[Writing Prompt] The Night Was (Not) Wrong

tumblr_n2m3gbLoTu1qk69bzo1_500

by Angela Ranee

free spirit

.

“A little rebellion is good now and then.”

-Thomas Jefferson

Alex tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau menyesal telah mengenal gadis bernama Samantha itu. Di satu sisi, ia senang memiliki teman seperti Samantha. Berandalan yang tidak punya rasa takut, menyukai tantangan, dan bisa dibilang pandai. Namun di sisi lain, sifat tidak kenal takut milik Samantha seringkali membuat Alex sakit kepala. Bagaimanapun Samantha itu perempuan, dan sebagai laki-laki Alex memiliki insting naluriah untuk selalu berusaha melindungi dan menjaga Samantha. Tentu saja ia tidak mau hal buruk terjadi pada gadis itu.

Malam ini adalah malam pertama dalam liburan musim semi. Seharusnya Alex bisa menghabiskannya dengan duduk manis di atas kasur yang empuk, bersama sekantong keripik tortilla, serta laptop yang menyala dan menayangkan beberapa film yang baru saja ia unduh dari internet. Seharusnya. Tetapi Samantha menyeretnya keluar dari kamarnya yang hangat, dan kini Alex berada dalam sebuah situasi yang tidak pernah dirinya bayangkan dan inginkan sebelumnya.

“Sam, ini gila. Kamu gila. Dan aku tidak pernah mau terlibat dalam setiap kegilaan yang kamu lakukan,” desis Alex sembari bersedekap.

“Ayolah, kita ini masih muda. Jangan serius-serius amat. Sekali-kali gila itu wajar,” jawab Samantha cuek.

“Ya, tapi kegilaan yang kamu lakukan itu tidak sekali-kali, Sam,” sahut Alex. “You’re literally crazy 24/7 and don’t you know how much I worry about it?

“Kamu tidak perlu khawatir,” decak Samantha. “I’m a big girl, okay? I’m twenty already and I know the risk of every single thing I did.

But I’m your friend and I’m a guy. It’s a normal thing for me worrying about you.

Are you being sexist right now?

I’m not being sexist, Brat!” Alex nyaris saja menendang bokong Samantha saking kesalnya. Gadis itu hanya tertawa pelan, tak berniat untuk menghentikan apa yang tengah ia lakukan selama tiga puluh menit terakhir.

“Sam, kalau sampai kita tepergok, kamu bertanggungjawab sepenuhnya,” dengus Alex.

Uh-uh, Mr. Oh-So-Nice-Guy.

Pemuda berambut cokelat keemasan itu menghela napas lelah. Ia dan Samantha adalah dua sosok yang berbeda. Alex, tipikal laki-laki pendiam, kalem, dan bijaksana. Ia akan menghabiskan banyak waktu untuk berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, sesederhana apa pun itu. Sedangkan Samantha, gadis nekat, cenderung ceroboh, dan berjiwa bebas. Apa yang ingin ia lakukan, saat itu pula terjadilah. Bila diibaratkan air, Alex bagaikan air dalam sebuah danau yang cenderung tenang, sementara Samantha seperti Samudera Pasifik yang berombak besar dan tidak pernah berhenti bergejolak.

All done!” Samantha tiba-tiba menepuk kedua tangannya dan memekik puas. “Lihat, Lex! Bagus, tidak?”

Alex menatap datar ‘hasil karya’ Samantha. Omong-omong, yang dimaksud ‘hasil karya’ adalah grafiti yang dibuat Samantha di atas dinding kantor rektor universitas tempat keduanya menuntut ilmu.

“Bagus, seandainya saja karyamu ini adalah sesuatu yang patut dipajang di museum seni, bukan sebuah bentuk pemberontakan terhadap rektor otoriter,” komentar Alex dengan penuh sarkasme. Pemuda itu mengalihkan pandangan kepada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, kemudian menatap Samantha yang masih tersenyum lebar.

“Ayo, Sam. Ini sudah hampir jam satu,” ucap Alex. “Aku mau pulang, oke? Lagipula aku tidak betah berlama-lama di si-“

“HEI, SIAPA DI SANA?!”

“—sialan,” Alex mendesiskan sumpah serapah sementara Sam buru-buru membereskan kaleng-kaleng spray paint miliknya sebelum keduanya berlari kalang kabut. Alex melihat sinar lampu senter yang tampak kacau, serta langkah-langkah berat di belakang mereka, kemungkinan milik sepasang kaki satpam penjaga universitas.

Tidak, tidak. Alex tidak mau terlibat dalam masalah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya saat mendapat surat peringatan dari universitas karena putra semata wayang yang selama ini ia banggakan membuat keonaran tolol bersama teman perempuannya yang tidak waras.

“BERHENTI BERLARI! AKU TAHU APA YANG KALIAN LAKUKAN BARUSAN!” teriak suara itu, terdengar serak dan berbahaya. Alex tidak biasa berlari dan ini benar-benar membuatnya kepayahan, jadi ia menurut saja saat Samantha menarik tangannya dan berusaha mempercepat langkah. Keduanya berlari melewati pintu gerbang masuk kampus universitas yang hanya terbuka sedikit, lantas berlari ke tempat di mana Alex memarkir sedan hitamnya bersama sisa sumpah serapah yang masih sempat lolos dari bibir mereka.

Wow, I wasn’t expecting it to happen,” napas Samantha terengah-engah begitu mereka masuk ke dalam mobil. Ia melirik Alex yang masih mengatur napas. “Hei, maaf aku tidak tahu kalau kita bakal—“

This is crazy!” pekik Alex, mengejutkan Samantha. Namun yang membuat gadis itu jauh lebih terkejut adalah ketika pemuda kurus itu tergelak alih-alih memarahi Samantha.

“Alex, kamu sehat?” Samantha tidak bisa menyembunyikan kerut heran di dahinya. Alex masih saja tersenyum lebar bahkan setelah ia menginjak pedal gas dan mulai mengemudikan mobilnya.

Alex sendiri tidak tahu. Seharusnya ia marah kepada Samantha, seharusnya ia mengomeli gadis itu habis-habisan, dan seharusnya ia merasa bersalah karena telah menjadi anak nakal malam ini. Ia baru saja mempertaruhkan harga diri dan reputasinya. Tetapi Alex tidak mengerti mengapa dirinya justru merasa… bebas?

You’re supposed to get mad at me,” gumam Samantha.

“Aku tidak tahu, Sam,” pemuda itu mengangkat bahu. “Suddenly I feel so alive and free.

Oh, good guy gone bad, Alexander?” Samantha menyeringai iseng.

“Tidak, tentu saja. Aku tidak berbakat jadi anak nakal,” jawab Alexander. “Mungkin kamu benar. Sekali-kali gila itu wajar. We’re young and we’re supposed to be insane.

“Ya, terserah kamu saja,” Samantha geleng-geleng kepala sembari mengeluarkan sebatang sigaret dan menyulutnya, membuat Alex berdecak kesal.

How many times I have to tell you to not smoking beside me?” gerutu Alex. “You’re contaminating the fresh air!

Sorry, can’t help it,” jawab Samantha tanpa rasa bersalah, lantas membuka kaca jendela lebar-lebar, memberi izin penuh bagi angin malam musim semi yang sejuk menerpa wajah dan memainkan helai rambutnya. “To be honest, you look better when you’re doing crazy things.

Oh, ya?” Alex mengangkat satu alis. “Kenapa?”

“Entahlah, kamu terlihat jauh lebih hidup,” jawab Samantha.

“Ya, tapi ini pertama dan terakhir bagiku melakukan tindakan gila,” ucap Alex. “Next time do it by yourself. I don’t want to risk my reputation.

“Iya, iya, dasar bocah culun,” ledek Samantha, mengisap lintingan tembakau di antara kedua belah bibirnya dan mengembuskannya lagi dalam bentuk asap putih bernikotin. “Hey, let’s drive to the countryside.

“Apa? Buat apa?!” protes Alex. “Tidak. Cukup untuk malam ini, Sam. Kita pulang.”

You never do stargazing before, don’t you?” tanya Samantha. “Come on, it’ll be fun! Tidak akan terjadi masalah, Lex! Satu-satunya masalah hanyalah di sana bakal banyak nyamuk.”

“Tapi itu lumayan jauh, tahu!” sungut Alex. “Kamu mau dorong mobilku kalau tiba-tiba kita kehabisan bensin di tengah jalan?”

“Ayolah, sekali saja!” paksa Samantha. “I need an aesthetic place to drink my beer.

Bahu Alex merosot lelah. “You’re lucky I love you,” gumamnya ketus, namun tetap saja membuat sepasang mata hazel milik Samantha berbinar senang.

I love you too, Buddy!” jawab gadis itu sembari meninju pelan lengan Alex yang diam-diam mengulum senyum.

Alex tidak lagi merasa bersalah menghabiskan malam musim seminya kali ini dengan menjadi anak berandalan (atau tidaknya setengah berandalan). Ia melirik sekilas Samantha yang seenak jidat membuang puntung rokoknya di jalanan yang sudah terlampau sepi, kemudian geleng-geleng kepala. Samantha benar-benar tidak waras. Dan Alex merasa beruntung memiliki teman seperti Samantha. Berkat kegilaannya Alex menjadi punya kesempatan untuk menjelajahi dunia yang selama ini tidak pernah ia lirik lantaran terlalu takut; dunia milik Samantha. Alex jadi mempunyai sebuah cerita dari masa mudanya yang pastinya akan menarik untuk dikisahkan ulang di depan anak-anaknya suatu hari nanti.

Hey, Brat,” panggil Alex yang disahut Samantha dengan gumaman. Kata-kata Alex selanjutnya sama sekali tidak diduga oleh Samantha karena-

Mind to share the beer later?

.

.

-fin

Author’s notes :

Hi! This is the second time I participated in Writing Prompt ^^ Hope you like it!

Sebenarnya terinspirasi dari karakter Margo dan Quentin dalam film Paper Towns, hehehe… Also, this turns a little longer than I expected.

Thanks before buat yang sudah menyempatkan baca tulisan yang masih kelas amatiran ini. Sangat terbuka akan kritik dan saran.

Advertisements

6 thoughts on “[Writing Prompt] The Night Was (Not) Wrong

  1. “Sekali-kali gila itu wajar. We’re young and we’re supposed to be insane.”
    >> ini bener banget jika dipikir2. sekarang udah mau nyentuh kepala 2 baru kerasa umur belasan kenapa gak manfaatin waktu bertingkah jadi berandalan barang setengah hari =.=

    sukaa ceritanya, mengingatkanku sama temen SMAku cewek yang kelakuannya bisa dibilang lebih gokil ketimbang cowok di kelasku saat itu. hahaha..
    keep writing angelaranee 😀

    Like

    1. Hai, Kak Dhila! This is Angela Ranee!
      Sebenernya kelakuan Sam ini lebih kayak kelakuan anak SMA ketimbang anak kuliahan tapi karena di prompt sebelumnya aku udah nulis tentang anak SMA aku sengaja bikin jadi anak kuliahan. And actually I was pretty sure this would be failed anyway karena penulisnya aja baru kelas 1 SMA udah sok tau nulis cerita dengan background anak kuliah XD
      Last, thanks for appreciating my story by reading and commenting, Kak ^^

      Liked by 1 person

  2. Ini Keren!!!!!
    Ya aku sempat mungkin seperti Alex dlu ketika kuliah dan skrg aku sedikit menyesal karena tidak banyak kegilaan yang kulakukan when I was a student. Hahaha…
    Is it too late to be insane in 22? #oops jadi curcol#
    Tapi serius deh ini aku suka banget yah, diksinua gak terlalu berat tapi tetap menyuguhkan bacaan yang berkelas.
    Btw, I am Akiko 🙂
    Good luck!

    Like

    1. Halo, Kak Akiko… Angela Ranee’s here!
      Nooo it’s never to late to be insane, Kak! Age doesn’t matter when it comes to insanity LOL
      Well, thanks udah baca dan komen ya, Kak 😀

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s