cuma nyolok mata orang yang ini mas cogan ketemu setan yoksi mansae sabi-sabi!!!
    Oiya tiup tiupnya
    sokaput yhaahahahahahha anjir ku lyke komennya kaeci XD
    Thanks God April Mop uda lewat aku baru bacaaaa ❤

    KAPUT ALABYAH LET'S MUVON!!!

    Like

  5. Aku tersasar ke sini gara-gara ada Sehun-nya. Dan ternyata dia memerankan koas di sini. (Kalau di Korea aku sebenarnya penasaran sistem koasnya seperti apa, apakah panggilannya dokter koas atau apa). Ditambah ada Jongin juga. Cukup mencekam karena aku pun juga membaca ini di malam hari, dan juga ada pengalaman naik lift tengah malam sendirian di rumah sakit. Aku terbayang bagaimana deg-degannya aku hingga pintu liftnya terbuka.
    Tetapi, aku sempat loading di gelang merah. Kukira awalnya gelang merah ini maksudnya gelang tanda ada alergi obat kayak di rs pada umumnya. Ternyata di sini sebagai penanda kalau dia adalah hantu, ha ha.

    Aku suka ceritanya. Keep writing!

    Like

  6. Jahaaatt 😦 ketipu sama posternya. Dan ini aku bacanya tengah malem masaaa :(( padahal posternya udah ganteng gitu terus sehun jadi dokter muda duh gakuatttt

    Like

  7. LOH KOK HORROR 😦 padahal di poster udah ganteng pol jadi mikirnya fluff fluff 😦

    aku tau ini urban legend nya dan tadinya nganggep cerita (versi urban legend-nya) gak serem-serem amat. terus taunya kak putri nulis based on that story dan aku bacanya pas lagi home alone jadi… ya… gitu… noleh kanan kiri semoga ga nemu yang aneh aneh aamin.

    btw mesti banget oknum OSH dijadiin dokter yah heu sempat ngebaper di awalannya terus di akhirannya dikasih gelang merah kekehan rendah astaghfirullah TTvTT

    btw (lagi) hulla kak putri lama tak bersua ‘-‘)/ ini lagi tobat jadi readers yang cuma ninggalin jejak bintang huehue .-. ((abis dapat pencerahan)) ((ceritanya))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s