And All I Loved, I Loved Alone

90576_nastyazhidkova-626x939

by Io

[cr image: here]

.

The present changes the past. Looking back you do not find what you left behind.”
― Kiran Desai

.

Satu.

Atensi Estelle Corvin terpaku pada cincin pertunangan yang tersemat di jari manisnya. Melankolia terlukis jelas di wajah perempuan bersurai platinum itu. Perlahan ia memainkan cincin tersebut; memutarnya di tempat. Ia lantas melirik jam dinding di ruangan. Binar di manik abu merkuri itu meredup kala menyadari bahwa malam ini tunangannya sudah bisa dipastikan akan pulang terlambat—untuk yang kesekian kalinya.

Pandangan Estelle menyapu meja yang dipenuhi oleh makanan lezat kesukaan sang tunangan. Ia menghabiskan waktu yang cukup lama di dapur untuk memasak hidangan itu. Sekarang, ia duduk di sini, di ruang makan apartemen yang mereka tinggali bersama, seorang diri. Menanti kedatangan lelaki yang melupakan janjinya untuk makan malam bersama. Perempuan itu pun menghela napas perlahan. Ia menyandarkan dagu pada punggung tangan, otaknya berputar menganalisa mengapa hubungannya dengan laki-laki yang sangat ia kasihi begitu renggang akhir-akhir ini.

Tunangannya adalah seorang polisi yang memegang jabatan penting di kantor pusat. Dan sebagai konsekuensi, pulang larut malam pun tak terelakkan, apalagi dengan tingginya tingkat kriminalitas di kota bulan ini. Hal itu jelas menyita banyak waktu tunangannya.

Tapi sungguh, seberapa padatnya aktivitas lelaki itu di kantor, ia tak pernah tidak menyempatkan diri untuk pulang dan makan malam bersama; melepas penat setelah seharian menghabiskan waktu terkurung di tempat kerja. Namun entah sejak kapan terjadi, beberapa bulan terakhir yang Estelle dengar hanyalah untaian kata terlontar dari mulut lelaki itu sebagai alasan mengapa mereka tidak bisa makan malam bersama atau mengapa ia harus menginap di kantor.

Yang menjadi pertimbangan, saat kau tinggal dan tumbuh besar bersama seorang kakak yang sekarang berprofesi sebagai politikus merangkap kepala perusahaan keluarga yang telah berdiri sekian abad, mau tak mau kau belajar membaca bahasa tubuh manusia dan gerak-gerik mereka, mengenali kebohongan dan manipulasi yang seberapa baiknya disembunyikan akan terlihat jelas di mata.

Dan Estelle melihat kebohongan mulai meliputi keseharian tunangannya itu.

Ia berusaha meyakinkan diri, bahwa kecemasan yang ia rasakan tak berdasar. Bahwa ia hanya berlebihan dalam membaca situasi. Bahwa ia terlalu paranoid.

Perempuan itu itu menggosok pelan tenggorokannya yang terasa tersumpal, seolah ada benda asing yang seharusnya tak ada di sana.

.

Dua.          

I saw him having lunch with that woman today—again. They were awfully close to each other.

Estelle membeku, cangkirnya baru terisi setengah oleh Earl Grey. Ia meletakkan kembali teko keramik berisi Earl Grey panas ke tempatnya dan membuka mulut,

“Kakak, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Elliot Corvin menghela napas pelan.

“Please don’t do this, Darling,” katanya kemudian. Lelaki berambut platinum itu meraih tangan adiknya, memberikan remasan halus. “Aku paham kau mencintai lelaki itu, tapi bukan berarti kau harus menutup mata akan apa yang ia lakukan.”

“Dan sudah kubilang berkali-kali, dia hanyalah rekan kerja.”

“Rekan kerja tidak akan menggandeng mesra lengan lelaki yang sudah bertunangan. Estelle, wanita itu—”

Brother, please.

Elliot terdiam. Atensi lelaki itu tertuju sepenuhnya pada sang adik yang balik menatapnya nanar.

“Aku janji akan membicarakan ini dengannya. Secepatnya. Jadi tolong jangan bahas masalah ini sekarang,” pinta Estelle dengan suara pelan.

Satu momen hening terlewati, sampai-sampai Estelle takut sang kakak tak mengindahkan permintaannya. Namun kemudian suara tenang Elliot memberikan respon,

Very well, Darling.

Genggaman Estelle pada cangkirnya mengerat. “… Thank you, Brother.

Ia lantas menyesap tehnya, mengabaikan kecemasan yang tercermin jelas di manik abu merkuri Elliot. Estelle menggigit pelan bibirnya. Elliot benar. Hanya karena ia begitu mencintai lelaki itu, bukan berarti ia harus membodohi diri dengan bukti-bukti yang mulai bermunculan dan menampar dengan kenyataan pahit ke mana hubungan mereka akan berakhir pada akhirnya nanti.

Namun tujuh tahun mereka saling mengenal dan lima tahun mereka menjalin hubungan, bagaimana bisa ia meragukan kesetiaan tunangannya sekarang?

Ia merasakan sesak di dada, seperti ada belenggu tak kasat mata yang mengikat kuat, membuatnya benar-benar kesulitan untuk bernapas.

.

Tiga.

Keheningan yang mengisi ruang makan tempat Estelle dan tunangannya berada saat ini menyisakan rasa pahit di lidah si perempuan. Hanya ada suara halus pisau dan garpu yang beradu dengan piring. Estelle memaksakan diri menelan sedikit demi sedikit hidangan yang tersaji. Duduk di hadapan adalah sang tunangan, dan Estelle melihat pandangan menerawang yang nyata membuktikan kendati si lelaki saat ini tengah makan malam bersamanya, perhatian lelaki itu tersita sepenuhnya oleh hal lain.

Buku-buku jari Estelle memutih saking eratnya ia memegang pisau dan garpu di tangan. Ada kebencian yang diikuti oleh kecemburuan memenuhi relung jiwa, mengunci mati lisannya. Terlebih, jelas sekarang kehangatan dan kenyamanan yang dulu ia rasakan ketika bersama dengan tunangannya telah menguap tak berbekas, meninggalkan kehampaan yang menganga. Batinnya itu bertanya-tanya, sejak kapan semua berubah?

“Regis …,” Estelle memulai, meletakkan kembali gelas berisi angggur merah yang tampak tak tersentuh. Ada ketakutan yang mau tak mau menyelinap menghantui kala ia berucap, “apa kau mencintaiku?”

Sebuah senyuman terpoles di wajah Regis Marlowe.

Hanya perasaannya saja, atau memang ia melihat kilatan rasa bersalah yang sekejap menghampiri manik indah tunangannya itu?

“Apa yang kau bicarakan, Elle?” kata Regis tenang. “Tentu saja aku mencintaimu.”

Alih-alih merasa lega mendengar jawaban itu, tiba-tiba saja Estelle merasakan adanya dorongan kuat pada tenggorokannya, seolah ada sesuatu yang tengah memaksa keluar. Ia terbatuk. Terus menerus. Hanya dari suaranya saja jelas kalau ia tengah tersiksa. Estelle tersedak, kesulitan bernapas. Seiring kemudian helai per helai kelopak bunga berwarna putih mulai keluar dari mulutnya, jatuh bertebaran di lantai dan memenuhi ruangan dengan aroma samar jeruk.

Estelle membelalak.

Sementara Regis, yang melihat kejadian itu langsung di depan mata, syok dan membeku di tempat, kehabisan kata-kata. Ia menyaksikan Estelle memuntahkan kelopak-kelopak bunga dengan kengerian bercampur kepanikan yang terpantul jelas di manik heterochromia-nya. Ia bergegas menghampiri Estelle, namun tangan yang berusaha meraih punggung tunangannya itu ditepis.

Estelle menutup kelopak mata, tak sanggup lagi menatap kelopak-kelopak putih itu. Air mata yang menggenang di pelupuk perlahan meleleh jatuh, membentuk garis tipis di pipi. Bibir perempuan itu meliuk membentuk senyum getir.

Kelopak-kelopak bunga mock orange yang bertebaran itu menjadi bukti nyata akan perasaan si lelaki yang sebenarnya.

.fin

 

Notes:

  1. Bunga mock orange memiliki arti kebohongan.
  2. Hanahaki Byou (Penyakit Hanahaki) adalah penyakit yang disebabkan oleh cinta sepihak, dimana si penderita akan batuk dan memuntahkan kelopak bunga. Penyakit ini dapat disembuhkan jika cinta si penderita terbalas. Selain itu, penyembuhan juga dapat dilakukan melalui operasi, namun perasaan si penderita juga akan turut hilang seiring dengan pengangkatan tanaman/bunga yang tumbuh. Jika tidak mendapatkan pertolongan, si penderita dapat meninggal dunia.
  3. Hanahaki Byou adalah fiksi. Its origin is still unknown but if you happen to stumble upon it, please tell me so I can give a clear credit. Thank you in advance!

 

Advertisements

11 thoughts on “And All I Loved, I Loved Alone

  1. kak titaan, halo he he
    kenapa regis dibuat kayak gitu? ;_;
    by the way nih ya, kukira waktu baca ending kayak ada unsur fantasinya ((LOL)) ternyata…. beneran ada penyakit yang kayak gitu. sumpah deh aku nggak percaya masa beneran ada batuk keluar kelopak bunga? berarti ada tanamannya di… lambung? atau di mana? aku penasaran jadinya. tapi, mock orange bunganya cantik sekali aku suka ❤ makasih kak titan udah nulis ini, aku jadi tau hal baru he he. keep writing!

    Like

    1. halo shiaa ❤

      regis begitu… bikos of my muse?? /plak/
      jadi sebenarnya Hanahaki Byou itu cuma fiksi kok. maaf ya titan lupa ngasih keterangan tambahan ;-;
      dan kalau titan baca-baca soal penyakit ini sih, tanamannya kalau ngga salah tumbuh di paru-paru. titan nyoba cari origin Hanahaki Byou ini tapi ngga ketemu huhu :"

      ayayy, you're welcome. it pleased me that I can share new things to readers. and thanks sudah mampir dan komen ya ❤ ❤

      Like

  2. titaaaaan sumpah aku literally baru tau masa kalo ada penyakit yang kayak gini huhu. kok serem yha tan, aku barusan buka link gambarnya dan menurutku bunganya cantik. sayang artinya kebohongan huhuhuhu bener-bener lah yha titan kalo udah bikin cerita macem gini. aku suka banget karakternya estelle sama elliot. elliot di bayanganku tuh bener-bener kakak yang perhatian banget sama adeknya, walopun dia tau adeknya tuh salah dengan tetep bertahan sama regis tapi si elliot ga semata-mata maksain kehendaknya gituu. suka banget pas elliot ngomong: very well, darling. huhuhuhuhuhu :””” udah fix titan berhasil bikin aku guling-guling 😦
    keep writing ya titaaaaan! ❤

    Like

    1. … Hanahaki Byou memang ada kak, tapi di fiction aja ._. /plak/
      duh maaf titan lupa ngga ngasih keterangan tambahan di catatannya :”

      dan elliot sik kelihatannya aja super emotionless sama kaku but it’s on whole different level altogether kalau uda menyangkut adik satu-satunya itu. plus dia juga tahu Estelle sama Regis ini uda lama banget bareng jadi ya Estelle ngga dikerasin sama Elliot (will be different story on Regis’ side tho).

      and yay, thank you kafika ❤ ❤

      Like

  3. Aw, Titan, Titan, Titaaaan.
    Beberapa hari ini ga dapet notif email dari ws, padahal setting ga kuubah, kukira ga ada yang update, tumben. Setelah ngecek di twitter ternyata ketinggalan T-T

    Aw, aw ini apa. Aku paling benci tikung menikung. Sakitnya lebih sakit daripada diputus ;w; /kayak pernah ngerasain aja/ Aku pernah baca novel Emily Giffin, kalau lelaki sering minta maaf, atau kelihatan bersalah, dia harus dicurigai sebagai oknum nikung ;w;

    Aku pernah baca cerpen yang tokoh ceweknya muntah kelopak bunga, tapi lupa di mana. Dan itu emang unik banget. Yah, untunglah ngarangnya pake kelopak bunga, coba kalau paku. Kan horor ;A;

    Like

    1. halo kafatim ❤

      wah, kafatim pake email apa? kalau yahoo, emang seminggu lalu itu telat banget notifnya. ada apdetan jam 9 aja masuk baru jam satu. kan asem :"((

      nah iya. mendingan langsung putus hubungan deh daripada tikung menikung. duh lah :"(
      ((kuakan mengecek novel Emily Griffin btw))

      … muntah paku. kafatim ini imajinasinya kayanya lebih horror dari titan deh ._.

      Like

    2. pake gmail, biasanya langsung update, kok. coba ntar aku liat setting wordpressnya.

      ya, emily giffin katanya bnyak nulis kisah2 nikung2 X,D aku baru baca heart of matter dan itu bikin panas-dingin. greget, fuh
      hehe, begitulah. kadang bisa jadi psyco x,D

      Liked by 1 person

  4. Wow batuk kelopak bunga! Baru tau tentang penyakit hanahaki yang fiksi ini. Yang di akhir bagian satu jangan2 Estelle juga hampir batuk kelopak bunga?

    Like

    1. haloo 😀

      astaga maaf ya titan baru reply sekarang. titan pikir udah reply comment Cheery tapi ternyata belom huhu :”

      titan juga baru tau akhir-akhir ini kok soal penyakit hanahaki ini. thanks to tumblr. yang di akhir bagian satu itu selain perasaannya di situasi tersebut, itu juga tanda-tanda dia mulai terserang penyakitnya, jadi ya bisa dikatakan Estelle hampir batuk kelopak bunga 🙂

      Like

  5. yosh kaput, thank you buat sarannya uwuu kuakan segera mengeditnya saat tiba di rumah dengan koneksi yg lebih baik ❤ ❤

    ini penyakitnya cuma fiksi kok kak. serem ah kalo ada beneran. dan padahal bunga orange mock itu cantik ya, tapi artinya… ._.

    kaput juga keep writing yaa ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s