Rumah Ibu

Rumah bagi Ibu bukan hanya atap pelindung badan. Bukan sebatas tempat memeluk bantal. Rumah bagi Ibu lebih seperti sepetak kenangan, sejak tubuh ini terbaring tanpa daya sampai kembali mengisut termakan usia. Tempat mengawal dan mengakhiri hari. Sekotak musik isi tawa dan tangis.

“Jangan pernah melepas rumah ini ke tangan lain, Nai.”

Ibu berkata seperti itu di suatu subuh. Pagi-pagi sekali sebelum kepalaku terisi bertumpuk-tumpuk tugas sekolah hari itu. Aku belum terlalu paham dan tidak mau ambil pusing untuk memahaminya. Bagiku itu sekadar ketakutan Ibu semenjak Ayah meninggal dan orang-orang berseragam hitam berduyun-duyun bergantian mendatangi rumah. Katanya mereka mau membeli rumah Ibu.

“Pelebaran untuk pusat pembelajaan,” jelas Ibu kala itu dengan senyum masam.

Tapi apa yang mau dibeli jika tak ada yang menjual. Ibu tidak pernah berniat menjual rumah itu.

Seperti rumah-rumah lain yang punya riwayat, rumah Ibu juga punya kisahnya sendiri. Rumah itu dimilikinya turun temurun dari kakeknya dulu. Kata Ibu, kakeknya itu sampai harus bersemadi sebulan penuh untuk mengusir penunggu tak kasat mata yang beranak pinak lama di sana. Kesaktian sang kakek membuat penunggu itu menyerah dan akhirnya pergi. Terganti oleh keluarga kakeknya ibu. Terus turun sampai ke Ibu dan aku.

Rumah itu berkembang terus tapi tak sampai besar seperti rumah gedongan. Ada sepetak tanah di belakang, tempat Ibu membiakkan beberapa macam tanaman. Ibu lebih suka rumahnya dipenuhi dedaunan hijau dan bunga dari pada diperlebar tapi sempit tak menyisakan tanah lapang.

Sepeninggal Ayah, Ibu hanya punya aku sebagai teman berbagi. Saat ada waktu senggang aku ikut membantu Ibu mengurus kebun belakang. Memangkas semak dan mencabut rumput liar. Ada sebuah pohon jambu air dan rambutan di sana yang akan panen dua sampai tiga kali setahun. Ketika panen tiba teman-teman sekolah kuundang untuk datang. Sebagai alasan untuk pesta jambu atau rambutan bersama, padahal aku hanya ingin rumahku terdengar ramai.

Setelah Ibu tak ada lagi rumah kami terasa lebih lenggang. Lenggang akan kebahagian. Dua tahun setelahnya aku mulai bangkit. Saudara jauh Ibu lalu memperkenalkanku pada seorang laki-laki yang tak lama kemudian menjadikanku istri.

Ada semangat yang menggebu-gebu saat itu. Mengenyahkan kesedihan dan keraguanku, aku mulai percaya hidup tak selamanya harus berduka. Seperti roda yang terus berputar, aku mencoba mencari keberuntungan di pusaran kebahagaian. Aku bangkit dibantu laki-laki itu.

Mas Luk, begitu aku memanggilnya. Dia laki-laki pertama yang masuk dalam hidupku. Mengubrak-abrik hati yang lama ditinggali sepi. Sosoknya tinggi dan kekar. Masuk dalam daftar pria idaman. Tak elok jika aku menerimanya karena fisiknya saja. Kepribadiannya lebih dari yang aku butuhkan sebagai seorang pemimpin keluarga. Dia tak banyak cakap, lebih banyak bekerja.

Dua tahun kami bersama, sampai pertanyaan yang tak pernah terpikir olehku itu keluar dari mulutnya. Di suatu sore, saat kami duduk di teras belakang ditemani dua cangkir kopi mengepul. Sekop dan garpu taman tergeletak begitu saja sehabis dipakai.

Keringat di dahinya belum kering ketika ia bertanya dengan nada tanpa keengganan, “Kenapa kita tidak jual rumah ini saja? Tabunganku sudah cukup untuk menambah biaya membeli rumah baru yang lebih besar.”

Cangkir kopi yang kupegang meluncur, pecah berkeping-keping. Tak kupedulikan panas yang membakar kakiku, aku menjerit kencang, “Kau tahu itu kata yang tidak boleh kau ucapkan. Kita telah bersepakat, kau ingat?”

Napasku memburu dan ledakan dalam dadaku tak terbendung lagi.

Ia membentak, alih-alih menenangkanku. “Tapi rumah ini sudah tua. Kita butuh rumah yang lebih besar!”

“Kau tidak berhak bicara seperti itu. Ini rumahku! Ini milikku!”

Kami berakhir dengan adu teriakan sampai sisa kopi mendingin terabaikan. Seperti itu sampai laki-laki itu diam tak sanggup buka mulut lagi.

Lucu. Aku lebih memilih rumah itu ketimbang seorang pria yang kuyakini akan menjadi teman setiaku sampai mati. Mungkin karena suara Ibu masih membisik dalam telingaku.

“Jangan pernah melepas rumah ini ke tangan lain, Nai.”

Aku tak pernah menyesal melepas laki-lakiku. Satu-satunya hal yang kusesali kenapa perpisahan itu harus terjadi sebelum aku dapat menimang bayi. Rumah kami semakin sepi. Terkubur dalam sunyi. Aku hidup seorang diri.

Tapi kadang kesepian itu bisa kunikmati. Menyenangkan rasanya bisa mengurus diri sendiri. Bebas berkeliaran di rumah seorang diri. Sampai aku terlalu mencintai kesendirianku itu. Hanya keluar sesekali jika mendapat undangan atau keperluan mencari makan. Itu pun kalau memang benar-benar dibutuhkan. Jika tak ada perlu, aku lebih suka tinggal di rumah. Tak betah berlama-lama di keramaian.

Sampai mulut-mulut tetangga yang tak tahu-menahu mulai meracau. Meramu cerita-cerita buruk tentang rumah kami. Tempat pesugihan salah satu yang paling sering kudengar. Padahal tak pernah aku mengundang kuli bangunan untuk memperbesar rumah. Genting-genting bocor dan cat dinding yang luntur kuurus sendiri. Tak ada kesan kemewahan pun berlebih-lebihan.

Bertahun-tahun aku hidup dalam gunjingan-gunjingan. Kutulikan telinga. Kubutakan mata. Tak peduli aku. Tak sekali pun kubiarkan rumah Ibu terinjak kaki-kaki busuk itu. Mempertahankan rumah Ibu adalah harga mati. Meski udara memberat karena seluruh pintu jendela tak kubiarkan terbuka. Jaring laba-laba betah bergantungan di sudut-sudut kamar. Semak-semak tinggi pun malas kuusik. Tikus, cicak dan kecoa sudah lama jadi kumpulan baik.

Dan tiap kali ada orang berniat jahat memasuki rumah kami, aku keluar di antara bayang pohon jambu air dan rambutan. Cukup sedikit geraman, mereka akan berlari lalu menyumpah-serapahi rumah kami dengan wajah ketakutan, “Sialan! Rumah berhantu sialan! Setan sialan!”

Janjiku menjaga rumah Ibu, bahkan saat nyawa telah lepas dari raga.

.

a/n

Naskah yang ditolak berkali-kali, mungkin tidak ada korelasi awal dan akhir, tapi terlalu sayang di simpan di pembuangan. ;w;

Ada yang mau memberi saran kelemahan cerita ini?

Advertisements

7 thoughts on “Rumah Ibu

  1. Pas baca bagian2 awal, aku kok malah ngerasa kayak home sweet home gt. Kayak enak aja akur sama ibu di rumah yg sederhana.

    Dan si akunya itu cerai ya sama suaminya?
    Terus pas bagian akhirnya aku rada kaget juga. Ya mengingat ‘menggeram di balik pohon’ atau apalah… Si akunya udah meninggal ya?

    But, aku suka sekali penyampaiannya, keep writing 😀

    ((NB: maaf ya komennya nggak jelas dan banyak nanya2 gt haha maafin))

    Like

    1. Hello maroon (eh, manggilnya apa nih? hehe)
      Sebenernya ini lebih dari perceraian. Aku kasih petunjuk di bagian ‘sekop, garpu taman’ dan ‘sampai laki-laki itu diam tak sanggup buka mulut lagi.’ tapi sepertinya ga ada yang nangkep ya. yng berarti itu gagal ;w; maaf, mengecewakan sekali.

      ga kog, komenmu bermanfaat banget. makasih yah! 🙂

      Like

  2. halo cherry! pertama-tama koreksi redaksional dulu boleh? hehehehe.
    – penggunaan kata ‘itu’ kayaknya rada kebanyakan deh. mungkin di beberapa tempat bisa dikurangin biar nggak terkesan kaku, hehe.
    – tadi ada kata lenggang. btw gatau sih maksud kamu lenggang atau lengang, soalnya dua duanya ada di kbbi sih haha. kalo lengang lebih ke sunyi, tidak ramai. kalo lenggang itu keadaan berhenti (mengaso) sebentar. enakan lengang deh kayae, tapi cmiiw yhaa x)
    – ada typo tadi di kata: kebahagaian, mungkin maksud kamu kebahagiaan? ehe
    – pas di kalimat ini: “Bertahun-tahun aku hidup dalam gunjingan-gunjingan.” menurut aku gunjingan-nya satu aja deh. soalnya agak gimana gitu kalo ada 2 hehe.
    – sekali pun harusnya digabung jadi sekalipun yhaa. dia masuk di penggunaan pun yang digabung ehehe.

    yosssh! sek. serius naskahnya ditolak o.o ini bagus kok menurutku. awal awalnya tuh aku kira bakal ke arah family gituu, tapi tapi kok lama lama makin gloomy, terus makin menghitam auranyaaa heuuu. sumpah aku mulai ngerasa bakalan ada apa apa pas si aku rela ngelepas suaminya cuman karna dia nggak pengen pindah dari rumah itu. terus terus apalagi yang bagian mulai menuju akhiiir wah ambyar. serem sumpah deh. dan menurutku cherry nge-eksekusinya smooth deh dari part awaaaaal ke akhir. aku sukaaaa x) anw keep writing yaaah hihihihi. (btw online line lagi doongs, biar bisa ngobrol hehehehe).

    Like

    1. Aaaaaaaaargh Kak Fika yng baik hati dan tidak sombong, makasih bnget sudah mengeroksi tulisan daku yang acak adul ini yaaaah ;w;
      Di cerita ini sebnernya aku mau nunjukin sikap dan cinta (atau mungkin obsesif, posesif) nya si Nai sama rumahnya. Daaan masalah dengan suaminya itu lebih dari bercerai, lewat petunjuk ‘sekop, garpu taman’ dan ‘sampai laki-laki itu diam tak sanggup buka mulut lagi’. Tapi mungkin kata ‘melepas’ di paragraf selanjutnya bikin orang berspekulasi kalau mereka bercerai ya. Gagal emang daku gagal ;w;

      Aku pengeeeen banget buka line lagi tapiiii line lewat pc itu susah kak. Harus ada verifikasinya dulu lewat hp. Dan line pc ku punyaku itu dibuatin temenku pake nomornya dia. Jadi kalau aku mau buka, harus hubngin dia buat verifikasinya. Aku sendiri ga selalu tiap hari ke perpusda buat numpang wifi, dan temenku itu masih anak sekolahan. Buat nyamain jadwal online kita agak kesusahan, kak OTL maaf. Tapi di linenya sendiri mungkin ada settingan yang bisa otomatis online kalau konek internet. Nanti kalau aku bisa buka lagi akan aku coba lagi.

      Sebenernya aku pengen bnget cerita2 sama yng lain. Tapi kalau lewat komen nanti dikira ga penting. Lewat sms/email, ga punya alamatnya. 😥

      halah, emang dari dulu aku banyak alesan yah. apalah… tp kemarin aku baru lepas dari sidang proposal skripsi. Makannya kemarin2 aku galau sampe ga punya daya buka blog. /halah/ OTL

      aku juga pengen hubungin kak fik, buat cerita2 masalah kepenulisanku ini;;;

      Like

  3. Iya, aku emang punya masalah sama ending. Terlalu bernapsu mengeksekusi cerita OTL sebenernya aku mau nunjukin cinta berlebih si Nai ini sama rumahnya. Dan masalah dengan suaminya itu endingnya lebih dari ‘bercerai’ Aku udah kasih beberapa hint tapi sepertinya ga sampai ke pembaca.
    Typo-nya, skali lagi itu karena aku terlalu bernapsu orzzz bakal lebih teliti sekarang deh, kak;;;

    Like

  4. Cherry! Ini mah aku yang nanya kenapa gak lolos seleksi? .=. Aku soalnya sebagai penikmat cerita amatiran kalau baca crita ini kesannya keren aja. Wong aku kalau bkin cerita full narasi macam ini gak bakal betah =_=.
    Beberapa typo udah dikasi tau kak fika di atas. Ada tambahan sih, kalau aku pas baca kalimat ini
    “Jangan pernah melepas rumah ini ke tangan lain, Nai.” => kan ini kayak terngiang kembaki ucapan emaknya, jadi aku lebih nyaman bacanya kalau kalimat itu dicetak miring, huhu. Gak tau juga apakah nyalahin eyd ato gma, cma aku smpet loading ini yg ngomong suaminya apa krna trngiang kata2 emaknya gitu ._.
    Aku juga gak jago nulis, huhuhu. Jadi keep writing! Aku selalu sukaa ceritamuu. Maap kalau komenku cerewet gini .=.

    Like

    1. Hello Dhila,
      yang pasti karena salah satunya kebanyakan typo hehe
      Aw, makasih sarannya ya, Dhila.
      Mari ikira belajar menulis bersama 😉

      Makasih sudah berkunjung ~

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s