Something a Reason Knows Not

by La Princesa

But you spotted me first and flashed a smile.

.

Kim Jongin pertama kali bertemu dengannya hari Senin sebulan yang lalu, si Nona Jelita berambut jelaga sebahu. Cuaca sedang cerah hari itu, dengan awan-awan tipis yang berarakan agar langit biru tak terlihat terlalu membosankan. Tipikal cuaca ideal sebagai pembuka kisah romansa berakhir bahagia.

Tapi cerita ini bukan kisah romansa. Ini tentang Jongin dan hari ketiganya melakoni pekerjaan barunya; menjadi barista di gerai milik pamannya yang baru buka cabang. Adalah sebuah kehormatan baginya dipercaya menempati posisi bergengsi ini. Jangan salah, menjadi barista dibutuhkan dedikasi. Karena ia secara langsung berhubungan dengan konsumen dan harus bisa menjamin ekspektasi mereka melalui secangkir minuman racikannya.

Maka Jongin tak separuh-separuh menjalani pekerjaannya. Ia tak mau mengecewakan paman yang sudah mempercayainya, mengingat pengalamannya selama ini hanya membuat minuman berdasarkan preferensi personalnya. Setiap pagi, Jongin selalu berusaha mengolah biji-biji kopi terbaik agar tak terbuang sia-sia. Seulas senyum untuk para pecandu robusta juga bagian dari dedikasinya. Karena senyum dari orang asing mampu mencerahkan keseluruhan harimu, jika kau belum tahu.

Senin itu adalah pagi yang biasa bagi Jongin. Jarum pendek berlabuh di angka delapan sementara yang panjang di angka dua belas, tanda bahwa rutinitasnya segera dimulai. Senyum andalannya bertengger di sudut bibirnya, lalu merambat hingga sudut satunya. Menjadi seseorang yang melayani konsumen atas nama profesionalitas, ia harus bisa menyembunyikan emosinya sendiri. Sekalipun mood-nya sedang hancur, senyum Jongin wajib ada mendampingi performa terbaiknya.

Bel di pintu berdentang. Seseorang baru saja mendorong pintu dari luar. Suara ketukan sol sepatu yang beradu dengan lantai keramik terdengar setelahnya. Jongin segera menampilkan senyum terlatihnya.

Detik itu adalah detik dimana Jongin pertama kali bertemu dengannya.

Seorang nona jelita dengan rambut sebahu berwarna jelaga, digerai bebas hingga pesonanya menguar ke mana-mana—satu hal yang langsung ditangkap indera penglihatan Jongin saat ia mengangkat wajahnya. Pembeli pertamanya hari itu mungkin saja seorang budak kapitalis yang tak bisa memulai pagi tanpa secangkir kopi, begitu Jongin menduga. Bukan tanpa alasan, office attire yang ia kenakan menjadi landasan hipotesisnya. Hemnya yang berwarna putih dipadukan rok pensil biru navy. Stiletto berwarna senada ditugaskan untuk mengalasi kaki jenjangnya.

Wajahnya cantik, diarsir riasan bertema natural dengan polesan gincu merah anggur yang menjadi pelengkapnya. Ada aura kuat yang terpancar dari figurnya yang anggun—entah dari tatapannya yang tenang atau keseluruhan presensinya yang meneriakkan keperfeksionisan. Bisa jadi dari jinjitan di ujung bibirnya yang hanya terangkat sepersekian senti.

Saat Jongin masih duduk di bangku sekolah, tak mendramatisir jika menyimpulkan beberapa teman sekolahnya dulu dengan mudah jatuh hati pada karismanya. Mencari seorang kekasih bukan perkara rumit baginya, walau kebanyakan kisahnya hanya berakhir di label cinta monyet. Setidaknya, mengenai urusan yang satu itu, Jongin tak pernah merasa kesulitan.

Namun kasus kali ini tak sama seperti yang sudah-sudah. Dan ia sepenuhnya sadar, wanita di hadapannya ini berada di level yang jauh berbeda dari sekian sebelumnya. Itu juga kalau Jongin berani menyimpulkan perasaan gugup dan perintah berlebihan dari sistem otaknya sebagai gejala awal jatuh cinta. Terlalu cepat menyimpulkan bisa saja terjadi. Jantungnya yang berdebar kencang mungkin saja karena Jongin merasa sedikit terintimidasi.

Earth to Mister Barista?

Sebuah suara asing menemukan jalannya menuju pusat pendengaran Jongin, diwarnai intonasi riang yang terlalu kentara di setiap silabelnya. Jongin tersadar dari lamunannya guna mendapati sepasang iris jernih tengah menatapnya intens. Ada tawa jenaka yang menari di kedalaman samuderanya. Terefleksi dari jungkitan di sudut bibir bergincu yang naik lebih tinggi.

I’m sorry,” Jongin menelan kegugupannya. “Ada yang bisa kubantu?”

Hot espresso, double shot, take away, please.” Nona Jelita itu menyebutkan pesanannya tanpa ragu. Kurva bibirnya melebar manakala Jongin segera turun tangan meracik pesanannya. Ekspektasinya terpenuhi.

“Kau baru, ya, di sini? Aku baru sekali ini melihatmu.” Suara asing itu kembali membuka konversasi, Jongin meliriknya sekilas. Pilihan yang salah nyatanya, sebab setelahnya ia justru harus mati-matian menahan diri agar tak terpeleset ke fase melamun sekali lagi. Senyum si Jelita masih sama tenangnya. Hanya kegugupan yang tadi susah payah ditelan Jongin yang kembali menyerang sistem motoriknya.

“Ini minggu pertamaku bekerja di sini,” Jongin menjawab sederhana, tangannya terulur saat menyerahkan paper cup pada pemilik barunya. Senyumnya ia tawarkan. “Pesananmu, Nona. Hot espresso, double shot, take away. Kau bisa menambahkan gula di rak di ujung jika kau mau. Semuanya lima dolar, ada lagi yang bisa kubantu?”

That’s all, please.” Nona Jelita membalas. Cup kopi bertukar kepemilikan sembari si Jelita menyerahkan kertas bernominal yang tadi diminta baristanya. Ketika Jongin tak mengharapkan kalimat tersebut mempunyai lanjutan, justru suara asing tadi kembali terdengar mengusir hening di antara keduanya.

Sekaligus membuat jantung Jongin seperti diakselerasi tujuh kali lipat.

“Kurasa mulai sekarang espresoku tak butuh pemanis apa pun, kalau kau tahu maksudku,” dia berujar. Senyumnya masih utuh namun bermakna ambigu. Kini disertai sebuah kedipan di momen yang sangat pas ketika Jongin mengangkat wajahnya. Membuat pipinya dirayapi hangat yang menyenangkan.

Anyway, terima kasih banyak untuk servisnya—“ Nona Jelita mengambil jeda, menggantungkan kalimatnya sebelum berjumpa dengan titik. Pandangannya dia turunkan hingga berhenti pada name tag yang tersemat di seragam Jongin.

“—Kim Jongin-ssi.”

Empat silabel namanya dan Jongin kehilangan napasnya.

.

Words betrayed me, and my mouth turned dry.

.

Pertemuan kedua dan selanjutnya, untungnya, berjalan tak sememalukan yang pertama. Jongin adalah pihak yang paling bersyukur, mengingat intensitas mereka bertemu adalah lima hari kerja dalam satu minggu. Ia jelas tak mau merisikokan harga dirinya selalu terjun bebas akibat saraf motoriknya yang menolak bekerja sama. Setiap pagi, kadang dua kali dalam sehari jika Nona Jelita ingin asupan kafeinnya hari itu ditambah pada jam makan siang atau senja saat dia pulang kantor.

Dan tak butuh waktu lama untuk Jongin menyadari bahwa Nona Jelita adalah pengunjung tetap. Pesanannya selalu sama, double espresso tanpa pemanis apa pun. Seringnya yang diseduh jika hari masih pagi, siang atau sore menjadi lebih longgar dengan tambahan beberapa balok es. Tipikal tangguh; tak banyak wanita yang berani meneguk double espresso tanpa gula.

Jongin jelas hafal. Bahkan hanya dengan suara ketukan sol sepatunya pukul delapan setiap pagi sudah bisa menjadi tanda baginya agar segera bergegas melakoni profesinya. Ketika wangi parfum vanila milik Nona Jelita menyapa inderanya, pesanan sudah siap.

Satu cup espresso, beberapa baris kalimat basa-basi yang ditukar, ditutup dengan senyum singkat dari kedua pihak. Rutinitas pagi Jongin dari Senin hingga Jumat.

Lucunya, sampai saat ini Jongin tak tahu siapa nama si Jelita. Ia bisa saja bertanya, hal yang lumrah, kok, menuliskan nama pelanggan di paper cup mereka agar tak tertukar, terutama jika gerai sedang ramai. Tapi Jongin tak pernah melakukannya. Tentang Nona Jelita, Jongin juga ingat satu kebiasaannya yang tak dimiliki pelanggan lain.

Tak peduli seramai apa gerai saat itu, Nona Jelita tak pernah mencari kursi sebelum dia mendapatkan cangkir espresso-nya. Pun jika harus menunggu lima belas orang di depannya mendapatkan kopinya, dia lebih memilih berdiri; memperhatikan Jongin yang sedang bekerja dibanding mencari tempat duduk.

Jongin senang-senang saja, walau sama artinya dengan menutup kesempatannya untuk mengetahui nama si Jelita. Di sela-sela kegiatan menunggu, satu dua konversasi dibuka. Percakapannya seputar hal-hal basa-basi. “Bagaimana harimu, Jongin-ssi?”, “Berapa cangkir kopi yang sudah kau seduh, Jongin-ssi?” serta beberapa yang sejenis. Dan Jongin tak pernah keberatan.

Lalu pada suatu siang yang cukup terik, ketika gerai dipadati para pengunjung yang ingin memanfaatkan waktu makan siang mereka, Nona Jelita itu datang. Bukan sebuah kejutan bagi Jongin, ini bukan pertama kalinya dia berkunjung saat matahari berada di puncak kepala.

Yang berbeda adalah, kali ini dia tak sendirian.

Seorang pria datang bersamanya. Ras Kaukasoid, dengan tinggi badan di atas rata-rata orang Asia pada umumnya, surainya berwarna putih keperakan. Pria itu tampan, setidaknya mampu membuat Jongin kehilangan beberapa strip kepercayaan dirinya.

Siapa lelaki itu, Jongin mau tahu. Tapi ia juga tak mau tahu saat menyaksikan sendiri hubungan mereka terlalu spesial jika hanya digolongkan sebagai teman. Sesekuler-sekulernya budaya di tempat mereka berdomisili, seorang teman berbeda gender tak segampang itu melingkarkan lengannya di pinggang seorang wanita. Apalagi jika wanitanya tak merasa keberatan.

Mereka bertukar satu, dua candaan. Derai tawa keduanya terdengar di atas hiruk pikuk keramaian gerai hingga kedua rungu Jongin masih sanggup menangkapnya. Ada satu bagian di dirinya yang berteriak tak terima, entah kepalanya entah hatinya. Jongin juga tak tahu apa sebabnya.

Cemburu? Mungkin saja. Tapi mungkin juga bukan. Bagaimana bisa disebut cemburu jika ia sendiri belum berani menyimpulkan apakah cinta yang ia rasakan atau hanya kesenangan sesaat. Apakah masuk akal merasa cemburu pada seseorang yang bukan milikmu? Nona Jelita itu sejatinya adalah orang asing yang tak Jongin kenal, tentu dia punya kehidupan pribadi. Lantas mengapa kini Jongin merasa ingin serba tahu segala hal tentangnya? Mengapa Jongin merasa ingin selalu melindunginya dari siapa pun pria yang berani menyakitinya, termasuk lelaki yang kini tengah bersenda gurau dengannya di pojok kedai?

Di atas itu semua, mungkinkah Jongin jatuh cinta pada seseorang yang tak ia kenal? Yang bahkan namanya saja ia tak tahu? Karena semua ini terdengar salah baginya.

Maka Jongin hanya mampu menahan retak di dalam dirinya agar tak semakin membesar. Pembeli baru mulai mengantre. Atas nama prinsip profesionalitas, Jongin kembali mengulum senyumnya yang biasa.

.

You walked towards me and suddenly the world vanished.

.

Pada hari Senin ketika mereka bersua kembali, Jongin tak mampu menahan rasa penasarannya. Mulutnya seperti punya kepala sendiri, asal saja bertanya tanpa menunggu persetujuan master-nya. Salahkan naluri kuriositas (atau cemburu?) seorang Jongin yang kepalang meletup-letup.

“Kau tak bersama pacarmu?” Mulutnya benar-benar bekerja tanpa filter. Ketika ia sadar apa yang baru saja ia vokalkan, sudah terlalu terlambat untuk menariknya kembali. Alis lawan bicaranya berjingkat hingga menyentuh deretan poninya, tatapannya menyipit. Dan Jongin merasakan aura intimidasi yang perlahan lenyap seiring jalinan keakraban mereka yang kian erat kini datang kembali.

“Ya?” Nona Jelita bertanya balik.

“Pria asing yang datang kemari bersamamu Jumat lalu.” Jongin terlanjur basah maka ia menyelam sekalian. Ada gelenyar aneh saat ia mengucapkannya, merambat cepat seperti bisa ular yang mampu membunuhnya dalam hitungan menit. Ia berusaha keras mengabaikannya.

Di luar perkiraannya, si Jelita justru tertawa, respons yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang ditebak Jongin. Kedua alisnya kembali ke posisinya semula, kebingungannya terjawab. Kini ganti dimiliki oleh si Barista.

“Mark, maksudmu?” Nona Jelita bertanya lagi. Jongin tak tahu harus mengangguk atau menggeleng, maka ia diam saja, menunggu lawan bicaranya menyelesaikan penjelasannya. “Dia kakak tiriku.”

Ada kehampaan sangat besar yang dirasakan Jongin—bukan dalam makna negatif. Hampa itu dulunya ditempati oleh rasa ketakutan tak beralasan bahwa Nona Jelita akan mengiyakan pertanyaannya. Ketakutan yang dilandasi perasaan cemburu yang masih enggan diakui Jongin. Ketakutan yang tak seharusnya ia rasakan.

Ketika ia tahu bahwa pria asing itu—yang bernama Mark—bukan seseorang yang selama ini ia pikirkan, dusta jika Jongin bilang ia tak merasa lega. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk memupuk perasaannya sedikit lebih lama.

“Tapi kau tetap tak tahu kehidupan pribadinya. Mark bisa jadi bukan kekasihnya, tapi pria lain, apa kau tahu?” Jongin mini di pundak kanannya yang berbisik. Kalimatnya pedas, tapi sebenarnya ditujukan sebagai tindakan preventif agar tuannya tak terlalu sakit saat angannya yang membumbung terlalu tinggi ke angkasa jatuh sewaktu-waktu.

Jongin tak butuh bantuan ‘asistennya’ di pundak kiri untuk sepenuhnya mengabaikan bisikan si Kanan. Benar memang jika cinta mampu menumpulkan logika.

“Ayahku meninggal saat aku masih berumur tiga tahun, lalu ibuku menikah lagi seorang Jerman,” vokal merdu Nona Jelita kembali tertangkap rungunya. “Mark adalah anak ayah tiriku dari pernikahannya yang sebelumnya. Setelah aku menetap lagi di sini, kami tak pernah bertemu. Kemarin adalah pertemuan pertama kami setelah dua tahun, bulan depan ia akan menikah. Oh, dan pacarnya jauh lebih tampan dari dia, omong-omong.”

Si Jelita menutup kisahnya dengan senyuman simpul, Jongin turut serta. Ia hendak melontarkan sebaris kalimat basa-basi dan selamat, namun lawan bicaranya telanjur menginterupsi.

“Aku tak suka membicarakan kehidupan pribadiku, terutama keluargaku, pada orang lain.” Dia tersenyum, manis. Gelenyar aneh di dalam tubuh Jongin masih bertahan, tapi kini tak lagi terasa seperti bisa ular mematikan. Digantikan oleh sensasi-sensasi yang jauh lebih memuaskan dan manusiawi. “But everything has its own exception, I think.

Senyuman Jongin sepanjang hari itu tak dibuat-buat.

.

Then all my thoughts crumbled …

.

Seminggu setelahnya, si Jelita tak pernah tampak di gerai.

Jangan tanyakan bagaimana keadaan Jongin, kau pasti sudah bisa mengira. Senyum artifisial atas nama profesionalitas, susah berkonsenterasi, desahan napas yang dibuang kelewat keras, serta tatapan yang terus melayang ke arah pintu gerai, menanti seorang wanita bersurai jelaga sebahu memasukinya dan memesan secangkir double espresso seperti biasanya.

Seperti yang sudah-sudah.

Kehampaan yang dulu pernah sirna saat Jongin mengetahui Mark bukan pacar Nona Jelita kini bertransformasi menjadi lubang hitam supermasif. Sementara Jongin mini di pundak kanan bersidekap dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Terkadang mengoceh tentang peringatannya tempo hari lalu (yang membuat Jongin sebal), lebih sering melempar satu, dua kalimat motivasi untuk menghidupkan semangat tuannya, seperti yang biasa Jongin dengar di televisi setiap akhir minggu (yang membuat Jongin semakin sebal).

Tapi tak ada yang namanya kebetulan ketika masih ada Tuhan yang mengatur. Karena sejatinya, kebetulan adalah cara Tuhan untuk menyembunyikan campur tangan-Nya.

Jongin membuktikannya.

Ia sudah hendak melepas apronnya dan meminta pamannya memberinya kompensasi pulang satu jam lebih dulu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang penat ketika bel pintu gerai justru berdentang. Jongin mengangkat wajahnya, satu pelanggan lebih lama tak ada salahnya.

Pelanggan itu adalah seseorang yang ia tunggu.

“Halo, Jongin-ssi.”

Dia tak mengenakan setelan kantornya yang biasa, stiletto-nya juga ia tanggalkan. Alih-alih berkostum formal, dia membalut dirinya dengan kaus putih polos dan celana denim yang sobek di bagian lutut, sepatu kanvas yang mengganti stiletto tujuh sentinya. Rambut jelaga sebahunya ia ikat asal-asalan, dengan beberapa anak-anak rambut yang terlepas membingkai wajah tirusnya.

Muda, adalah impresi pertama Jongin. Dia terlihat jauh, jauh lebih muda. Dan lebih tanpa beban.

“Lama tak bertemu, ya?”

Dia mengulum senyum, kali ini memilih warna cokelat pucat untuk memoles bibirnya. Senyumnya masih semanis yang Jongin ingat, tapi tak semengintimidasi senyumnya yang versi pekerja kantoran. Jongin menyukai keduanya.

Double espresso seperti biasa?” tanya Jongin, terdengar sedikit dingin dibanding yang ia maksudkan. Namun sungguh … hanya Tuhan yang tahu betapa senangnya ia bisa bertemu Nona Jelita ini sekali lagi.

Dan Jongin berjanji pada dirinya, ia harus bisa mendapatkan nama si Jelita ini bagaimanapun caranya.

Well, kurasa bukan ide yang bagus, mengingat dokterku sudah memberiku ultimatum agar lebih peduli pada gastritisku.” Tawanya terdengar malu, menginterupsi apa pun kalimat yang menjadi lanjutan penjelasannya. Jongin menunggunya dengan sabar. Lagi pula ia juga tak mau komplain. Ya Tuhan, Jongin rindu sekali derai tawa ini.

“Gastritisku sudah berada di level mengkhawatirkan, dan aku takut aku sudah tak diizinkan lagi minum kopi. Espreso yang selama ini kuminum justru memperparah sakit di lambungku. Tapi mau bagaimana, aku telanjur kecanduan.

“Tapi bukan pada kafeinnya … namun pada momen-momen yang kuhabiskan dengan peraciknya sembari menunggu espresoku siap.”

Jongin pikir ia sudah kebal dengan segala hal tentang si Jelita. Lima puluh tingkat warna merah yang menghiasi pipinya justru membuktikan sebaliknya. Dan Nona Jelita itu mengerti, sangat … sangat mengerti. Senyum ambigu yang dilihat Jongin saat pertemuan pertama mereka kini hadir kembali.

“Kutunggu sampai shift-mu berakhir, lalu aku ingin menawarimu untuk menghabiskan sore dengan berjalan-jalan denganku. Apa kau bersedia?”

Dipikir-pikir lagi, senyum Nona Jelita tak pernah bermakna ambigu. Maknanya satu, dan Jongin kini sangat … sangat mengerti.

Lalu ia menerjemahkannya melalui anggukan kepalanya. “Tentu.”

Si Nona Jelita tertawa lagi, merdu. Kupu-kupu di abdomen Jongin yang sempat mati seminggu ini kini bangkit lagi. Kepakan sayapnya mampu mencipta badai, tapi Jongin tak mengeluh.

“Oh, dan namaku adalah ….”

.

… at the touch of your lips.

.

-end

.

  1. meet her.
Advertisements

2 thoughts on “Something a Reason Knows Not

  1. KAKPUUUUUT WAAAAAA!!!!!! (insert stiker ulet uget-uget yang di line). sek aku kan tadi ngebuka link yang meet her ya kak, terus masa aku falling in love sama blus putihnya (salah fokus, fika. salah fokus). okeh lanjut.

    kakput kenapa sih kalo bikin cerita yang latarnya gerai kopi mau yang genre angst atau lucu begini selalu berhasil kaaaak huhuhu. karakter jonginnya kerasa. karakter nona jelitanya tipikal buatan kakput huhuhu purefeeecccttttoooo :’> (sek aku masih guling-guling bayangin scene terakhir) astagaaaah manisnya pas banget, terus di nona-nya berani but jatuhnya classy omg omg omgggggg :”

    yeokshi kakpuuuut. maafkan komenku pendek dan geje isinya cuma fangirlingan fikaaa huhu. aku sukaaaa sampe sejuta kali :’)) semangat dan keep writing ya kaaak! ♡♡♡

    Like

  2. Halo, kak put! aku eca hehehe (semoga masih inget)
    Ceritanya bagus sekali kak :’) iya, sebagus itu emang…. Aku suka banget caranya kak put cerita dari jongin sama nona jelita ini ketemu, terus sampai akhirnya mereka sadar kalo mereka saling mikirin satu sama lain, soalnya… nggak terkesan terburu-buru hehehe apalagi didukung sama karakternya si nona jelita yang sepertinya kece badai sekali :’)
    Teruuuusss, aku juga suka cara kak put ngasih ending (terutama kalimat terakhir), endingnya berhasil ngebungkus fic ini jadi tambah berkesan sekali 😀
    Asli sih kaaak, ini ficnya sederhana tapi mewah.
    Aku sukaaaaaaaaa~~~~~
    Nice one, kak put!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s