[Writing Prompt] Drunk Dial

Dope

The number you have dialed is busy forever. Please do not try ever again.

Jauh sebelum menembus gerbang Le Conservatoire de Paris, perjalanan musim panas ini telah mereka rencanakan. Kedengarannya konyol, tapi kepala mereka sudah kepalang tinggi semenjak mengisi formulir pendaftaran mahasiswa baru. Begitulah bagaimana keduanya menjadi simbol anak muda yang dimabuk mimpi. Gelak tawa orang-orang tak mereka peduli. Dan kini waktu membuktikan bahwa mimpi mereka tak sekadar angan.

Florence mungkin bukan kota pertama yang muncul di benak ketika mendengar Italia. Lain manusia, lain Donghae. Makhluk satu itu mati-matian menarik nama Florence untuk jadi yang teratas di daftar ‘destinasi suka-suka’ mereka.

Maka Eunhyuk sebagai sang perencana menyanggupi saja. Toh, lebih dari separuh daftar perjalanan adalah hasil garapannya. Dengan runut dan teliti Eunhyuk menandai kunjungan terdekat yang bisa mereka capai dengan jalan kaki. Sebisa mungkin menipiskan kesempatan untuk mengeluarkan isi kantong. Mencatat kafe-kafe kecil tempat pengganjal perut yang mudah ia dapat dari petunjuk google maps. Secara garis besar, perjalanan ini milik Eunhyuk. Peran Donghae hanya sebatas penggagas awal. Selebihnya lelaki itu lebih senang berkomentar, terutama saat hatinya sedang memburuk. Bahkan ada saat di mana Donghae tidak tahu dan tidak peduli di mana dia berada.

Selepas dari Stasiun Santa Maria Novella, Eunhyuk menyadari bahwa menyanggupi permintaan Donghae kali ini, bukanlah sebuah kesalahan. Karena hal yang paling menyenangkan dari Florence adalah letak situs bersejarahnya yang saling berdekatan. Surga bagi backpacker kurang dana seperti mereka. Kalaupun saku benar akan menipis, Eunhyuk sudah menyiapkan gitar di gendongan. Jalanan kota seni ini cukup ramah oleh seniman amatir untuk mendulang receh. Ah, semua perencanaan itu terdengar indah dan Eunhyuk merasa puas sekali. Rasanya ia ingin memeluk dan menciumi dirinya sendiri.

Siang hari, mereka berhasil menjejakkan kaki di Piazza della Signoria demi bertemu perwujudan dewa laut Romawi. Pikir Eunhyuk, Bartolomeo Ammanati pastilah seorang lelaki penganut renaissance ekstrem ketika ia menciptakan Neptune Fountain yang dengan pongah berdiri polos tanpa tedeng aling-aling di tengah pasukan peri yang polos tanpa tedeng aling-aling pula. Wah, wah! Atau memang begitulah gaya buah karya seniman era itu.

“Eunhyuk-ah, bisa kau beri aku sedikit potongan bacon?”

Eunhyuk menghentikan pemikiran absurdnya dan mendongak dari gigitan besar di burger-nya. Sampai ketika seruan Donghae menghentikan geraknya.

“Ew! Tidak jadi. Aku tidak mau makan air liurmu.”

“Bagian ini tidak kena.”

“Kau tidak liat air liurmu yang menempel seperti keju itu? Tidak mau!”

Eunhyuk mendengus. Siapa pula yang sering mencuri tegukan di botol minumannya. Siapa juga yang sering mencicip makanannya dari sendok yang sama. Memilih tidak peduli, Eunhyuk kembali mengagumi pelataran Piazza yang dikelilingi tembok-tembok, hasil era renaissance.

“Kau tidak mau tahu kenapa aku ingin ke Florence?”

Ada banyak sekali jawaban konyol yang berkeliaran di kepala Eunhyuk saat ini. Misalnya, Donghae ingin bertemu patung dewa Neptunus yang telanjang itu. Logis sih, kalau Donghae merasa ingin dekat dengan dewa laut karena lelaki itu berasal dari daerah laut. Dari namanya saja sudah ketahuan dia si anak laut. Tapi Eunhyuk tidak ingin mengutarakannya. Mungkin si penanya malah punya alasan lebih gila lagi. Lagi pula Donghae bisa jadi semenyebalkan ibu-ibu kompleks yang bertanya ‘mau ke mana?’ dengan ekspresi ‘aku tidak peduli kau ke mana’.

Jadi, Eunhyuk diam saja.

“Dia ada di sini.”

Eunhyuk menunggu, tidak ingin terkonfrontasi kalimat tidak jelas barusan. Tahu saja, bahwa sudah kebiasaan anak yang satu mengeluarkan pernyataan mengambang, gamang, canggung, tanpa makna.

“Aku dengar dia punya rencana ke Florence libur musim panas ini. Sudah kukonfirmasi lewat akun path-nya. Dan dia sudah sampai di sini pagi tadi. Jadi, jika kita bertemu secara tidak sengaja … mungkin ….”

Eunhyuk menghela napas panjang. Dia berani bertaruh kalau cinta didapat semudah menggembok pagar Namsan Tower, maka Donghae rela membeli seluruh gembok yang dijual di sana demi mengunci dirinya dan gadis itu.  Kalau perlu anak itu akan turut menggembok tempat yang perlu digembok di seluruh dunia. Pada realitanya, meraih hati seorang gadis ternyata lebih susah dari pada mengejar nilai tinggi di Ujian Suneung.

“Kau nilai apa pertemuanmu dengannya di kampus? Apa tidak cukup kau kukatai tukang penguntit?”

“Aku hanya mencoba membuat kesempatan.”

“Kau tidak perlu membuatnya, Dopey,” Eunhyuk menekan panggilan terakhirnya. Berharap si anak lain sadar diri.

“Bukankah selama ini kesempatan berbaik hati mendatangimu sendiri?”

Tidak salah seseorang mengatakan, cinta itu seperti heroin. Makin banyak kamu menghirup, makin ketergantungan kamu akan padanya, dan makin bodoh pula kamu karenanya. Otak Donghae yang serba pas sekarang makin mengerut sebab terlalu banyak memikirkan gadis itu.

“Mungkin aku harus menyerah.”

“Kau bahkan baru berdiri di belakang garis start.”

Manik Donghae bergulir bimbang, menghadap apa pun selain kedip ejekan yang Eunhyuk tunjukkan.

Lalu entah bagaimana, otak serba pas itu tiba-tiba mengeluarkan ide. “Mungkin aku harus mulai menulis surat cinta!”

Eunhyuk ingin menyemburnya dengan makian, “Dasar kolot!” Tapi ketika ia menoleh dan mendapati wajah kelelahan temannya, dengan sabar ia menjawab, “Cukup efektif, tapi tidak efisien.”

“Bagian mana yang tidak efisien?”

“Kedengarannya romantis, tapi kemungkinan dia akan mengulur waktu lebih lama jika dia meragukanmu. Akhir paling buruk, surat balasan yang kau tunggu tidak akan pernah datang.”

“Oh, benar. Dia mungkin meragukanku.” Donghae menunduk dan memandang kaleng cola kosongnya dengan kabur.

Sebagai saksi mata satu-satunya, Eunhyuk menyimpan rahasia rumit kisah cinta sebelah pihak ini. Dimulai sejak hari pertama masa SMA. Gadis itu berada di antara gadis lain yang didera hukuman kala itu. Tidak ada yang senang ketika senior meminta satu putaran lapangan di bawah terik mentari siang. Namun bagi yang teledor tidak membawa perlengkapan, itu adalah sebuah keharusan. Kecuali satu sosok itu, yang terus mengulas senyum bahkan ketika dahinya basah berkeringat.

Dan ketika Donghae menemukan senyuman yang melapisi wajah lelah itu, dia percaya dirinya telah jatuh cinta. Detik itu juga ia bertekad untuk bisa lebih dekat mengenalnya. Tiga tahun berlalu, tekad itu masih bulat meski tidak satu pun rencana Donghae yang berhasil. Waktu tidak menolerir mereka untuk duduk dalam satu kelas. Kesempatan-kesempatan itu pasti ada, tapi ujung-ujungnya si anak lelaki tergagap-gagap melewatinya.

Kini Tuhan berbaik hati memberi satu kesempatan lagi. Mereka satu universitas, kendati beda fakultas. Kemajuan hubungan mereka tidak lebih dari sapaan sepintas di lorong kampus dan obrolan saling melempar kabar sebagai teman lama seperguruan. Itu pun terjadi ketika Donghae bermodus menyambangi gedung fakultas tari, tempat gadis itu berada.

 “Kenapa tidak kau telepon saja? Kau belum pernah melakukannya?”

“Belum.”

 “Lalu apa yang kau tunggu?”

“Keberanian. Aku sedang menunggu keberanianku terkumpul.”

Kunyahan mulut Eunhyuk terhenti. Diam ia menatap si bebal dengan geram. Kegeraman yang sama seperti saat ia menahan diri untuk tidak menggigit paha ayam setengah matang dari panci yang sedang ibunya rebus.

“Kalau aku boleh jujur, sampai kiamat pun kau tidak akan mendapatkan keberanian yang kau maksud.”

“Terima kasih atas kejujuranmu, Kawan.”

Lebih dari sewindu berteman, tetapi tak sekali pun perbedaan mereka bersimfoni dalam larik nada yang sama. Donghae lebih senang berimajinasi. Persepsinya ditangkap lewat ide-ide, konsep, dan banjiran intuisi. Adapun Eunhyuk mengedepankan sensing kelima indra. Lebih konkret. Jadi jika Donghae masih membayangkan di ujung pelangi terdapat segentong emas, maka niscaya, Eunhyuk sudah sibuk mencuri segentong emas itu dari pelukan Leprechaun.

“Aku memaksamu untuk menghubunginya sekarang.”

“Oh, benar. Tolong paksa aku. Tapi bagaimana cara meneleponnya tanpa mempermalukan diriku?”

“Bagi lelaki pecundang, pilihan terakhirnya adalah drunk dial. Tidak perlu benar-benar mabuk. Kau bisa berpura-pura dan mengatakan apa yang ingin kau katakan. Kalau dia menolakmu, aku akan membantu mengatakan padanya bahwa saat itu kau mabuk berat dan sedang menggila.”

Dahi Donghae berkerut-kerut, mungkin sedang mencoba menepis kata-kata kasar temannya. Kemudian ia menjawab dan kerutan di dahinya makin bertambah. “Ini masih terlalu siang untuk mabuk-mabukkan.”

“Telepon dia atau kubunuh kau sekarang!”

“Uh, kejam sekali!”

Dengan lemas Donghae mengeluarkan ponsel, sementara tatapan membunuh temannya terus mengawasi. Di bawah tekanan batin sekaligus euforia janggal, ia menahan layar di atas angka satu. Tanpa disadari, napasnya ikut berhenti.

“Halo.”

Suara di seberang sukses menarik sisa nyawanya. Donghae diserang tremor. Ingin tangannya membanting iPhone keluaran lamanya. Beruntung Eunhyuk menyambarnya lebih dulu.

Donghae mematung. Pucat di wajahnya jelas menunjukkan apa yang baru saja ia dengar.

“Bagaimana?”

“Gagal.”

“Apa? Apa yang dia katakan?”

“Katanya jangan pernah mengubungi nomornya lagi.”

“Dia berkata seperti itu padamu?!”

“Bukan dia yang menjawab. Pacar barunya,” sahut Donghae lemas sambil angkat kaki dari hadapan Neptunus.

“Apa kau ingin aku membatalkan perjalanan hari ini?”

“Tidak, terima kasih. Ke mana kita setelah ini?”

Ponte Vecchio. Aku tidak keberatan menunggumu melamun di pinggir Sungai Arno dulu. Setelah itu, nanti malam kita akan ke Piazza Santo Spirito, tempat gadis-gadis berpesta. Mungkin kau bisa menemukan jodohmu di sana.”

Seperti yang telah disinggung, Donghae bisa jadi semenyebalkan ibu-ibu gang yang bertanya ‘mau ke mana?’ dengan ekspresi ‘aku tidak peduli kau ke mana’. Maka Eunhyuk tidak heran, jika ia tidak mendapat balasan yang berkesinambungan.

“Apa kau keberatan kalau kita menyeberangi Laut Adriatik dan pergi ke Serbia. Kau tahu, aku suka anjing Siberian Husky, benar?” racau si anak patah hati yang sedang kacau.

Eunhyuk menanggapinya setengah kesal, “Apa aku perlu membuka peta dunia untuk menunjukkanmu bahwa Serbia dan Siberia adalah tempat yang berbeda, Dopey?

“Tidak, terima kasih.”

  .

a/n

  • Kalau pakai cast mereka ujung2nya genrenya absurd. ;w;
  • Pernah nonton Kim Hyejin nelepon Ji Sungjoon sambil mabuk di drama She Was Pretty? Mungkin itu gambaran drunk dial hahaha
  • Dope punya beberapa arti, imajinasiku sampai liar ke mana-mana. Penjelasan panjang-lebar soal asal usul kata ini bisa lihat di sini. ((Yah, pusingnya karena emang ga tahu artinya, sih. Uhuk!))
  • Kalau panggilan Hyuk ke Hae, Dopey, itu diambil dari salah satu karakter kurcacinya Snow White. Artinya nyakitin, tapi kedengarannya unyuk, yah. Iya, ga? Er, ga, ya? Sempet nemu tujuh kurcacinya di mari dan mereka unyuuuuk. Mungkin lain kali bisa minjem karakter mereka bertujuh, ya.
  • Info tentang Florence klik lewat sini.
  • Quote di awal cerita tidak sengaja saya temukan di twitter dan langsung ngakak. Coba deh tengok di sini.
  • Kalau ada kesalahan, tolong tegur saya. 🙂

Advertisements

7 thoughts on “[Writing Prompt] Drunk Dial

  1. HALO KACHERR MASIH INGATKAH KAU DENGANKU //wkslupakan // BETEWE aku yang Viviana bukan yang Ani /

    OKAY KACHER INI ASLI BUATKU TERNGAKAK ABEEZ. dari pertama baca quote nya sebenarnya kusudah terkena kontaminasi keabsurd-an duo EUNHAE YANG KURINDUKAN INI.
    DAN KACHER.. KETIKA PARAGARAF DEMI PARAGRAF KUBACA, AKU RESMI IKUTAN SENEWEN SEBAB DONGHE YANG KURANGAJAR LOLANYA //
    kacher ini asli seru banget, karna kalo aku jadi eunhyuk mungkin sudah kutinggalkan dia di pinggir jalan Florence merana sendirian-__- dan okefix initu friendship konyolnya tu kerasa banget apalagi diksi kacher yang santai buatku mengikuti arus kegilaan eunhae disini ~

    tapi sebenernya aku bingung itu yang diajak bicara donge ditelepon itu bener pacar baru cewenya ato gimana? wks saya ikutan lola //

    YASUDAHLAH KACHER, OVERALL KUSUKA SEKALEE DAN SERING2LAH BIKIN EFEF BEGINIAN . BYE!!

    Like

    1. VIVIAN KLAN! DUH ;;;
      Satu-satunya pembacaku yang berklan ya cuma kalian. Kutak bisa lupa, tapi ga pernah bisa bedain. Apa Ana komennya lebih hebring, trus Ani lebih calm. Lah, sebodo, pokoknya kalian klan vivian ;:;;

      Thanks, ga kaget aku kalau yang komen pertama ff ga penting ini tu elf hahaha;;;;

      bukan pacar, cuma gebetan. dan donghae ngebet bnget sama dia. tp sayang, udah keduluan digebet orang X,,,D

      Liked by 1 person

    2. weeh ganyangka kalo kaka bisa bedain aku sama ani OEMJI , btw bener banget emang kalo komen aku kelewat heboh beda sama my twin yang lebih calm walau di dunia real , itu sebaliknya wks.//

      akutu sll suka tulisan kaka apalagi kalo castnya member suju jadi jangan heran kalo aku komen pertama. :v sekali kali bawain yesung dong kak , yang absurd bin aneh gitu . *siapalopakerequest?* lupakan kak/

      Liked by 1 person

  2. fatiiiiim waaa, aku udah lama banget ngga baca fanfic suju aduuuh mana ini karakternya used to be kesayanganku awawawa donghaee~~~ suka ih sama suasananya pas banget gitu. donghae emang tipe-tipe baperan sih (menurutku sih ya hahaha). sok-sokan gentle kalo di panggung tapi kalo mo deketin cewek malah tremor duluan hahaha. terus hyukjae-nyaaaa wawawawa. duh mereka :))

    anw anw ini kan ceritanya tentang mereka liburan yaaa, pas di awal sama akhir kerasa banget tuh suasana liburannya (yang kamu ada ngejelasin tempat terus next destination yang bakal dikunjungin) but but pas tengah-tengah kayak ilaang gitu (waktu bagian mereka ngobrol yang donghae tiba-tiba nyeletuk alasan dia pengen ke florence). not a big deal sih but aku pribadi ngerasanya agak jomplang ehe. sebenere bisa kok dimasukin di deskrip, kaya hyukjae ngomong sambil ngeliatin turis lain yang melintas, atau ngeliat bangunan apa yang menjulang di deket mereka hehe. biar deskrip tempatnya ngga hilang 😀 oiyaaa tadi ada typo, penulisan sekali pun harusnya digabung jadi sekalipun yaaah ehe.

    oiya oiya aku sukaaaaaa deh sama quotesnyaaa wkwk iya bener aku tuh nguquq-nguquq bacanya xD terus bahasa yang kamu pake jugaa, sama penjabaran destinasinya ihiiiw. yosh fatiiim keep writing yaaaa! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s