[Writing Prompt] Belanja Bulanan

belanja-bulanan

Bleed (someone) dry

by Kryzelnut

“Mama barusan ngirim apa buat Aurel?”

.

“O, voucher-nya udah sampai ya?”

“Belum aku buka, Ma. Ini paketnya juga baru datang.” Aku mengudarakan suara diiringi kernyitan di dahi karena pertanyaanku malah dibalas dengan pertanyaan yang makin aneh.

“Oke deh. Kamu buka dulu aja, jangan boros-boros, ya.”

Makasih ya, Ma—”

Tut. Tut. Tut.

Kebiasaan. Belum selesai berbicara, sambungan sudah diputus secara sepihak. Akhirnya aku hanya menghela napas panjang dan memindah pusat perhatianku ke  bungkusan yang tersimpan rapi di atas meja ruang tamu di apartemenku.

Tanganku melepas perekat kantong berlogo salah satu ekspedisi nusantara dengan perlahan, kemudian mengeluarkan amplop cokelat dari dalamnya. Kata ibuku, isi amplop ini adalah voucher—mungkin voucher bioskop, atau department store, atau supermarket, atau malah pulsa? Yang jelas, kata voucher terdengar sangat menyenangkan di telingaku—karena lembaran itu pasti bisa membantuku meminimalkan pengeluaran bulan ini. Maklumlah nasib mahasiswi perantau.

Aku menyempatkan diri untuk meraba isi amplop itu dari sisi luarnya. Terasa kotak-kotak plastik yang cukup tebal. Kemungkinan besar, kalau bukan voucher supermarket, ya pulsa fisik. Lebih lagi, aku bisa merasakan tiga atau lebih benda itu. Tanpa bisa menahan diri lebih lama lagi, aku segera merobek bagian atasnya dan membalik amplop itu guna mengeluarkan sejenis kartu yang ada di dalamnya.

Lima voucher supermarket ternama di Indonesia. Dengan nominal satuannya seratus ribu.

Diberkatilah Mama

—eh bukannya kemarin aku baru saja belanja bulanan, ya?

.

.

“Rel, sejak kapan kamu nangis berlian?”

Aku melirik Diana yang berjalan di sebelah kananku. “Memang kenapa, Dya?”

Diana memang aneh. Alih-alih minta dipanggil dengan suku pertama atau terakhirnya, ia malah minta dipanggil ‘Dya’. Biar beda, katanya tempo lalu. “Lihat dong isi trolimu! Nyaris penuh—hell yeah.”

Mendengar ucapannya membuatku mau tak mau menggeser manik kembarku ke troli yang aku dorong. Iya sih, biasanya aku hanya belanja barang-barang yang aku butuhkan selama satu bulan ke depan—kali ini aku mengambil barang-barang yang aku inginkan sampai dua bulan ke depan. Namanya juga pakai voucher alias gratis. No biggie.

“Ini namanya efektif dan efisien, Non. Bulan depan kita udah UTS, biar aku nggak usah belanja-belanja lagi,” jelasku asal sambil mencomot sepuluh bungkus mi instan dan mencampakkannya ke kereta belanja.

Fine untuk yang itu. Tapi bukannya kamu biasa belanja di supermarket yang sedia barang-barang grosir itu?”

“Untuk kasus kemarin, ‘kan biar murah—”

Diana menaik-turunkan alisnya menyebalkan. “Terus untuk yang kasus ini biar mahal?”

O iya, aku lupa memberi tahu Diana perihal voucher kiriman ibuku. Dengan tampang pongah, aku menarik keluar lima voucher dari kantung depan tasku dan membawanya lima senti di depan indera penglihatan Diana. “Pakai voucher dong, honey-bunny-sweety-ku. Kalau kamu mau belanja makanan juga boleh, tapi jangan banyak-banyak …,”

Diana sudah melesat ke rak-rak bagian camilan.

“ … ya.”

Aku mengangkat bahuku tak acuh, dan segera menyelesaikan masalah belanja bulanan. Yang penting uang belanjaku dua bulan ini aman—dan oh my God, tunggu aku, dress terbaru keluaran J.Rep.

.

.

Menyelesaikan belanja dengan dua troli—aku satu setengah, dan Diana setengahnya lagi—kami membawa kereta belanja itu ke kasir. Antrean yang panjang membuat Diana lapar—yah, sebenarnya Diana selalu lapar di segala situasi, sih—sehingga ia menyikat habis dua bungkus keripik kentang tanpa membagiku.

Sial, padahal, ‘kan aku yang membayarinya.

“Kalau lapar ambil satu lagi aja, Rel,” ujarnya dengan urat malu yang sudah tiada—mungkin ikut tertelan.

“Aku nggak serakus kamu, maaf. Lain kali ganti kamu yang traktir ya!”

Diana memelototiku dengan mulut masih aktif mengunyah. “Hei, ini ‘kan juga cuma pakai voucher! Dasar perhitungan.”

Makasih lho, pujiannya—”

“Selamat siang, bisa saya mulai transaksinya?”

Sapaan bernada formal dari petugas kasir menyela ucapan sarkastikku. Aku memahat senyuman di parasku guna membalasnya. Alat gerak atasku bergerak, mengeluarkan satu demi satu barang-barang untuk diletakkan di meja berjalan. Ringisan keluar dari pihakku saat menyadari bahwa belanjaanku kali ini banyak banget. Seolah aku sudah tidak belanja selama tiga bulan saja.

“Totalnya 586 ribu, Nona. Mau bayar pakai cash atau kartu?”

Aku menyodorkan lima voucher ke arah petugas wanita itu. “Sisanya pakai cash saja.”

“Bukan pakai cash-ku ‘kan?”

Lirikan ganas kulempar ke sisi kiriku tempat Diana berdiri. “Nggak, kali ini aku yang traktir. Ingat ya kamu utang satu traktiran!”

Belah bibir Diana terbuka untuk mengeluarkan protes, tetapi suara halus dari penjaga kasir itu sanggup membungkamnya—sekaligus membungkamku.

“Maaf, Nona. Voucher ini sudah expired empat hari yang lalu. Jadi tidak bisa digunakan lagi—”

Oh. My. God.

“Jadi Nona mau membayar pakai cash atau kartu?”

Arah mataku jatuh pada dompetku dengan pandangan yang menyiratkan berbagai rasa—sedih, dongkol, sekaligus tidak rela. Aku baru sadar bahwa kartu ATM-ku tertinggal di apartemen, jadi yang bisa kulakukan hanya merelakan sebagian besar uangku berpindah tangan. “Cash saja.”

Transaksi diselesaikan dengan cepat, dan struk pembayaran yang panjangnya amit-amit sudah bersarang di tanganku. Aku mengunci penglihatanku kepada struk belanja—berlagak meneliti padahal hati berharap struk itu memendek bila kupelototi. Pada akhirnya, aku mendorong troli yang berisi enam plastik raksasa ke lift terdekat sebelum membalik badan dan menatap deretan kasir dengan nanar.

Selamat tinggal, uangku.

Selamat tinggal, dress baru.

“Aku nggak mau ikut-ikut bayar ya, Rel, jadi jangan tagih aku. Lain kali aja aku traktir makan di pinggir jalan, oke?”

Dan selamat tinggal juga, Diana.

“Hei, hei, jangan tinggal aku Rel!”

the end

Advertisements

6 thoughts on “[Writing Prompt] Belanja Bulanan

  1. Pengen nangis bacanya..Alamak, si Aurel gengsi amat siih nolak transaksi. Kalau aku jadi Aurel, aku bakal batalin transaksi dan tinggalin trolinya di kasir, trus gak balik2 ke mall itu sampai 6 bukan ke depan biar gak ada yg ingat wajahku. LoL.
    Itu siih dilema voucher. Sekalinya aku dapat pasti expired. Atau kalau gak expired, syaratnya susaah, pake harus belanja minimal lima ratus ribu lah, sekalian aja suruh daki gunung trus selfie dengan harimau =_=

    Trimakasiih ceritanya Kryzelnut! Keren bisa kepikiran dari prompt itu dibikin alur cerita mngenai ‘menguras (kantong) darah orang hingga kering’ xD
    Keep writing!

    Like

    1. Halooo, btw aku manggilnya Kak atau bukan ;AAA; Gaby 99L di sini HEHEHE. Aku dulu juga pernah begitu, dikasih voucher saldo 500k, tapi bentuk kartu (bisa sejenis isi ulang gitu). Udah belanjanya banyak, ternyata saldo vouchernya tinggal 100k WQWQ jadinya hilang sudah uangku :’)))

      Makasih juga udah sempetin baca dan komentar, keep writing tho! ❤

      Like

  2. halo, kryzelnut! salam kenal!

    hahahahaha ini menggelitik sekali. tentang voucher dan kebiasaan orang buat berfoya-foya kalo ada uang….. eh, taunya malah expired ya. aku suka banget sama ide yang kamu bawa, kryz. apalagi ditambah gaya tulisan kamu yang santai dan enak buat dibaca. great work! semangat terus yaa! keep writing!

    Like

    1. Halo, Kak Evinnn! Aku sampai mampir ke page The Writers dulu supaya nggak salah :))) anywayyy, panggil aku Gaby aja, aku setahun dibawah Kak Evin. X)

      Sebenernya ini setengah pengalaman pribadi, sih, gara-gara pernah pakai voucher terus belanjanya ngamuk, eh tahu-tahu vouchernya yang model isi ulang udah tinggal dikit banget :’))) emalah jadi curhat. Maapkeun aku Kak. XD

      Hohoho, aku sebenernya was-was banget, karena kebiasaan menulis santai gini, beberapa bahasa nggak baku ikut-ikutan nyantol huhu. Tetap semangat juga, Kak Evin!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s