[Writing Prompt] How I Lost You

1366x768_whether_he_would_be_back-1200413

Korea

by Keii

Jika saja saat itu kau mau mendengarku untuk tidak pergi ke kota lain dan mengejar ambisimu sebagai kepala cabang perusahaan orang, mungkin aku tidak akan pernah bermalam minggu di rumah, mengerjakan aktivitas monoton; mengganti-ganti saluran siaran teve lokal.

Jika saja saat itu aku menolak ajakan salah seorang teman untuk menginap, dan membiarkan diriku teronggok manis saja di depan teve seperti biasa, aku mungkin tak akan pernah tahu Song Joong Ki; tak akan mulai membiasakan diri dengan nama-nama yang sulit dibaca.

Dan, jika saja waktu itu kita sama-sama tidak pergi—kau tidak pindah, aku tidak menginap—mungkin kita tidak akan pernah duduk di kedai seafood sambil membiarkan sup ikanmu dingin pelan-pelan. Atau, membiarkan pengamen berdiri menyanyikan dua sampai tiga lagu metal bercengkok melayu di samping telingaku. Kau dan aku tidak akan mungkin membiarkan beberapa hal mengganggu kenikmatan Malam Minggu kita, tidak akan pernah. Kecuali kau punya rahasia yang tak ingin kaubagi, dan aku kebetulan tahu diam-diam. Atau, kita punya sebuah masalah yang telah diendapkan berbulan-bulan, dan aku ingin meluruskannya. Atau barangkali, perpaduan keduanya. Entah.

Es teh manisku sudah tak manis lagi lantaran es batunya mencair. Begitu pula es  jeruk yang kaupesan. Kini, satu-satunya yang kubutuhkan adalah sebuah nota tagihan, dan kesadaran dari Narendra Pakusadewo kalau dia sudah sepantasnya megatakan sesuatu.

“Al, aku kepingin bilang sesuatu sama kamu.”

.

.

Tiga bulan yang lalu, kaulah yang pertama menghampiriku. Mengantarku pulang ke kos-kosanku di daerah Priok, serta mengajakku makan pecel lele kalau sempat. Kau, dengan motor matic putihmu, setia mengajakku jalan-jalan di pesisir utara Ancol. Kita masuk ke Dufan, mengantre sejam untuk naik bianglala, sementara kau asyik mengambil poseku yang bosan setengah mati. Kita makan siang, berjalan-jalan di sepanjang garis pantai Ancol—yang kotor, tapi waktu itu aku tak begitu memperhatikan—sambil menunggu mentari terbenam. Aku tidak pernah mengerti kenapa para pasangan sangat menyukai fenomena mentari terbenam, tapi denganmu, aku menikmatinya. Lantas setelah lelah, kau mengantarku pulang, memberiku kecupan manis di dahi dan bilang bahwa kau menyukai waktu yang kauhabiskan bersamaku.

Waktu itu aku tersipu. Sekarang aku marah.

Aku menyukai segalanya darimu, tapi kau cuma menyukai memori yang kauhabiskan bersamaku. Cuma sebatas kenanganku, bukan aku.

.

.

Hubungan kita penuh dengan ombak besar. Perahu kita hampir kandas beberapa kali, tapi kita berhasil menyelamatkannya. Tidak ada permasalahan pelik di antara kita. Restu orang tua? Aku sangat persuasif sehingga kau tidak pernah khawatir. Orang ketiga? Kita tidak punya kesempatan menemui hal-hal seperti itu karena sama-sama anti sosial. Pekerjaan? Kau dan aku berpenghasilan serupa dengan bekerja di ranah yang sama. Agama? Well, kita punya kiblat yang sama.

Temanmu bilang, hubungan kita akan berusia panjang. Jadi, di bulan keenam, kau melamarku. Tidak resmi, sih, cuma pertukaran cincin biasa saat makan malam romantis. Kaubilang, cincin yang melingkar di jari manisku adalah tanda bahwa kau ingin membawa hubungan kita di hadapan pemerintah; tertera di atas buku nikah. Aku tidak begitu suka konsep menikah terburu-buru, tapi denganmu, entah kenapa aku luluh.

.

.

Kau pergi pada bulan ketujuh, tentu saja aku tahu. Kau mengejar karirmu. Katanya, kau perlu mengumpulkan banyak uang untuk membuatku hidup dengan nyaman. Terserah. Tapi, aku tahu alasanmu yang sebenarnya. Kau ambisius. Karena kita bekerja di ranah yang sama dan aku memiliki karir yang lebih menjanjikan, kau tak ingin kalah. Para pria sangat menjunjung tinggi konsep harga diri. Dan aku lebih tahu dirimu dari siapa pun.

Kepergianmu selama lima bulan, membuatku kesepian. Malam mingguku hanya diisi oleh pekerjaan serabutan—menonton teve, memasak, membaca buku—di rumah. Aku tidak punya banyak teman, dan kau tidak bisa dihubungi. Saat itulah Song Joong Ki datang—atau, hobiku yang baru datang. Ceritanya singkat saja, aku ditawari menginap di rumah teman, dan begadang menonton Drama Korea kesukaannya. Malam yang singkat, tapi penuh efek samping tidak sehat. Aku jadi mulai suka menonton Drama Korea. Terus-menerus, sampai ke tingkat kecanduan.

Iya, kau tidak akan tahu itu meski kuceritakan lebih detail. Karena, kau begitu marah padaku saat kau datang beberapa minggu kemudian.

.

.

Kita sudah berdiam diri selama beberapa minggu semenjak kau tahu hobi baruku. Kita bertengkar beberapa kali. Katamu, aku berubah dan menjadi tak acuh padamu. Aku bertingkah seperti anak kecil saat iklan kopi luwak dimainkan di teve, apalagi waktu mendengar lagu-lagu Korea diputar sebagai backsound dalam iklan peralatan dapur. Kau tidak tahan denganku. Kau tidak bisa menerimaku. Kau tidak suka aku menjadi kecanduan pria-pria ber-make up tebal yang menari dengan baju warna-warni.

Aku menjadi defensif. Aku tidak suka seseorang mengkritik hobiku. Aku meluncurkan berbagai alibi bahwa ‘hobi’ baruku tidak ubahnya dengan hobimu yang gemar mengoleksi vespa; tidak ubahnya dengan dirimu yang gemar mengumpulkan jersey dari klub sepakbola favoritmu. Memang tidak ada bedanya, ‘kan?

Tapi, harga dirimu terluka. Di pinggir jalan, kau menghentikan mobilmu, menyuruhku turun, memaki, dan sebagainya. Lekas saja aku turun. Kubanting pintu mobilnya sebelum aku berlalu dengan isakan tangis yang tertahan.

.

.

Kejadian itu sudah tiga bulan lalu. Tapi, kita di sini sekarang.

“Aku kepingin bicara sama kamu, Al, tentang kita,” katamu penuh kehati-hatian.

Aku ingin mendongakkan kepala dan melihat wajahmu, tapi saat itu mataku terpaku pada jari-jarimu.

“Aku mendengarkan,” kataku pelan bagai gadis penurut.

“Kautahu kenapa aku terlambat hari ini?”

“Kau sibuk memolesi vespa barumu?”

“Kau sibuk dengan Koreamu.”

“Apa?” kataku tersinggung—seakan Narendra butuh masalah baru.

“Kalau pun aku datang lebih cepat, kau masih sibuk dengan ponselmu, ber-haha-hihi dengan grup chatting LINE-mu sambil membahas artis Korea. Koreksi jika aku salah.”

Kamu benar. Sekarang pun fokusku masih terbelah antara memerhatikan obrolan kita atau menyumbang sebaris chat lucu di chatroom LINE-ku. Tapi, aku tak perlu menjelaskan itu.

“Narendra, aku datang ke sini untuk menjernihkan masalah kita. Atau, kaupikir, masalah yang kemarin tidak cukup besar untukmu?”

“Al,” kau menghela napas panjang. “Terlalu banyak yang terjadi selama kita tak bertemu. Kau berubah. Aku tak melarangmu menikmati hobimu atau apalah, tapi, rupanya, hal itu pun luput kausadari. Korea mengubahmu.”

Aku, tanpa berpikir dua kali, memandangmu jengkel. Aku tidak suka direndahkan. Aku tidak suka disalahkan hanya karena aku menyukai sesuatu yang tidak disukai orang kebanyakan. Memangnya kenapa suka Korea? Aku tak nampak seperti baru saja membunuh ratusan orang dengan bom, ‘kan?

“Dengar, ya, Narendra…”

“Satu lagi,” belum-belum, kalimatku sudah dipotong olehmu. “Kau tidak mau mendengarkan orang lain. Lebih suka hidup dalam delusi tentang pria-pria Koreamu. Aku tidak pernah membayangkan hal-hal seperti ini bisa terjadi pada hubungan kita, tapi biar kupertegas,” kau menarik jemarimu dari atas meja, melepaskan cincin dari jari manismu, kemudian meletakkannya tak jauh dari gelas es teh manisku. “Ini hal terakhir yang Korea lakukan pada kita.”

Aku merasa hancur saat itu juga. Kupikir dirimu sedang berkelakar dan entah bagaimana aku tertipu. Tapi, wajah seriusmu menghancurkan imajinasiku. Suara notifikasi LINE-ku yang ceria berkali-kali memanggil, sementara dirimu menjauhkan diri dari meja, duduk dengan raut wajah puas yang mengintimidasi.

Kalau waktu itu aku mau menuruti kata hatiku dan meminta maaf padamu, mungkin kau tak akan meninggalkanku. Sayangnya, aku sama sepertimu. Seorang gadis yang tak tahan jika harga dirinya dilukai. Jadi, aku melawan.

“Korea terdengar sangat buruk dari bibirmu. Perlu kuberitahu,” aku memutar-mutar cincin di jari manisku hingga benda itu terlepas. Kuletakkan cincin emas itu di samping cincinmu. Ekspresimu sangat tidak ternilai, mungkin kau tak akan pernah menyangka bahwa Aluna Puspa Sintamia, berani melakukan hal-hal besar seperti ini. “Korea yang katamu buruk itu, memberiku peluang besar untuk lepas dari penjara sempit bernama realita.”

Aku bisa saja menangis, tapi waktu itu aku sangat gembira setelah berhasil mengukuhkan harga diriku di depanmu. Iya, tak berdosa, ‘kan, menyukai Korea?

Selanjutnya yang kutahu, kau pergi. Aku ditinggalkan dengan dua buah cincin tak bertuan, segelas kosong es teh manis, segelas penuh es jeruk, dua piring kotor, dan sebuah nota tagihan. Mungkin juga… sebuah penyesalan.

Karena pada tahun berikutnya, saat di mana aku menemukan titik jenuh pada hobiku itu, aku merindukanmu.

Tapi, terlambat. Undanganmu sudah kuterima.

.

.

fin


Numpang curhat aja, sih, daripada gak ketempatan, hehehehehehehehe

Keii.

Advertisements

33 thoughts on “[Writing Prompt] How I Lost You

  1. Well….
    Aku jadi mikir banyak, tapi bingung jelasinnya gimana ;__; mungkin kalau aku jadi Al, ‘mungkin’ aku bakal melakukan hal yang sama kayak dia, lebih memilih hobi ketimbang cowok, habis si cowoknya rese abis. Aku juga nggak suka kalau hobiku direndahkan. Tapi, waktu mencapai kalimat akhir … dang. Dangdangdang. Undangan wei. Parah sih cowoknya mau nikah ketika Al mulai sadar. Dari situ juga aku kayaknya perlu mikir ulang lagi mau milih yang mana …
    Paling kesel bagian Al disuruh turun di pinggir jalan, like ya ampun?!?!!!?!

    Aku selalu suka fiksimu kak, heu sederhana tapi, apa ya, jadinya nggak sesederhana itu (???). Dan pembawaannya juga santai. Keep writing!

    Like

    1. Halouw Shiana
      sebenernya kalau dari sudut pandangku sih salah ceweknya ngunu, membela yang fiksi ketimbang yang nyata, bener-bener keputusan aneh. Tapi ya namanya idup, di sini aku mencoba menjelaskan apa yang sebagian orang di dunia maya pikirkan, bahwa “dunia maya” kita kadang mmempengaruhi 80% arah hidup kita. Kita tahu, tapi kita gak mau tahu. Sisi egosentrisnya itu yang mau aku tonjolkan, makanya dibuat seperti ini. Biar jadi tamparan kecil aja, sih, kayak mau berpesan kalau “ada dunia nyata yang musti diperhatikan” gitu hehehe
      makasih udah baca

      Like

  2. “Tapi, terlambat. Undanganmu sudah kuterima.”
    HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAAHAHAHAHAHAHHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHHAHAAHAHHAAHAHAHAAHAHAHHAAH

    Ya rabb
    kukira akan jadi kokoriyaan model gimana
    lah
    ko
    ternyata
    ‘-‘
    aku nyeseq
    hubungan yang serius begitu kena opah-opahan jadi bubar jalan 😦
    Aku tidak bisa tidak suka dengan karakternya biar juga si Mas Narenda bete-material abez. Hm… karakter keduanya sama-sama keras dan, kebetulan banget Mbak Al-nya lagi di titik ketagihan, which is, memang sulit banget berpikir rasional di saat seperti itu. Dan kalau aja ada kedewasaan, karena di sisi cewenya sudah nyaris tidak mungkin, dari si cowok sangat diperlukan. OMG dan please mas mbandingin kamu sama koriya itu lebih ngga rasional :< kamu nyata, si oppa cuma dua dimensi 😦 kamu ngga bakal kalah mas…

    huhu semoga langgeng ya mas. Untuk mbak yang ditinggalkan semoga diperdekat jodohnya, dan semoga yang di dapatkan adalah yang lebih baeq. Aamiin~ ❤

    KANYUN INI KUECE KAK AMBYAR IS AMBYAR! Rasional sekali jadi lebih endeus kerasaaaaa pisan!! Aku merinding dangdut disko EDM kanyun 😦
    moral valuenya adalah semoga kita semakin dewasa. Tapi bagaimana caranya jadi rasional ketika high :"(

    ANYWAY KEEP WRITING KANYUN!!!

    Liked by 1 person

    1. Narendra tuh apa ya, ya sebagaimana cowok-cowok laennya yang ambis gitu. Sedangkan si Al tuh kayak kita-kita ngunu gak seeeeeeh, terjebak dalam dunia maya yang terlalu fiksi untuk nyata. Cuma gak bisa disalahin dua-duanya karena life is a choice kan ya, ahahahahahah moral value-nya itu, dan aku menekankan juga sih bahwa keputusan yang kita ambil di saat kita marah, kecewa dan sedih tuh rerata bersifat sementara, jadi mbokya daripada menyesal, dipikir-pikir dahulu aja gitu
      thanksssss kapangkuh

      Liked by 1 person

  3. Well..
    Kalo itu kisah nyata sayang banget..
    Aq herannya yg cwo cm blg km “berubah” tp gak beritahu cwe’nya dalam hal apa dia berubah..
    Agak jengkel…

    Like

  4. NYUN AKU IKUTAN AMBYAR SEK SAMA KAKPANG YHAAAA❤❤❤

    wadaoh mas narendra plis mas bandingin diri kamuh sama koriya yaelaaaah. bener kata kakpang jahaha. song joong ki dan oppa oppa lainnya mah masih dua dimensi, kamu menang mas, menang. disentuh bisa, ditendang bisa hahaha. tapi serius lah nyun aku paling kesel yang bagian si narendra nurunin al di pinggir jalan, like hellooooo bruh. cowo macem apa kamuh? duheh nyun fix lah fiksinya nyun sebenere ceritanya sederhana tapi tetaph acku dibuat ambyaro setelah baca xD yeokshi nyun keep writing yaaaaw!

    Like

    1. Ini fiksi imbang yang gak bisa kita tunjuk siapa yang nyakitin siapa sebenere hahahaha. Ya begitu ajalah adanya alhamdulillah dibaca juga aku sudah syenang fikakuh makasih

      Like

  5. Aaaaa true. Aku engga suka kalo temen-temen cowok udah pada iseng nanya-nanya “Kamu kok suka sama cowok-cowok bedakan sih” rasanya pengen lempar laptop ke mukanya sekalian gitu. Apalagi tempo hari ada yang bilang “aku tadi baca di internet, katanya kalo cewek suka sama Korea2an gitu nanti mmm apa ya ya semacam makin sulit dapet jodoh gitu kav.” Pas itu sih senyum doang tapi ya mbatin “Rese amat sih. Jodoh di tangan Tuhan kampret.” Hfffft sukaaak Kak Nyun, ini mewakili apa yang kurasain selama ini sih :3

    Like

    1. Jodoh sih di tangan Tuhan, tapi gimana caranya biar si jodoh dijatuhkan tepat di hadapan kita, ya kita juga harus buka mata. Dunia nyata dan maya kudu seimbang kalau kata aku sih, ya sekarang mungkin banyak yang belum butuh nasehat karena masih dalam dunia oppa, tapi mungkin nanti, kalau udah bosan sama peroppaan kayak si Al tuh, dia nyesel. Kembali lagi ke individu masing-masing karena life is a choice

      Like

  6. Kaknyun aku jadi sedih bacanya. Biarpun ada banyak ombak besar yang membuat hubungan mereka terombang-ambing, dan dua-duanya bersikukuh dengan prinsip masing-masing, membaca ceritanya sampai akhir bikin hati mencelus juga. Aku nggak mihak siapa-siapa, sih, tapi kok gregetan karena Al diturunin di jalan, belum lagi tiap Al ngomong di bagian terakhir, dipotong terus oleh Narendra.

    Kaknyun keep writing yaa 🙂

    Liked by 1 person

    1. Memang susah, sih, berpihak ke satu sisi doang, karena menurut aku, dua-duanya salah. Yang satu gak mau ngertiin, yang satu hot-blooded banget, dibutakan oleh korea. Ini, nih, pesan moralnya kayak emang diserahkan kepada yang baca aja. Keputusan dicetuskan ketika kita marah, sedih, atau kecewa tuh rerata bersifat sementara. Kan kasian si Al, menyesal kemudian. huhu. Makasih Ami!

      Liked by 1 person

  7. “Tapi, terlambat. Undanganmu sudah kuterima.” — WHHHYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY OMG WHYWHYWHY ASDFJKLKKHHADSKJGGSGS

    titan ga nyangka jalan cerita ini berakhir kaya gitu. aduh, jleb di sana-sini… dan nyesek.
    awawawawawa kanyun, ini ketje banget walaupun bikin titan baper :”((

    keep writing kanyun ❤

    Like

  8. Kak, ini undangannya yang kemaren make times new roman gak? HAHAHAHA ((dihajar)).

    Temenku pernah cerita sih, at some point dia gak suka sama kpoper bukan karena seleranya begitu, tapi karena orangnya kadang terlalu terobsesi dan lebay, terus aku dalem hati, “Mba maaf, kayaknya salah sasaran deh ngomongnya, yang di sini juga suka korea.” LOLOL ((okay abaikan)).

    Btw, Mas Narendra, JANGAN BEGITULAH. Gak suka Korea sih fine, tapi nurunin tengah jalan, berasa mobilnya minta dibaret-baret 😂😂😂 Yang di sini masih sayang juga 😦 mas masih mau ngajak nikah, yang di korea kenal aja enggak :””” Kak nyun nulis bikin baper banget, awalnya enak gitu tapi hawanya udah sedih, terus endingnya, kenapa udah mau nikah aja, yang di sini masih gagal move on 😦

    Terus nulis ya kaknyun, tapi jangan terlalu sering menyakiti hati orang :”)

    Like

    1. BISA JADI BISA JADI
      yang suka Korea bukan lebay, tapi… gimana ya… kadang kita suka kebawa suasana ngunu, over excited dan over reacted gak sih (soale aku gitu) dan karena suka korea itu butuh pengorbanan waktu yang sangat banyak (bayangin aja nonton running man sama drama korea marathon…..) mungkin si Narendra kecewa di situ sama si Al-nya, mungkin kurang perhatian atau apa gitu ya namanya juga kekasih yha….
      aku tida janji untuk ga menyakiti hati orang
      hahahahaha
      makasih Tarikuhhhh

      Like

  9. AJSBCSNAASHJBDDJ AStaga nyesek T-T
    Itu kirain Narendra mau bilang ‘aku ketemu cewek lain’ tapi ini apa kok dia malah nyalahin Korea huh ;-; Walau menurut aku sebenernya inti dari masalahnya itu bukan Koreanya, tapi pribadi masing-masing, bisa saling memahami dan bersikap dewasa.

    Aku juga nggak suka kalau kegemaranku tentang Korea dipandang sebelah mata (halah) dan emang bener banget, Korea itu salah satu pelarian aku dari realita sih T-T Aku sebenernya khawatir kebiasaanku ini bakal ngaruh buat masa depanku nanti. Tapi… tapi Korea itu terlalu indah untuk ditinggalkan Q^Q

    Apakah ini kak Nyun dan Aluna yang sama dengan yang aku tau? Aku kangen cerita-cerita kakak ;-; Semangat terus ya kak :’D

    Like

  10. Njiirrrr, undanganmu sudah kuterimaaaaa…alamaaak, nyesek pisan adududu jantungku :^(

    Ini fix mungkin kegalauan para pasangan yang salah satunya adalah fans hardcore Korea. Aku juga gitu bbrapa tahun yang lalu (bukan dalam konteks hub. Pacaran =_=). Dat feeling memikirkan bb yg kita elu2kan terancam bubar, ditinggal member lain, masuk wamil (ketauan angkatan berapa). Brasa apaa gitu, aku gak pernah sesetia itu dengan orang yang tak dikenal. Asing juga, tapi itu dia. Korea mengenalkanku (dan beberapa lainnya) dengan sistem fans yang begitu unik, impulsif, obsesif, dan apapun lah istilahnya =_=. Tapi kalau dipikir2, cowok pun suka CoC dan bola kayak bgini2 juga perasaan. Huhuhu

    Tapi emg kudu hati2 sih kalau realita terlalu ketutupan imajinasi. Yasudlahm mgkn bukan jodoh ya gapapa #lah

    Keep writing kaak!

    Like

  11. Hai Kak Nyun, ini Devina. Masih ingatkah? semoga masih eheh.
    Sumpah aku baca ini cengar cengir sendiri, ini berasa banget di aku hahaha. Emang ya masih banyak orang yang mandang sebelah mata sama hal-hal yang berbau Kokoreaan ini. Termasuk aku salah satunya yg ngalamin hal serupa. Dan soal ceritanya.. ya ampun, kayaknya terlalu egois ya kalo si Mas Narendra ini nyalahin Al atas hobinya, padahal yg buat Al begitu kan ya Kang mas Narendra sendiri, kalaupun si Narendranya ini gak pergi selama berbulan-bulan juga kayaknya gak akan juga kejadian Al yg jadi hobi sama korea-koreaan. Toh suka sama korea juga bukan hal yg dosa selagi kitanya wajar. Aku kok ya jadi sebel sendiri bacanya. haha XD. Terakhir, aku selalu suka sama tulisanmu kak, keep writing ^^

    Like

  12. hai kak. ini another blog nya kak nyun ya ?
    sepertinya sekarang sudah mulai menjauhi fangirlingan kah ?
    aku baru lagi nih baca tulisan kak nyun. selalu suka sih tulisan kakak.
    btw skrg jadi mikir apa karena terlalu menyibukkan diri di dunia fangirling itu sebab ny merasa terasingkan di dunia nyata ? sama apa yg dirasain sma aluna itu, cowo cowo yg katanya “cowo” ga suka sma korea. padahal mereka gatau klo cowo cowo di drama itu bahkan lebih cowo dibandingkan mereka yg ngaku nya beneran “cowo”. tapi entahlah pandangan org beda beda.
    satu kalimat yg paling aku suka dari cerita ini “korea yg katanya buruk itu, memberiku peluang besar dari penjara sempit yang bernama realita”
    semangat kak buat nulisnyaaaa
    ps : beritahu kami pintu mana yg bisa kami lewati supaya terlepas dari jeratan fangirling yabg tak berujung. 🙈

    Like

    1. ta ada pintu yang bisa dilewati hahahahaha
      bukan another blog, ini blog bersama gitu, dan aku ganti nama pena kalau di sini sih hehe
      anyway ❤❤❤❤

      Like

  13. Maygad sumpaah! ini kejaaaam asli T.T
    Jahat:(((
    aku ga pernah ngira ujung-ujungnya drama korea bikin orang gagal nikah.
    kejam abis T.T

    tapi, quote ini suka

    “Korea yang katamu buruk itu, memberiku peluang besar untuk lepas dari penjara sempit bernama realita”

    Semangat hihi

    Like

  14. Ahh, aku suka sekali ceritanya. Gak nyangka loh, Kak gegara suka korea sampe putus sama sang pacar.
    Ditinggal nikah pula. #mewek 😦

    Sampe kepikiran aku sama seseorang yang pernah merendahkan hobiku menulis fanfiction korea+fangirling. Katanya gak mutu, gak guna gitu deh. Aku sih diem aja, milih cari aman daripada berantem, tapi dalem hati tetep gak terima. Meski suka korea, masih sadar kok kalo dunia nyata lebih penting.

    Nice fic, Kak 🙂

    Like

  15. Ini tuh…. apa ya. Aku tuh…. gitu lah. (Abaikan!)

    Kaknyun, terima kasih untuk ending yg menohok hati /? Hehehe

    ini fakta abis, dulu waktu suka kokoreaan bener2 hidup habis di dunia maya. Salah satu efeknya putus cinta pun gak peduli karna cukup puas seneng-sedih-histeris bareng sama fangirl lain kalo ngomongin atau liat opah opah korea. Untung, rasa candu nya gak berjalan tahunan haha
    Dan penyeselan selalu datang belakangan, baru sadar kalo sebenernya biarpun jadi anti social dalam jangka waktu yg pendek, aku udah banyak kehilangan.

    Last, kusukaaaa sekali fiksimu kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s