[Writing Prompt] Keseharian Jakarta

4483e4bcef40dec7963f93472927f3f7

Keseharian Jakarta © Fantasy Giver

Prompt: Jakarta Hari Ini

.

Jakarta belajar bahwa dalam setiap momentum, ada bulir-bulir kebijaksanaan yang bisa dipanen—untuk memperbaiki hari ini menjadi esok yang lebih baik, meski belum sempurna. Sebab esok untuk memperbaiki lusa, dan begitu seterusnya. Dan oleh sebab itulah, kesempurnaan nyaris tidak eksis.

.

.

Mendung menggelayuti angkasa ketika Jakarta melangkahkan kakinya masuk ke Transjakarta trayek baru dari Universitas Indonesia—masih percobaan, sih, tapi ‘kan lumayan menghemat uang dari pada dia pesan Grab Car yang bisa memakan ongkos Rp86.000,00—menuju kantornya di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Dia menguap, lalu sambil mengempit koran baru yang dia curi dari meja temannya di ketiak, Jakarta mengambil tempat duduk paling belakang dan melirik arlojinya sedikit. Kemudian jantungnya meledak jadi ribuan serpih. Demi apa sudah jam setengah tujuh lewat sepuluh? Dia kira ini masih jam enam! Padahal jam masuk Jakarta sama dengan PNS; setengah delapan.

Mampus, tahu begini nggak usah sarapan dulu.

Detik berikutnya, otak sederhana Jakarta mulai berdesing dan berasap memikirkan macet di Universitas Pancasila, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pancoran, dan sejuta titik henti lain.

Ahelah.

Sponsor ngaret hari ini tak lain, tak bukan, adalah Depok yang mengajak duel PS sampai azan subuh. Ah, kalau begini, Jakarta harus menyiapkan hati untuk menerima pahitnya omelan nanti. Masih sedikit bersyukur lantaran pemuda itu imun kata-kata pecat, sih, tapi malas juga kalau dimaki-maki. Enaknya punya status istimewa—kendati bukan berarti absen sanksi.

Yah, disiplin juga demi dirinya. Kan bagaimanapun, deep down, mantan wakil papinya Bang Indo itu sayang sama Jakarta, hihi.

Jaga-jaga dia betulan terlambat, Jakarta mengeluarkan smartphone, lalu mengetik sms izin berbunyi, “Maaf, Pak, sepertinya saya bakal telat. Saya masih ada di dekat UI, naik Transjakarta yang baru. Sekalian kontrol lapangan, ya, Pak? Nanti saya janji akan saya tulis laporannya.”

Ingin ditambahkannya kata-kata, ‘Jangan marah, Pak, nanti cepat tua. Peace, love and gawl dari Jakarta Ganteng,’  tapi kepintarannya mengingatkan ini bukan waktu yang tepat, maka Jakarta segera menghapus dua kalimat tersebut.

Nah, selesai!

Tinggal tunggu dibaca dan dibalas.

… semoga.

Ketika supir bus telah menginjak kopling serta gas dan menyebabkan transportasi praktis itu berakselerasi, Jakarta mencoba menenangkan diri dengan membuka koran. Berita pertama, menempel di headline, adalah soal keadaan jalan yang agak longgar kemarin.

Aa, ini sebabnya, toh. Pantas saja sekarang napas Jakarta sudah lebih ringan dan lega—biasanya sering sesak karena terlalu banyak Kopaja, Metromini, dan kendaraan pribadi. Tapi sekarang Kopaja hijau dan Metromini oranye sudah berkurang, diganti bus berbahan bakar gas, sementara kendaraan pribadi … yah, sedikit berkurang, dia jadi tidak terlalu banyak ngisep asap, deh.

Bisa juga kelegaan itu berbasis pengendalian daerah-daerah padat. Seperti Pasar Ikan dan Kampung Luar Batang, Kampung Pulo sampai Bukit Duri, atau Tanah Abang yang semrawut sekalipun. Jakarta sekarang jadi jarang vertigo karena wilayahnya lebih teratur dan masyarakatnya bisa tinggal di tempat yang lebih aman, kendati beberapa protes masih bergaung di telinganya.

Tapi ya sudahlah, kemajuan tetap kemajuan. Jakarta senang, kok.

Ketika ia membalik headline ke lembar berikutnya, pengunduran diri walikota Jakarta Utara karena kinerjanya dianggap kurang baik menjadi berita yang menyambut Jakarta. Pemuda berwajah dua puluh tahunan itu berdecak santai, lalu membalik halaman lagi; malas baca.

Lho, kalau dikritik kurang baik kenapa tidak coba membenahi diri dan gampang menyerah? Kalau semudah itu, sudah dari dulu Jakarta mengundurkan diri jadi Jakarta karena … berpuluh tahun hidupnya begini-begini saja! Tapi kalau dilihat dari sisi yang lain, bisa jadi bosnya juga yang salah karena tidak mampu menghargai hasil pekerjaan orang lain dan terlalu mudah menuduh. Seharusnya ‘kan bisa dipikir dulu sebelum menuding yang tidak-tidak.

Hah, drama politik.

Dia sudah lelah.

Berita berikut yang dia temukan adalah kompetisi berhadiah titel Jakarta Satu yang sibuk dipergunjingkan masyarakat ibukota dari segala kalangan—kecuali, mungkin, anak TK, tapi karena yang ada di kepala mereka adalah apa yang bisa dimainkan siang nanti, bukan seperti apa keadaan Jakarta lima tahun lagi. Tapi Jakarta memaafkan mereka, sebab mereka sering mewarnai hari Jakarta dengan tawa. Haha.

By the way, bosnya yang sekarang ternyata populer sekali, ya. Di sini ditulis oleh salah satu Peneliti Politik LIPI bahwa Pak Bos tetap lebih unggul dibanding calon-calon gubernur lainnya, terlihat dari hasil survei Populi Center tanggal 15 sampai 21 kemarin. Masyarakat sudah lebih cerdas memilih, katanya. Tapi tidak tahu, deh, pernyataan itu fakta atau opini.

Memalukan mengakuinya, namun jujur, Jakarta masih bingung siapa saja calon pemimpinnya mulai tahun depan. Serius, siapa saja, sih? Terlalu banyak nama yang muncul di media massa sampai dia sendiri—meskipun tidak boleh memilih—tidak tahu harus memercayai siapa. Mulai dari Pak Bos, Bos Bandung (yang sudah mengundurkan diri), anggota DPRD, sampai artis yang ingkar janji.

Jadi, tidak, tidak. Dari pada salah informasi, Jakarta tidak ingin membahas calon Jakarta Satu tahun depan.

(Tapi semoga saja bukan si artis yang suka ingkar janji itu. Jakarta bergidik ngeri memikirkan kalau sampai dia yang jadi gubernur. Ups.)

Tak menemukan yang bisa menghibur, dia terus membalik-balik korannya sampai kusut (iya, Jakarta agak malas membaca berita dari provinsi lain, dia lebih suka mengamati dirinya sendiri. Dasar egois). Pada titik ini, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Sesuatu yang tadinya kecil, namun membengkak diulur waktu.

Kenapa semua berita yang membawa nama Jakarta cenderung condong ke kutub negatif? Berbeda dengan berita Bandung yang punya batik baru, atau berita Yogyakarta yang mengadakan pameran lagi, atau Balikpapan yang hutan bakaunya dibilang punya potensi wisata, atau Sulawesi Selatan—di mana warganya saling bahu-membahu untuk membantu korban banjir.

Berita tentang Jakarta kebanyakan berbau politik jelek, kalau tidak kemacetan, atau kacrut-nya commuter line atau trayek Transjakarta baru. Jakarta sadar bahwa sudah lama sekali ia monokrom. Dia sudah lama tidak menari dalam festival atau merayakan kelahiran satwa baru di Ragunan.

Ia sudah lama tidak berkubang dalam budaya miliknya; Betawi.

Dulu, tempat-tempat macam Setu Babakan, sering sekali mengadakan acara-acara budaya Betawi. Tari-tarian, ondel-ondel, pencak silat, keroncong dan macam-macam lagi. Jakarta amat gembira kalau disuruh datang ke pusat-pusat budayanya, meski itu hari Minggu dan malamnya ia habis begadang nonton bola.

Sekarang? Nyaris tak pernah.

Padahal sayang, sekali, ‘kan? Jakarta rindu dengar lagu Benyamin Sueb selain di Mp3. Ia rindu Warkop DKI dan lenong. Lihat ondel-ondel pun lebih sering di pinggir jalan; lewat para pengamen yang ingin dia peluk sambil tersedu-sedu karena mengais sesuap nasi lewat media budaya asli.

Merasa pagi itu berjalan buruk, Jakarta menutup korannya. Memandang jijik dan merasa kesal pada dirinya sendiri, ia memasukan dalam ransel kerja kemudian melirik pada jendela. Baru sampai Taman Makam Pahlawan Kalibata, rupanya. Sudah jam tujuh. Macetnya masih gila-gilaan di sini karena tidak ada busway. Namanya juga trayek berkembang baru.

Bosan, Jakarta mengecek ponselnya—hanya ada satu pesan dari Depok, “Lo ngambil koran gue, ya?!”—dan belum ada balasan dari bosnya. Ya sudahlah, balasannya mungkin nanti di kantor. Kini dia malah membuka memo dan mencatat poin-poin apa yang perlu diperbaiki dari trayek UI-Manggarai ini untuk bahan laporan yang sudah dijanjikan.

Begini-begini Jakarta masih tepat janji, kok.

Pada pukul tujuh lewat lima belas, saat bus menempel di sebuah jalan sebelum bangunan Sate Khas Senayan, Jakarta menyelesaikan pekerjaan kecilnya. Ia kemudian mulai berpikir untuk menggunakan Gojek—atau Grab Bike—untuk mengejar waktu, tapi berubah pikiran begitu melihat orang-orang di sekelilingnya sama tidak berdayanya dengan dirinya.

Masyarakatnya.

Mereka yang juga mengejar waktu; bertaruh dengan yang tidak bisa kembali. Mungkin uang makan siang akan dipotong karena terlambat, atau malah bisa mendapat SP, atau bisa dipecat hari itu juga. Jakarta tidak tahu.

Jakarta merasa hatinya mencelos, lalu melunturkan egonya. Pemuda itu membenarkan duduknya, memilih untuk bergabung bersama kerunyaman jalanan. Ia tak ingin lagi bersimpati; ia sedang berempati.

Dan kapan lagi merasakan macet dari ujung paling selatan sampai ke pusat? Jakarta merasa bersalah sebab selama ini dia hanya berjalan kaki. Pengamatan kemacetan lewat berita pagi, lalu mengeluhkan lambatnya penanganan dari petugas-petugasnya.

Ah, mungkin begadang dengan Depok ada hikmahnya. Dengan terlambat, ia bisa mengamati. Dengan membaca situasi di depan matanya, ia bisa berpikir. Dengan terjebak dalam atmosfer membosankan yang sedikit tergesa dalam kemacetan, ia bisa berefleksi.

Sebab Jakarta belajar bahwa dalam setiap momentum, ada bulir-bulir kebijaksanaan yang bisa dipanen—untuk memperbaiki hari ini menjadi esok yang lebih baik, meski belum sempurna. Sebab esok untuk memperbaiki lusa, dan begitu seterusnya. Dan oleh sebab itulah, kesempurnaan nyaris tidak eksis.

Benar bahwa Jakarta memang tidak sempurna, tapi bukan berarti dia tidak berusaha.

.

Fin

.

A/N:

  1. Karena prompt-nya “Jakarta Hari Ini” maka tulisan ini ditulis hari ini, dari jam setengah sebelas tadi sampai jam setengah dua belas, merangkum berita-berita fresh from the oven. Bahkan yang keluar 1m pas saya buka website, tapi tentu ga bisa mewakili semuanya. Sumber dari detik.com, kompas.com, Jakarta Post hari ini, liputan6.com, antara.com, berita satu dan lain-lain.
  2. Tapi ya… itu. Seperti yang udah diutarakan si Jakarta: kenapa nyaris ga ada berita positif, ya? Hampir semuanya negatif… saya sampai bingung mau naruh positifnya Jakarta di sebelah mana.
  3. The same excuse for bad writing: sudah lama tidak menulis, maafkan saya. Dan maaf karena tidak sempat dibekukan buat beta lagi dan dipersiapkan post besok, ehehe. Karena kalau dipost besok, prompt-nya jadi “Jakarta Kemarin”, dong xD
  4. Tidak bermaksud memihak atau menyalahkan siapa pun. Saya sudah berusaha menulis senetral mungkin, maaf kalau menyinggung suatu pihak. Saya cinta kalian semua! Ehe.
  5. Konsepnya kayak hetalia, sih, ehe ehe ehe, tapi saya jadikan orific aja, boleh ‘kan?
Advertisements

11 thoughts on “[Writing Prompt] Keseharian Jakarta

  1. Baca ini tuh langsung inget magang kemarin. Dari depok ke tanjung barat bisa sejam lebih di rush hour.
    Bukan menyalahkan jakarta, tapi para temannya sekarang juga ikutan kayak jakarta. Macet, sumpek.

    Dan bener, positif jakarta tuh jarangggg banget di liatin. Ketutup sama politik dan hal negatif lainnya yang menggunung.

    Kangen juga nonton lenong di setu babakan. Sekarang mah isinya orang pacaran mulu.

    Like

    1. haloo, kiyuroo!

      hahaha iya, emang macet parah daerah situ kalau rush hour xD tapi sekarang udah mendingan kok dibanding dulu-dulu, beneran deh. jakarta makin bagus hari ke hari, hahahaha :))

      semangat yaa, kiyuro

      Like

  2. MASYAALLAH ini bagusss banget. Ngena, enak dibaca, bikin bercermin juga kalau jakarta ternyata nggak seburuk itu juga. cuma kitanya aja yang terlalu termakan oleh media. kalimat terakhirnya suka banget. jakarta bukannya nggak berusaha, tapi kitanya saja yang lebih tertarik buat menyalahkan tanpa memberi solusi untuk lebih baik

    Liked by 1 person

    1. haloo, kans! 🙂

      makasih banyaaaak pujiannya xD yes, yes, jakarta nggak seburuk itu, kok. masih banyak baik-baiknya hahaha kasian dia disalahin mulu sama masyarakat satu indonesia xD makasih banyak yaa, kans, maaf baru bisa bales sekarang. kamu semangat terus! ❤

      Like

  3. Ini ketjee. Berasa baca cerita di laman rubrik khusus diisi redaktur editorial gitu (ah apapunlah namanya, lupa). Aku emang buta sama Jakarta, tapi baca ini tuh berasa aku pernah menyelami kehidupan di sana.. ketjee lah.
    Isi hatinya si Jakarta bener2 nampar dan bikin terharu banget. Dia sedang berusaha mati2an untuk lebih baik, berharap semesta juga mendukungnya :^)

    Terimakasih ceritanya, evin! Keeeep writing! 😀

    Like

    1. halo, kak dhila!

      makasih banyaaaak hahaha enggaklah, masih jauh banget sama rubrik-rubrik redaktur editorial. mereka mah udah pro. aku apaan hahaha xD ayuk, kak, kapan-kapan ke jakarta, rasain macet-macetnya, stres-stresnya tapi cari hikmahnya juga hahaha xD

      makasih banyak yaa, kak dhila, udah baca dan komentar. kakak semangat terus! maaf aku baru sempet bales sekarang 🙂

      Liked by 1 person

  4. [ ‘Jangan marah, Pak, nanti cepat tua. Peace, love and gawl dari Jakarta Ganteng,’ ] — titan ngakak pas baca kalimat ini. serius XD XD

    dan dear lord, di catatan akhir evin bilang konsepnya hetalia kan? hahah, pas banget itu yang ada di bayangan titan pas baca ini dari awal sampai akhir. tsadeeessst ❤

    jarang banget ya jakarta digambarkan dalam segi positif. salut sama evin :") bahkan titan sendiri kalau ke jakarta itu tuh bawaannya mager gitu angkrem aja di rumah sodara, males mau keluar kemana-mana gegara apa yang titan baca di medsos soal jakarta, i.e. macet parah dan kawan-kawannya. so sorry jakarta :"((

    Like

    1. halo, kak titaaan! maaf yaa aku baru sempet bales komen kakak sekarang.

      iyaaa, ini konsep sangat hetalia sekali, jadi thanks to papa hima lah! keren parah itu manusia idenya, hehehe. kak titan juga suka hetalia, kah?

      aduuuh, aku malah syukur banget kalau kakak bisa liat segi positifnya karena memang mauku menulis ini seperti itu, cuma takut ketutup berita2 negatifnya. jadi makasih banget kak titan udah staying positive juga selama bacaaaa ❤ hahaha. sekali lagi makasih banyak yaa, kak! kakak semangat terus 🙂

      Liked by 1 person

    2. haloo! duh telat banget ya aku balesnya?? huhu maafkan :”

      dan iya, titan suka banget sama hetalia, apalagi sama arthur XD

      Like

  5. kak puuuut!

    huhu, santai ajalah, kak. kakak kan tau aku, hahahaha :)) itu koreksian yang kakak maksud dari pada, bukan sih? aku sampai sekarang masih agak bingung sebenernya daripada itu digabung atau dipisah, jadi di sini aku pisah… tau belum ngeh juga yang mana yang benar haha.

    makasih banyak kak puuuuuuut. nggak, nggak nirfaedah sama sekali kok hahahaha semangat terus ya kakak tercinta! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s