All Too Ordinary

ok

by La Princesa

Aku tak pernah nyaman datang ke acara reuni.

.

Mungkin karena aku kurang pandai berempati pada orang lain—aku tak bangga dengan hal ini, tapi … ya, memang begitulah. Nostalgia dengan orang-orang yang pernah menjadi satu babak dalam ceritaku, basa-basi, pura-pura tertarik dengan kisah mereka setelah kami menjalani hidup yang berbeda. Di akhir setiap pertemuan, selalu ada satu pertanyaan yang mengganjal di benakku. Lalu apa?

Apa yang harus kulakukan jika temanku bercerita—sembari mengenang—kalau mantan tunangannya memutuskannya demi wanita lain tepat seminggu sebelum hari pernikahan? Apa yang harus kulakukan jika ia bercerita sembari menimang anaknya, jelas-jelas sudah bangkit dari keterpurukannya dan mendapatkan pengganti baru yang—mungkin—lebih baik dari mantan tunangannya dulu? Aku harus menjawab apa saat temanku tak henti-hentinya pamer bahwa ia diterima bekerja di perusahaan multinasional segera setelah lulus kuliah? Apakah aku juga harus melakukan hal yang sama, menyebutkan daftar pencapaianku selama ini yang kurasa tak perlu kuumbar?

Di zaman ultramodern seperti sekarang, teknologi mengizinkan silaturahmi tetap tersambung walau pelakunya berada di belahan bumi yang berbeda sekalipun. Dan itu membuatku semakin tak mengerti apa intinya pertemuan seperti ini, bertatap muka dengan orang-orang yang sudah tak ada titik singgungnya dengan kehidupanku sekarang, berpura-pura tertarik dengan cerita hidup mereka—padahal aku sama sekali tak tertarik. Dan aku yakin, seribu persen, mereka pun sama tak tertariknya dengan ceritaku.

Tapi di sinilah aku.

Taeyong memaksaku datang. Dia tipikal seseorang yang punya standar consciousness yang tinggi, jadi dia tak suka melihatku menolak undangan hanya karena alasan pribadi. Aku malas mendebatnya, terutama karena atasanku sedang giat-giatnya membebani para cecunguknya—termasuk aku—dengan pekerjaan ekstra belakangan ini. Lebih baik sisa tenaga yang masih kupunya kupakai untuk bernapas daripada membantah Taeyong.

Demi kesehatan kepalaku, untungnya, dia mau menemaniku sepanjang reuni. Beberapa teman kuliahku menyambutku kelewat hangat saat aku tiba di restoran yang sengaja dipesan untuk acara, sembari bertanya apakah lelaki yang datang bersamaku ini adalah kekasihku. Aku meresponsnya dengan senyum ringkas, dan masih mengulas senyum yang sama saat mereka lanjut bercericip tentang betapa menyenangkannya bisa bertemu lagi. Kupikir kau tak akan datang lagi, kau yang paling susah ditemui, dan sebagainya.

Aku tak merancang banyak kalimat basa-basi sebelumnya, maka aku segera menyingkir menuju bar yang relatif sepi—Taeyong mengikutiku. Daripada menjadi bintang, aku lebih suka menekuni teman-teman kuliahku dari jauh. Mengamati jejak-jejak individu yang pernah kukenal dari wajah dan nama yang familiar. Selang tujuh tahun setelah wisuda dan kami melanjutkan hidup bukan lagi sebagai anak muda, namun seorang dewasa dengan segala tanggung jawabnya, tentu banyak hal yang berubah. Dibanding mendengarnya dari tangan pertama, lebih nyaman bagiku mengobservasi dan memberi justifikasi sepihak.

As pathetic as it might sound, that’s actually my poor effort to be a decent person.

Taeyong menyenggol sikuku, membuyarkan lamunanku yang melayang keluar pintu. Salah satu teman dekatku berjalan mendekat dirangkul suaminya—aku datang ke pernikahan mereka tiga bulan yang lalu. Kami bertukar beberapa baris basa-basi, begitu juga sapaan kasual dari Taeyong dan suaminya. Mungkin tanpa presensi Taeyong di sini, aku sudah seperti bongkahan es batu supercanggung yang tak tahu harus apa dan bagaimana.

Malam kian larut dan keriuhan belum menunjukkan tanda-tanda akan menyusut. Bahkan acara inti baru akan dimulai saat mantan ketua angkatan fakultas kami—yang sekarang menjadi ketua panitia acara ini—menyuruh kami agar bergabung di meja panjang tengah ruangan. Temanku dan suaminya meninggalkanku dan Taeyong lebih dulu menuju bangku di dekat ujung. Ingin mengobrol dengan teman lain, katanya. Menyisakan dua bangku berhadapan, hampir di bagian sentral. Bangku yang paling ingin kuhindari.

Sambutan-sambutan formal terlewati, gelas-gelas tinggi dituang anggur. Percakapan dan nostalgia mengalir di meja panjang sembari menunggu makan malam dihidangkan. Taeyong mengulas senyum karismatik dari seberang, sekali waktu menanggapi satu, dua pertanyaan dari sampingnya.

Sebanyak itu pula aku iri pada Taeyong. Dia mudah akrab dan berbaur dengan suasana, membawa diri seolah ini adalah reuni kuliahnya. Sementara aku sampai harus mengingatkan diri sendiri agar tak terlalu kentara menampilkan raut jengah. Jaga senyumku, pura-pura antusias, tertawa jika ada yang perlu ditertawakan, dan serentetan sugesti lainnya.

Aku bisa saja melewati malam ini dengan mulus, jika aku tak mendengar namaku dipanggil dari ujung meja.

“Jadi kapan kau melepas lajang?”

Dan inilah alasan utamanya kenapa aku tak suka datang ke acara reuni.

Aku tak suka orang lain ikut campur kehidupan pribadiku—walau mungkin maksud mereka basa-basi, tapi aku tak nyaman. Aku tak suka pertanyaan seperti ini dilontarkan, terlebih karena aku tahu mereka—orang-orang—menganggap diriku tak sesuai dengan standar masyarakat. “Seorang wanita tak seharusnya lajang sampai tua, apalagi jika sebayanya sudah mapan dengan pasangan dan keluarganya.”

Begitu, kan?

Aku kehabisan kata-kata, bahkan untuk mengulas senyum basa-basi aku terlalu lelah. Kulirik Taeyong ingin minta pertolongan. Dia mengulas seringai hangat saat mengerti maksudku.

“Kalian mengenalnya,” kudengar baritonnya mengudara, mengambil alih tugasku untuk melontar respons. Aku tak tahu harus berterima kasih atau harus menendang tulang keringnya karena kalimat setelahnya seperti menyiram bensin di kobaran api. “Ia terlalu ambisius untuk diajak menikah muda. Karirnya terlalu berarti untuk ditinggalkan demi seorang lelaki.

“Tapi kebetulan sekali kalian membawa topik ini …”

Sekitarku seperti mengabur saat kulihat Taeyong menjangkau saku jaketnya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. Riuh rendah dari teman-temanku tak mencapai rungu saat dia membuka kotaknya, memperlihatkan sebuah cincin sederhana bermata berlian di hadapanku.

“ … jadi aku punya kesempatan melamarnya,” lanjut Taeyong ringan. Ia melukis seringai lebar.

Hening yang kudengar hanya ilusi, tapi begitu pekat sampai—lagi-lagi—aku tak tahu harus berkata apa selain menganga tak percaya. “Kau bercanda.”

“Tidak juga.” Dia terkekeh, di lain waktu mungkin aku ikut tertular kekehannya tapi tidak malam ini, saat ini, dimana aku justru merasa kesal terhadap apa pun yang dia lakukan. “Well, kalau kau bertanya apakah aku bercanda karena berharap George Clooney yang melamarmu, sayang sekali tapi beginilah realitasnya.

“Kalau kau berharap aku mengosongkan jalanan Gangnam semalaman agar aku bisa menyatakan pernyataan cintaku, well … kau dan aku bukan pasangan romantis, jadi apa intinya? Yang ada malah macet, nanti. So … this is the best I can do without causing much traffic, in front of your friends.

“Dan kalau menurutmu aku tak akan pernah melamarmu, sayang sekali tapi kau salah besar. ‘Cause as cheesy as this sounds, but I do want to marry you.

Siulan bernada menggoda terdengar dari ujung hingga ujung, teman-teman wanita berbisik sembari tertawa sementara yang lelaki mungkin meringis geli mendengar gombalan Taeyong—aku pun demikian. Pipiku disengat panas sampai warnanya serupa lipstikku. Sembari mengumpulkan perasaanku yang tercecer, aku melontarkan balasan dengan harapan dia mau tutup mulut.

“Apa yang membuatmu berpikir aku mau menerima lamaranmu?”

Stop acting like a tough cookie when you’re actually feeling marshmallow.

Sekak mat.

“Aku bisa saja melamarmu di apartemenmu saat kau sedang mengunci pintu, atau di apartemenku sembari maraton Star Wars dan memesan chinese take-out. Tapi ada alasannya aku di sini dan melakukannya saat ini.

“Aku tahu kau tak pernah nyaman datang ke acara reuni karena kau tak suka ditanyai pertanyaan pribadi.” Dia mengambil jeda sembari mengangguk dan mengulas senyum ramah ke arah teman-temanku yang menatap kami penasaran. “Maka inilah jawaban pertanyaan itu supaya kau berhenti lari. And also to show them and to tell you …

Oh, Tuhan, Lee Taeyong …

… that you are loved.

… I hate you.

.

-end

.

  1. say hi to my new happy pill, my achilles heel, my gorg muse and the apple of my eyes: the tough cookie Lee Taeyong.
  2. bikos belum sahih nge-stan dan trashing doi kalo belum dibikin fluff-fluff ambyarisme, HAHAHA. rada merasa berdosa bikos 30-something berasa kurang pas buat doi yang barusan debut, tapi yha … mature/gentleman is forever my style, jadi … yha.
  3. dan percayalah, nemuin fotonya doi yang pas sama image dia di sini lebih susah dibanding nulisnya bikos … his face is cheating, how could he looks so young and cute but badass at the same freaking time??????? it hurtz my dignity. </3
  4. dan percayalah, I’m bearing the burden of building his own character with minimal hints of previous Kim Jongin, bikos the men characters in my head are quite similar. I’m still in the middle of finding suitable fictional traits for him, so SENPAINIMS MOHON BANTUANNYA????
  5. dengan ini SEKTE SESAT TAEYONG saya resmikan. emang para wanita di WS paling enak dijadikan tumbal mendirikan perguruan ngawur macem Sekte Sesat Taeyong, HOAHAHAHA. yang mau daftar silakan hubungi seksi humas SST aka unni fikeey, nanti dikasih instruksi buat gabung dan dapetin ID resmi kamu. karena Sekte Sesat Taeyong mengerti benar jiwa fangirling kamu dengan bantuan dari unnir-unnir terpecaya. HAHAHAHA oposih.
  6. ps-notesnya udah kepanjangan jadi sekalian aja: ‘lil tough cookie is throwing his heart out of car window to whomever of you who read this. ❤ ❤ ❤

Untitled

Advertisements

5 thoughts on “All Too Ordinary

  1. ((bantuan unnir unnir terpercaya)) HAHAHAHA KAK TADI AKU JANJI GAMAU NGUQUQ TAPI GIMANA DONG SUMPAH AKU GEGULINGAN HAHAHAHAHAHAHAHA xD btw btw aku bisa relate ih sama si ‘aku’ yang males dateng ke acara reuni, lyke yaudah sebenernya ngobrol lewat line kan bisa ahaha xD (emang dasarnya aku aja males ketemu rame-rame wkwk).

    taeyong, buset, visioner yha. kalo ngelamar di jalanan gangnam nanti macet hahahaha. YA ALLAH TAPI GA KEBAYANG BAKAL DILAMAR DI DEPAN TEMEN-TEMENNYA YA ALLAAAAAH :”” kebayang kak kebayang ty forever calm dan nyantai aja gitu walopun itu bukan circle-nya diaa. suka suka sukaaaa.

    as cheesy as it sounds tapi tetep syuka gimana dooong xD ((BTW POSTERNYA SEK GEGULINGAN DULU LIAT POSTERNYA)). yosh SST resmi. yosh yang mau daftar jadi anggota SST, silakan isi formulir ngga ada biaya pendaftaran langsung isi nama sama tanda tangan aja yha. tiap bulan entar ada jadwal gathering sip. jangan lupa bawa boneka tireks buat sesajen. apa ga boneka bebek juga boleh (oke ini komen fika ngelantur maafkeun) :”

    KAKPUT ATULAH SIANG SIANG DIKASIH FLUFF AMBYAR HEUUUU. :””””””””” yeokshi kakput yeokshi. keep writing kaaaak! salam cobonyi! ❤❤❤❤❤❤

    Like

  2. Pft. Nggak gitu ngiranya, ah kesel. Ah, Taeyong. Ah, dasar minta diapain sih hhhhh. Emang sih yang bikin males reuni itu (((meski aku belum pernah sih tapi bisa ngerasain gimana nggak enaknya))) kalo dateng sendiri dan ditanya-tanyain kayak, “Loh, pasangannya mana?” Yha. Taeyong sumpah menggemaskan tapi aku penginnya nendang bokong dia keras-keras. Bisa gitu ngelamar waktu reuni?!? Suka sekali kakput. Ditunggu fanfiksi Taeyong yang lain ❤ ❤

    Like

  3. WAAA KAPUTT BALIK BAWA MAS TAEYEONG >,< ((ciyeeein kaput nulis taeyeong)) aku bahagia, kak. hahaha. yaampun malam-malam gini aku baca yang manis-manis kaya marshmallow aku kudu apa. aku ngakak parah bagian taeyeong bilang mengosongkan jalanan gangnam tapi kita bukan pasangan romantis. aku mikirnya bisa aja ya si taeyeong mau lamran bawa-bawa macet jalanan gangnam. waduhh, perutku sakit baca ini saking manisnya, kak. haha belum lagi acara lamaran mendadak yang dijamin si 'aku' yang bingung sekaligus kaget si taeyeong tiba-tiba datang bawa cincin lamaran. ditambah lagi di depan teman-temannya di acara reuni. yaampun kak bahagiaanya si aku yaaa. kusukaaaa, kaputt 🙂

    ditunggu next fic mas taeyeong, kaputt. keep writing, qaqa!! ❤ ❤ ❤

    Like

  4. WAAA KAKPUUT NABIL SUDAH LAMA NGGA BACA TULISAN KAKPUTRIII HIHI~ TAPI SEPERTI BIASA TULISANNYA BIKIN BETAH IHHHH :)))

    kebetulan sih nabil juga suka taeyong, tapi pas dia belum debut. sekarang masih, tapi bukan taeyong nct u /malah curhat/

    pokonyaaa ini fluff nya ada yang bedaaa sama yang selama ini nabil baca hehe

    Like

  5. iya tau tau aku bacanya telat tau tau :(( tapi tidak ada kata terlambat untuk baperin cerita ini wahahah gila gueh menggelepar membayangkan diri ini dilamar taeyong di acara reuni, mana dialognya itu tuh asyik banget duh aku sampe ngikik ga jelas, duh taeyong come to noona ❤ keyen sekali puuut, keep writing yaw ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s