[Writing Prompt] Dunia Jo

Dunia Jo

Prompt: Absolute Freedom

by @andditaa

Jika Alice begitu berbahagia dengan dunia fantasi buatannya—Wonderland, maka aku tidaklah demikian.

Sejauh manikku memandang, hanya tersaji warna tunggal. Hitam. Juga gelap. Tidak kurang, apalagi lebih. Kucoba menemukan suatu cara menerobos tekanan yang diciptakan keduanya—sebagaimana yang dilakukan Alice. Tapi sungguh, aku tak sanggup! Kabut tebal yang membumbung di sekitarku hampir tuntas menelan siluet milikku. Kini embusan beku turut berangsur merayapi jemari kakiku.

Begitu sesak. Energi dalam sel-sel bak tersedot silau cahaya gigantik yang tiba-tiba menyorot sekujur badanku. Kupastikan ia muncul dari ruang hampa di atas kepalaku. Sulit menemukan ujungnya sebab pengerutan pupil mataku begitu terasa hingga aku merintih, meringkuh pedih.

Aku berteriak sepenuh udara di paru-paru. Lucunya, tak ada suara. Redamannya pun tak terdengar. Hal gila itu membuatku terenyak sesaat, lantas tawa getir kucomot dari kotak tawa yang… oh, sudah sejak setahun silam terkubur di sudut jiwa.

Alice, kau tahu, ini salahmu! Dan kau pergi begitu aku—

Jo?

Sontak aku berbalik badan.

Jo?

Salivaku lantas terteguk begitu kedua kalinya getaran bunyi samar melintas. Sulit rasanya mengenali suara itu. Aku sudah berputar di tempat, namun nihil yang kudapat. Masih hitam, pun gelap!

Kau dengar aku, tidak?

Dilema serta merta menjalar. Benakku bahkan membesit bahwa kalimat-kalimat itu sebatas bentukan alam pikiran. Bagaimana aku bisa percaya, sementara suara-suara itu jelas muncul saat aku tidak berada dalam kepalaku? Maka kuputuskan untuk tetap bungkam.

Tapi tiba-tiba, kelegaman di sekeliling tubuhku mendadak luruh. Di sudut mataku, malah tampak terpecah dadu-dadu kecil, kemudian beterbangan dan menghilang. Kegelapan tak berujung yang kupijak pun ikut runtuh. Kakiku tentu refleks termundur, perlahan, dan kemudian berubah menjadi pelarian tanpa arah.

Aku berteriak sekuat tenaga. Berharap jika suaraku bisa membantu tungkaiku bergerak lebih laju dan bertahan dalam kecepatan maksimal.

Namun nihil.

Semakin gila pelarianku, maka udara sekitar lebih brutal lagi hingga kurasa sensasi terbakar menyambangi epidermis. Nyaris oleng tubuhku andai kata aku lemah sejemang karena mendadak kulihat api menyambar-nyambar ujung pakaianku.

Di mana sebenarnya aku ini?

Bahkan suara manja Alice,

Kau hendak pergi ke mana, hm?

—berangsur menakutkan hingga meremang tengkukku begitu koklea menyaringnya dengan jelas.

Alice berengsek. Berhenti menjebak—

Aku tidak menjebakmu, asal kau tahu.

Langkahku memelan. Kudengar deru napasku bersahutan sementara keberanian yang entah dari mana datangnya, telah membimbingku membalik badan.

Gigiku bergemeletuk, lututku bergetar, pula keringat membasahi telapak tanganku. Seiring dwimanik ini menyirobok pasang manik lain yang akrab dirasa. Belumlah hitungan menit kutatap, rongga tempat kepingan hidup itu tinggal terlihat basah.

Kutelan ludah, berharap keraguan yang menyesakkan dada ikut tercerna. Bibir kering milikku akhirnya membuka diri untuk menyebut, “A–Alice?”

Memastikan figur yang berdiri di hadapan kini ialah benar seorang Alice.

Tatkala sosok ramping itu mendekat, memangkas jarak sampai aku mampu membaca jejak air mata di pipi tirusnya, terang nian memoriku berkata bahwa, ya, dia benar si Alice.

Spontan aku menghindar begitu lengan perempuan itu merentang, memohon sebuah dekapan.

“Jo?”

Sial, dia melangkah maju lantas berhasil memelukku. Menyuntikkan sensasi dingin yang—astaga, apa Wonderland memang punya fluktuasi suhu tingkat tinggi begini sehingga perubahan temperatur terjadi begitu cepat?

“Apa kau tidak merindukanku?”

Aku menggeleng tegas sebagai jawaban. Tanganku bergerak mencengkeram pundak Alice. Memaksa dia agar melepaskanku.

“Dasar pembohong.” Alice bersikeras dengan sikapnya. “Untuk apa kaukemari kalau tidak rindu?”

Kuhela oksigen susah payah sebab aroma mint dari surai pirang Alice menyusun kepingan ingatanku menjadi visi satu tahun lalu.

“Jo…”

Aku sempat memejam mata sebelum pertahananku runtuh dan kulirik ke arah wajah Alice yang masih menempel di dada. Pula, ada air kurasa merembes lewati serat kain bajuku. Argh, tolong, berhentilah menangis, Alice!

“Kau pasti sudah sangat tahu kalau selalu ada kesempatan untuk melupakanku, benar?”

Hah?”

Alice mendongak, membuatku agak terkejut karena kepalanya nyaris terantuk daguku. “Tapi kenapa kau tidak mau mengambil kesempatan itu, Jo?”

Senyap memenuhi udara di antara jeda konversasi. Aku jadi mempertanyakan ucapan Alice.

Oh, apa seperti ini yang dimaksud Alice?

Apa dengan membiarkan pasang mata bolaku kini menerobos milik Alice dan tak kuasa mengelaknya, adalah aku yang tidak mau mengambil kesempatan itu?

Kesempatan untuk melupakannya?

Melupakan Alice?

“Jo.” Alice menarik mundur dirinya. Sedikit menundukkan wajah yang kulihat agak merona. “Lihatlah sekitarmu.”

Mataku membulat sedikit sebelum kuturuti omongan gadis itu kemudian. Lantas diameter netraku bertahan, menyaksikan dalam ketakjuban bahwa Wonderland yang kupijak kini tak monokrom lagi.

Tidak hanya ada putih, hitam, gelap, dan terang. Kudapati rerumputan hijau tumbuh di bawah sol sepatuku, pepohonan gigantik, bahkan biru angkasa, juga kawanan burung pipit yang terbang melewatiku dan Alice.

“Pertanda kau senang bertemu denganku lagi, Jo.”

“Apa?”

Alice terkekeh sepintas, “Kau keras kepala. Tidak berubah sejak kunjunganmu setahun lalu.”

Aku… tidak mengerti. Sekarang Alice bertingkah seperti dia tak pernah lakukan hal apa pun yang membuatku beberapa jemang lalu hampir sinting dalam ketakutan.

“Kau merindukanku.”

Giliranku menggelak tawa. “Kau begitu percaya di—”

“Eksistensimu adalah bukti, Jo.” Alice mengulas kurva miliknya. “Kau kembali setelah setahun memutuskan hubungan kita.”

“A–aku? Kembali?”

“Dan tanpa sadar, kau sendiri yang memilih pilihan itu. Pilihan untuk tidak bebas dari peranmu.”

Kontan aku terperanjat, nyaris jantungku meloncat tatkala Alice berjinjit dan mendekatkan wajahnya. Namun kusadari tangan perempuan itu bergerak memasangkan sesuatu di puncak kepalaku. Topi?

“Selamat atas kepulanganmu, Tuan Mad Hatter.”

“A–apa? Mad apa?”

Mad Hatter, Jo.” Terkikik Alice. “Setahun lalu Ratu Putih telah memberikanmu Kebebasan Absolut, di mana kau sudah bisa pulang ke realita.”

“Kebebasan Absolut?”

“Kau lebih suka terjebak dalam mimpimu sendiri, kurasa.”

“Jangan bercanda, Alice.”

“Aku tidak bercanda, Jo. Kalau boleh jujur, cara kembalimu kemari sungguh menyedihkan.”

Alice menarik lenganku. Kami menghampiri sebuah genangan air di antara dua pohon besar. Permukaan air di sana berangsur berubah bak monitor televisi dan menunjukkan sejasad manusia terbaring dengan kain putih menutup raga.

“Siapa?”

“Kau, Jo.”

Tentu aku menoleh.

“Kau menenggak racun dan tewas.”

“Apa karena itu aku terjebak di sini?”

“Tepat. Jadi, jangan harap Ratu Putih memberimu Kebebasan Absolut yang lain setelah ini.”

“Kenapa?”

Alice menepuki punggungku. “Kau adalah karakter utama dalam mimpi ini, Jo. Berhentilah mengharap hal utopis itu lagi.”

Netraku berputar jengah. Ah, di sini rupanya tempatku berasal. Bahkan aku tidak ingat pernah hidup menjadi manusia.

Tapi, apa mungkin manusia juga punya Kebebasan Absolut, ya? Kalau tidak, mengapa aku berani bertindak sesuka hati mengakhiri hidupku?

“Hei, Alice.”

“Hm?” Berhentilah Alice dari langkah kakinya.

“Nama tempat ini Wonderland, ‘kan?”

“Bukan, Jo.” Alice tertawa, lantas melanjutkan. “Ini Jo-land. Bukankah sudah kukatakan, kau pemeran utamanya?”

Ah, begitukah? Pantaslah pertama kali kupijak tempat ini rasanya seperti di ruang hampa. Tidak penuh warna. “Kalau begitu, tugasmu apa, Alice?”

Alih-alih menjawab, Alice menjitak jidatku. “Aku kekasih khayalanmu setahun lalu, bodoh. Apa kau lupa?”

Oh, benar saja. Ini bukan Wonderland. Sejak kapan cerita itu menjadikan Alice kekasih Mad Hatter?

fin.

Kredit penuh kepada Lewis Carroll sebagai pembuat kisah Alice in Wonderland.

Kredit gambar asli: di sini dan di sini

Terimakasih banyak.

Advertisements

4 thoughts on “[Writing Prompt] Dunia Jo

  1. Hello Andditaa,
    Oh, jadi ini cerita soal Jo, si mantan manusia yang balik lagi jadi Mad Hatter. Dan paragraf awal itu proses Jo dilahirkan kembali jadi Mad Hatter. xD Ga pernah ngebayangin Mad Hatter ngeship dirinya sama Alice. Karena bayanganku Mad Hatter itu Om Johnny Depp. Ya, masak om2 sama gadis cilik. Eh, pengecualian sih kalau Alice udah gede jadi tante2 XD

    Ijin koreksi dikit ya, Andita. Soal sebelum titik tiga itu kurang paragraf aja. Jadi misal “Lantas tawa getir kucomot dari kotak tawa yang … oh,-”
    githu aja 🙂

    Like

    1. Hai haloo cherry ehm apa boleh dipanggil gitu? XD lmao loh ya ampun tp sejujurnya aku emang nangkep suatu chemistry antara alice dan mad hatter di film aslinya makanya jd fic ini yg uhuk tentu sja johnny depp nya kudu diganti mngingat prbedaan usia mreka xD anggaplah ini alice in wndrland edisi parody (lalu dilempar receh)

      Aaah bgitu ya. Oke thanks loh udah koreksi… Hehe tp mnurutku bagian itu memang msh trmasuk kesatuan paragrafnya but I really thank to u for ur comment~ nice to meet u cherry 😀

      Liked by 1 person

    2. Hihi salken ya cherry~ disini andita 96line ;D kikikik iya bener dan gilanya jelas k mad hatter kaaan x’))

      Aah keknya aku salah tangkap ya cher mksd kmu spasi sblm elipsis ya? Hehe iya trnyata emang typo di fic nya…

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s