Brothers [3]

brothers

by fikeey

#Act 03
Aku adalah kakak mereka. Aku berjanji pada ibu untuk selalu melindungi adik-adikku.

“Keluarga kami dulu bahagia, Detektif.”

Yoongi tertegun.

Belum ada lima menit ia meletakkan bangku plastik di depan sel tempat Kim Taehyung berada selama dua jam terakhir, sang lawan bicara sudah lebih dulu angkat suara untuk memulai konversasi.

Pria itu memang melemparkan sebaris kalimat: “Ceritakanlah. Semuanya. Aku sedang bosan dan kuharap kau memberiku sedikit pencerahan untuk kasus ini. O, dan sebaiknya kau tidak berbohong.” Yeah, walaupun oknum pembohong yang dimaksud Yoongi pada percakapannya dengan Namjoon kemarin bukanlah Taehyung.

Mengangkat sebelah kaki untuk ditumpu ke kaki satunya, Yoongi menunjukkan gelagat ingin mendengarkan secara saksama. Maka ia tidak menjawab apa-apa, hanya menggulirkan pupilnya memandang sosok ringkih di balik sel yang tengah menyandarkan punggungnya ke dinding.

Taehyung tengah menerawang ketika ia memulai kalimatnya.

“Ibu selalu mengajak kami keluar setiap akhir minggu. Ke mana pun. Ia senang menghirup udara luar. Ayah menyetir dan ibu duduk di sampingnya. Lalu kami bertiga berjejalan di belakang sambil membawa benda-benda kesukaan kami,” tutur si anak tengah. “Jimin dengan buku teka-teki silangnya, Jungkook … ah aku kadang tak mengerti kesukaan anak itu dan aku … aku senang membaca komik.

“Ya … komik. Jungkook sering meminjam komikku apabila ia sudah lelah memarahi Jimin karena selalu mengisi jawaban yang salah ke kotak teka-tekinya.” Ada senyum kecil membayang ketika Taehyung menghela napas. “Ayah selalu meletakkan tangan kanannya di belakang sandaran jok ibu dan saat itu kami bertiga acap kali berlomba untuk menangkap jarinya. Siapa pun yang mendapat jari kelingking, dia pemenangnya. Entahlah. Itu permainan tanpa esensi, menurutku. Ah, ya. Tangan ayah selalu berkeringat omong-omong, tapi kami selalu senang menggenggamnya. Hangat.”

Yoongi ikut tersenyum―walaupun ia yakin sang lawan bicara tak akan menangkap pemandangannya. Kedua iris almond Taehyung memejam sementara kepalanya mendongak, seolah tengah bersusah payah menggali memori yang ingin sekali ia tinggalkan.

“Lalu ketika ibu pergi meninggalkan kami … demi Tuhan, kurasa hari itu duniaku runtuh. Salah seorang guru memanggilku dari ruang kelas, begitu pula Jimin. Kami diantarkan ke ruang kepala sekolah dan di sana sudah ada seseorang yang akan mengantar kami pulang.” Taehyung meloloskan napasnya berat. “Pakaiannya hitam. Semuanya. Perutku melilit dan satu-satunya yang muncul dalam pikiranku adalah … lebih baik aku mati di tempat.”

“Ia sakit?”

“Tidak sama sekali. Ia masih membuatkan kami sarapan pagi harinya,” jawab sang terduga. “Telur mata sapi. Setengah matang untukku dan Jungkook, sedangkan Jimin lebih suka seluruhnya masak.”

Yoongi tak bereaksi lagi ketika lelaki di hadapannya ini mulai menceritakan kejatuhan keluarganya: tentang perilaku ayah mereka yang berubah, tentang keputusannya merelakan bangku kuliah dan tentang malam penuh ancaman serta teriakan yang pecah. Akhir minggu yang dulu diisi dengan acara keluarga kecil-kecilan kini berubah menjadi hari penyembuhan memar. Biasanya Jimin akan menyeret kotak P3K ke kamar dan menghabiskan waktu setengah jam untuk memeriksa adik-adiknya.

Nada bicara Taehyung boleh saja terdengar biasa saat memaparkan sekelumit cerita hidupnya, namun ada secuil perasaan luar biasa pedih tertera dalam tiap aksara yang keluar dari mulutnya. Yoongi sudah berkali-kali mendengarkan cerita orang-orang; dari yang berawal manis namun berujung pahit, hingga yang awal dan ujung sama-sama terlilit.

Namun ada perubahan dalam suara sang terduga kemudian, dibarengi dengan gerakan yang tiba-tiba saat ia beringsut bangkit dari posisi awalnya. Satu langkah. Dua langkah. Taehyung lantas melipat kaki jenjangnya lagi tepat di muka sel, kini duduk bersila menghadap ke arah Yoongi.

“Aku selalu belajar untuk menerima kenyataan, Detektif. Aku tak pernah memberontak atau balas berteriak setiap kali hujaman benda tumpul ayah beradu dengan kulit dan tulangku,” desau si lawan bicara dengan suara serak. “Bagaimanapun juga ia masih mengizinkan kami tinggal di rumahnya, iya ‘kan? Jadi kadang aku harus mati-matian menekan amarahku untuk tidak berbalik dan balas menghajarnya.

“Ya … kadang kuumpankan diriku sendiri supaya Jimin atau Jungkook tidak perlu berakhir dengan memar biru. Apa yang akan teman-teman mereka katakan nanti?” Taehyung bertanya diikuti dengusan pelan. “Tapi ketika suatu hari aku menangkap sosoknya masuk diam-diam ke kamar kami … aku bersumpah pada Tuhan ….”

Yoongi lantas meluruhkan sikap dinginnya, mengetahui akan ada sesuatu yang terkuak di sini. Ketika Taehyung mencondongkan tubuhnya ke arah sel, indra pendengaran sang detektif telah berada pada posisi sangat sensitif.

“Kau tahu, Detektif, kami bertiga selalu tidur dalam gelap. Jimin di tempat tidur tingkat atas karena ia mudah terserang pilek, aku di bawahnya, sementara Jungkook menggunakan kasur tambahan di lantai―dengan alasan ia adalah orang yang pertama bangun dan tidak ingin menimbulkan suara derit setiap turun dari tempat tidur.” Taehyung menjabarkan. “Mulanya kukira Jungkook baru kembali dari kamar mandi, tapi ternyata tidak. Itu bukan adikku tersayang.”

Ada jeda sejemang sebelum akhirnya Yoongi memutuskan untuk angkat suara.

“Dan …?”

Taehyung mendengus keras seraya memejamkan mata dan memetakan ekspresi terluka di wajahnya. Yoongi tahu, sang terduga telah menyimpan apik memorinya yang ini―mungkin ditambahkan kata kunci supaya tak pernah lagi kepalanya diburamkan oleh ingatan busuknya. Sang detektif menunggu, sementara lelaki di hadapannya bergeming untuk waktu yang agak lama.

Ketika akhirnya Taehyung mulai berbicara, ada aura lain yang seolah ditampilkan sang pembaca cerita.

“Ia meniti langkahnya mendekati Jungkook, Detektif.” Suaranya berangsur serak, tatapan matanya berubah gelap. Taehyung tiba-tiba bertumpu pada sebelah telapak tangannya dan mengangkat tubuh tingginya bangkit. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ karena detik selanjutnya, bisikan lemah sang anak tengah mencapai rungu Yoongi. “Ia melihatku terbangun dan kupikir aku akan berakhir dipukuli lagi, tapi tidak … ia tidak melakukannya.”

Yoongi tak merespons. Pun ketika Taehyung memeragakan apa yang tebersit di dalam kepalanya dari kepingan memori puluhan malam lalu; ia mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya di bibir—seolah menyuruh Yoongi tutup mulut.

Perut Yoongi bergolak seperti ada sendok berukuran besar dijejalkan ke dalam sana, mengaduk ulu hatinya tanpa mengenal kata ampun. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini dan ia tahu betul bagaimana perasaan Taehyung yang terpaksa harus ada di sana serta menjadi satu-satunya jiwa yang terjaga.

Ketika Yoongi tidak dapat mengeluarkan kata apa pun untuk merespons, benaknya dipenuhi oleh satu kata hinaan: Bajingan Tua berengsek.

“Sekarang kau pasti tahu alasannya, Detektif.” Taehyung berujar pelan, kembali ke posisi awalnya menyandar ke dinding. “Iya. Aku yang membunuhnya.”

Seriously, Min Yoongi, kau terlihat seperti Tinkerbell yang kehilangan Peter.” Namjoon berujar asal seraya membersihkan kedua tangannya yang penuh bekas oli di sini-sana. Rambut cokelat terangnya berantakan dan masih ada jejak peluh yang belum seluruhnya kering. Pekerjaan memereteli mobil adalah favoritnya―ia pernah memberitahu Yoongi―dan yang paling melelahkan.

Biasanya mood pria itu akan stagnan bagus setelah mengerjakan ini―tapi jangan lupakan after effect­-nya juga, bahwa ia akan menjadi sedikit lebih cerewet.

Yoongi duduk di kursinya, setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua menit di hadapan Taehyung untuk menemukan jejak kedustaan di sana. Nihil. Entah Taehyung yang mahir memainkan ekspresi atau Yoongi dengan telak dikelabui―jujur ia lebih memilih opsi pertama karena, hei … bertahun-tahun ia berkutat dengan lencana ini, belum pernah ada yang membuatnya frustrasi dalam satu konversasi.

Jarum panjang pada jam dinding yang menggantung baru saja merangkak dan berhenti di angka sepuluh, menegaskan tugas penunjuk cebol yang berhenti dekat angka dua. Sejatinya, Yoongi masih ingin menahan Taehyung di kantor, namun surat pembebasan memutuskan lelaki itu keluar tiga jam lagi.

“Bagaimana mobilnya?” Yoongi akhirnya menyerah dan melempar isu. Namjoon baru saja selesai dengan aktivitas bersih-bersih dan tengah menyesap kopi dari gelas plastik.

“Beberapa sidik jari―aku sudah mengirimkannya untuk dicek, selain itu … mobilnya bersih. O, aku menemukan buku ini, mungkin akan memberimu pencerahan.” Namjoon memutar tubuh dan mengambil beberapa langkah menuju mejanya. Ia kembali dengan sepotong buku tebal dengan judul bahasa asing dan bergambar substansi kimia. “Tidak bernama, namun sepertinya buku milik perpustakaan.”

“Mungkin milik Jimin.”

Namjoon mengedik. “Bisa jadi. O, aku memereteli semuanya, omong-omong. Jok, karpet mobil, lalu kukeluarkan semua isi lacinya. Um … aku juga menemukan beberapa foto. Mungkin anak-anak itu ingin menyimpannya,” ujar si rambut cokelat terang. Ia menunjuk amplop cokelat di mejanya.

“Mobilnya bersih?”

“Yup.”

“Tidak ada sesuatu yang perlu dicurigai?”

“Setir, jok―dan selipan-selipan sempitnya―lalu kolong mobil, bagasi juga. Bahkan jejak luminol tidak membuktikan apa-apa. Aku juga menguliti joknya.” Namjoon menjawab. “Dan semuanya bersih. O ya, barusan mereka memberitahuku soal kandungan contoh sampel kudapan manis dari TKP. Kau tahu hasil tesnya?”

Yoongi mendongak dari tempat duduknya, dalam hati telah menyiapkan diri untuk hasil terburuk.

“Negatif.” Tuh, ‘kan. “Seokjin bahkan hampir menjatuhkan seperangkat alat bedah yang dicintainya itu ketika aku memberitakan hasilnya. Oke. Sekarang kasusnya buntu … kecuali kau mendapatkan sesuatu dari percakapanmu tadi.”

Jeda panjang yang diberikan Yoongi sebelum menjawab digunakan Namjoon untuk menyesap habis kopinya, lalu memeriksa kembali amplop cokelat di atas meja―dan bahkan ia bisa keluar dulu lalu menyelamatkan dunia apabila Yoongi tak kunjung membuka mulutnya. Sebagai partner memang Yoongi cenderung menanggung semuanya sendiri―membuat deduksi, merasakan frustrasi mencari, hal-hal seperti itu. Terdengar egois memang, namun satu hal yang selalu menjadi alasan utamanya adalah: karena masing-masing telah memiliki bagian.

Namjoon lebih sering menempatkan dirinya di lab, mungkin keluar hanya untuk memeriksa tempat kejadian perkara seperti tempo hari. Di sisi lain, Yoongi mengambil alih pekerjaan lapangan. Ia yang pasti keluar mencari informasi, berbicara dengan para tersangka―walaupun kadang Namjoon menjadi assist-nya dalam soal interogasi―serta membuat analisis.

Ah … tapi untuk yang terakhir, mau tak mau Yoongi harus membaginya dengan Namjoon, karena kadang pria itu bisa memunculkan pemikiran ajaib entah dari mana.

“Menurutmu siapa orangnya?” tanya Yoongi pelan.

Namjoon melirik dari kursinya, berpikir sejenak. “Entahlah. Aku selalu mencurigai anak pembangkang itu setelah mendengar kesaksian Hoseok,” komentarnya. “Maksudku … Hoseok tidak berspekulasi apa pun, sih. Dia menyayangi ketiga anak itu, tapi … well, caramu bersikap pasti dipengaruhi oleh lingkunganmu juga, ‘kan?”

“Kau tahu Namjoon?” Lagi-lagi Yoongi memberi jeda. “Aku juga mulai menganggap bahwa Taehyung pelakunya.”

How?” Pada bagian ini, biasanya Namjoon akan langsung bersemangat untuk mendengar kisah panjang Yoongi mengenai deduksi miliknya―ia bilang ini adalah highlight mengapa pekerjaan menjadi detektif adalah sesuatu yang seru.

Ya, begitu.

Namun ketukan di pintu dengan sekejap membuyarkan atensi keduanya. Pintu terbuka dengan opsir berseragam serta Jung Hoseok yang mengekor, masih menggendong ransel besar di punggungnya. Yoongi bangkit, lantas berjalan ke pintu.

“Begini, Detektif. Kudengar Taehyung―”

“Masih ada waktu tiga jam sebelum ia dibebaskan,” potong Yoongi, seketika terlintas secuil ide dalam kepalanya. “Apakah kau punya waktu?”

Hoseok memunculkan ekspresi bingung, tapi akhirnya ia mengangguk. “Tentu saja,” katanya.

Yoongi mengedik kepada Namjoon yang memberi gestur dengan dagunya, lalu menggiring si tetangga ke luar ruangan.

Sang detektif tidak berniat mengadakan konversasi lagi di ruang interogasi, jadi ia memutar langkahnya menuju lift di ujung koridor. Embusan pendingin ruangan dan pewangi beraroma citrus menjadi saksi hening keduanya―Yoongi memang malas buka suara, dan Hoseok … entahlah. Menurut Yoongi, wajahnya seperti seseorang yang menderita sembelit.

Aroma kopi yang menggantung di udara menyergapnya ketika pintu dengan bunyi kelinting itu terbuka. Kedai kopi yang hampir sebagian besar pengunjungnya setiap hari adalah para petugas kepolisian sore itu terlihat lengang. Di samping karena waktu istirahat sudah lewat berjam-jam lalu, mungkin kasus kriminal di jalanan saat ini sedang berada pada jumlah yang tinggi.

Biasanya Yoongi masih menemukan petugas berseragam menyeduh kopi dan memakan hidangan siang mereka yang super telat.

Keduanya memesan latte biasa lalu menempati salah satu meja.

“Kau bilang kau kenal dekat dengan mereka bertiga?” Yoongi menelurkan pembicaraan―seperti gayanya, langsung menuju inti. Dengan anggukan Hoseok, pria itu lantas meneruskan kalimatnya. “Apakah Taehyung pernah berbicara hal-hal tentang ayahnya denganmu?”

Awalnya Hoseok terlihat tak ingin bicara, namun akhirnya ia menghela napas dan mulai merangkai kalimat. “Ya, tentu saja. Apabila aku sedang mengobati lukanya, ia sering bercerita tentang keluarganya. Hal-hal terkecil apa pun tentang ibunya, ayahnya, saudara-saudaranya.” Yoongi diam, memperhatikan Hoseok yang menerawang. “Dia tipikal seseorang yang penyayang. Sekali kau dekat dengannya, maka ia akan memastikan bahwa kau akan diperlakukan baik dan akan memperhatikan detil-detil remeh tentangmu.”

“Apakah ia sering mengeluh tentang semua ini?”

Hoseok menaikkan sebelah alisnya. “Ya, tentu saja. Dia kerap kali bercerita tentang keadaannya di rumah: bagaimana ia ingin kabur dan keinginannya membawa Jimin dan Jungkook,” jawabnya, kemudian mencondongkan tubuh. “Detektif … apakah kau sudah ….”

“Tidak, belum.” Yoongi menggeleng. “Hari ini ia membagi ceritanya lagi, tapi aku tak tahu apakah kau sudah mengetahui hal ini atau belum. Dan masalah inilah yang membuatnya … memutuskan hal yang berisiko.”

“Entahlah, Detektif.” Hoseok merespons. “Ia amat penyayang, seperti kataku tadi. Dua orang yang paling berarti baginya adalah Jimin dan Jungkook―kau bisa menilainya dari bagaimana ia merelakan hidupnya seperti itu. Bekerja tak tentu di sebuah bar adalah keputusan berat, menurutku. Kau tahu orang-orang macam apa yang mengunjungi tempat demikian.”

Yoongi menghela napas panjang tanpa merespons. Ia membiarkan Hoseok menyesap minuman miliknya sebelum meneruskan ceritanya lagi.

“Taehyung bilang, mungkin ia bisa bekerja sebagai bartender. Itu adalah pembicaraan di malam sebelum tes masuk universitas. Aku sudah menangkap ada yang tak beres dan ketika besoknya Jimin meneleponku bahwa adiknya tidak pergi ujian, aku pergi menuju bar yang pernah disebutkan Taehyung.” Hoseok bercerita sembari melipat kedua tangannya di permukaan meja. “Dan ya … aku menemukannya di sana. Dia melarangku bercerita pada Jimin dan Jungkook, namun toh, kedua saudaranya juga lambat laun tahu.

“Dimulai ketika Taehyung pulang di suatu malam bersalju dengan pakaian awut-awutan dan mata bengkak.” Si anak kuliah mengernyitkan dahinya dan menunduk selama beberapa saat. “Dia menangis ketika orang-orang itu melakukannya. Dia merasa kotor dan enggan pulang ke rumah. Ada sejumlah uang yang dibawanya dan ia berkata padaku bahwa ia melakukan ini karena Jimin dan Jungkook pasti butuh lebih banyak biaya untuk semester baru.”

Yoongi memperhatikan lawan bicaranya dengan saksama. “Dan kedua saudaranya akhirnya tahu?”

“Ya,” jawab Hoseok dengan gumaman rendah. “Ya. Jimin luar biasa marah, sementara Jungkook meninju dinding di belakang rumah. Aku berdiri di sana waktu itu, merasa bodoh karena tidak bisa membantu apa pun atau melindungi mereka. Ya. Aku merasa menjadi orang paling tolol dan lemah waktu itu.

“Tapi akhirnya Jimin luluh waktu Taehyung memberi alasan, pun Jungkook yang berakhir menangis keras-keras di bahu kakaknya.” Hoseok tersenyum. “Sejak saat itu, Detektif, aku berjanji akan melindungi mereka. Pintu rumahku akan selalu terbuka apabila ayah mereka lagi-lagi dikuasai amarahnya. Ya. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membantu mereka, Detektif.”

Selama dua puluh tahun lebih dirinya hidup dan bernapas di muka bumi, Yoongi tak pernah mengerti arti dari sebuah ikatan keluarga yang kuat―di mana para individunya rela melakukan hal tergila, tak masuk akal, dan bahkan nekat.

Ia tumbuh sebagai anak tunggal, yang orang tuanya bercerai ketika kata pertama yang muncul dari bibirnya adalah: “Mama!”

Ironis. Yoongi selalu mendefinisikan hidupnya dengan kata itu, karena ketika kau lancar mengatakan nama panggilan ibumu, dari dirinyalah kau dipisahkan.

Ayah Yoongi keras. Ia dididik dengan kedisiplinan tinggi dan hampir tanpa kasih sayang. Yoongi bahkan bisa menghitung berapa kali mereka bertukar sapa setiap hari hanya dengan hitungan di jari kanan. Jika bisa melebihi jumlah itu, kadang Yoongi membuat selebrasi sendiri.

Maka ketika dihadapkan pada kasus terbarunya ini, ada gejolak tak familier yang kerap kali melanda ketika mendengar pengakuan masing-masing terduga. Bukan ke arah yang membuat Yoongi bersemangat karena akhirnya satu-persatu bukti terkuak, bukan, lebih terasa seperti ulu hatinya dikoyak dan dikeluarkan.

Seolah ia ikut merasakan apa yang selama ini mendera kakak-beradik tak sedarah itu.

Dan … ya. Yoongi baru mengetahui esensi sebenarnya dari kata ‘pengorbanan’ ketika ia dihadapkan pada pengakuan sang kakak tertua.

“Siapa pun nama yang sudah kau pegang, tolong Detektif, gantikan dengan namaku.”

Yoongi duduk tak bersuara. Otaknya mulai terasa kaku mengingat sudah dua belas jam ia berada di kantor. Yeah, Namjoon dan Seokjin baru saja melambai padanya ketika sang detektif melihat sosok yang ia kenal berdiri tak jauh dari lapangan parkir.

Park Jimin menunggunya di sana dan membungkuk tak henti karena Yoongi bersedia memberinya waktu barang sebentar.

“Aku adalah kakak mereka. Aku berjanji pada ibu untuk selalu melindungi adik-adikku,” desau si sulung sembari merapatkan jaket. “Ini memang permintaan bodoh, Detektif. Tapi tolonglah. Aku akan menjelaskan semuanya di pengadilan. Apakah kau ingat bahwa kami perlu menunggu lima jam sebelum menelepon polisi?”

Ada anggukan pelan sebagai jawaban dari Yoongi.

“Idenya berasal dariku. Kami putus asa dan hendak menguburnya di belakang rumah. Ya. Aku tak ingin berurusan dengan polisi.” Jimin bercerita sembari menunduk. “Tapi ternyata akal kami masih bekerja, bahkan ketika Taehyung harus bolak-balik pergi ke kamar mandi dan Jungkook enggan berada satu ruangan dengan tubuh ayah kami walaupun ia adalah satu-satunya orang yang paling tenang waktu itu.”

“Siapa yang menelepon?”

Jimin mengangkat kepala. “Aku,” ujarnya. “Jungkook yang menekan nomornya karena tanganku gemetaran luar biasa. Lalu ia berdiri di hadapanku, membantuku merangkai kalimat tanpa suara. Lalu pihak kepolisian meminta kami agar tetap tenang dan tidak pergi ke mana-mana. Telepon ditutup dan kami bertiga duduk bersisian.

“Aku sudah memikirkannya sejak itu, Detektif. Well, jika itu artinya aku harus meninggalkan mata kuliahku di kampus yang dipenuhi mata uang.” Uap-uap putih membubung ke udara kala Jimin menghela napas panjangnya dengan latar belakang senyum yang paling lega. Yoongi menajamkan pendengarannya kali ini. “Aku anak yang tertua, jadi akulah yang harus berkorban demi mereka.”

*


  • firstly first, big thanks buat La Princesa as my first reader hehehe 😀 kakput cobonyi sepanjang masa ❤
  • ngga lupa ngingetin … jangan reveal apa-apa di comment box yha. maklum penulisnya masih amatiran, entar sedih kalo pelakunya kejawab di awal ahahaha.
  • btw gaes … kalian ga bosen baca cerita detektif kan? heu :” takutnya boring gara-gara banyak deskrip. ada percakapan pun panjangnya segambreng :”
  • bocoran deh. Brothers consists of 4 chapters, so … rabu depan udah part finale hehe.
  • thank you for reading!
Advertisements

27 thoughts on “Brothers [3]

  1. Aku dibikin bingung lagi, aku ngincer satu nama sebenernya dari awal, hehe
    dia anak Bangtan(ya iyalah)
    aku penasaran, apa sih yang dibilang Taehyung ke Yoongi, sampe2 dia ngucap sumpah serapah gitu. Apa yg dilakuin ayahnya Taehyung?
    Nanti di chapter selanjutnya bakal dikasih tau kaaan? Kasih tau ya Kak Fikaa, soalnya aku penasaran pake bgt.
    Taehyung ngenes bgt di sini, tpi cool jgaa…

    ‘…dan Hoseok … entahlah. Menurut Yoongi wajahnya seperti seseorang yang menderita sembelit.’
    Ya Allah, Kaa…
    Lagi tegang2nya tb2 ketawa baca kalimat di atas. Atuhlaah, aku bayanginnya kocak gituu. Btw, kalimat itu menghibur Kak 😀
    jdi ga tegang melulu bacanya.

    Terakhir, feel brothership-nya dapet bgt. Jadi pengen peluk tiga2nya (modus).
    Aku suka bgt ceritanya ❤

    Like

    1. HAHAHAHAHA ya allah aku literally nguquq astaga, maafkeun akuu :” soal yang bikin yoongi sampe nyumpah kaya gitu … em, coba diperdalam lagi bacanya dari gerak-gerik taehyung hehe. intinya itu ayahnya ngelakuin sesuatu yang hina banget deh, jadi yoongi sampe nyumpah kayak gitu. maaf yaa ngga aku reveal bikos emang sengaja kubuat seimplisit dan sehaluuuuus mungkin hehe. dan ini jadi driving force buat taehyung yang bikin dia jadi protektif towards dua saudaranya hehe 😀

      wkwkwkw, sengaja, biar readernya ngga terlalu serius entar ngantuk xD yupsss hehe. nanti tegang melulu kan ga enak, takut boring waqaqa. peluk aja gapapaaaa, kasian mereka ngenes banget idupnya abisan hahah xD

      terima kasih banyak yaaah sudah baca dan komeeen, hihi. next chapternya minggu depan yaah 😀

      Liked by 2 people

  2. Kaaak perasaanku selalu campur aduk kalau habis baca ini, tau nggaaak ;-; Dari chapter pertama aku udah mikir, pasti bakalan seru, tapi aku nggak ngira kalau konfliknya bakal seemosional ini. Hiks.
    Penggambaran tiap karakter kuat dan menurut aku hubungan mereka indah sekaligus menyedihkan banget.

    Dan, nggak kak, aku nggak bosen! Aku suka banget cerita detektif. Menurut aku kakak juga cocok nulis genre kayak gini. Aku malah sedih pas tau chapter selanjutnya itu terakhir Q-Q Aku sebenernya masih pengen komen, tapi aku simpen buat chapter terakhir aja, ah. Hehehehe.

    Omong-omong, nggak apa ya aku panggil ‘Kakak’? Aku Bi, 99 liner. Salam kenal. Semangat terus ya, kak 😀

    Like

    1. haloooo bi, kenalan duluu aku fika dari line 93 hehehe. by the way makasih semangatnyaa 😀

      hehe, iyaah. karna aku ngga begitu ngerti bikin jalan cerita full detektif-detektifan yang ngekspos investigasinya, makanya aku beratin di konflik emosi ajaa hehe. maklum masih level di bawah beginner hehehehe xD dan … aaaaa kusenang pabila karakternya nyampee hehe. aku belom lama kenal bangtan soalnyah hehe.

      waaaaa sumpah tambah seneng xD makasi yaa bi, hehe jadi semangat! iyaah ga berani bikin chapter banyak-banyak takut malah ga fokus ke jalan cerita soale hahahaha. makasi yaaa bi udah baca dan komeeen. ditunggu chapter selanjutnya yaaa 😀

      Like

  3. Hello, Kak Fik! Yg diundang datang, nih.

    Ini. . . ini. .apa ini?! /frustasi/ Berasa semua pengen ditangkep krn pengen saling melindungi. Dari pada pusying, jalang yg paling adil, langsung jeblosin mereka bertiga ke penjara /hajar/
    ;;;;;;; horor bnget. Aku paling horor bayangin korban grepe-grepean kayak gini. Apalagi kalau pelakunya orang terdekat;;;;;

    ps// sms terakhirku belum kakak jwb. aku kira kakak udah tepar duluan, jadi ga aku sms lg. ;w;

    Like

    1. hayolooooo typonyaaaa xD btw aku mau peluk fatim duluu, soale kamu nangkep maksud aku pas taehyung nangkep basah ayahnya masuk kamar mereka malem-malem hahahaha yeokshi xD kayanya aku nyeritainnya terlalu halus yha sampe ambigu wkwk. haha iyaaa orang terdekat, makanya yoongi ikutan kesel pas taehyung cerita xD
      makasi yaaaa fatim udah baca dan komeeen hihihihi 😀

      Liked by 1 person

  4. yosh! mari kita lihaaaaat! hahahahaha xD iyah kak ini udah aku bocorin di sini, kalo jeli pasti langsung ketebak deh xD ((kakput terjebaque terus aku dikasih jackpot pipi)) xD coba di wordpress ada fitur stiker juga yhaa haha.

    kakput namanya bakal terpampang terus kak sampe chapter akhiiir hehe. minta ijin dulu xD (harusnya minta ijinnya dari chapter 1, fikaaaa deuh). makasi banyak yah kakpuuut yang tercobonyiiii ❤

    Like

  5. NAHINI KAN GABISA GINI KAN KAN KAN KAN KAN

    heu;;;;; dua hari ngebookmark ini akhirnya baru bisa baca today :”’) im so sorry kak fika! Anyway! Di sini dibuka satu-satu ya kulitnya, terus menurutku ini mainin pembaca labil bangetHAHAHAHAHA Iya kayak yg suspectnya tadi ke si A eterus ganti ke B, tapi kalo buat aku pribadi aku dari kemaren mikirnya si X nih pelakunya. Abisnya dia dilindungi banget, menurutku motif dia buat membunuh tuh ada gitu loh kayak yang ‘just this once let me take care of him by myself’. Tapi ini bener-bener bikin bingungggggg X)

    Aku suka plotnya, dan karakter favoritku di sini Namjoon sih HAHA XD abis aku suka orang yang keliatannya bodoh tapi aslinya pinter bangett. Di sini kan namjoon kayak yg ceroboh gitu tp sebenere cerdas warbyasa bang lanjutkan! Dasarnya emang aku suka banget sama orgorg begitu :))) The type of people who surprise other with their intelectual (forgive my engrish haha)

    Oiya bagian favku di sini pas Taehyung cerita ke yoongi sih. Apalagi yang di kamar itu, I GOT GOOSEBUMPS! Pasti susah jadi ketiga anak itu. Taehyung juga. Truly prihatin sama kondisi keluarga mereka :””

    Aku jarang baca cerita yang genrenya detektif, tapi menurutku ini worthy sekaliiiii! Aku juga jarang baca fic bts tapi ini ena dibacaaaaaa. Warbyasa kakfika bisa buat gini-ginian tuh ini ❤ bangeettt. Thanks kak udah bikin iniii, semoga act 4nya (kalo kakak blm kelar nulis) bisa diselesaiin dengan lancar dan no hambatan. (kalo kakak udah kelar nulis) semoga bisa jadi penutup yang sempurna buat ketiga act terdahulunyaaaa! ❤

    MAJO TEROS KAKFIKA AYEAY I'M YOUR LIL FAN ❤

    yours truly,
    dhila 😉

    Like

    1. OMG DHILAAAA x)) ya ampun santai ajaa gapapaa hehe. santai aja ama fika mah 😀 yupsie di sini sama yang act 02 kemaren dibuka satu-satu sih ehe. yeyeyeye, berarti dhila udah pegang nama yaa, sip. semoga tebakannya bener yaaah (insert stiker moon yang senyum lebar) (tapi ketawa setan level 10) hahahaha xD yeokshi!

      btw hahahaha, iyaaah namjoon ada untuk memberikan sunshine kepada pembaca biar ngga melulu serius bacanya, kasian entar kalo serius terus malah jadi boring terus ngantuk heu :” tapi aku juga sukaaaa karakter kaya gitu. kayak yang realistis ngunu kan yaaa. tos dhiiiil 😀

      yes yes yes, dhila nangkep maksudnya yang pas taehyung cerita ke yoongi soal yang di kamar kan? sip. nah itu semacam jadi driving force taehyung sebegitunya berkorban buat dua sodaranya ehe. and yes, mulai kaya gitu pas ibu mereka udah ga ada ehehe.

      waaaaa yaampun dhiiiil :” ih sumpah kamu cobonyi (unyu pangkat sekian) bangeeetttt aaa makasi ya makasi yaaa. mana komen kamu panjang banget astagaa maaf pabila balesannya pendek begini huhu. siiip! makasi dhilaaa, alhamdulillah udah kelar act 04-nyaaa hihi. ditunggu hari rabu yaah ehe. makasi sekali lagi dhilaa udah baca dan komen luuvvvssss ❤ ❤

      Liked by 1 person

  6. NGGA BOSEN KAK SUMPAHAN GA BOSEN AKU MAU CEPET-CEPET HARI RABU, TAPI HARI RABU HARINYA DOSEN KILLER HUHU

    GAPAPA DEH KETEMU DOSEN KILLER YANG PENTING KETEMU THE BROTHERS AWAWAWAWA

    Asik asik asik (sampe lebaran haji)
    Kafika aku spicles lah beneran amatir darimana ini seru sumpah aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aku lagi baca galbraith dikaSi beginian otakku brain bleeding kak ampun nebak yang itu belum kelar tambahan nebak ini aku kudu piye–part seqian.

    KAFIKA KUTUNGGU FINALNYA! SEMOGA … SEMOGA … SEMOGA ❤ ❤ ❤
    (((aku gamau kasi tau semoga apa biar kita impas penasaran–aku penasaran pelakunya, kafika penasaran tebakanku (oke ini mulai gapenting)–ocray kafika hahahahaw)))

    KEEP WRITING KAFIKA MANSAEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!

    Like

    1. KAKPANG, DOSENNYA ADUIN KE YOONGI APA GA SEOKJIN AJA BIAR NANTI DITAHAN DI KANTOR POLISI! (lalu disambit sepatu sama dosennya kakpang).

      sumpalah ini amatir. aku yakin entar kakpang dan yang lain bakal ngakak baca chapter 4, like, ya ampun ini apaan banget cara ngebunuhnya hahahahha xD ((mana pake sianida which is lagi ngetren banget 2016)) HAHAHAHAHA. kakpang kakpang entar chapter depan komennya kasitau analisis kakpang ya plisplis penasaran nich! hahahaha xD

      yossssh kakpang makasi yaa udah baca dan komeen! ditunggu hari rabuuu hehehe ❤ ❤ ❤

      Like

  7. Aku ga terlalu paham waktu taehyung cerita ke yoongi tentang ayahnya yg datang ke kamar, terus ngedeketin jungkook. Aku udah baca tiga kali tapi masih ngga paham. Tapi secara keseluruhan chapter ini buat aku nangis:”
    Mungkin karena aku anak kedua dari tiga bersaudara. Habis ngebaca ini kaya ngerasa tiba2 sayang banget sama kakak adikku. Jadi rela berkorban buat saudara kaya taehyung. Kagum sama pengorbanannya Taehyung. Efekny luar biasa kakk.
    Btw aku masih nganggep taehyung bukan tersangka. Taehyung bukan tersangkanya, titik! *ngeyel*
    Dari ketiga bersaudara yang cakep-cakep itu, yang sikapnya paling normal jika dilihat dari lingkungannya itu ya cuma Taehyung.
    Ngga sabar sama next chapternya. Pasti tambah keren sama bikin penasaraan. Cepatlah datang hari rabuuu~

    Like

    1. Oiya kak, sebelumnya maaf karena habis baca ff Brothers [1] langsung nyelonong ngasih komen, ga kasih salam atau perkenalan dulu. Maaf banget kak. Aku ngerasa kaya ngga sopan gitu:”

      Btw aku tahu ff Brothers dari ‘Trashy Treasure’ kalo ngga salah namanya.
      Sekali lagi, salam kenal kak fikaa:)

      Like

    2. haloo rain hehe. yang bagian itu … itu tuh abuse yang hinaa banget sampe akhirnya yoongi nyumpah serapah kayak gitu hehe. tau maksudku kaan? ehe, sengaja kubuat halus banget bahasanyaa soalnya 😀 lho ya ampun :” waaaa ya ampun kamu nangis beneran :””””
      iyah harus sayang sama sodaraa eheehe. enak banget btw huhu jadi anak tengah punya adek sekaligus kakak. aku anak pertama btw, jadi ga ngerasain gimana kalo punya kakak hehe.
      next chapternya besok yaaa, hehe. makasi banyak yaaa rain udah baca dan komeeen x)

      oiyaaa! iyaaah kan pas di brothers [1] udah kenalan hehehe. santai aja raiiin 😀 iyaah trashy treasure itu blog lama aku by the way, sekarang udah pindah heheh. tapi blog itu masih aktif, isinya reblogan dari postingan di ws semua 😀 gapapa koook, santai ajaah ehe. salam kenal jugaaa rain x))

      Like

  8. Ini … ini … Yaa Allah aku makin bingung dan tiba-tiba malah kepikiran hoseok coba: ‘))) tapi tetep sih pasti jungkook yang lakuin ah gamau tahu pokoknya gitu.

    Btw, ini ku mau meluncur ke final ya, kak?:3

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s