Takkan Punah

WMN_21276

TAKKAN PUNAH

by Niswahikmah

Mereka hanyalah pungutan. Yang satu kuambil eksklusif dari got kampung, sementara satunya lagi kujinakkan hati-hati sampai aku terkencing-kencing. Mereka dua yang satu, karena memang sama-sama kusayangi. Tidak pernah kubanding-bandingkan kemampuannya. Tidak kupisah-pisah perangainya. Hanya saja, sudah pasti kupisahkan tempat tinggalnya.

Hanya ayahku saja yang setiap hari berkicau.

“Lebih pintar Black lah, jaga rumah juga bisa. Brown bisa apa, coba? Mengeong saja tidak becus.”

Brown yang menggelayut dalam rengkuhanku mendengkur minta dibela. Anggap saja aku bisa membaca bahasanya. Padahal, ia juga tidak akan tahu arti à bientôt, ni hao ma, apalagi wakarimasu. Dianggapnya itu bahasa alien. Hanya dikenalnya isyarat-isyarat tubuh saja.

“Black itu defensif, Yah. Disentuh jadi galak. Brown mana bisa berubah seperti itu,” sahutku.

Brown menggerung senang, menempelkan lehernya ke dalam lekukan jari-jemariku. Agaknya, dia bahagia melihat Ayah bersungut-sungut membawa Black lari-lari.

Lagi pula, aku juga sayang Black. Meski dia defensif, dia seperti sahabat untukku. Dia menggonggong tiap kali aku pulang sekolah, menjilat-jilat kesenangan jika kulebihkan makanannya karena Brown mencurinya, dan terkantuk-kantuk menunggui rumahku.

Rasa sayangku sama, kubagi rata.

***

Pagi itu, Black menggonggong kasar ketika anjing tetangga diajak lari-lari melewati depan rumahku. Berbeda dengan Brown yang sibuk melamun, mengubah posisi duduk, lalu melingkar tertidur. Kapasitas Brown hanya untuk makan, bermain-main, buang hajat, lantas tidur. Bulu-bulunya yang berwarna cokelat kejingga-jinggaan berkilat-kilat setiap selesai kumandikan. Kontras dengan Black yang tetap saja gelap gulita, tanpa secelah pun warna lain.

Kubelai-belai Black ketika Brown sibuk mencari posisi ternyaman tidur karetnya. Dia tenang kembali, duduk dan memakan makanannya dengan anggun. Tapi, tetap saja, mata nyalangnya siaga waspada.

Jika usai kutemui kawanku yang mudah bersilat lidah, kukatakan basa-basi kepadanya: “Aku punya kucing.”

Dia selesai sudah menceritakan segala hal-hal tak pentingnya. Canggung mengubah posisi duduk, mengunci mulut, lalu bertanya, “Warna apa? Pasti lucu, ya?”

Aku tersenyum. “Lucu, tentu. Warna jingga kecokelatan. Atau cokelat kejinggaan. Tidak penting juga, sih. Kebiasaannya seperti anjing, suka menjilat-jilat.”

Wow, kucingmu bisa masuk koran nasional, atau acara televisi,” jawabnya.

Nyengir lagi aku. Sebelum kubalas, “Menjilatnya bukan menjulurkan lidah. Tapi sopan sekali. Dia anggun-anggunkan diri di depanku. Lantas, jika aku pergi, tandas sudah makanan di rumah. Dia makan, kriuk-kriuk seorang diri.”

Temanku itu menciut. Lalu, mohon undur diri.

“Hei! Aku belum cerita soal anjingku!” aku berseru.

Dia tetap berjalan pergi, tersenyum kecut. Mungkin dalam batin berbisik, “Sudah puas kaubuat main-main, Din.”

***

Bus akan selalu penuh ketika aku pulang kuliah. Biasanya, aku harus berdesakan hanya untuk mendapat tempat menggantungkan tangan, menolak gejolak ugal-ugalan. Memang, aku tidak gampang mual, mau bus itu bergoyang sembarang arah. Yang kujerikan hanya tangan-tangan Brown menyelinap ke dalam tasku.

“Permisi, Mbak. Permisi.”

Kugenggam erat-erat tasku, kutundukkan pandangan. Dua menit berikutnya, baru kubuka mata.

Sesegera itulah teriakan memecah bising di dalam bus.

“Jambret! Copet! Kampret!” yah, sejenis itu, tidak terlalu jelas terdengar karena ibu-ibu itu sudah loncat dari bus. Lari tunggang langgang mengejar si pencopet.

Beberapa orang pun jadi terbirit-birit membantu. Si sopir ikhlas menghentikan bus sejenak, dan aku rela menunggu sampai jempol kakiku kesemutan.

Saat aku hampir limbung kecapaian, mobil polisi akhirnya tiba. Seorang laki-laki berhasil menangkap dan menghajar pelaku sampai babak belur. Dan, aku hanya tersenyum dari dalam bus sambil mengingat Black. Sudah kumandikan atau belum pagi tadi.

***

Kadang, pagi-pagi, kuadu lari Brown dan Black. Black hanya akan menang jika sudah dipancing tulang ayam, tapi Brown akan segera berjingkat ikut lari kalau aku lari di sampingnya. Brown akan bersegera merapikan diri ingin ikut kalau aku berangkat keluar. Tapi, Black hanya bersikap tenang—yang mengandung kecemasan—tiap kali kuelus kepalanya saat akan pergi. Dia baru beranjak dengan riang jika sudah kupungut tali di lehernya.

Keduanya defensif jika menghadapi lawan.

Tapi, Black lebih setia menjaga perempuan. Dibanding Brown yang bertemu tiga betina saja bisa dia kencani semuanya.

Maka, ketika pacarku yang kesekian memutuskan aku tanpa kejelasan alasan, aku cuma mendesis ke arahnya yang terbengong-bengong: “Dasar kucing.”

Mungkin, dianggapnya aku mengatainya kucing garong. Tapi, ia berkulit bulu saja tidak. Jadi, dia hanya memicingkan sebelah mata dan menyangka aku depresi. Padahal, sama sekali tidak. Karena aku hanya ingat Brown. Sudahkah kuberi makanan di mangkuknya? Sudahkah kututup dengan tudung saji semua makanan di meja makan?

Ya, sesederhana itu. Lagi pula, tanpa dia, aku pun menemukan pelabuhan hati abadi.

***

Sekuat itu hubunganku dengan Brown dan Black. Tak pernah aku dengan sengaja menjewer kuping atau menginjak ekor mereka. Kubagikan susu dari wadah yang sama. Mereka saling menggerung, tapi akhirnya tenggelam dalam kenikmatan masing-masing.

Dan, selama itu pula mereka tinggal di bilik pribadiku. Menjadi teman setiaku dan pengabdi penjaga relung rumahku.

Maka, ketika Brown tiba-tiba hilang, aku tidak pernah mencari. Aku hanya menangis tersedu-sedu di pelukan suamiku yang berkata, “Kucing-kucing terlalu banyak di dunia ini, Sayang. Di tempat kerjaku saja ada. Mau kubawakan?”

Aku malah jadi tertawa, menggeleng dengan yakin.

Begitu pula ketika Black tak sanggup menangkap pencuri yang membobol sebagian perabotanku. Kuusap-usap kepalanya saat esok paginya ia tertunduk lesu. Kubisikkan berulang-ulang padanya, “Ah, tak apa, hanya hilang sedikit. Belum hilang nyawamu, Black.”

Dia membalasnya dengan gonggongan lunglai.

Tapi, aku tahu, akhirnya dia akan terkapar menjemput ajalnya. Aku menangis sejadi-jadinya saat suamiku membuat kuburannya. Lagi-lagi, didekapnya diriku.

“Anjing seperti Black memang tidak banyak lagi, Dina. Tapi, percayalah, aku tetap anjingmu hingga akhir hayatmu.”

Kuangkat kepalaku, memamerkan senyum tipisku. Dikecupnya keningku lembut. Perlahan, membuatku percaya kalau teoriku selama ini benar.

Brown dan Black tak pernah punah. Mereka tetap ada, sesedikit apapun populasinya.

–fin.

Author’s note:

  • Pernah di-posting di Syndrome Grabber.
  • Naskah ini memenangkan lomba di Saladbowl beberapa waktu lalu, namun masih ditunggu kritik dan sarannya untuk perbaikan ke depannya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s