[Writing Prompt] Imaji

imaji

by Yukiharu_nff

Kontradiksi

.

Ia punya ciri khas rambut yang selalu diikat kuncir kuda dengan pita kupu-kupu warna hijau toska. Selalu jalan menunduk, hingga bukan hal yang aneh ketika gadis itu berkali-kali menabrak benda-benda yang ada di sekitarnya. Dia, gadis biasa yang entah mengapa selalu membuatku terpesona tiap kali menatapnya.

Namanya Lirin Narulita, nama yang cantik nan anggun, bukan? Aku biasa memanggilnya Naru—ah, dia sendiri yang memintanya, omong-omong.

Gadis yang jika berdiri tingginya hanya sebatas leherku, iya, dia memang tidak tinggi. Dia memiliki pipi tembam serta mata bulat dengan iris hitam pekat. Percayalah, saat melihat Naru tersenyum kalian juga akan ikut tersenyum, betapa menggemaskannya gadis itu. Sekadar info tambahan, Naru memiliki sepasang gigi kelinci serta sebuah lesung pipi di pipi kanan. Sehingga ketika ia tersenyum akan membuat gadis itu terlihat manis sekaligus imut pada waktu bersamaan.

Jujur saja, semua hal yang ada pada dirinya membuatku semakin suka.

Acap kali pulang larut malam sendirian. Tunggu, tunggu, jangan berpikir macam-macam dulu, okey? Karena sebenarnya dia tidak nakal, kok. Sungguh.

Hobi bermain basket—biar pun pendek, dia sangat pandai dalam olahraga yang satu ini—serta membaca bukulah yang menjadi penyebab ia kerap menyambangi rumah ketika langit mulai gelap.

Naru ini semacam makhluk nokturnal—menurutku. Bukan tanpa alasan aku melabelinya seperti itu. Karena dia selalu aktif di malam hari, gadis itu akan menceritakan apa pun, mulai dari aktvitasnya seharian penuh serta semua yang ia rasakan saat itu, padaku. Tak jarang kami tergelak bersama saat cerita lucunya menyapa rungu.

Kadang tawa itu akan berganti senyum getir serta raut sendu, ketika ia menceritakan hari-harinya yang biru. Dan aku selalu berharap, aku bukan salah satu penyebab warna itu menghiasi harinya. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa kulakukan selain meminta maaf padanya karena eksistensiku yang—mungkin—mengganggu serta hanya bisa diam tergugu kala gadis itu membutuhkan sesuatu; saran misalnya.

“Maaf.”

“Untuk apa?” ia bertanya dengan kening berkerut.

“Karena tidak bisa memberikan solusi atas masalahmu.”

Tersenyum, ia kemudian menyentuh pundakku. “Jadi pendengar yang baik saja sudah lebih dari cukup bagiku. Karena terkadang, kita hanya butuh untuk didengarkan.”

***

Aktif di malam hari membuat Naru sering tertidur di kelas kala kegiatan belajar-mengajar tengah berlangsung. Terlebih jika materi tentang bahasa—apa pun itu—yang menjadi materi pembelajaran. Baru lima belas menit dimulai, Naru akan langsung pergi ke alam mimpi. Membiarkanku sendiri di sini. Memandangi kontur wajahnya sepuas hati.

Gadis itu tidak pernah jera walaupun harus membersihkan seluruh toilet wanita sendirian, atau berlari memutari lapangan di sore hari sebanyak lima kali—akibat kebiasaan tidur di dalam kelas.

“Aku senang melakukannya, toh tidak terlalu buruk juga.”

Naru menggulung lengan seragamnya hingga siku, lantas dengan sigap mengambil berbagai alat kebersihan yang ia butuhkan. Mulai dari ember, sapu, lap pel, cairan pembersih lantai, dan kawan-kawan lainnya. Hal negatif lain yang bersemayam dalam dirinya—selain suka tidur di kelas—adalah keras kepala.

Sudah berulang kali aku menyuruhnya untuk menghentikan kebiasaan buruk itu, tapi Naru selalu saja membantah dengan—

 “Lagipula setiap kejadian pasti mengandung hikmah di dalamnya, anggap saja aku sedang beramal, hehe …”

–alasan keagamaan seperti itu.

Tadinya, kupikir kalimatnya sudah benar-benar selesai. Ternyata belum, sekarang ia menghadap ke arahku. Menghela napas sejenak lantas mengucapkan rangkaian kata yang sukses membuatku terpana hingga menganga.

“Tahu tidak apa hikmah lainnya? Hikmah lainnya, dengan begini aku bisa leluasa berbincang denganmu sesuka hati.” Wajahnya terlihat sumringah, sebahagia itukah dia? Kalau sudah begini, aku hanya bisa mengangkat kedua tangan.

“Baiklah, aku menyerah.”

***

Tidak seperti biasanya, kali ini Naru terlihat tengah kebingungan. Ekspresinya membuatku tak tahan untuk bertanya.

“Kenapa?”

Menghentikan langkah, gadis itu lantas melihat ke arahku sejenak, kemudian kembali menatap aspal hitam yang kami pijak. Kami baru saja berbelanja dari minimarket dekat rumah, omong-omong.

“Kontradiksi itu apa, sih? Aku masih belum mengerti.”

Apa?

Kontradiksi? Ya ampun, kekehan langsung keluar dari celah bibirku. Coba kalian bayangkan, seseorang yang punya hobi membaca, tidak mengerti apa itu kontradiksi? Tidakkah itu lucu? Atau lebih tepatnya … miris?

“Jangan tertawa seperti itu, tidak ada yang lucu, tahu!”

Sikutannya yang mengenai perut, sukses menghentikan kekehan kurang ajar milikku, menggantinya menjadi rintihan kecil. Ah, selain keras kepala anak ini juga sedikit kasar rupanya. “Sudah kubilang ‘kan, ubah kebiasaan burukmu. Sekarang siapa yang rugi, coba?”

Mengerucutkan bibir, gadis itu lantas bersuara. “Baiklah, aku akan berubah!”

Selesai mengucapkannya, Naru lantas mengambil langkah lebar-lebar, kentara sekali jika ia tengah kesal dengan kata-kataku barusan. Aku hanya menggeleng pelan, lalu mengikutinya dengan langkah normal. Tentu saja aku sudah menyinggungnya di awal, bukan? Aku lebih tinggi darinya, jadi otomatis dengan kakiku yang panjang ini, tak perlu usaha berlebihan untuk menyejajarkan langkah dengannya.

“Eh, aku tidak janji akan berubah. Itu terlalu sulit, tapi aku akan berusaha.”

Sepertinya emosi gadis dengan gigi kelinci itu sudah mulai reda, senang rasanya.

“Jadi, kontradiksi itu apa?”

“Kontradiksi adalah pertentangan antara dua hal yang sangat berlawanan.” Naru bergeming, ia mulai menggaruk kepala—yang kutahu pasti tidak gatal sama sekali. Kalau sudah begini, bisa dipastikan seratus persen ia sama sekali tidak mengerti. Ya Tuhan ….

“Bisa … jelaskan dengan kalimat yang lebih sederhana?”

“Itu sudah yang paling sederhana.”

“Apa?! Ayolaaah, aku mohon ….” Naru mulai menarik-narik lengan bajuku, lantas memasang ekspresi memelas yang entah mengapa selalu terlihat menggemaskan. Menyebalkan, kalau begini caranya bagaimana mungkin aku bisa menolak permintaannya.

“Baiklah, aku berikan contoh paling sederhana. Coba lihat aku.” Naru menurut, kini aku menatap matanya lekat.

“Jujur, apa kau menyukaiku?”

“Tidak.”

 “Apa kau mencintaiku?”

“O-oh, tentu saja tidak! Tidak, tidaaak!”

Aku hanya tersenyum. “Nah, itu namanya kontradiksi.”

Wajah gadis itu semakin memerah, tentu saja karena sebenarnya hatinya mengatakan hal sebaliknya. Kali ini kedua sudut bibir gadis itu berjungkit naik. “Aku lupa, kalau kamu bisa membaca pikiran,” ucapnya lirih namun masih terdengar jelas.

Aku mengangguk pelan. Naru kembali menatapku, kali ini berbeda. Manik hitamnya sudah dilapisi cairan bening yang dalam hitungan detik bisa tumpah kapan saja tanpa diminta.

“Ternyata kematian tidak membuatmu kehilangan kelebihan itu.”

—Fin

Advertisements

3 thoughts on “[Writing Prompt] Imaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s