[Writing Prompt] Inside His Eyes

Inside His Eyes

Prompt Mati Lampu

by ANee

Jika hanya dengan mata bertemu mata seseorang bisa jatuh cinta, maka aku tidak akan pernah merasakannya.

 

 

“Kyungsoo, saatnya sarapan.”

Itu suara teriakan Ibu yang otomatis memberitahuku jika ini sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku tidak perlu melihat ke dinding ataupun menilik layar ponsel untuk memastikan, cukup berbekal ingatan, aku bisa menebaknya. Ibu hebat, nyaris tidak pernah terlambat meski lima menit demi terisinya perut serakahku. Betapa pun sibuknya Ibu, sejak dulu ia selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kami.

Ibu selalu yang paling akhir tidur di malam hari dan yang paling awal terjaga di pagi hari. Mempersiapkan keperluan Ayah, memasak untuk kami berempat, mengajari Sohyun mengerjakan tugas, tidak jarang mengajarkan hal-hal sederhana padaku; seperti melipat tisu, dan masih banyak lagi hal yang Ibu lakukan untuk kami.

Keluarga ini harmonis, aku hampir tidak pernah mendengar mereka saling berteriak, memaki atau yang lainnya. Bahkan ketika Ibu dihina oleh tetangga lantaran merawat seorang anak yang memiliki kekurangan seperti diriku, Ibu tidak repot-repot memarahi mereka, tapi justru aku yang ditenangkan olehnya.

Terkadang, aku merasa ingin lari dari keluarga ini. Kehadiranku hanya membebani mereka. Tapi … selain Ibu, saudara perempuanku pun selalu bisa mengalihkan kegelisahanku menjadi kenyamanan.

Omong-omong soal saudara perempuan … iya, aku memiliki saudara perempuan yang—menurutku—cantik. Namanya Sohyun. Selisih umur kami hanya dua tahun dan aku ingat dia pernah bilang padaku bahwa, tanggal 24 April ialah hari lahirnya. Itu besok, dan aku sudah mempersiapkan sebuah kado untuknya. Bukan kado istimewa, tapi cukup untuk tidak membuatnya merengek. Bercanda. Tentu saja aku memberinya sesuatu bukan hanya karena itu, tapi … aku ingin mengukir senyum di wajahnya, meski aku tidak bisa melihatnya.

Seperti sebelum-sebelumnya … lewat suara tawa yang selalu melegakan hatiku, aku tahu—tahu saja—kalau ia tidak pernah kecewa atas pemberianku.

Pernah ketika ulang tahun yang ke-17 aku menghadiahinya jepit rambut—aku benar-benar bingung setiap kali memilih kado untuknya—tapi Sohyun sudah kegirangan dan memelukku. Dia bilang jika sangat menyukainya dan berjanji akan sering menggunakannya. Bisa saja ia berbohong, tapi Sohyun bukanlah adik yang berterima kasih untuk sebatas formalitas. Aku percaya padanya sebagaimana ia telah memercayaiku sebagai seorang kakak.

“Ibu, ajak Kyungsoo Oppa ke rumah ya? Sohyun ingin punya kakak.”

“Tapi, Sayang … Kyungsoo itu …”

“Tidak apa-apa Ibu, Sohyun janji akan menjaganya. Mataku akan menjadi mata Kyungsoo Oppa juga. Boleh ya?”

Iya, aku bukan kakak kandung Sohyun dan fakta lainnya lagi … aku buta.

Saat itu umurku menginjak angka delapan, Sohyun menemukanku di sebuah tempat yang sangat ramai. Ia bertanya siapa namaku, aku menjawabnya dengan jujur. Do Kyungsoo. Lagi, ia bertanya di mana tempat tinggalku, tapi ketika aku menjawabnya, justru derap langkah tergesa yang kudengar. Setelah itu aku merasa jika bukan hanya Sohyun yang berada di hadapanku—yang sekarang aku tahu kalau itu adalah Ibu. Sohyun menanyakan tempat yang aku sebutkan tadi dan aku dapat mendengar jika Ibu mengatakan, “itu jauh sekali, Sayang.

Rupanya, Appa sudah lelah merawatku tanpa Eomma ….

***

Aku ingat ketika itu Sohyun dan aku di rumah sendirian, Ibu menemani Ayah ke luar kota. Gadis itu mengajakku menonton sebuah drama dan aku mengiakan. Tentu saja aku mau karena ingin menemani Sohyun, bukan lantaran ingin melihat drama yang kalau tidak salah judulnya That Winter The Wind Blows itu. Kalian jelas tahu alasannya.

Beberapa puluh menit berlalu dengan kami yang diam membiarkan televisi menunjukkan eksistensinya.

Tiba-tiba suasana berubah senyap dan seketika itu Sohyun memegang punggung tanganku. Aku terkejut, tapi tidak bertanya apa-apa. Mungkin si tokoh pria sedang mencium si tokoh wanita, jadi keheningan harus lebih mendominasi agar penonton terhanyut.

Heran. Suara tidak lekas tersambut runguku, padahal Sohyun sudah melepas tautan tangannya beberapa detik lalu.

Oppa, apakah segelap ini?”

“Hmm?”

Aku tahu—Sohyun yang memberitahu—jika memang di luar sana awan pekat menyelimuti langit, malam tanpa bulan dan teman-temannya memberi kesan kelam di ruangan yang hanya bercahayakan lampu duduk dan televisi. Tapi … menurutku tidak segelap apa yang selama ini kurasakan, hitam yang bercampur hitam dan didominasi oleh hitam.

“Mati lampu, Oppa. Gelap sekali.”

Sohyun mengatakannya dengan suara tenang, meski aku tidak yakin benaknya setenang itu. Ia menyenderkan kepalanya di bahuku. Tidak berniat beranjak mengambil lilin atau penerangan lain, mungkin ia terlalu takut.

“Apa kau ketakutan?” tanyaku seraya mencari-cari tangannya untuk kugenggam.

“Tidak. Justru aku cukup senang bisa merasakan apa yang Kyungsoo Oppa rasakan.”

“…”

Aku menemukannya. Tangan itu tidak dingin seperti ketika ia membelaku lantaran teman-temannya mengejek diriku yang buta. Sohyun tidak berbohong.

Hening terselip di antara gelap yang sama-sama kami rasakan, dengan posisi yang tidak berubah dari sebelumnya. Sohyun bersender padaku dan aku menggenggam tangan mungilnya.

Oppa, jika suatu hari nanti aku bisa berbagi sesuatu … apa yang Oppa inginkan dariku?”

“Kesedihan Sohyun.”

“…”

Ia tidak menyahut, namun dapat kurasakan kepala Sohyun terangkat dari bahuku dan tangannya ia biarkan memutar badanku ke samping, menghadap padanya. Kedua tangan Sohyun meraba setiap inci wajahku. Dulu kami cukup sering melakukan hal seperti ini, Sohyun pasti tengah memejamkan matanya, maka aku melakukannya juga.

“Kyungsoo Oppa itu tampan. Alisnya tebal, hidungnya mancung, pipinya chubby, bibirnya berbentuk hati jika tertawa. Aku suka.” akunya membuatku tersenyum simpul.

Giliranku.

“Sohyun itu cantik. Suka pakai poni, hidungnya mungil, bibirnya … tidak jauh beda dariku; tidak tipis, tapi Sohyun cerewet,” kami tergelak, namun jari-jariku masih memaku di wajahnya yang kini beralih di bagian pipi, “dulu bagian ini sama dengan milikku, tapi sepertinya sekarang agak tirus. Apa kau diet, Sayang?”

Aku dapat merasakan kepalanya bergerak, Sohyun menggeleng pertanda dugaanku salah.

Sejak saat itulah … aku lebih sering meraba sisi wajahnya, memastikan kalau-kalau pipi chubby-nya kembali lagi. Tapi, yang kudapatkan justru sebaliknya. Aku bertanya pada Ibu, dia mengiakan, namun enggan memberitahuku yang lain-lain. Aku hanya bisa berdoa semoga adikku baik-baik saja.

Adikku Sohyun masih sama, ia ceria. Tidak pernah menangis semenjak usia remaja. Padahal selain tawanya, aku rindu isakannya di hadapanku—dulu—seolah percaya bahwa aku bisa balik menjahili anak-anak lelaki yang suka mengganggunya.

Adikku Sohyun yang kukhawatirkan melebihi diriku sendiri, justru tidak pernah kutemui. Ia sudah tidak lagi tinggal di rumah. Tampaknya ia mulai bosan menjadi mataku, jadi ia memutuskan untuk lebih menghabiskan waktu bersama teman sebayanya di luar sana. Adikku tidak lagi betah bersamaku.

Suatu hari … di tempat yang bagiku sangatlah asing, bau obat ada di mana-mana. Aku dapat mendengar suaranya setelah beberapa hari ia menghilang dari jarak dengarku. Suaranya parau, lemah, tidak seperti biasanya. Jantungku seperti dihantam palu, ada apa dengan adikku?

***

“Jadi menengok Sohyun, Sayang?” tanya Ibu ketika aku sudah berhasil menduduki salah satu kursi di ruang makan.

“Tentu, Ibu. Ulang tahunnya memang besok, tapi aku ingin lebih cepat menemuinya.”

“Kau pasti merindukannya ….”

“Sangat.”

Aku sangat merindukan adikku. Adik yang mengajariku cinta tanpa melihat penampilannya, tanpa melihat parasnya, namun hatinya. Adik yang selalu ceria di hadapanku, meski sebenarnya ia memendam sebuah luka, sebuah rasa sakit yang tak pernah ia bagi pada siapa pun juga.

Ingin tahu di mana aku menemui adikku? Mari ikut aku ke Nabkoldang … kita temui abunya di sana.

.

.

Hitam bukan lagi temanmu, namun Kim Sohyun selamanya adalah adikmu.

Meski jarak kita terpaut ribuan cahaya, aku masih bisa menemanimu. Apa yang kau lihat, aku juga melihatnya. Jika Oppa merasa rindu, tataplah ke dalam matamu, aku ada di situ …

Kyungsoo Oppa, kesedihanku ialah memiliki penglihatan ini tanpa kau memilikinya juga. Seperti yang pernah kau katakan, bahwa kau ingin aku membagi kesedihanku … maka aku benar-benar melakukannya. Aku sudah membaginya, Oppa. Kumohon terimalah, sebab beban kesedihanku sudah terangkat berkatmu. Jangan merasa terbebani ya.

 

S for K.

 

—END—

Advertisements

18 thoughts on “[Writing Prompt] Inside His Eyes

  1. Aaaa, berbagi kesedihan yg ternyata kesediahnnya si Sohyun adalah…. aduh, ya gak gini juga ToT. Aku kira endingnya masih sweet2 gitu, gak setragis ini amat. Huhu.
    Btw, Kyungsoo cocok gitu kalau meranin abang2 yg sayang adeknya, pas meraba2 wajah adeknya itu kebayang banget..fufufu
    Oiyaa, mau ngasih masukan sedikit, biar lebih manis aja kak ^0^. Kata ‘mengiakan’ lebih pasnya ditulis ‘mengiyakan’ menurut aku. Sama ‘bersender’ kyknya lebih cocok ‘bersandar’. Trus yg bagian nama filmnya dikasi tanda (‘) biar lebih cantik. Ehehe, itu aja sih. Maap kalau trlalu bgimana .=.

    Tetap semangat buat nulis ya kak ANee! Aku doyan cerita2 syahdu macem ni soalnya 😀

    Like

    1. haii dhila ^^
      sesekali gpp donk bikin ending yang tragis. hehe yang sweet udah mainstream /alesan/ 😀

      aiigooo makasih lho udah ikut ngrasain 😀 kyungsoo yg punya karakter seperti ini yg bikin klepek2 tuh. ehehehe

      untuk masukannya, aku makasiiihh banget. pengin benerin tapi ngga bisa. kan cuma freelancer huhu tapi insyaallah ke depannya akan kupermanis kalau ada unsur2 yg sama.
      tapi kalau yang ‘mengiakan’ itu … di kbbi yang bener seperti itu, dhila. gimana donk? huhu 😦

      btw, makasih semangatnya makasih untuk reviewnya ^^ iluvu~

      Liked by 1 person

    2. Aduuuh, maap pisan kak, aduuh *menenggelamkan diri ke rawa2*
      Ilmu baru malah buat aku, huhuhu. Jadi selama ini aku yg salah nulisinnya .=. Aku malah makasi banget sama kakak :^)
      love u too kak! 😀

      Like

  2. hoho~ Kak anee emg jago lah bikin ff genre sad gini :D. tpi, kurang ngefeel. bukan karena pembawaan atau ide ceritanya. tapi, karena pemainnya. Untung dia jdi adiknya kyungsoo. Dan waktu ending, ekspresi aku sedih-sedih seneng. kya waktu nnton pure love, tmn” aku nahan nangis, aku malah girang waktu sohyun bunuh diri trus meninggal. #ElKejam 😀

    Like

    1. haaiii el,

      waduh, kamu jahat sekali … huhuhu masa’ liat orang mati malah girang?! >_<

      anw, thanks yaa review-nya. maaf jika kurang memuaskan 😀

      Like

  3. Ratu Baper. . .ini emank pendek, tpi cukup bikin bendungan airmata.
    apalgi pas tau Sohyun meninggal dan donorin matanya. . .
    udah bsa aq tebak d tengah wktu pipi sohyun makin kurus. Tpi dek. apa emank pendek gini. d situ kyak mendadak aja alurnya. Gak tau kejelasan gmna Sohyun sakit ampe meninggal. Penjabarannya terlalu singkat.

    Keep Writting . . .dan smoga bukan angst trus yg ada d pikiranmu. .

    Like

    1. haii kak riin ….

      iya, kak emang pendek gini. hehe sengaja ngga kuperjelas, biar reader nebak2 sendiri ((padahal aslinya authornya lagi males hahaha))
      maaf yaa kalau tidak memuaskan, you know me so well lah. hehehe

      iluvu~ kak riinn ^^

      Like

  4. yeokshi anee, as i said beberapa kali di chatroom tulisan kamu ada peningkatan hehehehehe. ini udah nggak keliatan bertele-telenya (meskipun masih agak kerasa di beberapa tempat), and yes, keanya anee suka banget bikin genre angst yaaah xD rada takjub pas tau kalo ternyata kyungsoo buta hehe. aku dulu pernah bikin fanfic kyungsoo malah ceweknya yang buta bukan kyungsoo-nya (tapi udah kutarik dari peredaran sih ahahahaha). terus … ternyata sohyun-nya menninggal di akhir tuh yang: omg, why why why??? 😦 udah ah sedih 😦 keep writing yah anee hihihihi ❤

    Like

    1. haiii kak fikaa … berkat bantuan kak fika juga kok kalau ternyata ada peningkatan hihi terima kasih guruku 😀
      yosh, aku suka angst. suka nyiksa orang. hehehe

      yah, lagi2 ditarik dari peredaran. huhuhu coba direvisi kak pasti jadinya T.O.P B.G.T 😀 keep writing, too ^^ iluvu~

      Like

  5. Aku pengin nangis baca ini. Dari saat Kyungsoo mengatakan pipi Sohyun yang berubah semakin tirus aku udah mikir pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Sohyun. Aku pikir mungkin Sohyun sakit tapi aku gak nyangka di akhir justru abu Sohyun-lah yang ingin Kyungsoo temui. T__T
    Nyeseeekkk …. Dek Anee kamu bikin aku nyesek banget nih.

    Mian baru sempet main ke ff-mu yang ini. Semangat terus Dek Anee …!

    Like

    1. haiii author kin’s 😀 maaf telat bales … aku baru cek setelah tau maksud japri-nya mbak. hehehe

      duh, maaf sekali lagi kalau aku udah bikin nyesek anak orang. apa aku harus ngirim sehun ke tempatnya mbak? hahaha ((lempar sehun ke jogja))

      aku tau mbak khom baca aja udah seneng lhooo huhuhu makasiih yaa mbak udah mau baca dan komen. iluvu~ 😀 author kin’s fighting, too!!! ^^

      Liked by 1 person

  6. Hai kak anee! 👋 maaf baru mampir yaa. Fic ini aku feelnya dapet banget yaampun kak. Pas tau kyungsoo buta itu surprise banget, jarang kan ada fic yang bikin kyungsoo buta kak. Kyungsoo menurutku juga cocok kak, jadi abang yang ganteng yang penuh perhatian ke adiknya wkw. Last, pas di akhir sohyun meninggal itu kenapa kak? Duh jangan dimatiin kak. Ternyata genrenya angst, aku ketipu banget deh. Dan si sohyun ngasihin matanya buat kyungsoo ya kak? Ini udah best bangetlah kak, menurutku wkwk. Keep writing yaa kak😄💜

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s