[Writing Prompt] A Monster in Mom’s Head

o-sad-child-facebook

Secret

by dhamalashobita

Mom selalu mengatakan kepada Lana bahwa monster-monster akan datang kepada anak nakal. Yang biasa diam-diam mencuri gummy bears dari lemari es atau membuang brokoli yang tersaji di piring ketika Mom pergi ke dapur untuk mengambilkan minum. Monster-monster akan memukul anak nakal, menggigitnya, dan memakannya kalau-kalau mereka lapar. Jika beruntung, anak nakal yang tidak begitu nakal mungkin bisa diselamatkan oleh malaikat baik hati.

“Malaikat akan menyelamatkan anak nakal yang tidak begitu nakal. Sekarang, Lana hanya perlu memilih, ingin menjadi anak nakal atau anak baik?” Mom mengelus rambut Lana, sesekali menyingkirkan anak rambut yang mengganggu dahi gadis kecil bermata biru itu.

“Jadi jika aku tidak mengambil gummy bears sebelum makan siang dan memakan brokoliku, monster jahat tidak akan memakanku, Mom?” Lana menatap Mom lekat-lekat. Ekspresi wajahnya takut, bercampur penasaran.

“Tentu saja. Jika Lana menjadi anak baik, akan ada malaikat yang selalu berada di depan pintu kamarmu, menjagamu. Bahkan monster jahat tidak akan berani mendekat ke pintu kamarmu.”

“Kalau begitu, Lana ingin menjadi anak baik.”

*

Sebenarnya, Mom pernah bilang jika monster-monster akan sangat tenang jika berkunjung ke rumah anak nakal. Mereka mengendap-endap, tidak boleh bersuara. Bahkan tidak ada decitan sama sekali ketika mereka membuka pintu. Monster-monster menjadi amat tenang, kemudian menggeram pelan sebelum memakan anak nakal.

Malam itu, Lana terbangun tengah malam. Jendela kamarnya yang sedikit terbuka membuat gorden putihnya melambai. Lana ingin ke kamar kecil, tetapi kamarnya gelap, dan Lana tidak berani menginjakkan kakinya turun dari tempat tidur. Takut monster bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Bagaimana jika monster itu memakannya seketika?

Dalam keheningan kamarnya, Lana mendengar geraman dari kejauhan. Jauh di luar pintu kamarnya, disertai bunyi pecahan. Butir-butir keringat Lana berjatuhan dari dahinya. Lana lupa, kemarin pagi dia baru saja mencuri gummy bears dari lemari es. Tidak banyak memang. Hanya dua yang berwarna hijau karena Lana sangat menyukainya.

Lana terdiam, dipeluknya Moci, boneka anjing laut bundar berwarna abu-abu pemberian ayahnya pada ulang tahunnya tahun lalu, ketika Lana berusia empat tahun. Tentu saja Lana semakin tidak berani bangkit dari tempat tidurnya. Dalam kegelapan, sekali lagi, Lana tidak ingin monster yang baru saja menggeram itu memakannya. Maka malam itu, Lana tidak peduli lagi jika ia terpaksa buang air kecil di celananya, meskipun itu artinya dia menambah satu poin lagi sebagai anak nakal. Satu langkah lagi untuk menjadi santapan monster.

*

Minggu pagi yang cerah. Mom masuk ke dalam kamar pagi-pagi, ketika sinar matahari sudah menembus jendela, sengaja membangunkan anak-anak yang masih terlelap dalam alam mimpinya. Sambil duduk di tepian tempat tidur Lana, Mom meraih Moci yang terjatuh ke lantai, mengembalikannya ke dalam dekapan Lana.

“Selamat pagi, Lana,” sapa Mom ketika Lana membuka matanya perlahan-lahan.

Lana tersenyum melihat senyum Mom, meskipun hari ini ada yang terlihat berbeda dari senyum itu. Lana mengerucutkan bibirnya, menyentuh sudut bibir Mom yang memar dengan jari mungilnya.

“Mom salah memakai lipstick!” seru Lana.

Mom tersenyum, meskipun Lana tidak tahu bahwa sebelum senyum itu mengembang, Mom meringis. Jedanya memang begitu cepat hingga Lana tak sadar jika Mom kesakitan.

“Ah, iya. Sepertinya Lana harus mengajarkan Mom menggunakan lipstick.”

Lana terkekeh, memeluk Moci erat-erat sebelum sadar bahwa ada kesalahan yang harus diakuinya pagi itu. Lana beringsut mundur, memeluk Moci sambil menundukkan kepalanya.

“Apa ada sesuatu, Lana?” tanya Mom.

Setelah jeda beberapa saat, Lana mengaku, “Ada monster. Aku mengambil gummy bear di lemari, Mom. Lana takut sekali sampai tidak berani keluar kamar. Monster itu menggeram semalam dan akan memakanku jika aku pergi ke kamar mandi.”

“Jadi?”

“Aku tidak kuat lagi menahannya, jadi aku tidak sengaja buang air kecil di sini. Dan malam ini monster akan memakanku, bukan, Mom?” Suara Lana berubah parau, sambil menatap Mom yang tersenyum.

Mom tersenyum. Itu artinya Mom tidak marah. Jika Mom tidak marah, Lana tidak yakin apakah yang dilakukannya termasuk dalam sikap anak nakal atau tidak.

“Monster tidak akan memakan Lana. Mom bisa pastikan itu jika sekarang Lana mau segera mandi kemudian biar Mom membersihkan tempat tidurmu. Bagaimana?”

Lana bergeming. Mom seperti membuat sebuah penawaran dan Lana semakin bingung. Mengapa Mom bisa membuat penawaran seperti monster akan datang atau tidak, sedangkan Mom tidak berkawan dengan monster-monster, tentunya. Mom mungkin berkawan dengan malaikat, tetapi tidak dengan monster, yakin Lana.

“Apa Mom pernah bertemu Tuan Monster?” tanya Lana.

Lana menatap Mom yang menunduk sejenak sebelum menganggukkan kepala pelan.

“Apakah Tuan Monster benar-benar menyeramkan?”

“Tuan Monster terkadang tidak begitu menyeramkan. Tapi akan menjadi menyeramkan jika ada anak kecil yang belum mandi berkeliaran di depannya karena Tuan Monster akan menyantapnya. Aum!” Mom melakukan gerakan seolah-olah ingin menerkam sesuatu dan Lana berlari sambil berteriak kencang menuju kamar mandi.

“Bisakah kalian tidak menganggu tidurku?”

Lana menutup mulut cepat-cepat kemudian pergi ke dalam kamar mandi. Gadis kecil itu tak lagi bersuara sejak geraman Dad terdengar dari kamar tidurnya. Bibir Lana bergetar. Dia tidak pernah mendengar Dad berteriak sekeras itu.

*

“Selamat pagi.” Helena menyapa Sabri, suaminya yang baru saja keluar dari kamar tidur. Matahari sebenarnya mulai meninggi, pertanda hari tak lagi bisa disapa sebagai pagi.

“Kau dan anakmu sudah gila! Jangan coba-coba ganggu tidurku lagi!” bentak Sabri.

Helena mengangguk pelan, kemudian senyumnya lekas ia sembunyikan. Dia membiarkan Sabri pergi ke dapur, mencari sebotol bir yang disembunyikannya dalam botol susu kedelai di dalam kulkas. Helena yang melakukannya. Lana tidak suka susu kedelai, jadi dia bisa meletakkan bir di dalamnya tanpa takut Lana akan meminumnya. Beruntung, suaminya yang sudah bertransformasi menjadi pemabuk sejak satu tahun lalu tidak merasa keberatan.

“Beras kita sudah hampir habis. Aku butuh uang,” ujar Helena.

Sabri mengusap sisa-sisa bir di dekat bibirnya kemudian menatap Helena garang. “Uangku habis. Gunakan uangmu!”

“Kau kepala rumah tangga di keluarga ini, Sabri.”

“Kalau begitu ganti kau saja. Biarkan Lana berada di tanganku,” sahut Sabri.

“Tidak akan!”

Dari ruang televisi, Lana memanggil. Gadis kecil itu sedang menonton Rapunzel, film kesukaannya. Film yang diperkenalkan Sabri padanya ketika usianya dua tahun dan sejak saat itu, entah berapa ratus kali Lana menonton ulangnya. Dulu, Sabri akan menemaninya setiap akhir pekan, kemudian mereka akan berpura-pura menjadi Rapunzel dan pangerannya. Lana mengenakan selimut tipis yang sudah usang dan membuatnya menjadi rambut palsu, yang membuat Sabri sebagai pangeran memanjat ke kastil tempat Rapunzel tinggal.

Akan tetapi, sekarang Lana lebih sering menontonnya sendirian. Tak masalah bagi gadis itu karena dia tahu ayahnya selalu saja sibuk mencari uang. Padahal lebih tepatnya, ayahnya mencari uang untuk dihabiskan kembali, terjerat pada judi yang tidak jelas ke mana ujungnya hingga kemudian merugi dan berakhir seperti gelandangan dengan botol susu kedelai di tangan.

“Aku pergi dulu! Doakan aku semoga mendapatkan banyak uang hari ini, Helena. Ajak Lana tidur. Gadis kecil itu harus banyak tidur agar tidak banyak bertanya tentangku.” Sabri mencium pipi Helena sekilas, membuat Helena bergidik ngeri. Ditatapnya punggung suaminya yang berlalu dari pintu rumah dengan botol susu kedelai di tangan. Helena menghela napas, jengah memikirkan bagaimana malamnya hari itu akan berakhir.

*

Dongeng dalam kepala Mom melekat selalu pada kepala Lana. Lana menjadi anak baik, meski sesekali melakukan kenakalan. Setiap malam selama nyaris satu tahun, Lana mendengar erangan monster dari kamar tidurnya yang gelap gulita. Pernah suatu malam, ia melihat sinar mata kemerahan mengintip dari balik kamar tidurnya. Lana bersembunyi di balik selimutnya bersama Moci, berharap monster tersebut lekas pergi.

Malam itu, mata Lana menolak untuk terpejam. Hujan turun dengan lebat. Terdengar suara pintu berdecit dan geraman-geraman kasar. Lana memeluk lututnya takut. Beberapa saat kemudian, terdengar suara teriakan Mom. Celaka! Monster akan memakan Mom, pikir Lana.

Lana berlari ke pintu kamarnya, membukanya hati-hati dengan satu tangan. Tangannya yang lain menggenggam Moci erat-erat. Jika suara teriakan Mom terdengar hingga ke kamarnya, berarti Mom bertemu dengan monster dan Lana tidak ingin monster mengambil Mom dari sisinya. Karena itu, Lana berjalan pelan, mengendap-endap di sisi tangga untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana serta mengira-ngira dari mana asal suara Mom, dan erangan monster itu kini terdengar lagi.

Dari balik dinding dekat tangga, Lana mengintip ke arah dapur. Gelas baru saja jatuh dari meja. Tubuh Mom menabrak meja makan hingga gelas-gelas itu berjatuhan. Kemudian, tangan kekar terlihat mencekik leher Mom. Tangan yang berbulu lebat seperti tangan manusia, hanya saja berukuran lebih besar daripada tangannya. Tubuh Lana bergetar hebat. Mulutnya menggumamkan kata Mom berkali-kali. Air matanya mulai mengalir. Lana memeluk Moci erat-erat. Dalam hatinya, dia hanya ingin berlari untuk membunuh monster itu.

Lana mulai menangis, tangis tanpa suara yang perlahan-lahan berubah menjadi isakan besar yang terdengar meraung-raung. Lana menutup mulutnya ketika sadar suaranya semakin besar. Dirinya melihat Mom menoleh.

“Lana,” panggil Mom lirih.

Monster di depan Mom menolehkan kepalanya. Wajahnya terlihat samar dalam kegelapan. Rambutnya sedikit panjang, dengan jenggot dan kumis yang lebat nyaris menutupi wajahnya. Tangannya kini menjambak rambut Mom. Monster itu tersenyum sambil menarik Mom mendekat ke arah Lana. Kilatan amarah di matanya terlihat sangat jelas.

Lana tercekat. Yang ada di sana bukan monster. Tidak ada monster yang akan memakan anak nakal. Tidak ada malaikat yang bertarung melawan monster untuk menjaganya. Lana berlari ke arah kamarnya, mengunci pintu kamarnya rapat-rapat kemudian naik ke atas tempat tidurnya sambil memeluk lutut.

“Mengapa kau kabur, Sayang?” teriak monster itu keras dari luar kamar Lana.

Tubuh Lana semakin bergetar ketakutan. Di luar, bukan monster yang menunggunya. Hanya Dad dengan tangan berbulu yang menarik rambut Mom sampai Mom meronta kesakitan. Dongeng Mom tidak benar. Lana tahu sekarang jika Mom merahasiakan monster itu darinya. Jika saja Lana tahu lebih awal… jika saja Lana tahu monster tidak memakan anak nakal.

“Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja,” rapal Lana pelan sambil menangis.

Teriakan Mom semakin lama semakin menghilang. Lana tetap tidak mampu memejamkan matanya. Apakah Mom kalah bertarung dengan monster atau monster itu melepaskan Mom, Lana tidak tahu. Lana hanya berharap ketika dia tertidur kemudian bangun keesokan paginya, tidak ada lagi cerita tentang monster.

Lana benci dongeng tentang monster milik Mom. Besok malam, Lana akan meminta Mom mendongengkan kisah lainnya. Tanpa monster.

the end

A/N :

Poster credit to teenagehood101@wordpress. Terima kasih sudah bersedia membaca. Cerita lainnya, kunjungi dhamalashobita.wordpress.com

Advertisements

5 thoughts on “[Writing Prompt] A Monster in Mom’s Head

  1. malaaa, ya ampun ceritanya kayak gini tuh tipe-tipe favoritku banget. anak kecil, horor, terus diceritainnya pas aja gituu. ngegambarin monsternya juga tipe-tipe cerita dongeng bocah aku sukaaa x) dan namanya. ya ampun aku selalu suka deh, nama lana xD pertama kali denger nama ini tuh pas nonton seri superman yang karakter ceweknya namanya lana lang hehehehe. dan masalah lipstik ternyata … mamanya abis berantem sama papanya yha, heu. anw aku suka banget penutupnya yang mana si lana tuh masih yang: pokoknya kalo besok diceritain, aku mintba supaya ceritanya nggak tentang monster. heu. seru tapi nyakitin di saat yang sama :” anw keep writing malaaa! hihihihi x)

    Like

    1. ((horor))
      Padahal aku paling nggak bisa bikin cerita horor, Fik. ^^”
      Aku juga suka nama Lana! /hi5
      Nama Lana selalu berhasil bikin kesan sendiri tiap kali aku nemuin. Hahaha.
      Terima kasih sudah mampir dan komen di sini ya, Fika.. :))

      Like

  2. Lana … nama yg kedengarannya indah gitu … aku punya temen juga yg suka dipanggil ibunya dek Lana, padahal cowok ehehe 😀 /malahcurcol/

    tulisannya enak dibaca … dan alurnya ngga ketebak, menurutku. di awal yaa ngga kepikiran sama sekali kalau ternyata Mom sama Dad suka berantem. yaaampuunn kasian Lana. tapi asli authornim (menurutku) sukses memposisikan diri sbg Lana yg begitu polos. :3 suka suka suka!!!

    keep writing ^^

    Like

    1. Setuju sama pendapatnya kalau nama Lana kedengarannya indah! 😀
      ((Dek Lana))
      Tapi cowok… wah, menarik!

      Syukur deh kalau twist-nya cukup berhasil membuat cerita ini tidak tertebak. Hehehe. Terima kasih banyak ya sudah mampir dan komen. 😀

      Like

  3. Kak malaa, aku suka ceritanyaa. Horror2 ala anak2 gitu, tapi menggiriskan. Heuheu.
    Sempet ngira monsternya pasti Dad pas baca bagian memar2 gitu. Tapi gak nyangka kalau penampilan Dad nya Lana di cerita ini tu sesangar itu. Huhuhu.
    Tapi yang paling epik sebenernya adalah di paragraf trakhir, dia mnta diceritakan dongeng lain yg tidak ada monsternya. Gmna dong kelanjutannya kalau Dad-nya gak ada? Dibunuh emaknya misal :O
    Aduh, pikiran anak2 polos bgt emang sampai rentan dicuci oleh dongeng2 gitu. Huhuhu..
    Suka kaak! Keep writing kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s