[Writing Prompt] Of Diamond and Friday Night

ofdiamondandfridaynight

Prompt: Misbehave
by fikeey
Photo by
: Edan Cohen

(warning for smoking, night club and drinking scene.)

She heard that he was trouble but she couldn’t resist.

Menemukan Dianna Anderson berjejalan di antara tubuh-tubuh berkeringat dengan segelas wiski di masing-masing tangan adalah pemandangan baru bagi Anthony. Well, sudah bukan rahasia lagi kalau wanita itu adalah bintang kampus, orang terpandang, tipikal tuan putri yang harus dikawal ke mana-mana―bahkan memakai tisu toilet umum pun barangkali Dianna belum pernah.

Sementara tubuh semampai berbalut dress mini sewarna langit malam itu bergerilya di tengah lautan manusia yang membanjiri klub kacangan New York ini, Anthony baru saja menandaskan gelas ketiganya. Jumat malam dan hampir setengah teman kampus yang dikenalnya ada di ruangan penuh ingar-bingar ini. Ujian tengah semester baru saja berakhir. Tidak ada hal lain yang memenuhi kepala para mahasiswa setengah stres melainkan pesta―hingga pagi kalau perlu.

Aroma feminin parfum mahal menggantung di udara ketika akhirnya wanita itu tiba di samping Anthony, terengah-engah dan jelas butuh sesuatu untuk melepas dahaganya. Jadi dengan niat baik, Anthony menjentikkan jari yang suaranya ternyata bisa mengalahkan derai musik techno di belakang mereka.

“Ambilkan wine untuk wanita ini.”

Si bartender yang umurnya tak mungkin lebih dari dua puluh itu mengangguk pelan sebelum berbalik dan menggerayangi lemari penyimpanan minumannya. Anthony pikir ia melakukan sesuatu yang benar, hingga akhirnya ada jentikan jemari lain menggaung di rongga telinganya.

“Batalkan pesanan wine­-nya, tolong. Berikan aku … um ….”

“Kau ingin wiski?” tanya si bartender.

Dianna terlihat seperti baru saja kehilangan anjingnya―Anthony bersumpah―dengan kerut terpeta di dahi dan napas yang masih terengah. “Berikan aku apa pun yang tadi dipesan pria ini.”

Yeah, baiklah. Jangan salahkan aku apabila rasanya nanti tidak enak.” Si bartender melempar cemooh pelan.

Anthony memandang tak percaya begitu Dianna mengambil alih kursi tinggi yang kosong di sebelahnya. “Aku bermaksud untuk membuatmu nyaman di tengah kegilaan ini, Miss Anderson. Kenapa kau malah memesan minuman murahan?” tanyanya, menopang tangan kiri di meja. “Lagi pula kau terlihat seperti berlian di tengah-tengah tumpukan sampah dengan berada di sini. Ada apa dengan pengawalmu? Mereka terjebak di kandang babi?”

Dianna menghela napas tak acuh. “Aku kabur dari mereka,” jawabnya pendek. “Dan ya, Mr. Rutherford, aku ingin mencoba minuman yang kau bilang murahan itu karena sebelumnya kau terlihat sangat menikmati setiap tegukannya.”

Ada senyum kecil yang selama sejemang mewarnai air muka Anthony selepas wanita di sebelahnya melontarkan kalimat demikian.

Pria itu memang tidak pandai menilai riasan wanita atau pakaian jenis apa yang mereka kenakan untuk menghadiri suatu kepentingan, namun menilik dari bagaimana Dianna berpakaian malam ini, asumsi nomor satu yang lewat di kepala Anthony adalah: Wanita ini kabur dari suatu acara penting. Pertemuan kolega orang tuanya, mungkin? Atau sekadar acara keluarga formal yang biasanya diadakan para jajaran elit. Bagaimanapun juga, keadaan Dianna terlalu mewah apabila hanya ingin mengunjungi klub kalangan bawah seperti ini. Melihat dirinya sendiri―yang hanya dibalut celana jins robek dan kemeja kotak-kotak sebagai luaran kaus band metal―ia terlihat seperti karung jerami di sebelah cincin berlian.

Selama beberapa saat, Anthony memperhatikan lamat-lamat wanita di sebelahnya sebelum sebuah gelas tinggi datang dan memecah keheningan di antara mereka.

“Pesananmu,” kata si bartender, lalu melengos meninggalkan mereka berdua.

Dianna terlihat lucu kala memasang ekspresi terpana―atau lagi-lagi bingung, entahlah―di wajahnya dan hal itu membuat Anthony terang-terangan meloloskan tawa kecilnya. “Ini pertama kalinya kau kabur dan berakhir di tempat seperti ini, ‘kan?”

“Uh-oh ya―tidak, sebenarnya.” Wanita itu dengan cepat meralat jawaban. “Sebenarnya aku ingin melakukan ini sejak dulu. Kau tahu, pergi ke luar saat Jumat malam, berkendara ke luar kota, terlibat hal-hal yang biasanya dilakukan para mahasiswa sebelum mereka benar-benar tumbuh dewasa.”

“Memangnya hal apa yang gemar kami lakukan menurutmu?”

Ada ekspresi lain lagi yang menurut Anthony tak pantas dilewatkan pada detik pertama teman mengobrolnya menenggak minuman. O Tuhan, jika tidak ingat bahwa wanita ini adalah salah satu orang terpandang, mungkin jurus yang biasanya dikerahkan pria itu sudah keluar sedari tadi.

“Yah, menari di klub, merokok, melanggar peraturan di jalan lalu menginap di balik sel selama dua belas jam, mendapat surat tilang―sesuatu seperti itu,” tutur Dianna, kini manik hijaunya menerawang ke langit-langit yang menjadi asal hujaman lampu neon serta kepulan asap menggantung. “Maksudku … kapan lagi kau merasakan kebebasan?”

Mengeluarkan sekotak sigaret baru yang masih tersegel, Anthony lantas menggauli salah satu ujungnya dengan percik api. Ia menyesapnya sekali, lalu menghelanya―dan ya, harus mati-matian menahan tawa lantaran Dianna lagi-lagi terpana dengan apa yang dilihatnya.

“Jangan bilang ini kali pertamamu melihat orang merokok?”

Wanita di sebelahnya mendengus pelan. “Aku memang kurang pergaulan tapi aku tidak buta, tahu.”

“Berarti kau tahu ‘kan, caranya?”

“Cara apa?”

Anthony terkekeh, lalu pria itu melepaskan rokoknya dari impitan bibir. “You want to be bad for a night. I’ll show you how,” katanya seraya tersenyum. Tangan bebasnya menarik milik Dianna, memosisikan jemari ramping wanita itu dan menaruh si batang nikotin di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Do it like I did earlier.

Suck from it?”

For a beginner like you, sure your language is lovely,” puji Anthony sembari mengawasi Dianna membawa sigaret itu ke ujung bibirnya. Satu sesapan … dan hasilnya sudah ketahuan. Dianna batuk-batuk.

Alih-alih melakukan sesuatu yang biasanya akan dilakoni banyak pria apabila teman wanita mereka mengalami hal yang terjadi pada Dianna, Anthony justru hanya duduk di sana sambil bertopang dagu. Wanita berambut pirang ini sungguh adalah hiburan luar biasa menarik baginya. Well, Anthony datang kemari tadinya hanya untuk minum beberapa gelas lalu pulang, namun nyatanya ada hadiah berwujud mungil dengan dress hitam muncul di tengah-tengah padang manusia. Dipikir-pikir, ah, lumayan untuk mengisi waktu luang. Toh pulang ke apartemen pun tidak ada hal menarik di sana―kecuali duduk sendirian di meja sambil menonton berita malam bisa disebut menarik.

Dianna baru selesai mengatur napas entah untuk keberapa kalinya ketika ia angkat bicara. “Rasanya seperti keset kamar mandi,” keluhnya, menyodorkan batang sigaret yang sama―namun sekarang dengan noda lipstik―kepada Anthony.

“Ini baru mulanya.” Pria itu tersenyum kecil. “Kau bilang ingin turun ke jalanan?”

“Tapi kurasa tidak akan secep―”

“Simpan rokokmu, Miss Anderson. O, dan bawa botolnya,” potong Anthony, giginya tertimpa cahaya neon ketika ia tersenyum lebar dan bangkit dari kursi tinggi. “Take a bite from my world just a little.”

Tak pernah sekali pun terbayang―bahkan dalam fantasi liarnya―Anthony akan menjadi satu-satunya saksi saat Dianna tertawa sangat lepas sementara dua buah mobil polisi mengekor di belakang mereka. Rokok pertamanya sudah terlupakan di lantai mobil lantaran Dianna menyerah pada percobaannya yang ketiga. Wanita itu frustrasi sendiri dan akhirnya menginjak sigaret malang itu dengan Louboutin merah mengilapnya.

Botol gelap berisi minuman yang khusus dipesankan Anthony kini ikut bergulingan, menciptakan bunyi kelontangan di kaki-kaki keduanya setiap kali mobil tua itu berbelok tajam ke kanan atau ke kiri. Sanggul anggun yang semula memenjarakan helai pirang Dianna hilang sudah, digantikan dengan desau parfum manis yang akan berseliweran setiap kali angin malam New York menerbangkannya. Anthony merekam itu semua dalam ingatan. Kapan lagi kau menemukan Dianna dengan wajah merah dan setengah mabuk? Sambil bertingkah gila pula. Ha.

Dan seperti cerita kebanyakan, apartemen salah satu pihak adalah tujuan terakhir.

Tidak, tidak.

Anthony tidak seberengsek itu untuk mengambil kesempatan di saat seorang wanita― terpandang pula―tengah mabuk tergolek nyaman di sofanya. Pria itu melepas kemeja kotak-kotaknya lalu melemparnya sembarangan, berjalan menuju lemari pendingin dan mengeluarkan dua botol air mineral. Satu hal yang harus ia lakukan setelah ini adalah memulangkan Dianna dalam keadaan sadar dan utuh―well, mengingat jajaran keluarga wanita itu juga, sih. Anthony tidak mau mati konyol.

“Aspirin?” tawar pria itu.

Dianna menggeleng, masih terpejam. “Nanti, Anthony,” katanya. “Aku masih tidak ingin meninggalkan dunia ini. Reality sucks, you know that?

Anthony terkekeh. “You know, I love it when you do your dirty-talk,” katanya. Ia meletakkan butir aspirinnya di meja dan duduk menghadap Dianna di sofa panjang. “Bukan tanpa alasan, ‘kan, kau kabur dari acara keluarga yang tadi kau bilang?”

How do you know?” Kini sebelah iris hijau Dianna terbuka sembari wanita itu melemparkan pertanyaan.

Women. They do stupid things in a tight situation,” jawab Anthony lancar. “Tidak akan ada yang tahu. Ceritalah.”

Wanita di hadapannya menghela napas panjang, memejamkan matanya lagi dan mengubah posisi. Dianna menarik kedua lututnya. “Kau tahu masalah klise para keluarga kaya,” mulainya kemudian sembari memeluk kedua kakinya.

“O, kupikir hal itu tak terjadi di New York,” cemooh Anthony. Pria itu menggapai-gapai daerah di belakang punggungnya dan menemukan sehelai selimut rajut―entah kapan terakhir dicuci. Ia menyelubungi sekujur tubuh Dianna setelahnya dan wanita itu beringsut mendekap kehangatannya.

“Masih terjadi, sebenarnya,” respons Dianna, memeluk dirinya sendiri. “Bodoh, ‘kan? Maksudku … menyuruhku mengambil alih perusahaan setelah lulus kuliah. Aku lebih tertarik pergi ke negara lain dan melanjutkan studiku, atau mungkin dua sampai tiga tahun menetap di satu tempat. Entahlah.”

Anthony tersenyum. “Kau ingin pergi ke mana, memangnya?”

“Inggris.” Dianna menjawab hampir otomatis. “Aku ingin mencoba tinggal di Inggris. Entah untuk melanjutkan studi atau bekerja. Aku selalu tertarik pergi ke sana.”

Ada jeda sejemang lamanya sebelum Anthony angkat bicara dan selama itu pula, suasana di antara keduanya hening seketika. Si pirang sibuk mencari posisi nyaman lain sambil terlihat menahan kantuk, sementara Anthony memandangi sosok mungil di hadapannya lamat-lamat. Bagaimana wajah sayunya, bagaimana helai terang itu membingkai garis mukanya dan bagaimana kedua bibir merah Dianna sedikit terbuka.

Dahi Anthony mengerut, namun perutnya menghasilkan ledakan-ledakan kecil sementara selintas ide menabrak tempurung kepalanya.

Are you asleep?

No, why?” Sosok yang lebih mungil itu merespons sembari memamerkan sepasang iris hijaunya, memandang Anthony yang kini beringsut mendekat.

Katakan pria itu gila karena kalimat yang setelah ini keluar dari bibirnya adalah hasil pikiran sinting yang sempat hinggap selama tiga detik. “You can call me,” katanya hampir dengan nada berbisik. “Setiap kali keluargamu berkumpul untuk membicarakan masa depanmu, setiap kali kau diharuskan menghadiri acara kolot dan membosankan, atau setiap kali kau bosan.

“Telepon aku. I’ll pick you up and we can go all the night.” Geligi Anthony terlihat berkilau di bawah naungan lampu apartemen kecil itu.

Mulanya Dianna mengerutkan dahi dan―mungkin―menganggap ide pria itu sinting, namun ketika sesuatu dalam dirinya seolah memberi dorongan, ada senyum lebar terpeta sebelum ia meluruskan tubuhnya. “Sungguh? Kau benar-benar akan melakukannya?”

“Selama kau memberitahuku di mana aku harus menjemputmu maka tak masalah,” kekeh Anthony, terpana dengan bagaimana wanita itu seolah membuang dirinya yang mabuk dan kini bersemangat. “Semoga kau tak keberatan naik mobil tua milikku.”

Dianna menggeleng. “Tidak. Menurutku itu menyenangkan,” katanya. “Anthony, is this what misbehaving mean?

Kerutan dalam muncul di dahi si pria, yang kala itu meraih butir aspirin di meja. “Maybe. Why?

I like it a lot, then. I could cry a river, I think.”

Anthony tak menjawab. Ia lantas menyodorkan butir aspirin itu pada si wanita dan mengawasinya menelan si tablet penghilang pening. Kantuk mulai membayangi Dianna kemudian dan berpegang teguh pada pendirian bahwa dirinya bukan lelaki berengsek, ia memberikan kasurnya untuk Dianna. Memastikan bahwa tidak ada barang-barang aneh yang akan mengagetkan wanita itu ketika terbangun keesokan pagi, Anthony lantas memadamkan lampu dan berjalan menuju sofa.

Ah, siapa sangka mengajarkan kehidupan lain pada si nona terpandang bisa terasa semenyenangkan ini.

*


  • yey prompt ketiga kelaaaar! (semangat buat tireks girls, semoga dipermudah ngerjain prompt terakhirnya hehe) salam tireks!!
  • terima kasih banyak-banyaaaak buat kak Put yang udah bantuin aku ngebetaa ❤
  • Dianna and Anthony is back! (mungkin yang udah pernah baca Runaway di blog lama aku kenal mereka ahahaha. and yes, mereka ketemu pas Anthony lagi kuliah di New York, looong before Anthony satu tempat kerja sama Louie.)
  • gaeeees! ayo ayo ikutan writing prompt part 2 hehe, seru lho seru.
  • thank you for reading!

 

Advertisements

10 thoughts on “[Writing Prompt] Of Diamond and Friday Night

  1. ini tuh, enak banget dibaca idk how???? Kakfika ini enak dibaca banget heuheu aku suka ❤ Tuhkan aku kehilangan kata-kata X) Anyway, aku suka banget gimana kakak ngehidupin gaya hidup mereka, dan Dianna (setuju sama kakput) lovely sekalii apa ya auranya tuh kayak kalo aku jadi Anthony atau siapapun yang ada di deket situ pengen ngebantu dia, pengen ngayomi gitu heuheu pengen nguyel X) Aku suka bahasa kakaaaak ❤

    Like

    1. wah dhilaaaa x) syukurlaaaah pabila enak dibacaa ehe. iyaah dianna tuh semacam a girl next door gitu deh apa-apa gatau, terus akhirnya yang “wah” banget pas bisa tau kehidupan di luar kayak gimana wkwkwkwk. aaaaaaa makasi banyak yaaaa dhila udah baca dan komeeen hihi ❤

      Liked by 1 person

  2. KAK FIQAAAA NABIL SUKA INI IH! walaupun ga baca yang runaway juga langsung suka aja sama fiqsi ini wahahahaha xd maafkan komentar murahan ini btws hihi

    Like

  3. KAKPUT HEHEHEHEHE xD seriusan deh kalo baca komen kakput yang ini masih belom bisa nahan ketawaaaaa xD ((mana tadi abis maraton ngakak bersama tireks pula wkwkwkwk)). aku bahagia bisa bikin karakter lovely kaya dianna, akhirnyaaaa :””””)

    anw makasi banyak ya kakpuuuut udah baca dan komeeen ❤ kakput keep writing juga yah kaaak hehehehe ❤ ❤

    Like

  4. kafikaaa ❤ I like the way Anthony trying to be a gentleman on the last paragraph ❤

    dan yay! mbak Dianna akhirnya berhasil mencicipi kebebasan ❤
    lovely banget sik mereka btw. kafika, resepnya apa biar bisa nulis (the-soon-to-be) killer couple kaya mereka? ._.

    Like

    1. Titaaaan haluuuu😆😆😆😆

      Hehe iyaaaaw me too. Anthony tuh … semacam karakter favorit aku wkwk. Pas nulis dia tuh yang enjoy aja gitu. And yessss akhirnya yhaa mba dianna bisa all out hahaha.

      Resepnya apa yah tan huhu😦 tbh aku pernah baca di mana kalo mau bikin killer couple yang kill banget tuh kaya try to combine two opposite sides gitu deh. Yang kayaknya: ah ini kaga cocok deh masa satunya tuan putri satunya berandalan. Eh pas digabung malah yang gimanaaa gitu kan ehe.

      Anw terimakasi titaan udah baca dan komeeen😸😸

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s