[Writing Prompt] Of Cigarette, Lollipop, and an Irritating Conversation

poster

Pagi yang gelap

by Phikeury

Joe menggilas lintingan tembakau dengan ujung sepatunya, menukarnya dengan sabatang lollipop.

.

Sorotnya masih tenggelam pada lintingan tembakau di sela jemarinya. Pikirannya masih kacau, penuh dengan memori yang sempat terbawa hingga kemari juga beragam preferensi mengenai apa yang seharusnya ia lakukan pada menit berikutnya. Audy mengaku gamang, berkontemplasi sana-sini ditemani batangan sigaret nyatanya tak memberinya jawaban selain aroma tembakau yang sejujurnya masih begitu asing.

“Audy!”

Interupsi bariton itu sempat mengalihkan atensi Audy, sebelum ia bersikap tak acuh ketika mendapati tatapan nyalang dari si empunya lantaran presensi sigaret di tangannya.

“Kau yakin tak salah menentukan destinasi, Kawan?”

Oh, bahkan Audy telah memastikan bahwa minimarket adalah tempat paling aman untuk dijadikannya pelarian atau sekadar tempat untuk menenangkan pikirannya. Memperhitungkan kehadiran pria jangkung yang kini telah duduk di kursi sebelahnya tentu mustahil terlintas di pikirannya. Seperti presensi jarum dalam tumpukan jerami; kemungkinan ditemukannya berada pada kisaran nol koma sekian sampai lima persen.

Apalagi sampai menebak-nebak lebih jauh bahwa pria itu akan datang sepagi ini demi mendapatkan satu cup kopi instan dan dua buah lollipop. Demi Tuhan, jarum pendek di jam tangan Audy bahkan belum sempurna berhenti di angka empat dan pria itu sudah mengisap satu bungkus lollipop.

Audy membuang sedikit napasnya, berusaha tenang pun tak acuh dengan aksi apa pun yang tengah dilakukan Joe.

“Salah atau benar, tidak ada kaitannya denganmu.”

“Aku tak memintamu mengaitkannya omong-omong.

Joe berucap spontan, mengundang deru kesal dari bibir Audy. Meski mendapati kilat tak suka dari lawan bicaranya, pria itu tak begitu saja melepas atensinya bahkan ketika Audy kembali fokus pada sigaret di jarinya. Masih dengan sebatang lollipop di mulutnya, Joe menopang kepalanya lantas ia menelengkan wajahnya ke kanan. Matanya sibuk menelusuri garis-garis wajah Audy yang dalam jarak sedekat ini—jujur saja—sangat sayang untuk tak dinikmati keindahannya meski hanya sebelah.

Lihatlah, betapa senangnya Joe menyadari Audy memiliki bulu mata yang lentik sekalipun tak seberapa panjang. Joe juga baru mengetahui eksistensi sebuah tahi lalat mungil di sudut bawah mata kiri gadis itu.

“Kepalaku bisa-bisa berlubang kalau kau terus menatapnya seperti itu,” ujar Audy setelah sepuluh detik berlalu tanpa melirik sedikit pun pada si lawan bicara.

“Aku memang sengaja membuatnya berlubang. Supaya aku bisa melihat apa isi otak seorang gadis yang keluar rumah dini hari seperti ini sambil memegangi sebatang rokok.”

Audy sukses melempar sigaretnya ke atas meja. Sikap dan ucapan Joe terlalu—dan selalu—mengesalkan buatnya. Tidak sebelumnya, tidak pagi ini, pun selepasnya. Pria itu terlalu sibuk dengan urusannya dan itu mengganggunya. Bersikap seolah-olah mereka mengenal begitu baik satu sama lain.

Sorot tajam Audy menguap seiring air mukanya dikuasai ekspresi jengah.

“Mengapa tak kau saja yang lebih dulu menceritakan alasanmu kemari selain untuk menggangguku?”

Joe tersenyum lebar-lebar, tak kuasa menahan kesenangannya mendapati Audy berinisiatif untuk lebih dahulu bertanya. Sejemang ia terlihat berpikir sambil menghentikan aktivitasnya mengisap permen, hingga satu kata meluncur dari bibirnya ketika Audy telah menggeser atensinya pada objek lain—lagi.

Homesick.”

Joe perlahan menyuarakan pikirannya, begitu tenang, tak sebanding dengan suasana yang muncul sesudah kata itu ia utarakan. Audy bahkan terlihat terkesiap dalam sepersekian detik sebelum ia cepat-cepat memungut sigaretnya, mencoba bersikap biasa.

“Ibu, adikku, dan kamarku. Aku merindukan mereka.”

Joe melanjutkan ceritanya. Tak ingin terlihat terlalu melankolis, Joe masih menampilkan senyum terbaiknya kendati yang disuguhi tak menatapnya barang sedetik.

“Ibu senang sekali minum kopi entah saat pagi atau malam, bahkan dini hari seperti sekarang. Sementara adikku, di antara semua jenis permen yang ada, dia sangat menyukai lollipop.”

Sepasang netranya terfokus pada kopi dan lollipop di hadapannya ketika mulutnya merapal cerita. Ada banyak rindu yang ia coba sampaikan, namun sepertinya tak begitu berarti ketika yang mendengar adalah si apatis Audy. Gadis itu bahkan sama sekali tak melirik ke arahnya dan tetap sibuk memainkan sigaret di sela jarinya.

“Bagiku tidak ada yang lebih menyenangkan lagi selain bisa melihat mereka dan dua benda di hadapanku ini. Yeah … biarpun aku tak begitu menyukai kafein.”

Tak apa. Joe hanya sedang ingin membagi ceritanya tanpa berharap akan mendapat afeksi dari Audy. Kalaupun Audy sejak tadi mendengarnya, itu sudah lebih dari cukup bagi Joe.

“Sekarang giliranmu.”

Semula Audy keberatan, sangat malah. Pertama, ia tidak suka mengobrol banyak apalagi mengenai dirinya sendiri, rasanya seperti diinterogasi. Kedua, ia tidak suka dengan eksistensi pria di sampingnya melebihi ketidaksukaannya pada persoalan yang dia sendiri enggan membahasnya. Sebelum ekspresi penuh afeksi yang terus-menerus Joe tujukan membuatnya jengah setengah mati dan perlahan menyerah. Audy pun menarik napasnya, mengumpulkan segenap tenaga untuk menyuarakan isi kepala yang separuhnya sudah menguap gara-gara sikap Joe.

“Hanya sedang bosan dengan rumah yang berisi orang-orang dengan mulut penuh caci maki.”

Joe sempat terkesiap, senyum yang sedari tadi ia tunjukkan perlahan lesap. Cerita Audy terlalu berkontradiksi dengan miliknya. Silabel-silabel dalam otaknya lenyap, berganti dengan rasa iba sekaligus tak terima. Homesick yang menggerayanginya sejak tadi terasa tak sebanding dengan apa yang sedang dirasakan oleh Audy.

Jujur saja, selama lebih dari dua tahun mengenalnya, perbincangan yang sering ia buat dengan Audy belum pernah sebegini pribadinya. Intensitas pertemanan mereka memang tidak lebih dari sapaan sepihak yang seringnya dilakoni oleh Joe ketimbang Audy, atau tugas diskusi yang mengharuskan mereka berbicara satu sama lain. Intinya Joe sekadar mengenal Audy tidak lebih dari sikap apatisnya. Mengetahui rumah adalah sumber alasan bagi seorang gadis semacam Audy menyimpan dan memainkan sigaret rasa-rasanya mustahil.

“Sepagian ini mereka sudah berhasil membuatku lari dari rumah. Butuh satu sampai dua hari mendatang sampai mereka mengetuk pintu kamarku dan mendapatinya kosong tanpa keberadaanku di sana. Mereka terlalu sibuk, entah mengenai apa, yang jelas bukan suatu hal yang lebih baik daripada secangkir kopi atau lollipop.”

Joe mengosongkan paru-parunya lantas mengubah posisinya menjadi duduk tegak, sejajar dengan posisi Audy. Direntangkannya kedua tangan ke atas disertai uapan lebar. Sesegera mungkin ia kembali menikmati lollipop di tangannya alih-alih kembali mengobservasi wajah Audy.

Sementara Audy, gadis itu kembali bersikap tak acuh. Mengetahui pria di sampingnya sudah berhenti mengoceh dan memberinya waktu untuk kembali menenangkan pikirannya yang sedang kalut sudah sepatutnya ia syukuri. Hingga lagi-lagi Audy mendapati tingkah Joe yang tanpa peringatan; merebut batangan sigaret di jarinya dengan semena-mena kemudian membuangnya ke lantai.

“Hei!”

“Kutukar dengan ini.”

Audy menatap sangsi lollipop yang diacungkan Joe ke hadapan mukanya. Ekspresinya kian menegang ketika dilihatnya kaki Joe melindas sigaret miliknya dalam gerakan pelan.

“Kau sendiri sibuk dengan hal yang tidak lebih baik dari secangkir kopi dan lollipop. Jadi, sebelum semunya terlambat dan kau semakin memperlakukan dirimu lebih buruk dari ini, tidak ada salahnya mengganti konsumsi rokokmu dengan lollipop. Harganya toh lebih murah dan rasanya lebih bersahabat.”

Joe tersenyum lebar sementara Audy tak acuh. Gadis itu lekas mengambil sigaret lain dari kotak yang disimpannya di saku belakang dan hendak mengambil sebatang dari dalamnya apabila Joe tak bersikeras melanjutkan tingkah mengesalkannya.

Joe tak membuang seluruh sigaret yang tersisa ke lantai lantas menggilasnya satu per satu. Tidak. Ia hanya melanjutkan kegiatannya dengan memasukkan sisa sigaret yang ada ke dalam cup kopinya yang masih penuh. Tanpa ekspresi takut pun bersalah atas perbuatannya, Joe dengan damai melancarkan aksinya.

“Kau ini bodoh atau tolol sih?!”

“Mungkin senyawa keduanya.”

Audy menahan pekikannya mati-matian. Kehadiran Joe memang selalu dan terlalu mengusiknya, entah malam, sore, bahkan saat matahari belum muncul seperti sekarang. Belum sempat ia menemukan solusi atas masalah yang ia hadapi, pria itu telah begitu saja memberinya kekacauan lain.

Inginnya Audy melempari Joe dengan sepasang sepatunya sekarang juga jika saja pria itu benar-benar berhenti mengusiknya dengan tak lagi mengucapkan kata-kata yang tidak pantas didengar sedini hari ini. Audy pun mau tak mau mengambil lollipop yang sempat teronggok di jemari Joe, terlampau segan berlarut-larut dalam letupan yang menyesaki dadanya pada menit-menit berikutnya.

“Aku tak pernah tahu sebelumnya, seorang perempuan akan sebegitu menariknya hanya dengan memegang rokok. Akan tetapi, tanpa sebatang rokok pun aku mendapatimu tetap cantik, Dy.”

-fin

  • Beribu maaf atas kekurangan2nya. Lagi reunian sama WB :””
  • Terima kasih untuk review dan kesediaannya memposting cerita ini. Juga teman2 yang sempet mampir & ninggalin jejak.

XOXO.

-Lisa

Advertisements

6 thoughts on “[Writing Prompt] Of Cigarette, Lollipop, and an Irritating Conversation

  1. LISAAAA! ih sumpadeh totally in love sama karakternya joe yang tiba-tiba nuker rokok sama lolipop ehehehehe. suka suka sukaaa. apa yaaah perhatiannya si joe tuh nggak over dan malah kerasa banget manisnya kayak permen (oke ini fika aja mungkin yang lagi ngidam permen wkwkwk). terus aku suka gimana pas audy yang kaya stress sama keadaan rumahnya gitu. kamu gambarinnya bagus dan pas banget wawawawa~ anw maafkeun komenku sampis gini huhu. keep writing yaaah! 😀

    Liked by 1 person

    1. hai kak fika!
      ahahaing, aku juga gitu kok kak pas baca ulang, kok si Joe bisa begitunya sama si Audy *lhah* … emang si Joe ini semacam karakter impian lah buat aku, tipikal yg perhatiannya nyebelin nan nyenengin…hehe…
      jujur aja aku bahkan engga pede sama narasi ku, takut kurang ngegambarin problemnya mereka…tapi syukurlah, kalau dibilang pas…
      anyway, thankyou sekali buat reviewnya lho kak…keep writing too!

      Like

  2. Bikin orang brenti merokok dg cara yg menarik..xD baca karakter Joe aku jadi inget temenku yang gaya ngomongnya mirip2 Joe ini, dan yap, itu cool banget beneran *malahcurhat-,-*
    Ya, aku memang setuju banget kalau merokok itu bukan untuk pelampiasan stress, hahaha. Keep writing kak! 😀

    Liked by 1 person

    1. hai dan salam kenal kak Dhila…
      wahhh…jadi iri kan, pingin punya temen kayak Joe T_T , hihi…
      anyway, makasi buat komentarnya dan keep writing too!

      Like

  3. hai lisa 🙂 *ehehe aku baca komen di atas namamu lisa*

    sumpah aku naksir berat sama karakter joe disini! aku suka banget pokoknya gimana kamu ngejabarin semua narasi antara joe dan audy yang bisa se-epik ini. bagian paling favorit itu pas joe tuker rokoknya audy pake lollipop dan sebelumnya dia ngejelasin kalau dia homesick. terus kopi dan lollipop itu yang bikin dia inget sama ibu dan adiknya di rumah.. how sweet ❤ masih ada gak ya cowok kayak gitu beneran di real life huhuhu :''')

    aaahh diksinya juga keren banget pokoknya keren lah. yang jelas cerita kamu bikin nagih buat dibaca sampai akhir!

    love it and salam kenal! 😀

    xx
    sari 😀

    Liked by 1 person

  4. Manis banget isi ceritanya, semanis yg komen kali yaaa. Wkwkwkwk.
    Diksimu emng selalu yg terbaik. Lopelope kecupjauh. Keep writing Lice…

    *kagak ada emoji di hp mamak, jd gak ekspresif komentarku yaa :3

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s