[Writing Prompt] Pesan dari Sesuap Bubur

lunchbox-12cm.jpg

By dhila_kudou

Rantang Nasi


Suasana lobi rumah sakit pagi ini mendadak ribut. Pusat keributan bukannya berada di antrean pendaftaran pasien ataupun loket klaim asuransi, melainkan di pagar perbatasan lobi dengan area rawat inap. Seorang bapak paruh baya dengan sebuah rantang nasi di tangannya memaksa masuk ke area rawat inap. Ia berhadapan dengan dua orang petugas keamanan yang berupaya keras agar setiap pengunjung tidak membawa makanan dari luar, termasuk bapak tersebut.

“Kemarin-kemarin bukannya masih boleh bawa ini, Pak?”

“Maaf Pak, peraturan ini baru saja berlaku hari ini. Kalau Bapak mau protes, silakan bicara langsung ke atasan saya.”

“Tolonglah Pak. Ayah saya sedang mengidam bubur kacang hijau ini, Pak.”

“Pasien tidak boleh makan-makanan dari luar rumah sakit lagi, Pak. Mohon kerja samanya.”

“Kalau begitu, ini untuk saya makan nanti di dalam ruangan,” tawar pengunjung tersebut.

“Saya sudah bilang di awal, Pak, keluarga pasien bisa makan di tempat makan khusus di sebelah sana.”

“Tapi –“

“—mohon maaf Pak, bisa ikut saya sebentar?”

Bapak paruh baya itu memalingkan wajahnya yang mulai memerah ke sisi kiri. Sesosok pria berkacamata berusaha menengahi keduanya. Bapak tersebut langsung melirik kartu tanda pengenal yang begitu kontras dengan kemeja putih yang dikenakannya. Rasa lega sekaligus marah langsung memuncak ketika sederet kata ‘Wakil Direktur’ terbaca oleh mata bapak tersebut.

“Nah, tepat sekali. Saya mau melayangkan protes. Atas dasar apa Bapak memperlakukan peraturan ini?”

Pria itu berusaha tersenyum seramah mungkin meski kenangan pahit kembali terputar di dalam benaknya.

.

Adalah siang hari, di saat  konferensi ilmiah baru saja berakhir. Irfan membereskan makalah yang ditinggalkan oleh dosen-dosennya di atas meja. Temannya yang lain menggulung kabel mikrofon yang mengular di ruang seminar. Karena terlalu fokus menyusun makalah—yang nanti akan ia letakkan satu persatu di ruang dosennya kembali—ia terkejut saat tepukan lembut mendarat di bahunya. Orang itu adalah Prof. Martin, salah satu dokter konsulen yang menjadi dosennya di pendidikan spesialis saraf. Irfan buru-buru minta maaf dan benar-benar bersyukur umpatan tidak latah keluar dari mulutnya.

“Bagaimana persiapan acara lusa? Pasiennya sudah menandatangani surat persetujuannya?”

“Sudah Prof, semua persiapan sudah beres.”

“Bagus. Apa kamu sudah ada pasien cadangan?”

Irfan meredupkan senyumnya sembari menunduk, “Masih belum, Prof.”

“Kita bukan Tuhan yang bisa mengatur rencana semuanya dengan pasti. Pikirkan selalu kemungkinan terburuk, Fan.”

.

Sudah tujuh belas hari ayah Dio dirawat di ruang kelas tiga bangsal saraf pria. Dio masih tetap bersemangat menunggui ayahnya yang mengalami penyakit stroke, sehingga anggota gerak sisi kanannya lumpuh dan bicaranya menjadi pelo. Ayahnya ditemukan tak sadarkan diri saat membersihkan rumput di halaman rumahnya dan langsung dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Kata dokter, beruntung perdarahan otaknya tidak terlalu luas. Dokter juga memuji kesigapan Dio karena ayahnya segera dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan.

Walau seminggu pertama ayahnya benar-benar tak mampu diajak berkomunikasi, namun sedapat mungkin Dio selalu berada di sisi sang ayah. Semua perintah dokter dan petugas paramedis dipatuhinya. Ia benar-benar berharap dan berusaha sebaik mungkin agar kesadaran ayahnya pulih kembali. Hingga akhirnya kesabaran Dio membuahkan hasil.

Waktu itu malam hari, saat seorang dokter muda yang hampir tak kuasa menahan kantuknya sendiri hendak mengukur tekanan darah ayahnya untuk kontrol intensif berkala. Tiba-tiba saat manset tensimeter tengah dipompa, ayahnya membuka mata dan mengerang. Dio panik saat itu dan langsung memelototi dokter muda tersebut. Yang dipelototi mendadak panik dan langsung menelepon seniornya. Tak sampai semenit seniornya datang dan berusaha menjelaskan sambil tersenyum.

“Bapaknya sudah sadar.”

Dio tercengang. Ia menatap wajah ayahnya yang tampak kebingungan sambil menatap langit-langit ruang rawat. Dio berusaha memanggil ayahnya. Gerakan kepala ayahnya yang pelan ke arahnya membuat Dio tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya memeluk ayahnya erat sambil terus mengucap syukur.

Dokter muda tersebut menggulung manset tensimeternya. Tak ia sangka akibat tenaganya yang terlampau kuat memompa tensimeter mampu membangunkan seorang pasien yang telah tidur hampir tujuh hari itu. Rasa kantuknya langsung hilang dalam sekejap.

.

Hari pun berlalu begitu cepat dan membahagiakan. Ayah Dio yang awalnya terpasang alat bantu napas sudah mampu bernafas seperti biasa. Selang-selang yang menjalar menuju punggung tangan maupun kakinya sudah tersisa satu buah saja dan terpasang di tangan kirinya, itu pun hanya berfungsi sebagai tempat memasukkan obat dan cairan infus pada umumnya. Tak ada lagi bunyi mesin melengking pertanda obat injeksinya habis dan minta diisi ulang karena obat khusus menangani kondisi kegawatan tersebut tak lagi dibutuhkannya. Ayahnya bahkan sudah mampu untuk dibawa ke kamar mandi setelah sebelumnya kegiatan berkemih dan membersihkan tubuh hanya bisa dilakukan di atas ranjang.

Walaupun begitu, ada satu alat yang membuat ayahnya maupun Dio tidak nyaman. Yaitu selang yang terpasang melalui salah satu lubang hidungnya menuju lambungnya untuk memasukkan susu cair dan beberapa obat. Ayahnya berpikir ia sudah sadar penuh untuk dapat mengunyah makanan sendiri dengan mulutnya dan tidak lagi bergantung pada susu cair yang rasanya saja tak mampu dicicip oleh lidahnya. Dio berusaha memberikan pengertian kepada ayahnya sesuai dengan penjelasan dokter yang diberikan kepadanya.

Ayah Dio hanya mengangguk setengah setuju. Bersusah payah ia menahan rasa mengganjal setiap dirinya berusaha menelan ludahnya sendiri. Setiap petugas menghampirinya, ia selalu meminta agar selang tersebut dicabut saja. Dio pun lama-kelamaan merasa tak tega dan berusaha membujuk dokter yang merawatnya, yakni Dokter Irfan.

“Apakah Bapak sudah bisa menelan air putih sedikit-sedikit?”

“Sudah, Dok. Malah saya sudah meneguk air putih berkali-kali. Aman-aman saja kok, Dok,” ayahnya mencoba meyakinkan.

“Bapak ada cegukan nggak setelah minum air putih?” tanya Dokter Irfan kepada Dio yang berdiri tegang di sebelahnya. Belum sempat ia membuka mulut, ayahnya lebih dahulu berkata.

“Nggak pernah kok, Dok. Iya kan, Dio?”

Namun dokter Irfan mampu menangkap raut wajah tak tenang dari Dio. Dio merasa takut bila ayahnya terlalu terburu-buru membuat dirinya sendiri tampak sehat seperti sediakala. Tapi ia tak mampu lagi menyabarkan ayahnya dan memutuskan untuk diam.

“Baiklah, makan malam nanti silakan Bapak coba makan bubur saring yang nanti akan diberikan. Tetap harus berhati-hati ya, Pak. Jika tidak bisa jangan dipaksakan.”

“Kalau bubur kacang hijau boleh, Dok? Saya sudah lama mengidam bubur kacang hijau bikinan istri saya.”

“Jangan dulu ya, Pak. Kerongkongan Bapak masih belum kuat menelan makanan bertekstur seperti itu. Bubur saring dulu sesuap dua suap. Paham ya, Pak?”

“Tetapi sekarang selangnya bisa dilepas, ‘kan, Dok?”

Dokter Irfan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Sabar dulu ya, Pak.”

.

Esok hari pun datang. Acara pertemuan ilmiah baru saja dibuka. Irfan yang menjadi salah satu penanggung jawab materi simposium tengah mengambil rehat sejenak setelah berkeliling menyalami satu persatu tamu undangan penting yang datang. Diambilnya kursi plastik dan dibawanya ke ujung koridor. Ia akhirnya dapat duduk tenang jauh dari pandangan orang-orang yang berlalu-lalang memasuki ruangan.

Belum sempat ia menyandarkan punggungnya yang penat, tiba-tiba ponselnya bergetar. Rian, juniornya yang tengah bertugas di ruang rawat meneleponnya.

“Ya, ada apa, An?”

Di seberang telepon, Rian menjawab dengan napas terengah-engah, “Fan, pasienmu apneu1, Fan! Iya, diambu2 terus, Dek. Pasang EKG3-nya cepat!

Irfan langsung berdiri sambil memasang kacamatanya kembali, “Halo, An, halo? Pasienku mana yang apneu?”

“Pak Bagas, pasien untuk simposium kita hari ini!”

Jantungnya nyaris melompat begitu mendengar nama Pak Bagas di sambungan telepon. Pak Bagas, ayahnya Dio, pasien yang menarik perhatian dan pikirannya selama seminggu ini tengah meregang nyawa. Ia berusaha mengenyampingkan amanah lain sebagai penanggung jawab materi ketiga nanti yang hanya tinggal dua jam lagi.

Tetapi gagal, ia tak bisa lebih panik lagi ketika teringat Pak Bagas adalah pasien yang dipilih untuk menjadi salah satu narasumber di materinya itu. Ia berlari menyambar pintu lift dan bergegas menuju ruang rawat yang berada dua lantai di bawahnya.

Tak sampai tiga menit ia sampai di ruang rawat saraf dan langsung melihat beberapa orang telah berkerumun di sekitar tempat tidur Pak Bagas. Ia berusaha mengatur napas sambil membelah kerumunan tersebut dan mengambil posisi di samping Rian yang tengah bersusah payah melakukan pijat jantung luar terhadap pasiennya itu.

“Sudah berapa menit?”

“Lima menit, Fan. RJP4-nya sudah masuk siklus keenam.”

“Sudah ada napas spontan? EKG-nya mana?” tanya Irfan dengan nada sedikit tinggi. Ia langsung berlari memutar menuju mesin EKG portable dan membaca gelombang yang dihasilkan di sana.

“Masih belum, Fan.”

“Tunggu-tunggu, coba berhenti dulu. Kita lihat lagi EKG-nya.”

Rian pun turun dari bangku pijakan dan mengambil napas panjang. Ditatapnya Dio sedang komat-kamit menyaksikan ayahnya yang perlahan membiru. Ia juga menatap Irfan tengah mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Dapat ditebak ia berusaha menahan emosi ketika menatap tumpahan bubur kacang hijau yang keluar dari rantang nasi yang tergeletak di lantai tak jauh dari kakinya.

Sepuluh detik berlalu sambil terus menyaksikan gelombang yang dihasilkan di layar monitor. Irfan pun mengambil sikap. Ia mematikan mesin EKG-nya yang hanya dapat melengking nyaring lalu beralih melihat ke arah jam dinding. Seolah tahu maksud gerak-gerik Irfan dan petugas lainnya, Dio langsung menghamburkan tangisnya dan berlari meraih tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa lagi.

.

“Lalu apa penyebab meninggalnya, Dok?”

Sang pria berkemeja putih mengatupkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap rantang nasi kepunyaan lawan bicaranya tersebut. Pria paruh baya di hadapannya ikut melihat barang yang menjadi penyebab keributannya dengan petugas keamanan tadi.

“Rantang nasi? Apa yang salah dengan rantang nasi ini, Dok?”

“Pak Bagas yang saya ceritakan tadi beberapa menit sebelumnya sedang memakan isi dari rantang nasi yang dibawa oleh istrinya dari kampung. Seporsi bubur kacang hijau, makanan favorit pasien tersebut.”

“Buburnya diberi racun?”

“Bukan, ia meninggal karena tersedak. Istrinya tidak paham dengan kondisi suaminya yang masih tidak mampu melakukan gerakan menelan secara benar karena penyakit stroke yang dideritanya. Bahkan selang hidungnya ia cabut sendiri tanpa sepengetahuan perawat dan anaknya. Anaknya yang selama ini merawatnya tak mampu mencegah hal itu terjadi karena harus mengurus proses administrasi ayahnya.”

Bapak paruh baya tersebut langsung tersadar dan menarik punggungnya ke sandaran kursi. Ia teringat bubur kacang hijau yang dipersiapkan untuk memenuhi keinginan ayahnya hari ini.

“Jadi, ayah saya juga tidak bisa memakan ini, Dok?”

“Nanti kalau ayah Bapak sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawat dan tak terpasang selang khusus untuk makan saat pulangnya. Bapak silakan tanyakan langsung secara rinci kepada dokter yang merawat ayah Bapak.”

Bapak paruh baya tersebut mengangguk.

“Tak hanya karena penyakit stroke saja, Pak. Penyakit lain yang ringan seperti tipus5 pun hanya boleh makan makanan yang disediakan oleh rumah sakit saja. Semuanya sudah diatur khusus demi kesembuhan pasien juga, Pak. Jadi Bapak paham, ‘kan, mengapa keluarga pasien dilarang membawa makanan dari luar?”

“Paham, Dok. Terima kasih atas penjelasannya.”

Pria berkemeja putih itu tersenyum lebar, “Sama-sama, Pak. Terima kasih juga karena Bapak sudah mau saya aja berdiskusi.”

“Kalau begitu, saya pamit, Dok.”

“Silakan, Pak. Semoga ayah Bapak lekas sembuh.”

Bapak paruh baya tersebut berdiri dan membawa kembali rantang nasinya keluar ruangan. Namun tak lama langkahnya terhenti sesampainya di ambang pintu dan langsung berbalik badan, “Maaf, Dok. Ada yang ingin saya tanyakan lagi.”

“Boleh. Apa gerangan, Pak?”

“Hmm, kalau boleh tahu, Dokter dalam cerita tadi yang jadi siapa?”

.

THE END

.

1 apneu : henti napas. Istilah ini lebih sering dikatakan untuk menamai kondisi pasien yang henti napas tiba-tiba, dan biasanya juga disertai dengan henti jantung/gangguan denyut jantung.

2 diambu : gerakan memencet balon khusus untuk memompakan oksigen ke dalam saluran napas pada orang yang henti napas karena tidak dapat bernapas spontan/bernapas tidak adekuat.

3 EKG : elektrokardiogram, mesin khusus perekam gelombang jantung, terdiri dari beberapa kabel panjang yang akan dipasang pada tubuh pasien.

4 RJP : resusitasi jantung paru. Tindakannya antara lain melakukan pijat jantung luar, meniupkan oksigen melalui alat khusus atau langsung mulut ke mulut, bisa juga disertai pemberian kejut jantung dan penyuntikan beberapa obat khusus.

5 tipus : istilah yang sering digunakan secara luas untuk demam typoid, yaitu demam lebih dari 7 hari yang juga mengganggu sistem pencernaan, dan dapat membuat dinding usus rusak hingga berlubang karena bakteri penyebabnya S.typhi. Sehingga pasien tipus harus berbaring terus hingga dinyatakan sembuh dan hanya boleh memakan makanan lunak untuk mencegah kerusakan usus lebih lanjut.

Author’s note:

Cerita ini fiktif belaka. Mohon maaf banyak plothole di sana-sini karena sebenarnya ini ditulis dalam kondisi puasa menulis cerita dalam waktu yang lama. Dan mohon maaf juga kalau istilah dan penggambaran situasi medisnya banyak yang salah. Atau mungkin yang lebih fatal, gak klop sama prompt-nya T_T. Koreksi sangat diperlukan untuk menambah pengalamanku dalam menulis. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke cerita ini.

Advertisements

10 thoughts on “[Writing Prompt] Pesan dari Sesuap Bubur

  1. Hai, aku hellen salam kenal ya. Kalo menurutku sih dokter yang ada di cerita itu ya yang lagi cerita itu? Bener gak sih? Hihi.
    Susah juga ya tapi kalau ada pasien yang ngotot sedangkan udah ada peraturan baru gaboleh bawa makanan dari luar. Yang ada nanti kayak ayahnya dio itu deh. Duh serem.
    Keep writing yak! 💪

    Liked by 1 person

    1. Halo juga Hellen! 😀
      Iya, sebenarnya di awal aku ngesetnya seperti itu. Benar sekali tebakannya. Fyi itu krna pas mau ending aku tiba2 kepikir masih ada kmgkinan Dio yg jdi dokternya, akhirnya aku maksa masukin dialog itu xD
      Nah iyaa, emg itu kali ya dilema para pmberi layanan di luar sana. Udah ada aturan tp yg dilayani kadang2 suka semaunya tnpa tau akibatnya 😦 smoga gak ada yg bernasib sama sperti ini lgi ke depannya, aamiin
      Trimakasih banyak Hellen sudah mampir ke cerita ini 😀

      Like

  2. Keren kog, dhila. Istilah medisnya juga bermanfaat.

    Jadi inget bapakku waktu dirawat di rumah sakit. Sempet kena penyumbatan darah di kepala. Kadang beliau jadi gampang marah, ini itu berasa salah;;;;;

    Hubungan dokter dan pasien juga menarik buatku. Dua2nya harus sama2 percaya. Tapi namanya orang sakit pasti ada titik lelah dan jenuhnya. Kesabaran dokter dan pengawasan perawat yg kudu ditingkatkn soal ginian. ;w;

    Liked by 1 person

    1. Alhamdulillaah kalau begitu kak. Aku suka kelewat semangat klo nulis cerita genre medis kayak gini, takut trlalu brlebihan istilah medisnya padahal tulisannya masih amburadul. 😦
      Aah, smoga ke depannya ayah kk sehat selalu ya kak. Mmang butuh kesabaran tinggi utk hadapi ortu yg baru pulih dari sakitnya. Nenekku juga, akhir2 ini emosinya suka tinggi krna udah pelupa. Tetap smangat ya kak :^)
      Iya, kebetulan aku bkin ini trinspirasi dari kisah temenku yg pasiennya mninggal krna trsedak. Mgkn walau kita udah usaha maksimal buat mengawasi, takdir suka berkata lain 😦
      Trimakasih banyak kak sudah berkunjung ke cerita ini! 😀

      Like

    2. Aku malah paling lemah soal medis. Kepingin banget bisa nulis dokter-dokter kece githu. hah
      Aamiiiin, nenek kamu juga semoga diberi langgeng kesehatan dan kesabaran, yah :’)))
      Iya, kadang Tuhan punya cara lain untuk nyapa kita.

      Yep, sama-sama 🙂 ❤

      Liked by 1 person

  3. Menginspirasi sekali Dhila, dan tbh relatable sama daily life ahahahahahahahaha pemberontakan dimana-mana cyin… padahal kalo pasien sembuh yang seneng keluarga juga
    tapi ya mau gimana kadang orang sakit tuh kalo ada maunya gampang ngambek ((ea yang baru sakit ceramah))

    thanks for participating dan uwaaaaaaaaah istilah medisnya ciamik waw thanks a bunch! Keep writing dhilaaaa ❤

    Liked by 1 person

    1. Hai kakpang! Alhamdulillaah kalau maksudnya sampaai, huhuhu. Iya, seringnya kalo sakit itu maunya segala keinginan trpenuhi, haha..
      Eh, sekarang udah baikan kan kakpang? 🙂
      Sama-sama kakpang, hehehe, alhamdulillaah, aku bahagia baca komennya, wkwk.. Makasi banyak kakpang, semangat nulis juga kak, ditunggu proyeknya 😀

      Liked by 1 person

  4. halo, dhila! 😀

    ya ampun, istilah medisnya :”) titan sempat bengong pas baca, tapi mereka bermanfaat sekali. so kudoos ❤

    ceritanya menginspirasi banget ya. dan hubungan antara dokter dengan pasien itu memang dibutuhkan kepercayaan tinggi dalam kondisi apapun. ini ketje banget. keep writing dhila ❤

    Liked by 1 person

    1. Halo titan! ^0^/
      Aku brsyukuur klo bisa bermanfaat sperti ini..wkwkwk. Iya, saling percaya bener banget, dan smoga gak ada yg menyalahgunakan kepercayaan yg diberikan :^)
      Trimakasih banyak Titan, ini toh belom ada apa2nya sama punyamu :^) Keep writing juga buat Titan 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s