Brothers [2]

brothers

by fikeey

#Act 02
Hanya saja … siapa pun yang melakukan ini, mereka jenius. Jenius sekali, malah.

Park Jimin―seperti dalam pikiran Yoongi sebelumnya―adalah tipikal seorang anak lelaki yang patuh dan sopan. Yoongi telah memperhatikan gerak-gerik sang anak tertua ketika namanya pertama kali dipanggil untuk tetap duduk di ruang interogasi oleh opsir yang bertugas. Jimin mengangguk paham, lantas berbalik pada kedua adiknya yang kala itu sama-sama memetakan ekspresi bingung di wajah mereka.

“Aku akan baik-baik saja,” katanya. “Taehyung, tolong jaga adikmu.”

Selepas opsir penjaga menggiring keluar Taehyung dan Jungkook, sang kakak membetulkan posisi duduk. Ia menempati kursi tengah yang ditinggalkan si bungsu, menghela napas pelan dan menunggu; sementara Yoongi dan Namjoon duduk memperhatikan lewat kaca satu arah di hadapan keduanya.

Perut Yoongi bergejolak ketika ia menyelisik lebih dalam. “Anak ini terlihat telah menegarkan dirinya untuk waktu yang sangat lama. Bagaimana menurutmu?” tanyanya, menyuarakan isi kepala.

Di sebelah Yoongi, Namjoon mengedikkan bahu. “Apabila cerita Hoseok tadi benar soal perlakuan yang diberikan ayah mereka, maka aku bisa menyetujui pendapatmu. Dan … kita punya satu bukti kuat lagi untuk menyerang siapa pun nanti pelakunya.”

“Karena didorong oleh rasa dendam?” tekan Yoongi, lalu Namjoon mengamininya dengan sebuah anggukan pelan.

Ada helaan napas panjang sebelum akhirnya figur yang lebih pendek dari keduanya bangkit dari kursi dan melengos menuju pintu. Yoongi meninggalkan jasnya yang semula tersampir dan kondisi kemejanya kini benar-benar tidak rapi. Kau bisa bayangkan pria itu dalam balutan busana demikian lalu kau akan berasumsi bahwa ia termasuk ke dalam jajaran bad police―atau apalah itu sebutannya.

Pada detik pertama pintu ruang interogasi tertutup di balik punggung Yoongi, si sulung mendongakkan kepalanya dengan kaku lalu menunduk lagi―dengan jelas menghindari tatapan mata sang detektif. Yoongi lantas mengambil kursi di hadapan Jimin, terlebih dulu meletakkan map hasil cetak foto forensik yang baru saja didapatnya ketika keluar dari ruangan Seokjin.

Satu gerakan singkat dan kini pemandangan mendiang sang ayah terhampar di depan hidungnya.

Jimin menahan napas. Ia memejamkan mata selama beberapa detik sebelum membukanya lagi.

“Namaku Min Yoongi,” ujar si detektif memulai interogasi. “Kau dan adik-adikmu menemukan mayat ayahmu pukul sebelas tadi malam?”

“Ya.” Sang terduga pertama menganggukkan kepalanya.

“Dan apakah benar kau dan adik-adikmu baru menghubungi polisi sekitar lima jam kemudian?”

Yoongi kembali mendapatkan jawaban berupa anggukan pelan yang sarat akan kebenaran. Ketika dimintai keterangan, Jimin lantas menceritakan keadaan saat ia menemukan sosok ayahnya pertama kali.

“Aku tak tahu apa yang kulihat. Kupikir ia tertidur di sana atau bagaimana. Aku tak ingin membangunkannya. Dia akan luar biasa marah apabila dibangunkan,” jelasnya. Lalu berujung pada bagaimana ia memilih untuk menunggu adik-adiknya pulang hingga akhirnya Jungkook yang pertama kali menemukan dirinya bersandar di dinding dekat bak sampah. “Ya, lalu kemudian Taehyung yang datang.”

“Kalian berjalan bersama-sama menuju rumah?”

Jimin mengiakan lagi. “Jungkook yang membuka kunci dan menyalakan lampu,” terangnya, lalu mengangkat telapak tangan kanannya untuk membasuh wajah dari dahi hingga ke dagu. “Maaf. Aku belum bisa melupakan wajah ayah ketika kutemukan tubuhnya tergeletak di tengah rumah.”

Tidak ada jawaban dari Yoongi.

“Taehyung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya, sementara Jungkook berdiri saja di sana tanpa melakukan apa-apa. Ia sempat menopangku sebelum kakiku benar-benar lemas,” jelas Jimin lagi. “Aku―kami―tidak tahu apa yang harus kami lakukan dengan tubuh ayah yang jelas akan mulai membeku. Ruangan hening selama beberapa saat, sampai akhirnya Jungkook yang memutuskan akan menelepon polisi.”

“Jungkook melakukan itu setelah lima jam kalian duduk dan tak melakukan apa pun?”

Ada jeda sejemang sebelum Jimin menggerakkan kepalanya lagi sebagai jawaban. Ia menghindari tatapan mata Yoongi dengan melempar pandangan ke arah pintu―jelas ia gugup berada dalam jarak pandang seintim ini dengan foto mendiang sang ayah.

“Ya,” jawab Jimin pada akhirnya. “Ya. Jungkook melakukan itu setelah lima jam kami saling terdiam.”

Yoongi mengulas senyum kecil sebelum memutuskan untuk beranjak pada pertanyaan selanjutnya.

Ia benar soal Jimin―terlalu benar malah―mengenai sifat dominan yang mengisi relung sang kakak tertua. Bagaimana ia bersikap, bagaimana ia melindungi adik-adiknya dan bagaimana ia menjaga perannya lekat-lekat. Keadaan sang ayah yang sangat tak stabil semenjak kepergian ibu mereka memaksa ketiganya tumbuh lebih cepat dibanding para pemilik umur yang sama―dan Jimin merasa dituntut untuk tumbuh dewasa selangkah lebih dulu.

Jimin bercerita bahwa kotak obat di rumah kini hanya berisi kain kasa, obat merah, serta tablet penghilang rasa sakit yang tiap minggu selalu baru. Seringnya, Taehyung yang mendapatkan luka paling banyak―mengingat sifatnya yang selalu meledak-ledak, menurut Jimin―namun akhir-akhir ini si bungsulah yang bolak-balik meringis sakit tiap malam. Jimin dan Taehyung bergantian mengingatkan sang adik untuk berhenti mengumpankan diri.

“Kedua kakakku sudah terlalu sering menderita,” jawab Jungkook singkat.

Yoongi memulai interogasinya dengan si anak terakhir seperti ia melakukannya pada Jimin beberapa saat yang lalu. Bertanya soal kapan mereka menemukan tubuh mendiang sang ayah yang mulai kaku dan apa yang mereka lakukan setelahnya. Ketika Yoongi menggulirkan pertanyaan seputar hal-hal yang sering menimpa ketiganya di rumah, senyuman kecil adalah hal pertama yang ditunjukkan Jungkook sebelum menjawab.

“Ayah selalu marah hampir karena hal-hal sepele. Saus yang terlalu banyak, suhu penghangat ruangan yang terlalu tinggi atau ketika uangnya tak cukup untuk membeli bir karena kalah berjudi. Hal-hal semacam itu,” terang si anak terakhir. “Apabila kami berada di ruangan yang sama dengannya, maka akan muncul memar baru keesokan hari.”

“Kalian mengalami ini setiap hari?”

“Tergantung mood miliknya saja,” jawab Jungkook sembari mengedikkan bahu. “Ia pernah tak pulang selama seminggu entah ke mana. Namun ketika sosoknya muncul di suatu pagi, tinjunya melayang pada Taehyung yang waktu itu membukakan pintu.

“Ia mabuk. Meracau soal pemain judi yang berlaku curang atau apa. Aku dan Jimin datang tepat waktu sebelum bibir Taehyung yang berdarah terluka lebih parah. Kami menyeretnya ke kamar, membiarkan ayah melampiaskan kekesalannya pada barang-barang di seluruh penjuru rumah.” Jungkook menyelesaikan ceritanya dengan helaan napas pelan.

Yoongi diam.

Iris gelapnya ia larikan untuk merekam pemandangan di hadapannya ini lamat-lamat. Ada dua buah luka beset yang hampir mengering di wajah si bungsu dan apabila Yoongi tak salah mengingat, cara jalan Jungkook sedikit timpang ketika memasuki ruang interogasi. Pikirannya hendak berkelana lagi, namun kemudian namanya dipanggil dan ia mendongak.

“Apakah aku boleh tahu hal apa yang membunuhnya?”

Seolah mengulur waktu untuk menjawab, sang detektif akhirnya bersuara. “Sianida.”

Ketika pintu ruang interogasi tertutup di balik punggung si anak tengah, Yoongi masih duduk di posisinya sembari melipat lengan. Taehyung adalah terduga terakhir yang dipanggil masuk dan ya, untuk mengikuti prosedur, maka pria itu harus mengulangi lagi pertanyaan yang telah ia lontarkan pada dua sesi interogasi sebelumnya.

Saat kursi besi di hadapan Yoongi sudah terisi dan pria itu mulai membuka mulut, ada desah tawa pelan yang terdengar lumayan jelas. Kenyataan bahwa ruangan itu hanya berisi dua orang―dan Namjoon tak mungkin seteledor itu menyalakan mic dari ruang pengamat lalu tertawa-tawa―maka Yoongi lantas mendongakkan kepala. Ia meleburkan atensinya pada Taehyung yang kala itu tengah memandangi barisan foto di meja lamat-lamat.

“Ada yang lucu?” tanya Yoongi, menarik perhatian lawan bicaranya.

“Tidak,” kekeh Taehyung. “Hanya saja … siapa pun yang melakukan ini, mereka jenius. Jenius sekali, malah.”

Yoongi menyipitkan matanya, memandang awas ke arah sang lawan bicara yang sungguh menghadirkan rasa luar biasa tenang di tengah-tengah interogasi.

Pria itu memang sudah bertemu banyak sekali orang dengan tipe-tipe mereka sendiri: yang berkeringat apabila gugup, yang meraung-raung bahwa polisi telah menangkap orang yang salah dan yang duduk manis serta menjawab seluruh pertanyaan interogator dengan patuh. Yoongi tak menyalahkan Taehyung apabila bocah itu tidak kelihatan gugup sama sekali, namun di kepalanya tebersit lagi kalimat Hoseok beberapa saat lalu serta jajaran bukti.

Maka, Yoongi tak memiliki pilihan lain kecuali menempatkan si anak tengah sebagai tertuduh nomor satu saat ini.

“Pernahkah terpikir olehmu untuk melakukan pemberontakan dan kabur dari rumah, ‘Nak?” Sang detektif bertanya dengan suara beratnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan serta melipat kedua tangan di permukaan meja.

Taehyung memeta senyum tipis sebelum melakukan hal yang sama. “Aku selalu memiliki rencana itu, Detektif. Setiap hari, setiap detik, setiap ia menorehkan memar baru, setiap ia menjadikan kedua saudaraku kantong tinjunya,” desau sang tertuduh hampir berbisik. “Aku merelakan tempatku untuk Jungkook supaya ia memiliki masa depan sempurna. Aku pergi bekerja setiap hari supaya Jimin mengurungkan niatnya meninggalkan bangku kuliah. Kau akan mengerti alasanku melakukan semua itu apabila kau berdiri di atas sepatuku, Detektif.”

“Apakah kau pulang lebih cepat di hari ayahmu terbunuh?”

“Tidak.” Taehyung menggeleng. “Aku pulang seperti biasanya. Pukul sepuluh malam, ketika shift harianku berakhir. Jimin dan Jungkook berada tak jauh dari rumah saat itu. Adikku tersayang membelikan kami makan malam.”

Yoongi menaikkan sebelah alisnya. “Kalian tak pernah makan di rumah? Dan Jungkook selalu memiliki tugas untuk membelikan makanan atau memasak?”

“Tidak juga, tapi ya, Jungkook selalu membawakan kami makan malam.” Taehyung berujar. “Aku dan Jimin selalu melewatkannya, jadi Jungkook merasa harus membeli sesuatu. Untuk urusan memasak … seringnya kami berada di dapur bersama-sama. Jimin yang memaksa, setelah kejadian waktu itu.”

“Apa yang terjadi?”

Si anak tengah meloloskan tawa pelan lalu pandangannya menerawang langit-langit ruangan. Ia menghela napas pelan sebelum membuka mulutnya lagi. “Aku sedang membuatkan makan malam ketika emosi ayah meroket lagi. Entah apa yang ia pikirkan, entah apa yang kami perbuat,” katanya. “Ia masuk ke dapur, mengambil botol sirup di meja dan memaksaku memberinya uang. Aku sudah bekerja saat itu dan ayah mengetahuinya.

“Ia meracau soal harus membalaskan kekalahannya pada seorang teman―ah, ya, mungkin itulah penyebab kemarahannya. Bodoh, ‘kan? Padahal ia masih duduk manis menonton televisi pagi harinya.” Taehyung menggeleng-gelengkan kepala saat bercerita. Ada nada mencemooh dalam barisan kalimat yang ia utarakan.

“Dan? Kau memberikannya uang?”

“Jimin lebih membutuhkannya. Semester baru kuliahnya, jadi yah ….” Suara Taehyung berangsur pelan ketika mencapai akhir. “Kata dokter, lukanya butuh tiga jahitan dan aku dipaksa tak boleh keluar rumah selama beberapa hari. Well, sejak saat itu kami selalu memasak bertiga. Tidak. Yang penting kami tidak sendirian di dapur. Jimin bahkan berpesan padaku untuk selalu mengunci pintu kamar selama di rumah.”

Yoongi mengangguk mengerti, kemudian ia menyandarkan punggungnya ke belakang. “Apakah ayahmu sempat kehilangan kontrol lagi selama kau sakit?”

“Ya. Ia bahkan mengancam akan membunuhku apabila tidak memberinya uang.”

“Hoseok menjawab seluruh pertanyaanku dengan patuh.” Namjoon berkata ketika mereka keluar dari lift, mengambil rute ke koridor sebelah kiri di mana bau formalin mulai tercium. “Tipikal anak baik dan penurut. Orang tuanya menetap di luar negeri untuk mengurus bisnis, jadi ia tinggal sendirian hingga masa kuliahnya berakhir.”

Yoongi menghela napas panjang-panjang. Ini kali kedua ia pergi ke ruangan Seokjin dalam sehari―yang kadang mati-matian ia hindari dengan meminta Namjoon saja yang pergi.

Maka saat sang dokter forensik justru menyuruhnya untuk datang dengan alasan ada sesuatu yang benar-benar harus dilihatnya, mau tak mau Yoongi meloloskan rutukan singkat sebelum mengekor di belakang Namjoon. Bukan bau formalin saja yang ia benci, omong-omong, matanya akan terasa perih dan merah apabila berlama-lama di sana.

O ya, dia juga mengancam akan pergi duluan setelah Seokjin selesai dengan penjelasannya. Ah … ini pukul lima di sore hari dan lagi-lagi pria itu melewatkan makan siang. Mungkin sedikit terkena angin segar setelah ini terdengar tak terlalu buruk.

Membiarkan Namjoon berjalan mendahuluinya dan membuka pintu, Yoongi menarik napas dalam-dalam dan berdoa dalam hati supaya diberikan ketabahan saat memasuki ruangan penuh formalin melayang-layang seperti ini.

Seokjin mendongak dan melempar senyum ketika dua rekannya berjalan menyeberangi ruangan.

“Baguslah kau datang, Yoongi.”

“Kuharap yang kau temukan cukup menarik.” Yoongi mencemooh diiringi suara decak.

Alih-alih menjawab, Seokjin justru melengos ke sisi lain ruangan dan mendekati sakelar lampu; menghilangkan sumber penerangan di ruangan itu dalam satu gerakan. Ia beralih kepada layar proyektor yang menampilkan barisan grafik entah apa―dan Yoongi tak peduli. Di sisi lain, Namjoon bersedekap dan terlihat seperti mahasiswa tekun dalam acara study tour.

“Tubuh mayat kita mengandung setidaknya mendekati satu gram sianida dalam tubuhnya―ya, Namjoon, memang kelewat banyak dari ambang dosis letalnya. Dan ya … hasil tes juga menunjukkan bahwa kudapan manis itu adalah benda pertama yang masuk ke perutnya yang kosong.” Seokjin berkata panjang lebar. “Kondisi lambungnya asam dan ketika sianidanya masuk―”

“Asam mempercepat prosesnya.” Namjoon menyelesaikan kalimat sang dokter.

Dari tempat duduknya, Yoongi mendengus. Kalau saja Namjoon selalu menjaga sifatnya yang ini, ia tak harus marah-marah dan bersikap galak setiap kali mendatangi tempat kejadian perkara.

Seokjin mengamini. “Ya. Betul begitu,” katanya. “Tangannya penuh dengan remah kue waktu kuperiksa. Entah sianidanya berasal langsung dari makanan atau karena tangan korban terpapar. Bagaimana hasil tes sisa makanannya?”

“Lab masih memprosesnya. Mereka bilang mungkin akan memakan waktu karena kandungannya yang kompleks,” jawab Namjoon mengedikkan bahu.

“Baiklah. Berarti belum banyak yang bisa disimpulkan,” rangkum Seokjin seraya berjalan kembali menuju sakelar dan mengembalikan pencahayaan ke dalam ruangan itu. “Kecuali apabila Yoongi sudah menarik sedikit kemungkinan dari interogasi hari ini.”

Merasa namanya dipanggil, Yoongi mendongak. Ia bangkit dari kursi kerja milik Seokjin, memutar-mutar bolpoin di tangan kanan dan meletakkan sebelah bokongnya di permukaan meja. “Ketiga anak itu mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga. Semuanya. Dan hal itu sama sekali tidak ringan,” ungkapnya. “Tidak hanya berkisar pukul atau tampar, sekali lagi. Dan tidak hanya meninggalkan seberkas memar biru, tidak.”

Namjoon menoleh dengan pandangan serius, bahkan Seokjin menghentikan aktivitasnya menggulung kaber proyektor. Ketiganya kini berada di sisi ruangan yang berbeda namun atensi dua di antaranya melebur kepada objek yang sama.

Yoongi lantas meneruskan konversasi ketika tidak ada satu pun dari pemerhatinya memberi sanggahan atau pertanyaan.

“Dua di antara mereka menjawab jujur pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan tapi salah satunya berbohong.”

“Tiga tebakan siapa.” Namjoon menimpali.

Mendengar kalimat rekannya, Yoongi mendengus. “Jawabannya tak seperti yang kau pikirkan, omong-omong. Anak paling pembangkang di antara ketiganya justru mengeluarkan seluruh kebenaran yang ia pendam.”

You don’t say,” komentar Namjoon sementara kedua matanya melebar.

Dan akhirnya Yoongi memulai penjelasan tentang bagaimana salah satu terduga mereka kemungkinan mengatakan dusta. Dimulai dari pemutusan kontak mata―karena orang yang melakukan kebohongan tidak akan pernah mau memandang ke dalam iris seseorang yang dibohonginya―lalu dilanjut dengan pengulangan kata yang ditanyakan si interogator. Yoongi sendiri menolak ketika Namjoon menembak langsung soal oknum yang dimaksud.

“Aku masih belum yakin.” Ini adalah kalimat favorit Yoongi apabila ia sendiri ragu dan Namjoon akan mengerang kuat-kuat apabila mendapat respons demikian.

Rabu pagi Yoongi diwarnai oleh kepulan asap, bau oli dan ocehan Namjoon tentang bagaimana cara terbaik memereteli sebuah mobil. Well, inilah salah satu keahlian pria itu, membuat bagian-bagian mobil seseorang berserakan di mana-mana.

Yoongi tiba di apartemennya cukup larut tadi malam, membawa aroma formalin serta rasa lelah yang luar biasa. Hasil interogasi Namjoon dengan Hoseok yang berupa catatan cakar ayam sang rekan berulang kali dibacanya ketika menumpang bus untuk pulang. Akhir-akhir ini ia sering menginapkan mobilnya di kantor dengan alasan tak mau repot menyetir pulang.

“Hoseok bilang, ia pindah ke area perumahan itu dua tahun sebelum ibu terduga meninggal dunia,” kata Namjoon seraya menyodorkan catatan kecilnya. “Ibu mereka luar biasa ramah, tipikal ibu rumah tangga penyayang. Tiga anak itu sering bertandang ke rumah Hoseok dan begitu pula sebaliknya. Karena alasan demikian, hubungan dua keluarga itu dekat. Dekat sekali malah. Mereka bahkan bertukar kunci mobil cadangan kalau-kalau terjadi sesuatu yang mendesak.

“Sejak ibu terduga meninggal, Hoseok sering mendapatkan kunjungan tiba-tiba. Seringnya disambut dengan bibir robek atau hidung yang berdarah. Dan apabila sudah begitu, Hoseok akan membiarkan ketiganya menginap sambil memastikan mereka baik-baik saja,” jelas Namjoon. Ia menghela napas setelahnya. “Ketika kau bilang bahwa keluarga itu diliputi kekerasan rumah tangga … di saat itulah aku baru sadar kalau Hoseok tak berbohong.”

“Kau mengira ia berbohong?” tekan Yoongi.

“Ini kasus paling miris yang pernah kutemui.” Namjoon berkata lagi. “Kalaupun pelakunya adalah salah satu di antara mereka bertiga … yah, mungkin juri akan sedikit tersentuh akan cerita ini.”

Yoongi tak mengiakan pun menyanggah. Ia hanya mengedikkan bahu dan memutar tubuhnya, meninggalkan Namjoon yang berteriak bahwa besok ia akan mulai memeriksa mobil kepunyaan korban mereka.

Dan di sinilah keduanya―sebenarnya Namjoon yang bekerja dan Yoongi yang memperhatikan. Sesekali Yoongi bertanya atau meminta si rambut cokelat terang menebarkan bubuk halus untuk mencari sidik jari, namun pria itu lebih sering duduk di kursi plastik yang semula diambilkan Namjoon untuknya. Yoongi bahkan memaksa Namjoon menebarkan luminol di bagian-bagian tertentu kalau-kalau ada jejak darah yang tertinggal.

Bagian-bagian mobil yang berhasil dipisahkan Namjoon berserakan di lantai, kecuali untuk sandaran kursi yang khusus ia letakkan di meja tak jauh dari lokasi kerjanya. “Supaya aku tak mencari-carinya nanti waktu selesai,” katanya dengan suara teredam akibat masker pelindung. “Kadang aku terlalu fokus hingga lupa menaruh ini di mana itu di mana.”

Dan sang rekan yang tengah duduk memperhatikan hanya memutar bola mata. Namjoon ini … jenius tapi teledor. Entah harus berapa kali dihujam perlakuan sinis supaya sadar.

Yoongi hendak bersuara lagi ketika seorang opsir menghambur lewat pintu masuk bengkel. Napasnya terengah saat ia memberitakan bahwa terduga mereka terlibat kasus kecelakaan ringan pagi buta tadi.

I’ll go.” Yoongi berkata pelan lalu melengos pergi.

Sosok ringkih Taehyung dengan perban yang melilit di kepala serta plester di beberapa bagian wajahnya adalah hal pertama yang menyambut Yoongi. Pria itu mengekor di belakang si opsir berseragam dan mengucapkan kata ‘terima kasih’ pelan setelahnya. Sang detektif berjongkok di hadapan sel Taehyung, memandangnya tanpa berkata apa pun.

“Aku mempersulit diriku sendiri, ya aku tahu.”

Yoongi mencemooh. “Kali ini kau melukai dirimu sendiri, Bodoh. Apa yang kau lakukan?”

“Tubuhku terlalu sering menimbun luka, Detektif. Yang macam begini sih rasanya seperti jatuh di tumpukan kapas,” ujar Taehyung seraya memeta senyum timpang. “Kuharap mereka tidak jadi menghub―”

Baik Yoongi maupun Taehyung kini sama-sama menoleh ke arah yang sama di mana seseorang dengan seragam sekolah datang menghambur diikuti seorang opsir yang mengejar di belakangnya. Ia berjalan menghampiri Yoongi yang kala itu sudah menegakkan tubuh.

“Apa yang kau―”

“Tenanglah, Jungkook. Aku yang salah.” Taehyung memotong. “Aku terliba―”

“Mereka bilang ada jahitan lama yang terbuka ketika kau mengadu kepalamu dengan trotoar. Katakan kalau kau tak pernah pergi ke rumah sakit tanpa kami ….” Kini si bungsu meleburkan atensinya pada Taehyung yang berdiri sangat dekat dengan sel.

Taehyung mendesah. “Jungkook, sudahlah ….”

“Kau ingat kata-kata Jimin soal tak boleh memendam rahasia sendirian?” Si bungsu memotong dengan telak. Ia mengambil langkah kecil mendekati sel sang kakak.

Ada helaan napas yang terlontar ketika si anak tengah hendak membuka mulutnya. “Aku pulang cepat ketika ayah sedang berkeliling rumah mengumpulkan lembar demi lembar uang yang dapat ia temui. Pintu kamar terbuka dan kulihat ia menuju lemariku,” mulainya, akhirnya merasa kalah. “Awalnya aku berniat membiarkan pria itu melakukan apa pun semaunya, tapi begitu ia menuju ke mejamu ….”

Yoongi tak berbohong saat ia bilang bahwa Jungkook hampir menangis. Dada si bungsu naik turun, sementara kedua tangannya terkepal dan buku jarinya memutih.

“Kenapa tidak kau biarkan saja ….”

Taehyung terkekeh. “Tidak, Jungkook. Itu pekerjaan rumahmu. Aku tahu kau mengerjakannya semalaman dan ia pikir ia bisa merusaknya? Tidak boleh,” desaunya dengan suara serak. “Aku menghambur ketika ia hampir mencapai mejamu. Well, aku berhasil menyelamatkan beberapa lembar, untungnya, dan ia akhirnya pasrah dengan pinggiran bingkai yang dipegangnya karena aku tak juga memberinya uang.

“Jadi kutinggalkan lembarannya di meja dan pergi ke rumah Hoseok. Ia yang mengantarku ke rumah sakit dan berjanji tidak akan memberitahu masalah ini kepadamu atau Jimin.” Si surai cokelat terang menyelesaikan ceritanya, namun masih tersisa di wajahnya jejak-jejak penyesalan yang mendalam. “Maafkan aku. Ada beberapa lembar tugasmu yang rusak dan bernoda pekat, jadi aku harus menyembunyikannya.”

Dan kalimat itu adalah hal pertama yang memukul dahi Yoongi, mengingatkannya bahwa kasus ini mungkin bukanlah berdasar atas rasa dendam biasa.

Ketiga saudara ini saling menyayangi, saling menjaga. Baik untuk sama-sama diketahui, pun disembunyikan. Iya. Benar apa yang Namjoon bilang. Ini kasus paling miris di antara kasus yang pernah ia kerjakan.

“Kakakmu akan keluar pukul lima sore nanti.” Yoongi memberitahu. Ia mengantar si bungsu hingga ke pintu keluar setelah pembicaraannya dengan Taehyung berakhir. “Aku akan memastikan dirinya baik-baik saja. Akan ada petugas yang mengantarkannya ke rumah.”

“Kakak-kakakku sudah terlalu banyak berkorban untukku. Kau tahu, Detektif?” Alih-alih merespons kalimat Yoongi, Jungkook justru melayangkan pertanyaan itu. Ia bersandar pada dinding bagian dalam lift. “Kadang aku merasa tak berguna dibanding mereka berdua. Memar milik Taehyung lebih ungu dari milikku dan Jimin membutuhkan lebih banyak kapas untuk membersihkan lukanya.

“Mereka selalu sigap berada di depanku setiap kali deru mobil terdengar disusul ayah yang berteriak kesetanan. Seringnya Jimin melarangku keluar kamar apabila kondisinya sudah sangat parah.” Jungkook berkata seraya menerawang. Langit-langit lift yang hening seolah menjadi saksi pembicaraan mereka, pun deret angka yang selalu berganti setiap kali lantai lain terlewati.

“Taehyung tak pernah menceritakan hal ini kepadamu?” Yoongi tiba-tiba bertanya ketika pintu lift di hadapan mereka terbuka dan pertanyaannya lantas dijawab oleh gelengan pelan sang lawan bicara.

Jungkook mendengus, terlalu tiba-tiba. “Jika saja aku tahu masalah itu lebih cepat ….”

Yoongi menghela napas. “Kakakmu sudah melakukan hal paling baik yang―”

“Aku bersumpah … jika ada seseorang yang berani menyakiti saudaraku.” Jungkook menghentikan langkahnya. Ia yang semula berjalan di hadapan Yoongi kini membalikkan tubuh, memandang kaku pada sang detektif. “Jika aku mengetahui hal ini lebih cepat, mungkin aku adalah pelaku yang kau cari-cari, Detektif.”

Ketika kalimat itu mencapai rungunya, Yoongi tiba-tiba bimbang akan deduksi yang telah ia bangun selama ini.

*


  • forever and always, big thanks to la princesa as my life savior :”)
  • GAES UDAH BISA NEBAK BELOOM xD sekarang boleh sebut satu nama deh, tapi jangan kasih alesannya di comment box yha, awas! (mau galak ceritanya).
  • OIYAAA. ini bakal di-update tiap rabu ya gaees, jadi stay tune hehehehe.
  • thank you for reading guuuys! have a nice day!
Advertisements

27 thoughts on “Brothers [2]

  1. HAHAHA KAK FIKA BENERAN HARI RABU INI xD aku suka deh part yang ini. Bikin emosi naik turun banget; karakterisasi ketiga saudara ini kebangun bagus banget. Banyak kemungkinan di kepalaku but i must say the first child kinda suspicious? Rather the last child sih. alasannya gaboleh dibilang kan ya h3h3h3h3. sebenernya aku punya hipotesa pertama sih kak, tapi ntar lah kusimpan buat diriku sendiri dulu.

    Yang bikin emosional itu … KIM TAEHYUNG astaga kamu nak. melihat dari penuturannya dia, rasa sakit yg udah dia alamin gegara nyelametin saudara2 nya. Kasian kamu kim tae 😦 ini kasus yang .. yah. miris bener banget kata yoongi.

    masalah penulisan aku gaperlu komentar lagi, yeokshi kak fika.

    (ngomong ngomong veli masih suka karakter magernya yoongi. bahkan namjoon yang tukang rusak itu) OHYA BARU INGET ADA DESKRIPSI BAD POLICE APAAN ITU KAK :((((((((( tapi emang yoongi manusia nevermind sih huhu

    antusias banget nungguin minggu depan xD semangat kak fika!

    Like

    1. HAHAHAHA iya dong vel, fika kan tak pernah berbohong, baik hati, dan rajin menabung (lah) (oke lupakan, lupakaaaaan). btw aaaaaaa makasi veliii, asli lah aku takut karakterisasinya nggak pas. kenal juga baru kemaren ahahaha xD hayo, hayooo, jadi siapakah orangnyaa? xD

      YOONGI FOREVER GABOLEH DIPISAHIN DARI DESKRIPSI MAGER xD ya allah dia tuh ya. aku literally nguquq pas di red carpet acara apatuh ya yang dia bilang: bahkan napas aja gue capek lo gaes. gue entar kalo boleh dilahirin kembali pengen jadi batu aja ._. ish ish kesel sendiri tapi ngakaaak haha. anw yang bad police xD hahahaha cuma sebutan aja kooook, gara-gara baju dia berantakan doang pas mau interogasi ahaha.

      btw aku baru baca reply-nya veli yang follow blog hehe. shantay veliii, hehehe x) siiip ditunggu yaaah. makasi ya vel udah baca dan komeen hihi. veli semangat jugaa! 😀

      Like

  2. Halo Kak Fika, salam kenal dari Nokav 😀
    Kemarin udah baca yang part 1 tapi pas mau komen failed terus jadinya aku putus asa dan menjadi silent reader wkwk Terus ini semoga habis ini kekirim ya komennya hahaha
    Aku sukaaaak banget sama fic ini kan crime gitu tapi family-nya kenaaaaaa banget apalagi pake trio maknae bities. Karakternya V seperti biasa selalu ‘beda’ gitu ya tapi disini ‘beda’nya tuh aku sukaaak. Aku bisa bayangin adegan demi adegan dengan sangat jelas di kepalaku dan menikmati banget :3
    Buat yang paling mencurigakan disini aku belum tau ah, soalnya kayaknya aku mirip Kak Yoongi gitu. Tiba-tiba ragu._. Aku bakalan nungguin dengan sabar aja deh :3 Semangat kak! :3

    Like

    1. haloo nokav! 😀 ahahaha wordpress emang kadang nge-troll sih ya haha. sudahlah biarin aja wordpress dengan idupnya xD ini kekirim kook, hehe. makasi yaah.

      ((MAKNAE BITIES)) OMG xD btw, aku gatau kalo karakter taehyung sering dibikin aneh-aneh haha, ya ampun aku pun baru kenal sama bts bahkan. tapi syukurlah kalo misalkan pas karakternya dia (dan karakter-karakter yang lain jugaa) :3

      wekeke, ayo bantuin yoongi namjun seokjin nyari pelakunya 😀 makasi yaah nokav udah baca dan komeen hihi. ditunggu rabu depaan, dan semangat jugaaa! 😀

      Like

  3. Aku udah nebak-nebak, aku udah nebak, nebak, horeee! *alay kumat*
    Yang bikin aku sebel kalau baca cerita misteri ini adalah kelihaian author dalam menggiring pembacanya untuk tiba pada suatu kesimpulan sementara. Awalnya aku mau milih yang ‘itu’, eh, pas baca lagi, pindah ke yang ‘ini’, dan sampai ke bagian akhir, aku ganti lagi jadi yang ‘itu’ hahaha. Maaf ya, Kak, aku labil. Tapi itu tandanya Kak Fika sukses mengarahkan pembaca supaya ceritanya tidak terlalu mudah ketebak.

    Btw, aku ikutan sedih karena kisah tiga bersaudara itu miris sekali. Aku suka kalau sudah bawa-bawa tema persaudaraan (?) gini, tapi kayaknya ceritanya bakal jadi kompleks dan.. ah ya sudahlah, Kak, aku menunggu lanjutannya, ya :).

    Like

    1. ami? ami? gimana ami, sudah ketemukah kemungkinan pelakunya? (senyum iblis level 15) :> HAHAHAHA TAPI AMI JANGAN SEBEL SAMA AKU YAAA HAHAHAHA. sek aku sekarang malah penasaran sama “ini” dan “itu” pilihan ami wah wah xD waaaaa alhamdulillah pabila kuberhasiiil. tapi takutnya entar pas part akhir aku didemo (lah) hahahaha.

      tbh genre crime ama family (tambah friendship) itu 3 genre favoritku ahaha. dan pas nulis ini aku bener-bener yang: pokoknya ngga boleh fail. hehe. makanya kusayang banget sama plot ini miii. walopun chapternya cuma dikit (oke fika malah curhat). sip! ditunggu kelanjutannya rabu depan yaah ehe. makasi amii udah baca dan komeeen 😀

      Liked by 1 person

  4. yaelahhh padahal aku udah nebak-nebak jungkook di awal. eh di akhirnya si jungkook ngomong gitu. udah meleleh ini hati nuna dek. tak sabar nungguin next chap aja deh kak fik, abis bikin makalah puyeng terus baca ini tambah puyeng hweheheh

    Like

    1. HAHAHAHA. hayuluh jadi jadi pelakunya adalaaaah…? (minta digampar banget fikanya asli). okeeeh ditunggu hari rabu depan yaaw ehe, makasi yaaa nis udah baca dan komeeen 😀

      Like

  5. Kak, Fikaaa…
    Ini keren banget, aku bener2 deg2an bacanya. Kerasa bgt feelnya Kak, kok ya miris bgt sih hidup mereka.
    Dan yang paling bikin baper itu si anak tengah, KIM TAEHYUNG!
    karakterisasinya pas bgt lagi, berasa nonton film aku bacanya, pemilihan kata di sini mempermudah aku buat ngebayangin tiap adegannya.

    Sebenernya aku paling males nebak2 kyk gini, salah mulu soalnya wkwkwk
    aku simpen dalam hati ajalah.
    Salam kenal ya, Kaak…
    Neng^^

    Like

    1. haloo neng! hehehehe 😀
      kim tae dilaporin aja nih ah udah bikin baper anak orang hahahaha. btw btw tapi kalo ga miris entar ga seru (tipe penulis jahat). syukurlaaaah pabila karakterisasinya pas hehehe, makasih yaaah x))

      ahahaha. yosh disimpen dulu ajaah. masih ada chapter lain yang isinya clue-clue kok hehe. makasi yaa neng udah baca dan komeen, ditunggu rabu depan yaah 😀 dan salam kenal jugaaa :3

      Liked by 1 person

  6. OMO CHINA DOLL KIYOWOOOO x)))) like yang sudah dibicarakan di chatroom, gambarnya titan itu conyonyi sama kiyowo digabungin. ahahaha. xD

    ((ikutan ketawa sama kakput)) ((ketawa setan level 256)). edisi revisinya tentang si ehem cuman kutambahin dikit btw kaak, nggak banyak yang berubah hahaha. pokoke kalo dibacanya serius terus bisa nemuin benang merahnya pasti ketebak deh ahaha. da yang bikin juga masih amatiran begini xD iyah kak kudu sabar xD

    btw entar di notes chapter 3 kumau nambahin: kakput jangan diberondong pertanyaan ya gaes. awas. xD makasi yaa kakput udah baca dan komeeen. kakput semangat jugaaa dan keep writiiing ❤

    Like

  7. Kak fikaaaaa,
    ga tahu deh siapa, aku nyerah… nyerahh ((efek perut belum keisi)) yg pasti mrk sepakat melindungi si pelaku /tebakan ga mutu/

    sebenerny aku ga hapal nama anak2 bts ((selain jungkook yg kadang nongkrong di tl fb)), walaupun di lapy punya mv nya lol. tp ga apalah, aku nganut gambaran kak fik aja.
    smangat kak fik!
    aku masih belum nge-sms kakak. masih bingung mau sms jam brapa, senggangnya kakak hehehe ribet hidupnya.

    Like

    1. hayoo siapa hayo siapaaa xD lah makan dulu giiih jangan lupa makan looh.

      hafalin dong hafaliiiin. duh mereka tuh rambutnya ganti-ganti warna muluu, aku pun bingung ngasih gambaran ahaha. nonton gih mv-nyaaaa (lah malah ngomporin) xD

      yaampun cherryyyy hahaha. selama sms-nya nggak jam 3 pagi insyaa allah aku bales kok hahaha. tenang sajaa. anw makasi yaaa udah baca dan komeeen :3 ditunggu yaaah chapter 3-nya x)

      Like

  8. Halo kak Fikaa XD /sok kenal\
    Pas liat BTS langsung melek XD #fangirlmode
    Apalgi TaeMinKook-ku~~~ /alay\
    Aku suka banget sama genre misteri sama detektif2 gt, bkin pensaran ❤
    Tpi sungguh aku gak bisa nebak siapa pelakunya .-. /mereka terlalu polos untuk disalahkan\
    feel nya dpet banget, dan menurut aku tokoh Jin cocok banget jdi tim forensik hahhaha
    pokokny keren! Ditunggu next chap nya XD

    Like

    1. haloooo lucy x) heya heyaaaaa hahaha. aduh mereka mah ih maknae line kesayangan astagah xD YES! iya nih gara-gara nonton mv dope kayaknya seokjin pas banget gitu ah jadi dokter. mau dokter apa pun hehe. makasi banyak yaa lucy udah baca dan komeeen ehe. chapter 3 hari rabu yaah 😀

      Like

  9. Ini lama lama makin bikin penasaran, bikin bingung, bikin terharu, bikin pusing kepala gara2 mikirin siapa pelakunya. 3 bersaudara ini membuatku merasa… merasa… qwpeiqqopqquq, ah bingung ngejelasinnya.
    Kenapa hidup mereka miris banget:” mereka terlalu ganteng untuk hidup seperti itu:”
    Ngebayangin taehyung memar dimana2 buat ngelindungin jungkook bikin terharu sumpah.
    Pokoknya ini ff keren banget serius!!
    Suka suka sukaaaaa
    Oh iya, ini gatau kenapa aku ngerasa kok lebih fokus ke taehyung ya?’-‘
    Jangan2 taehyung … ‘-‘
    Padahal awalnya taehyung udah aku coret dari daftar dugaan tersangkaku. Tp gara2 chap ini jd harus mikir lagi’-‘
    Ditunggu kak next chapnya^^
    Fightinggg^^

    Like

    1. ngakak di bagian: mereka terlalu ganteng untuk hidup seperti itu xD gapapah, biar tambah ganteng hidupnya harus banyak cobaan (lah) (kata mutiara sesat) wkwk. hayo, hayooo, jangan-jangan taehyung ………. semoga semogaaa abis baca chapter 3 ngga galau lagi yaa ahaha. stay tune yaa hari rabu (promosi) xD
      makasi yaa rain udah baca dan komeeen hihihihi.

      Like

  10. AKU AKU AKU SUKA BAGIAN INTEROGASI HAHAHAHAHA TAPI AKU JIPER GA BERANI NEBAK DI SINI AKU BIKIN NOTE SADJA, TAPI YHES SUDAH ADA SATU NAMA.

    Kafika kuece kak aku mikir kak huhu aku merasa berguna (setdah) detail kak detaaaaailnya kusuka kumenganga hahahahw jaw drop part seqian akan menghantui tiap hari Rabu aku kudu piyeeee XD
    nuhun kafika komen yang lain anyer-panarukan size aku mahapa T^T

    Like

    1. YES! NAMANYA JANGAN GANTI YAAA SAMPE NANTI CHAPTER 4 HAHAHAHA (digeplak kakpang).

      ya ampun kakpaaang huhu makasi yaaa pabila ini deskripnya detiiil, semoga ngga bikin boring ya kakpaaang lafyaaa! ((menghantui tiap hari rabuuu)) hahahaha. gapapa kakpang gapapa bangeeeet. makasi banyak yaa udah baca dan komeeen ❤

      Like

  11. Hali kak fika! Menurut aku justru jungkook pelakunya. Gatau kenapa aku tetep keukuh bahwa dia pelakunya meskipun di akhir cerita dia bilang begitu. Haha. Pokoknya aku mau lanjut baca ya, kak: 3

    Like

  12. Halooo ka fika!
    Aku udah baca chp 1 tapi gakomen.
    Maapkan aku yg jadi silent reader tadi:3

    Gatau kenapa,aku nyasar kesini dan baca ini di jam 0.25Am. Padahal jam 3 harus sahur hikseu.. \curhat/

    Oke. AKU SUKA BANGET SAMA CARA PENULISANNYA UNCH. Dan aku masih belum tau siapa pelaku sebenarnya hikseuu..

    Fighting buat ka fika!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s