[Writing Prompt] Wildan

 WILDAN

Melupakan atau Dilupakan

by seoulovely

melupakan atau dilupakan?’

Kutukan rindu, jarak, dan waktu memang tak pernah main-main. Aku tak menyangka jika Wildan akan benar-benar datang ke Semarang hanya untuk menemui orang itu. Gila. Hanya itu yang bisa kukatakan ketika menjemputnya di stasiun kereta. Kelakuan Wildan selalu saja membuatku tak habis pikir.

Namanya Wildan Juan Rantanaka. Namanya memang keren, tapi sayang ekspektasimu akan hancur ketika melihat kelakuannya yang liar. Jangan menyamakan keliaran Wildan dengan seorang tarzan, tetapi liar yang kumaksud adalah otaknya. Otaknya sangat liar sampai menular pada kepribadiannya yang selalu tak terduga. Wildan seringkali melakukan hal seenak jidat tanpa memikirkan apa resikonya. Ia kepalang nekat, sangat nekat bahkan tak jarang ia sampai membahayakan dirinya sendiri.

Aku dan Wildan seperti kutub utara dengan kutub selatan, air dengan api, hitam dengan putih, bahkan siang dengan malam. Sangat bertolak belakang, tetapi ada saat ketika aku merasa bahwa hubunganku dengan Wildan sama seperti air dan minyak. Air dan minyak memang tidak dapat larut menjadi satu, tapi setidaknya mereka masih bisa berdampingan dengan karakter masing-masing tanpa harus saling menjauh.

Sebelum mengajak Wildan untuk menginap di kosku, aku sengaja menuruti permintaannya yang ingin merasakan sensasi minum kopi di bawah langit malam Semarang. Aku pun langsung mengajaknya ke sebuah warung makan angkringan yang letaknya tak jauh dari stasiun.

Di dalam angkringan itu cukup sepi, hanya ada kami berdua sebagai pembeli, sisanya adalah mas-mas penjual angkringan dan juga beberapa bapak-bapak yang sedang mengobrol dalam bahasa Jawa. Kulihat Wildan tampak antusias menyantap satu bungkus nasi kucing yang jarang sekali ada di kota Jakarta. Tidak cukup satu, rupanya Wildan mampu menghabiskan lima bungkus nasi kucing sekaligus hanya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit.

“Lapar atau enak, Bos?” sahutku sambil terkekeh ringan melihat tingkah Wildan yang tampak kalap menghabiskan gorengan.

“Dua-duanya,” balasnya dengan mulut yang masih penuh oleh makanan. Wildan memang juara kalau soal makan. Badannya tetap kurus meski porsi makannya mungkin melebihi orang normal pada umumnya. Aku bahkan iri padanya, padahal Wildan jarang sekali berolahraga. Olahraga favoritnya hanyalah mendaki gunung dan itu pun ia lakukan hanya satu kali dalam sebulan.

“Jadi apa sih tujuan lu ke Semarang, Wil?” tanyaku penasaran karena tak yakin dengan pernyataan Wildan sebelumnya yang mengatakan bahwa ia hanya ingin bertemu dengan Sera—mantan kekasihnya. Konyol, bukan?

Wildan tak langsung menjawab pertanyaanku, mulutnya sibuk menyeruput kopi hangat kesukaannya sampai menyisakan setengah volume dari isi cangkir.

“Nagih utang, Ju.”

Aku lantas tersedak cabai dari gorengan yang kusantap saat mendengar jawaban Wildan tersebut. Sial, bocah itu memang selalu saja bercanda kalau diajak bicara.

“Ini serius, Ju. Utang yang dimaksud itu bukan uang tapi ya janjinya Sera setelah putus kemarin. Katanya dia mau lupain gue, nah gue cuman mau buktiin itu.”

“Bilang aja kangen apa susahnya, sih.”

.

.

.

.

Hening sejemang. Kulihat kini Wildan tengah merenung, menatapi ampas kopinya yang tersisa dalam cangkir. Mungkin ia lelah atau bisa saja kekenyangan, hanya saja air mukanya seolah menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Lantas ia pun kembali melanjutkan konversasi.

“Omong-omong, lebih sakit mana, melupakan atau dilupakan, Ju?”

“Melupakan, karena melupakan itu gak semudah yang orang bilang. Apalagi kalau orang itu sangat berarti buat hidup kita. Hm, tapi beda kasus kalau misalnya lu terkena penyakit amnesia.”

“Kalau dilupakan?” tanyanya lagi.

“Dilupakan itu sakit, tetapi mungkin rasa sakitnya bisa hilang dalam beberapa hari. Kalau melupakan itu butuh proses panjang. Dan rasanya mungkin lebih sakit lagi kalau kita gak berhasil untuk melupakan orang itu. Yang ada justru malah semakin ingat.” Aku menjawab apa saja yang terlintas di pikiranku.

“Aneh ya,” ucapnya pelan.

“Lebih aneh lagi si Wildan Juan Rantanaka. Jauh-jauh ke Semarang, tetapi gak jelas mau ngapain.”

Hahaha.

Yah, dan malam itu kami pun berhasil tertawa bersama kembali setelah sekian lama jarak memisahkan Jakarta dengan Semarang.

Fin

Advertisements

One thought on “[Writing Prompt] Wildan

  1. Halo kak sariii. Apa kabar? Hehe masih inget aku ga sih? Rekan satu ifk dulu xD

    Eum… sebetulnya aku baca ini dari masih di draft ws hehe ((curang yeah i knew tapi aku lagi butuh bacaan)) trus…. hmm aku merasa kurang ‘eh’ gitu. Kayak ada yang hilang di cerita ini. Penjelasannya kurang, ending-nya terasa dipaksakan. Maaf, tapi sebetulnya tulisan kak sari masih serapi dulu loh, cuma mungkin ide ceritanya aja…

    Keep writing ya kak, anyway. Lama tak lihat hanseora muncul :)))))

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s