[Special] Seperti Menyeduh Kopi di Pantry [1/2]

Seperti Menyeduh Kopi di Pantry

WARNING: Mature idea, a broad mind is needed to read this work of fiction from many perspectives. Written and published not to offense any party(s).

A/N: Untuk Macklemore & Ryan Lewis, Simple Plan, Sam Smith, The 1975, dan Smashing Pumpkins. Air mata ibu memang yang paling inspiratif. Maafkan untuk menjadi yang bukan paling terbaik. Untuk Fai dan Po-wing, lekas temukan Iguazu.

SEPERTI MENYEDUH KOPI DI PANTRY

-azureveur

© 2016

.

.

Tidak ada yang salah di dunia ini jika setiap orang menganggap dirinya selalu benar. Kalau Jean pernah bilang takaran kopi yang pas adalah dua sendok teh ditambah satu sendok teh krimer; jangan terlalu banyak air panas, terlebih menghambur ke pelipir cangkir. Carl tak ingin kalah pamor memarkir coffee maker instan yang baru ia beli kemarin di pantry kantor, berikut dengan embel-embel kopi instan berbagai rasa; tidak perlu krimer. Takaran-takaran semacam itu sudah didoktrin dari pabrik. Tinggal tekan. Otomatis meluruh dari corong menuju cangkir. Sungguh praktis.

Andai perkara semacam itu diterapkan ke berbagai hal. Semudah menggunting bungkus kopi, pun menghunus pisau cukur di tangan kiri. Semudah saat Jean menyeduh kopi pertamanya di pagi hari; aku menghirup bubuk putih.

Tegel di bawah jemari kaki terasa beku. Celah di jemari kuku seakan menunggu. Sebentar-sebentar telunjukku maju—aku tak yakin. Sembari melempar tatapan ke depan. Bayangan memalukan itu menyembul kembali di permukaan cermin. Dengan kantong mata menggumpal di bawah pupil. “Hih,” ujarku pada diri sendiri.

Aku melempar tawa kecil. Mengingat apa yang seharusnya tak perlu terjadi.

Salahkan pada ekstasi, Dai, aku ingat seseorang pernah menyuruhku begitu. Mendengarkan umpatannya sembari membelai-belai kepala. Suara beratnya mengisi gendang telinga. Aku mulai berfantasi sebagaimana peserta purgatori. Agaknya ini lantaran endorfin. Hormon yang kudengar-dengar akan melompok kala menuju ajal.

Dari tegel putih kamar mandi, pikiranku melarikan diri. Mencari memori yang membuatku terkikik sendiri. Terduduk di samping bathtub. Bertanya, apakah Ma akan mencariku?

Seperti saat kami bertiga bermain petak-umpet. Aku selalu memperhatikan siasat Jun-yi yang memilih bersembunyi di balik kelir sementara membiarkan Ma merangsek tempat persembunyianku. “Ketahuan kau, Jin!” serunya. Aku terbahak-bahak kala itu, di kolong meja, dengan tangan belepotan krim keju, Ma menyenggol pipiku. Jun-yi yang dengki segera menghambur ke arah kami berdua, tak sengaja menarik serbet meja, hingga kue tar buatan Ma nyaris berjumpalitan.

Keluarga kami begitu lengkap kala itu: Pa, Ma, aku, dan Jun-yi. Tak ada yang lebih sempurna selain bertamasya ke Chungking pada pekan di akhir bulan. Aku ingat pagi itu, Pa pulang dengan sepedanya, tas jinjing lusuh yang terselip di atas sadel. Seakan ia akan membawa pulang berita hebat dari surat kabar yang ditulisnya.

“Dengar Mei, aku baru saja kehilangan pekerjaan. Kau harus meninggalkan Hong Kong,” ujar Pa, lamat-lamat. Berharap diriku dan Jun-yi tak pernah mendengar perdebatan mereka.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini. Sementara kami—”

“Selalu ada yang lebih baik, Mei.”

Ia mengecup bibir Ma lembut. Menengadah dan menarik Jun-yi dalam gendongannya.

Dengan satu kecupan yang mendarat di pipi kiriku, lantas Pa menekan tombol kamera Leica milik kantor di depan restoran kegemaran kami. Berpura-pura tersenyum, nyatanya itu senyum terakhir yang mengantarkan kami kepada barisan imigran gelap di lapangan terbang terbuka.

1997¹ di kalender dinding, Chungking hanya tinggal kenangan. Sampai lembar foto hitam putih tersempal renyuk di celah dompet. Aku hanya bisa ingat keringat yang menitik di pelipis ketika mengantre rou jia mo².

*

Kontemplasiku selalu pragmatis, menurut Ma. Seolah-olah ia bisa menebakku lewat rendengan stoples di toko permen. Tapi ketika tanganku tak lagi muat dalam gandengan tangan besarnya, aku tahu, diriku tak lagi sama. Carl—teman samping meja kerjaku—selalu menceritakan hal-hal yang ia anggap berbeda. Mulai dari kegemarannya pada musik trance, mencari pramuria malam di El Morocco, dan berangkat lima menit sebelum subway terakhir berangkat dari stasiun Brooklyn. Di pelipir meja, aku hanya sanggup tergugu, menyelesaikan sketsa terakhir untuk potongan print ads, sembari menyembunyikan perbedaan itu.

Kerancuan pertama kutemukan ketika bersirobok dengan seorang pria di stasiun subway, pagi satu dekade lalu. Ma tak lagi mengantarku menuju lajur tunggu. Hanya beberapa langkah dari rusun tempat kami bermukim, aku menuruni tangga, dan ikut menunggu. Laki-laki itu kujuluki sebagai Pria Oranye. Bukan lantaran warna pakaian atau scarf yang kerap bergayut di lehernya, ia biasa menggunakan parka hitam dan melempar senyum ke arahku.

Oranye adalah hitam yang baru.

Bangir hidungnya masih kuperhatikan ketika kami bertemu kedua kalinya di sebuah toko kelontong, membeli rokok bermerek Winston, dan membagiku satu.

“Kau tidak merokok?” tanyanya.

Aku tak mengenakan seragam kala itu, tapi jelas ia tahu, perawakanku tak lebih dari separuh umurnya. Rikuh kujulurkan jemari, mengapit batang itu, dan menerima sundut dari jungur rokoknya.

Batukku terdengar kontras di tengah kesibukan malam. Ketika hujan merintik jarang di celah kanopi disambut suara klakson di Canal Street. Kami tertawa berdua sementara para pramuniaga masih berteriak menjajakan barang dagangan mereka.

“Apakah ini cara yang benar untuk menghirupnya?” tanyaku.

Ia membetulkan posisi rokokku di tangan kanan. “Seperti ini. Seperti saat kau ingin menggunting kertas. Tapi jangan laporkan aku pada ibumu,” candanya.

Aku tertawa kecil.

“Sungguh.” Ia menyesap rokok miliknya lebih dalam. “Kau perlu sesuatu untuk diingat, Nak. Waktu aku seumurmu, aku melewatkan momen ini. Tidak ada yang mengajariku begini. Kurasa, aku baru saja kehilangan separuh masa mudaku.”

Kami tak perlu label pertemanan untuk memutuskan bersama. Tak perlu nomor ponsel untuk bertukar cerita. Aku hanya perlu tahu menunggu di sisi MBT Broadway Line, ia datang setiap pagi dengan dua gelas styrofoam dan koran yang dikepit pada ketiak kirinya.

“Untukmu,” ujarnya.

Sementara ia membaca artikel headline pada surat kabar, aku sering mencuri lihat padanya. Memikirkan ide hebat yang selalu dipikirkan oleh Sam—satu-satunya temanku di sekolah. Ketika Sam menyukai James Newman, senior kami yang seorang quarterback, ia membuat satu surat untuk laki-laki itu. Menyelipkan kertas renyuk di sela loker, berharap-harap cemas James akan menerima pernyataan cintanya.

Malam itu aku ingat bau hio yang dibakar Ma di depan fotoa gong dan a ma³. Jun-yi tengah mengerjakan pekerjaan rumah di kamar; aku menggurat sketsa kasar si Pria Oranye pada buku gambar. Tak lupa menyematkan kalimat-kalimat manis di ujungnya. Aku tidak pernah berpikir akan mengikuti tren paling cengeng di sekolah. Tapi toh, akhirnya aku memilih amplop terbaik yang tersisa di laci meja. Melipat kertasnya menjadi dua. Dan berlari ke ruang tengah.

Pukul sembilan Ma pulang dari pabrik tempatnya bekerja. Biasanya aku akan menghambur, berceloteh panjang lebar mengenai pelajaran membosankan hari itu. Namun, malam itu kelotak di depan pintu menandakan dua pasang sepatu.

Aku bersembunyi.

“Jin? A-Yi?” tanya Ma, menyembulkan kepala. Aku hanya sanggup berdiri di balik pintu kamarku. Menahan napas; mendengar suara berat yang sama, yang mengantarku menuju sekolah pagi itu.

“Duduklah di situ, John,” ujar Ma. “Kupikir mereka sudah tidur.”

“O, baiklah.” Ia mengambil tempat di kursi kesayanganku. Melontarakan candaan bukan untukku. Sedangkan jemariku baru saja melisutkan kertas dan pantalon.

Aku berharap untuk lupa, melupakan masa mudaku, melupakan pria bernama John itu, pria yang mencium Ma di depan mataku, sehingga yang dapat kuingat dan kusimpan seorang diri adalah kepelikan dan perbedaanku.

*

Terkadang aku iri pada Jun-yi. Adik laki-lakiku hanya perlu tersenyum lebih banyak agar orang-orang menyukainya. Membiarkan orang membaca rendengan gigi ketimbang juluran lidahnya. Semudah itu, lantas kesalahannya tak lagi diperhitungkan. Jun-yi punya siasat tersendiri, alih-alih tak suka pada ayah baru kami.

Aku bukan tipe yang pandai bermanis mulut. Bertahan di bawah satu rundungan atap dan bertukar cerita. John masih senang menjejali persediaan Winston-nya ke saku jinsku sembari berpesan, “Kau perlu relaks sedikit, Nak.”

Omong kosong.

Beranjak delapan belas tahun yang kupikirkan hanyalah berekspansi. Keluar dari kelir yang selalu membuatku berfantasi; menerka warna-warni di setiap pria yang kujumpai. Mengecat rambutku biru. Lantas membuat Ma murka.

Sudah terlalu sering aku mengabaikan telepon-telepon darinya.

“Angkat teleponmu, Jin!” Beberapa tahun silam Ma hanya membentak, tapi Natal kemarin ia mengumpat. “Keparat! Angkat teleponmu! Kau perlu seseorang, Jin. Tidakkah kau ingin mengunjungiku sekali saja?”

Ma pandai membikin intrik. Memikirkan siapa yang kelak akan kaunikahi dan apakah ia datang dari keluarga satu ras yang bersahaja. Namun, yang kupikirkan tak lebih dari tamat kuliah dan bekerja. Mengantongi predikat sarjana lantas bekerja di agensi iklan terbaik. Aku selalu mengiriminya lebih banyak uang. Berharap ia keluar dari pekerjaan gila itu. Pabrik tak serta-merta membuatnya kaya. Sementara Jun-yi hanya membuka toko kelontong bersama Mei Yee, istrinya. Tapi, topik yang ia ungkap tak lebih ‘penyakit’-ku. Ma selalu menganggap anak laki-laki sulungnya terjangkit penyakit. Penyakit yang membuatnya lupa kalau ia punya seorang ibu di rumah dan alpa soal jati dirinya.

Ma berharap teleponnya dapat mengobatiku. Dengan satu per satu wanita yang ia rendengkan pada kencan buta dan jampi-jampi tololnya di depan foto a gong serta a ma. Lantas aku akan menarik busana mereka dari celana ke bawah.

Percuma saja. Jika aku penasaran, lebih baik aku berkawan dengan Carl.

Tak perlu tip, Carlisle sudah menjadi ‘pakar’ di bidangnya. Ia membawa kami berdua—Jean dan aku—ke El Morocco. Tempat yang katanya bikin mabuk kepayang. Dan aku memang mabuk kepayang setelah ia racuni dengan kanabis dan Budweiser.

Keparat.

“Kau masih kuat, Bung?” tanya Carl, tertawa-tawa di tengah musik yang membikin pusing kepala. Aku tak benar-benar ingat apa yang terjadi malam itu. Kami berpisah di penghujung Broadway Avenue. Jean dijemput kekasihnya; Carl masih menikmati belaian pramuria; dan aku pulang setelah nyaris terjungkal dari telundakan tangga. Menaiki kereta F. Lantas, yang kuingat adalah kunci sialan yang macet di pintu kondo.

Please, help!” sergahku, yang agaknya terdengar cengeng. Entah pukul berapa kala itu. Mungkin aku sedikit frustrasi, yang pasti aku ingin lekas-lekas ke kamar mandi semenjak perutku mengadakan orasi.

Tetapi, kunci itu enggan lepas dari slot pintu. “Arrgh!” Persetan kunci. Persetan. Aku baru saja hendak memutarnya ke kanan. Bersamaan dengan bunyi derak dan rasa pengar yang makin menjadi.

Isi perutku sukses menjadi tontonan publik. Menu makan malam tumpah ruang di lorong lantai tiga. Dan aku seakan-akan mati rasa. Mengecek ponsel. Kesadaranku baru saja kembali, sembari frustrasi entah harus menelepon siapa. Locksmith langganan Ma agaknya sudah tutup sedari pukul lima. Lagi pula, tak mungkin ia mau menaiki subway menuju Harlem di tengah malam.

Kucoba menghubungi Carl, sambunganku diteruskan ke pesan suara. Pun dengan Jean. Mengintip ke lorong koridor. Tak ada seorang pun yang terbangun dengan umpatanku barusan. Aku terduduk lemas. Menghidu bau busuk plus alkohol yang menguar jadi satu.

*

Sebutkan satu alasan hebat yang mampu membuatku berhenti mengumpat. Setelah menyesap puluhan batang Winston dan menyisakan ampas puntungnya di muka pintu. Seorang laki-laki asing menyembul di balik birai tangga. Rambutnya basah kuyup, sweater yang tersampir di punggungnya pun tak kalah naas digelontor hujan.

Sorry?” tanyanya dengan alis bertaut.

Ia menggigil kedinginan. Sementara aku bangkit tergopoh-gopoh, nyaris tersedak liur. “Kunciku patah di kenop pintu,” ujarku sembari menggosok kedua tangan di sisi celana.

“Pintu?” Tatapannya terlempar ke arah pintu, wajahku, dan pekarangan koridor yang baru kubuat onar.

“Iya, pintu kondoku. Kunci itu tersangkut di sana.” Aku sengaja memberikan embel-embel gestur supaya ia percaya kalau pria di hadapannya baru saja ditiban musibah.

Tak banyak bicara, laki-laki itu beringsut mendekati pintu. Mengeluarkan anak kunci lain dari saku. Menarik kenopnya, namun sia-sia saja, sudah kukatakan ‘kan kunciku tersangkut di pintu—

“Tiga belas,” ujarku lamat-lamat.

“Iya, tiga belas. Nomor pintuku.” Napasnya terdengar berat. Sementara ia masih memerhatikan limpasan muntah di atas parket; aku menggaruk tengkuk pura-pura tak ikut menahu.

Sorry soal itu.” Mau tak mau aku minta maaf. “Aku baru saja pulang dari El Morocco. Nomor pintuku dua puluh tiga.” Benar, Einstein. Nomor kondoku dua puluh tiga alias perlu tiga belas anak tangga lagi untuk berdiri di pintunya.

Ia tidak membalas perkataanku, alih-alih, sibuk membersit ingus dan mengecek ponsel di saku celana. Mati. Aku bisa lihat layar gelapnya dari seberang sini. Menerka-nerka kalau ia lebih membutuhkan bantuan ketimbang aku yang tertangkap basah muntah di depan kondo tetangga.

“Aku sudah coba menelepon locksmith langganan, agaknya ini sudah terlalu malam.”

“Ah, baiklah—siapa namamu?”

“Dai. Bagaimana jika kita beranjak ke lantai atas?” tanyaku, sedikit mencuri lihat ke matanya. “Aku yakin, kau membutuhkan pakaian ganti.”

Semudah dan sedari itulah aku tahu namanya Jesse. Laki-laki berambut pirang dengan tinggi tak lebih dari lima kaki. Malam memalukan itu adalah pertemuan pertama kami, kendati ia sudah menjadi penghuni tetap lantai satu lebih dari dua tahun lamanya.

Jesse benci asap rokok. Sedari bokongnya terperenyak di sofa ruang duduk, ia sudah terbatuk-batuk. Saat kuangsurkan Winston, ia bilang alergi, alih-alih lebih tertarik pada koleksi piringan hitam di cupboard sebelah pintu.

“Ini milkmu?” tanyanya.

Aku masih mengaduk-aduk lemari pakaian sementara jemarinya meramban satu per satu koleksi vinyl-ku. “Radiohead, Oasis, Velvet Underground …” aku mendengarnya berbisik-bisik kecil.

Jesse tak perlu kata ‘silakan’ untuk memilih piringan yang ia suka. Dua kali degup kecil dari speaker gramofon, suara Englebert Humperdinck langsung terdengar sayup.

“Kau menyukai Humperdinck?” tanyaku, mengangsurkan baju bersih padanya.

“Setidaknya aku tahu namanya. Mom menyukai lagu-lagunya semasa ia muda.”

Aku tersenyum; ia meletakkan bajuku di atas sofa. Membuka satu per satu kancing button-down-nya. Buru-buru kugapai kotak merah di samping jendela. Rokok cadanganku kalau-kalau terserang panik mendadak.

“Apa kau punya hal lain selain rokok di tempat ini?”

“Iya?” Tak jadi menyelomot batang pertama, rokok itu hanya terganjal di celah bibirku.

Ia tertawa. Aku tahu ini situasi yang kacau. Tapi, Carl—si teman terdekatku saat ini—pun tak pernah sefrontal itu. Membuka bajunya terang-terangan tanpa aba-aba. Membuatku merasakan sensasi pelik, persis ketika melirik hidung bangir Pria Oranye puluhan tahun lalu.

*

Jesse selalu bersikap spontan semenjak pertama kali kami bertemu. Ia akan bilang ‘tidak’ jika memang membencinya. Tidak ada eufemisme kalau kami bertengkar hebat. Namun, ia selalu bertoleransi ketika kami bercinta.

Saat kami duduk berdua, yang ia bicarakan hanyalah sastra.Membandingkan Alan Ginsberg4 yang gila dengan Kerouac yang lebih counterculture, katanya. Ia membiarkan aku merokok sedikit. Kendati mulutnya tak berhenti bicara, terbatuk sesekali, mengobrolkan kerja paruh waktunya di McNally Jackson, sebuah toko buku mungil dengan konter bar seadanya. Sementara pada pagi hari ia bekerja menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta. Aku sering menjahilinya dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang kau ajarkan pada murid-murid, huh?” Sembari menggosok-gosok tungkai hidung di punggung telanjangnya. “Apa kau ajarkan ini pada mereka?”

Ia akan tergelak seorang diri. Menarikku ke dalam pelukannya. Aku mulai memperhatikan jemari kakinya. Langkah-langkah besar yang ia ambil sembari membelah sore; berganti kereta dengan alfabetika acak; mulai dari stasiun SoHo hingga ke 5th Avenue.

Jesse mengembalikan t-shirt sore itu. Saat lantai kami nyaris kopong meninggalkan diriku dan Jean. Aku terpaksa mengambil lembur untuk uang saku ekstra. Mengejar deadline sebuah print ads milik merk shampoo terkenal. Mulanya kupikir, Jesse akan menyuruh kurir antar supercepat, sampai rambut pirangnya menyembul dari balik pintu lift, dan suara tak asing itu memanggil namaku. “Dai?”

Tepat di saat ia mengangsurkan benda itu; aku masih sibuk bermain pena pada tablet Wacom di meja Carl. Jean membentak dan beringsut menjejali kursiku. “Kau mendapat kiriman, Bung.” Jean sengaja membuatku terangsang dengan memajukan bibirnya yang dipoles gincu biru.

“Kau baru dikejar tagihan kartu kredit ya?” Aku mendengus.

“Aku harap begitu, sayangnya aku masih harus terus berdoa untuk mendapatkan debt-collector macam dirinya.” Kepala Jean mengedik. Dan mata kami pun bersirobok sedari jauh.

Aku mempersilakan Jesse masuk. Pakaiannya selalu seperti itu. Bukan Vans seperti diriku. Loafer-nya selalu licin. Dan sampiran sweater pada bahu bidangnya. Ia mengingatkan pada dini hari ketika kami bertemu.

“Kantor sudah tutup sepertinya?” Ia mengerling ke kanan-kiri.

“Sebentar lagi. Tinggal menunggu juru kunci.”

Jesse sudah terperenyak di kursi putarku; aku buru-buru melengos ke pantry; menyeduh dua mug kopi.

“Ingin manis atau pahit?”

“Entahlah.” Bahunya mengedik. “Sama saja. Mungkin pahit? Kopi memang tak cocok untuk senja hari.”

Sorry, kami tak memiliki bir di sini.”

Jesse tak begitu mengacuhkanku. Dengan ketukan-ketukan ringan pada telunjuknya di birai kursi, ia berputar-putar, memerhatikan setiap celah pada meja kerjaku. Satu per satu lembar kalender ia preteli, pun dengan sketsa ide yang baru melompat dari otakku.

“Ada yang menarik?” Aku serta-merta duduk di permukaan meja.

Ia tersenyum, menerima mug panas yang masih mengepul. Menyeruputnya sedikit sembari melayangkan tatapan menggantung. “Apa itu dirimu dan adik laki-lakimu?” tanyanya.

“Iya?”

Ia menarik foto itu dari permukaan kotak dokumen. Mengetuk tiga kali di lembar lusuh itu sebelum mengacung-acungkannya tepat di hadapanku. “Kau terlihat konyol dulu,” celetuknya.

“Yang benar saja? Mana? Sini coba kulihat.” Aku hendak merebutnya.

“Ibumu tampak cantik. Di mana dia sekarang?”

“Itu foto puluhan tahun lalu.” Aku pura-pura sibuk dengan mug kopiku sembari bersilang kaki.

“Sepertinya bukan diambil di sini. Brooklyn?”

Aku tertawa pahit. “Tidak ada Brooklyn, Bung. Itu hanya Chungking. Sebelum masa krisis. Dan sebelum orangtuaku bercerai.”

“Jadi kau imigran dari Hong Kong?” Alisnya separuh berjungkit.

“Apa kau tak mencurigai aksenku?”

Sejauh pengetahuanku, Dai-jin bukan seorang juru cerita. Bicara seminim mungkin, kalau bisa meninggalkan impresi buruk. Dan seseorang bernama Jesse baru saja melucuti pengakuan dari bibirnya. Aku benar-benar tak percaya akan mengatakan perihal John kepada Jesse, menceritakan perkara Ma yang lebih membanggakan Jun-yi dan toko kelontongnya, serta istri berparas cantik. Dan respons laki-laki di hadapanku hanya sebatas, “Wow! Bung! Tenang sedikit.”

Aku yakin, Jesse bisa menjadi teman yang baik, sama halnya ketika perkenalanku dengan Carl dan Jean. “Jadi, apa aku bisa meminta fotoku kembali?” Aku mengulurkan sebelah tangan padanya.

“Aku tahu, kau marah besar dengan ibumu. Tapi, percaya padaku, kau masih menyayanginya.”

Aku melirik jauh ke arah dispenser di sudut ruangan, berusaha menghindari tatapannya. Mengumpan tawa kecut sementara ia masih memutar-mutar foto keluargaku di depan hidung bangirnya.

“Buktinya kau masih menyimpan foto lusuh ini.” Jesse berlagak memerhatikan foto renyuk itu sekali lagi. “Dan kau pulang larut malam setiap hari. Apa itu untuk ibumu?”

Aku tak menjawab. Carl tak pernah menceramahiku dengan tuduhan geniusnya—kendati ia bekerja di bagian research. Dan  Jesse datang begitu saja, membuatku kehabisan kata.

“Bisa kita akhiri ini sekarang?”

Aku berniat beranjak; meletakkan mug di pantry. Jika kami bisa melompati perbincangan ini, agaknya aku bisa melupakan kalimat-kalimatnya.

Jesse menarik tanganku. “Tidak semua hal bisa diperoleh dengan uang, Dai. Termasuk hati ibumu.”

“Baiklah.” Bibirku mengulum senyum. “Bisa tolong kembalikan fotoku?”

“Mmm, sepertinya tidak.” Jesse menarik foto itu kembali, menjejalkannya ke saku celana, dan melengos begitu saja.

“Hei! Jes!”

“Kau bisa membawa pekerjaan minggu depan ke rumah. Aku melihat tenggat waktunya di sana.”

Perkataan Jesse tak ayal memaksaku tergopoh-gopoh menyejajari langkah pendeknya. Tidak ada kerja lembur untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Kami hanya berkelilingi blok sebanyak lima kali, membeli sedikit jajanan food truck yang terparkir di sisi trotoar. Ia orang yang cerkas dalam bercakap. Kendati kami tak selalu sepikir—ia membicarakan buku terbaru dan aku membicarakan lelang desain antik di Craiglist5, Jesse selalu tahu kapan harus berkelakar, menjadikan kisah tragis Pria Oranye-ku menjadi versi miliknya.

*

-to be continued.

[1] Tahun yang mana krisis ekonomi melanda Asia

[2] Chinese hamburger

[3] kakek dan nenek

[4] Alan Ginseberg dan Kerouac merupakan dua penulis yang termasuk dalam era Beat atau sering disebut sebagai Beat Generation. Karya-karyanya berkenaan dengan konten seksual, budaya counterculture, dan keterlibatan obat-obatan psychedelic.

[5] forum jual-beli, mencari tempat tinggal, atau lowongan kerja

*

Q notes:

Tentunya sebelum diterbitkan, cerita ini sudah di-review dan dipertimbangkan, juga perkara rating dan topik yang ditulis Zura masih menjadi hal tabu di masyarakat Indonesia. Saya mengharapkan pembaca sekalian untuk membaca dengan bijak dan memandang cerpen ini dari berbagai sudut. Kelanjutan cerpen ini akan diterbitkan minggu depan dengan proteksi kata sandi. Silakan meminta kata sandi melalui LINE official account bagi para pembaca yang sudah berada di atas umur 17 tahun. Terima kasih.

Advertisements

2 thoughts on “[Special] Seperti Menyeduh Kopi di Pantry [1/2]

  1. halo zura ehehe ((muncul kembali)) ((tapi ini beda kok komennya))
    memoar yang kamu sajikan di awal itu… aduh asli aku suka banget :”) kamu kalo udah meramu narasi tentang memoar selalu bikin baper sih emang. dan tipikal. cuma zura yang bisa /eaaaak/
    terus, chemistry dai dan jesse dapet banget, padahal mereka baru berinteraksi ya. suka gemes kalo liat dua orang yang baru kenal tapi langsung konek gitu, mana dialognya tuh ngalir banget. dan yeah, topik tentang musik yang selalu muncul di fiksi kamu itu… menurutku keren :3 kadang ya, kita bisa merasa langsung klik sama orang ketika kita tau musik apa yang dia suka (pengalaman pribadi) dan mungkin jesse juga berpendapat begitu hehehehehe.

    well, ditunggu part duanya ya ^^

    Like

  2. Kak zura, hai kak! Oke kak, la akhirnya nekat untuk baca cerita kakak lagi setelah sekian lama. Padahal aslinya otak ceteknya gak kuat baca cerita kompleks nyastra bginian, heuheu.

    Momen kekalutan jadi imigran emang kerasa banget di sini. Aku jadi kepikiran apa yg bakal trjadi kalau aku tiba2 disuruh pindah ke luar negeri mengadu nasib yg baru. Heuheu.
    Dan scene ketemu sama orang asingnya epik banget. Aku sih bakal nampar nendang orang kesasar yang muntahin keset kaki depan kamar kosku. Hahaha #sadis. Tapi di cerita ini, momen memalukan malah membawakan orang baru yg menjadi sandaran. Hohoho..

    Part dua bakal diproteksi ya? Okesip, smoga otakku bisa dibawa kompromi buat baca kelanjutannya karena bahasa kakak yang tinggi sekali as always, bawaannya pengen skalian belajar aja gitu ♡♡♡

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s