[Writing Prompt] Perdente

imageby kimminjung00

Dancing with tears

Setidaknya aku masih memiliki sebuah dunia yang sudi menjadikanku bintang paling bersinar di antara kelamnya realita. Lagi pula, menari bersama tawa orang-orang lebih baik daripada menari bersama air mata, bukan?

.

Rasa sakit dari dampal kaki hingga ubun-ubun timbulkan berlapis-lapis air di kedua netraku. Tapi aku ini laki-laki, dan kata orang-orang, laki-laki itu pantang menangis. Petuah lama yang mendiskriminasikan kaum adam. Padahal kalau kau berada di posisiku sekarang, memangnya bisa tahan untuk tetap tidak menangis? Menuruti petuah konyol itu?

Aku ingin menjerit sampai pita suaraku putus. Ingin mengamuk sampai luka codet hiasi epidermis mereka. Ingin menghadiahi ganjaran setimpal atas segala tindak-tanduk mereka padaku. Kendati begitu, tak ada yang dapat kulakukan selain menggigit bibir kencang-kencang dan merajut langkah dengan sepatu jebol. Aku tahu aku payah. Benar-benar payah malahan. Aku paham betul kalau aku tidak lebih baik dibanding seorang pecundang yang hanya bisa memaki dalam hati. Pecundang yang tidak dapat membongkar segala tindakan menyimpang karena takut yang menyelimuti nyali tebal-tebal. Benar-benar pecundang.

Kalian pasti bertanya, kenapa aku mau-mau saja diperlakukan seperti ini. Ya, kalau kupikir-pikir lagi, memangnya aku ini bisa apa, sih. Lari satu keliling saja tak mampu. Mengerjakan soal hitungan SMP saja kesulitan. Mengingat dua-tiga kalimat saja masih linglung. Lantas apa yang dapat kubanggakan? Lantas apa yang dapat kujadikan alasan agar mereka tidak mem-bully-ku lagi? Sedang aku sendiri saja mengaku kalau aku ini memang benar-benar payah.

Di antara kacamata yang membingkai, serta kantung hitam yang menggantung di bawah manik sayuku, aku bisa melihat tatap sarkasme orang-orang. Memandang seolah aku ini adalah makhluk paling menjijikkan yang memaksakan diri memijak permukaan bumi mereka yang ‘indah’.

Tidak hanya di sekolah, saat di bus pun aku menerima perlakuan serupa. Memang kalau mereka menatapku iba begitu, luka di selujur tubuhku bisa terobati? Torehan dalam hatiku bisa tertambal?

Aku tahu ini memalukan—sangat. Di saat orang-orang diberi kejutan sampai air mata berjatuhan dari pelupuk matanya, aku malah menerima kejutan yang membuat darah mengalir dari kedua bola mataku. Bahkan kalau dikuliti hidup-hidup pun, para manusia egois itu masih akan bersikap apatis. Oke, ini memang terdengar hiperbolis dan agak mengerikan. Tapi, realitanya memang begitu.

Mencoba ikut-ikutan berpolah apatis, aku memandang jendela dengan kepala berpangku pada lengan penuh codet.

***

Tungkaiku baru saja terbebas dari sepasang kaos kaki kumal saat kudengar lengkingan keras dari dapur. Kutarik-ulur napas dalam-dalam. Pasti mereka bertengkar lagi.

Beberapa peralatan dapur yang beterbangan sempat menyinggahi netraku, disusul bunyi pecahan kaca. Isak tangis dan muntahan argumen bagaikan semangkuk nasi yang mau tak mau harus kutelan bulat saban harinya.

Perasaan takut—tremor—yang dulu kerap selimuti tubuhku, kini tak lagi menyergap. Aku jadi ingat bagaimana dulu aku menangis saat kedua orang tuaku bertengkar. Bagaimana aku ingin tuli saja agar isak tangis ibu tidak menusuk gendang telingaku. Tapi sekarang aku muak. Benar-benar terlampau muak. Hidupku benar-benar buruk.

Aku sudah seperti pencuri saat mengendap-endap menuju kamarku sendiri. Menyapa dan mengucap salam pada dua orang yang dikendalikan emosi, sama sekali bukan ide bagus. Sebelum mereka kembali menarik sudut bibir tinggi-tinggi dan berpolah seakan tak terjadi apa-apa, lebih baik aku langsung menutup pintu dan membanting tubuh ke ranjang.

Di kedua iris kelamku, langit-langit berubah jadi layar proyeksi yang menyajikan berbagai hal buruk di hari yang panjang ini. Seperti asal-muasal goresan baru di tubuhku, serta lejitan palsu di bibir kedua orang tuaku pada pagi hari yang kelam. Aku tidak mengerti kenapa mereka harus berpura-pura. Toh, bertengkar di depan anak mereka sendiri saja sudah jadi hal lumrah.

Kuraup oksigen banyak-banyak, sebelum melepaskannya dengan satu entakkan.  Ah, aku jadi teringat sesuatu.

Bergegas kuraih laptop-ku dan memangkunya penuh kasih sayang. Baru saja kusambungkan ke internet dan kubuka akunku saat barang elektronik itu berbunyi nyaring. Ledakan notifikasi menyapa keempat mataku ramah. Wow, tak kusangka responnya bisa sehebat ini!

Perlahan, sebuah kurva menghiasi wajahku. Lebar sekali sampai bibirku yang sobek terasa begitu perih. Namun siapa peduli, satu-satunya yang kupedulikan adalah bagaimana aku bisa membalas komentar mereka satu-satu.

From : ririnputri38

Ceritamu lucu banget! Ya ampun, perutku sampai sakit dan aku baru tahu kalau menahan senyum itu semenyakitkan ini. Kutunggu cerita lainmu, ya!

From : andhika123

Please, yang ini kocak parah! Gimana bisa buat cerita selucu ini sih? Dari pengalaman pribadi, ya? Hahaha, sumpah kocak abis!

From : keishaandini

Omaigat, keren banget! Malah film komedi di bioskop gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama cerita kamu!

Setidaknya aku masih memiliki sebuah dunia yang sudi menjadikanku bintang paling bersinar di antara kelamnya realita. Lagi pula, menari bersama tawa orang-orang lebih baik daripada menari bersama air mata, bukan? Ya, walau masih tidak bisa menampik fakta bahwa mereka bukan berasal dari dunia nyata.

.

—end—

Advertisements

8 thoughts on “[Writing Prompt] Perdente

  1. Salah satu promt yang kutunggu, karena dulu kepiran buat milih. Dancing with tears udah terdengar dramatis. Yang unik di sini adalah hidup tokohnya yang menderita dari ujung kaki sampai ujung rambut, termasuk hati dan pikiran. Tapi dia bisa menciptakan humor lewat tulisan. Awesome :’)

    Like

  2. Bagaimana harus ngga terkesan dengan orang-orang yang bisa buat cerita 180 derajat dari apa yang dia hadapi di real life?
    beneran deh aku mau aja standing applause hahaha keren banget topiknya dan ngena! Jleb dan nyess gitu hahahahah
    Astaga di awal dibikin miris tapi endingnya bikin meringis ❤ Si aku hwebad pisan euy, yang nulis apalagi.

    Thanks for participating dan nulis sengena ini yhaaaa huhu setuju sama ka cherry btw, dari judul promptnya aja uda menggilas XD
    Keep writing yaaa!

    Like

  3. Juuuung unexpected banget dancing with tears-nyaaa. Prompt akuuu wkwkwk. Dan aku suka banget, karena…. terkadang penulis memang begitu kan, tidak bisa ditebak real-life-nya. Kecuali uda terkenal banget dan dia rela membagikan tentang figurnya pada publik.

    Keep writing ya Juuung ^^

    Like

  4. aduh, ini bagus banget ya :”) terlebih titan juga punya beberapa kenalan penulis yang menghadapi realita kehidupan berat, tapi cerita-cerita mereka selalu menyegarkan buat para pembaca. they are so precious, don’t you think so? :”))

    kudos for the plot and the story ❤ ❤

    Like

  5. Ini nuamparr yah. Ajaib gitu penulis yang bisa memainkan kata2 yang sweet kocak tapi dunia nyatanya kelam. Terkadang dunia maya dibutuhkan untuk org2 macam ini utk pelepas stress, setidaknya masih ada yg mau pedulikan kita dari sisi yg kebih menyenangkan :^

    Ketje plotnya! Aku pernah kepengen nulis plot kyk gini tapi givap duluan krna berat bgt, tapi cerita ini sukses mngungkapkannya dg begitu ciamik mnurutku. Tetap semangat nulis ya! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s