Noda Kenangan

nodabandel6

Noda Kenangan

by Niswahikmah

Bagi Alma, es krim selalu terdengar istimewa.

Bagi Alma, es krim selalu terdengar istimewa. Es krim tandanya ayah pulang dari kerjanya, membawa satu cup berisi krim yang lumer jika dimasukkan mulut. Rasanya selalu manis, dengan perpaduan rasa—mulai dari stroberi, cokelat, sampai durian pun ada.

Es krim berarti ayahnya punya uang, meski tetap harus mengantarnya ke sekolah dengan berjalan kaki. Meski bukan berarti rumah mereka yang sempit akan berubah meluas dengan sendirinya. Tapi, setidaknya krim yang lumer bersama dingin di mulutnya itu mengartikan bahwa ayahnya sedang ingin memanjakannya.

Mereka akan makan es krim sambil duduk di kursi, mendengarkan radio karena tidak punya televisi. Kemudian, Alma hafal, kalau sang ayah akan bertanya, “Enak, Al?”

Gadis kecil itu tidak pernah punya jawaban lain selain anggukan bertubi-tubi. Dan, ayahnya akan terkekeh karenanya, sambil mengusap ujung bibirnya yang belepotan krim.

Ada arti es krim yang lain bagi mereka, yaitu perayaan ketika Alma mendapatkan nilai bagus dalam suatu mata pelajaran. Meski masih SD, ayahnya tidak pernah lupa memberikan kado untuk sesuatu yang memang pantas dibanggakan.

Es krim di tangan kanan, tangan hangat yang menggandengnya di tangan kiri, serta semilir angin bercampur matahari di atas kepala. Itu saja sudah sempurna untuk Alma. Maka, jangan heran, apabila ada yang bertanya, “Apa makanan favoritmu?” ia akan dengan tegas menjawab, “Es krim.” Padahal es krim tidak bisa dikategorikan sebagai ‘makanan’.

Lantas, apabila ada yang bertanya, “Es krim rasa apa?” ia akan tersenyum sambil menjawab, “Rasa Ayah.”

Karena es krim itu selalu manis apabila ia rasakan bersama ayahnya. Sesederhana itu.

***

Sejujurnya, Alma tidak ingin lagi mendekati kotak pendingin es krim di minimarket untuk melihat apa saja produk yang tersedia. Ia tidak ingin berhadapan dengan kenangan lama itu lagi, meskipun rasa es krim tetap sama, dan bukan benda itu yang patut dipersalahkan.

Namun, hari itu terik sekali. Rasanya air dingin tidak akan mempan menghilangkan dahaga di tenggorokannya. Maka, ia memberanikan diri menggeser kaca yang menjadi penutup kotak es itu.

Yang membayang di pelupuk matanya seketika adalah tawa miliknya dan ayahnya. Alma menggigit bibir bagian dalamnya ketika mengambil satu cone es krim, tidak memilih yang berbentuk cup. Rasa dingin di tangannya begitu familiar, membuatnya rindu akan genggaman yang dulu begitu menghangatkan, milik ayahnya.

Jelas saja, waktu sudah berlalu sepuluh tahun. Tidak ada lagi senyum ayahnya ketika pulang bekerja, membawakannya satu cup es krim untuk dinikmati berdua. Tidak tersisa lagi tautan hangat tangan mereka berdua, atau gemerisik suara radio ketika mereka menghabiskan es krim. Serta tidak lagi ada jemari ayahnya yang membereskan noda di tepi bibirnya.

“Semuanya lima ribu rupiah, Mbak.”

Suara kasir memecahkan lamunannya. Alma terburu-buru mengeluarkan dompet dan memberikan uang sejumlah yang dipinta. Setelah menerima bungkusan dengan tangan agak bergetar, ia keluar dari minimarket itu.

Matahari yang menyengat mengingatkannya bahwa ayahnya telah pergi sejak sepuluh tahun yang lalu. Bukan pergi dengan meninggalkan nisan, namun dengan menitipkan es krim di tangannya.

“Tunggu di sini, ya, Al. Ayah akan kembali setelah es krimmu habis.”

Ia menunggu sampai habis hari. Es krimnya sudah tandas, bungkusnya sudah ia buang. Tapi, yang datang bukan ayah, melainkan orang lain yang mengaku diminta ayahnya menjemputnya. Dari panti asuhan.

Jelaslah sudah, Alma mengerti. Ayah membuangnya hari itu, memberinya kenangan terburuk bersama es krim.

***

Maka, biarlah Alma yang sekarang mendudukkan dirinya di sofa apartemen sambil menyalakan televisi. Es krim di genggamannya menguat, rasa dinginnya menusuk hingga dalam hati. Teringat olehnya, sering ia bertanya-tanya, apa alasan ayahnya membuangnya? Ia tidak pernah memprotes kasur tipis yang harus mereka tiduri berdua. Juga tidak pernah mengomel karena tidak bisa menonton televisi seperti teman-temannya yang lain.

Akibat pertanyaannya yang terus-menerus itu, penjaga panti membentaknya, “Ayahmu malu punya anak sepertimu!”

Dulu, ia tidak percaya. Tapi, jika melihat televisi yang sekarang menampakkan wajah ayahnya, rasanya penjaga panti benar. Ia hanya akan jadi pengganggu, karena ayahnya tak lagi punya waktu untuk makan es krim dengannya, menggenggam tangannya, apalagi membersihkan noda di bibirnya.

Ayahnya sekarang sudah puas dengan kursi empuk, dasi mahal, dan jas necis itu. Diundang ke sana kemari dan masuk banyak saluran televisi. Alma memang hanya kenangan usang yang sepatutnya dibuang.

“Alma.”

Panggilan yang tak kalah familiar itu menghentikan lumatannya pada es krim, sekaligus lamunannya tentang masa lampau.

“Kamu makan es krim?” sebuah pertanyaan retoris meluncur dari bibir lelaki itu. Lelaki yang menggenggam tangannya sejak setahun yang lalu, menggantikan peran ayahnya.

“Tumben banget,” lanjut sang empunya suara.

Alma mengedikkan bahu tidak peduli.

“Ya, terserah kamu, deh. Tapi jangan belepotan, dong, Al.”

Ketika didapatinya lelaki itu tersenyum dan membersihkan krim di pinggir bibirnya, Alma tahu satu hal. Ayahnya bisa saja pergi ke layar televisi dan memberikan kenangan terburuk bersama es krim. Tapi, orang lain juga bisa datang dan memberikan kenangan terbaik lagi, menutupi kenangan buruk itu.

Karena es krim ditakdirkan selalu istimewa, setidaknya untuknya.

end.

Author’s note:

  • Ini sebenarnya versi “ayah” dari Remah Kue di Tepi Bibir. Tapi, tokohnya beda, hehe.
  • Terinspirasi dari kisah seseorang yang kukenal, yang emang ayahnya seakan-akan pergi, meski tidak sepenuhnya pergi setelah tenar.
Advertisements

12 thoughts on “Noda Kenangan

  1. niswa… :(( aku bacanya kayak ada suara garetek gitu ya allah langsung ambyar pas akhir kalo ternyata ayahnya alma malah ngirim anaknya sendiri ke panti asuhan. tapi sebenernya bukan bagian itunya sih yang bikin sedih, malah bagian yang alma ditinggal sambil makan es krim terus ayahnya bilang tungguin ayah sampe es krimnya habis. taunya sampe ganti hari pun ayahnya ga dateng dan alma-nya malah dijemput petugas panti huhuhu sedih ah :”( bagus ih nis. btw kalo yang remah kue itu kan ibunya jadi artis yha, ini bapaknya jadi artis juga kah? ((kepo)) yosh keep writing yaaa nis!

    Like

    1. Heuheu klise sih yaa permasalahan yg kuangkat tapi emang banyak kan ortu sekarang hobi ninggalin anaknya. Ga masih bayi ga udah gede, pdahal yang pengen punya anak aja munajatnya ga putus-putus :”)

      Iyaa kalo ini ayahnya sebenernya jadi kayak pengusaha sukses yg kiat-kiat bisnisnya suka ditanya sama orang jadi dia suka nongol di teve. Huhu deskripsinya kurang jelas sih emang, aku bingung abisan :” anw makasih uda mampir ya kakfikk keep writing too!

      Like

  2. Ini versi anak yg sdikit lebih tegar dari pada anaknya kukis *?*. Tp ini nyeseknya di bagian ‘bakal balik pas es krim abis’. Kalau kukis masih rada awet lah ya masi bisa bersabar dikit ditemani barang peninggalan. Nah ini es krim sejam juga meleleh smua, keburu sepi duluan :^

    Iya, aku stuju sama balesan komen kamu di atas. Aku gak cuma sekali dijadiin tempat curhat orang yg kepengen punya anak. Udah lama nikah, udah usaha sana-sini gak dapet2 juga. Sementara yang lain ada malah pas sukses anaknya ditinggalin aja karena dianggap beban. Anaknya gak berhasil malah anaknya yg disalahin pdahal ngedidik pun kagak pernah .=. Ah, cerita ortu anak emang gak akan ada habisnya. Tetap semangat nulis ya Nis! 😀

    Like

    1. Bwahaha kok aku ngakak baca “anaknya kukis” xD
      Huhu iyaa sedih kan, soalnya ada tanteku yang sampe sekarang belum punya anak dan tatapannya kalo liat anak kecil mesti aja kayak kepengen gitu huhu :”)

      Anw makasih yaa udah baca dan komentar kak dhilaa ^^

      Liked by 1 person

  3. kak niswa, ini suara patah hatiku kedengeran ga sampe kesana? :((

    aku baca dari awal tuh udah nyess gitu soalnya aku paling ga tahan kalo baca ayah-anak yang meskipun hidupnya susah tapi tetep bahagia, sedikit banyak jadi keingetan pas jaman2 aku masih kecil pas orangtuaku belum sesukses sekarang :’) apalagi dulu aku deket banget sama papa, huhu baca ini jadi bikin kangen masa kecil.

    terus aku nebak-nebak ini ayahnya meninggal makanya alma jadi gamau makan es krim lagi, eh taunya lebih parah deng ini mah ‘ditinggalin’ hanjer ini mah php versi orangtua. as expected from kak niswa, tulisannya selalu nancep dan selalu narik yang baca biar kelepasan curhat di comment box (((atau cuma aku aja kali ya))) (((ok)))

    yosh, keep writing kak niswa ❤

    Like

    1. Haii, aisya (bener kan yah? Aku agak lupa padahal tadi abis mampir ke ficmu wkwk)

      Alhamdulillah suara kreteknya ga kedengeran, mungkin kamu komen pas aku masih terlelap xD hah, sebetulnya aku juga nyes gitu pas nulis ini, aku juga deket sama ayahku dari dulu, dan tau banget perjuangannya :”)

      Bwahaha php versi orangtua, nguquq deh xD etapi readerku emang banyak yang curcol di bok komen, haha jadi emang tulisanku narik buat gitu yha…..

      Anw makasih komennya dan keep writing juga untukmu!

      Like

  4. Ceritanya menyentuh banget, Niswa…
    Tadinya aku pikir ayahnya itu pejabat, ternyata bukan ya hehe
    kalau yg aku temuin disekitar sih kebanyakan anaknya dititipin ke orangtua mereka, supaya mereka tetep bisa kerja buat ngebiayain anaknya. Miris sih ngeliatnya, hal2 kyk gini gak bisa diliat dari satu sisi aja. Complicated bgt pokoknya…
    Aku suka bgt part yang Alma dengerin radio bareng ayahnya, sama pas mereka jalan berdua. Dulu waktu kecil aku deket bgt sama ayah, yg kalau kemana-mana pasti ikut dan selalu digendong di punggungnya, ah kangen masa2 ituuu…

    Like

    1. Bukan hehe, maksudku sih ayahnya pengusaha tapi kalo dibayangin pejabat boleh juga kok. Soalnya deskripsiku kasar sih jadi ambigu xD
      Iya, kalau di sekitar emang banyak yang gitu. Tapi kan seenggaknya ortunya balik dan masih ngasih perhatian meski minim, terbagi dengan banyak hal. Kadang kita sering lupa kalau anak itu aset berharga, anak rusak juga ga salah mereka penuh, ortu ikutan tanggung jawab:)

      Makasih uda komen yaa kak Neng 😀

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s