[Writing Prompt] Memuja di Kejauhan

downloadfile-1

by Angelina Park

Ballet

.

Sejuk angin meniup hasrat untuk tersenyum tipis di sore yang indah. Satu lagi memori yang terlukis, mengembangkan sayapnya untuk menjelajah di atas angan. Pandangan yang teduh masih menatap satu arah, tak ingin melepas fokus barang sejenak.

Cangkir-cangkir seputih angsa yang cantik masih menempati posisi yang proporsional, terpaku dengan sendirinya membentuk pola yang sudah tak asing lagi. Hijau rumput menjadi kontras yang hebat, segar aromanya menguar hingga menjadikannya salah satu jenis obat penenang.

Embun sisa hujan pagi tadi masih menyapa, pertanda siang tak seterik biasanya. Mungkin mentari sedikit meredupkan sinarnya, mengerti bahwa hujan sudah cukup lama tak bertandang. Alam yang saling memadukan kasihnya, bercinta sesuai kehendak sang pencipta.

Butiran gula yang mengintip di balik cawannya. Satu sendokan yang berpadu membuat suara dentingan kecil yang lucu. Menarik, satu lagi senyum terulas di bibir ranum pemuda itu. Hingga teh siap untuk melepas dahaga, satu tegukannya menjadi awal segalanya.

Namanya Mudrick, pemuda awal dua puluhan bermata biru selayak langit luas. Kulit susu yang bahkan para gadis sempat iri dibuatnya. Perangai bak pangeran negeri dongeng yang menundukkan kepala tanda hormat. Membayangkannya mengulurkan tangan mengajakmu berdansa mungkin adalah sebuah khayalan yang dimiliki hampir setiap gadis saat pertama berjumpa.

Menjadi terbiasa menikmati teh di sore hari lantaran kedua orangtua yang terlampau menjejaki kata harmonis. Tak pernah ia lewatkan momen seperti ini sejak usianya menginjak sepuluh tahun. Agak lucu, memang. Tapi sepertinya tak ada yang salah dengan laki-laki yang menikmati secangkir tehnya di sore hari. Terdengar lucu, bisa jadi demikian. Buktinya masih banyak gadis yang memujanya seakan melihat dewa surga.

Tak ada yang spesial selain wajah tampannya, seperti ritual minum teh pada umumnya. Hanya saja menjadi sedikit berbeda sejak ia kedatangan tetangga baru tiga bulan yang lalu.

Di setiap sore yang sama, di langit yang sama dan mungkin di jam yang sama, jika ia tak pernah salah mengira. Di ujung sana―mungkin sebuah ruang kosong dalam rumah itu, ia selalu melihat bayangan seorang gadis balerina yang tak pernah bosan menggerakkan kaki dan tangannya seperti profesional yang cantik.

Keindahan gerakan yang selalu menghipnotisnya untuk memandang tanpa berkedip. Keselarasan yang entah bagaimana bisa Mudrick rasakan tanpa mendengar seperti apa lantunan melodi pengiring terputar. Energi berbeda kala netranya terus memaku atensi tanpa kejemuan. Sebuah perasaan hangat yang perlahan menjalari ujung kakinya sampai menggelitik napasnya.

Si Cantik di kejauhan, memainkan tubuhnya dalam batas kain putih tipis yang menjadikannya samar. Tak tampak namun manis dilihat. Dirasa tak nyata namun fakta menampar segala kemungkinan. Jelas-jelas Mudrick melihatnya, si jelita yang selalu menerbangkan hatinya dari kejauhan. Mengucap sapaan sepertinya terlalu jauh dari pikirannya. Mudrick hanya ingin tetap seperti ini.

Mengagumi keindahannya dari kejauhan. Dengan secangkir teh yang menemani, tentu saja.

“Kautahu, Kak? Keluarga temanku yang di New York memutuskan pindah ke London. Kabarnya lagi, kini ia menjadi tetangga kita.”

Teringat kembali perkataan sang adik saat perbincangan mereka menjelang kepulangannya dari perjalanan studi demi satu penyelesaian laporan. Mudrick yang awalnya sekadar menanyakan kabar tetapi akhirnya terus berlanjut lantaran kegemaran sang adik dalam menceritakan segala pengalaman yang terjadi dalam hidupnya.

“Benarkah? Dunia memang sesempit itu, ya. Oh, apakah mereka memiliki anak perempuan?”

Tak seperti biasanya, kini Mudrick kembali menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Suasana terasa menyenangkan sehingga ia memutuskan untuk duduk lebih lama dari biasanya. Tanpa mengalihkan pandangan, tangannya terlatih mengukur sendok gula dan mengaduknya sampai benar-benar larut.

“Iya, namanya Angel. Dia temanku selama aku di sini.”

Pohon apel di halaman rumah yang mulai berbuah semakin mempermanis panorama yang hampir menggambarkan senja. Belum sampai menjemput malam, memang. Tapi tetap saja, kiranya Mudrick sudah cukup lama menikmati kesendiriannya.

“Nama yang cantik, secantik tarian baletnya. Apakah ia memang seorang balerina?”

Pilinan ingatan yang terus berputar dalam benaknya. Mata yang masih menjurus satu arah, tak mencoba berpaling apalagi pergi meninggalkan. Mudrick masih dikuasai hasratnya. Rupanya angin masih menggodanya.

“Ah? Kak, kurasa ada sebuah beda persepsi tentang tetangga baru itu di antara kita.”

“Maksudmu?”

Hingga di ujung sana, sang balerina menghentikan gerakannya. Ia hanya berdiri diam di tengah ruangan. Kain putih yang memantulkan bayangannya masih memperlihatkan tubuh yang sama. Mungkin selama beberapa detik, Mudrick terfokus hanya pada satu titik.

“Angel tak pernah menari balet.”

Angin yang semakin jahil padanya. Singkapan kain di sana sudah sangat cukup membuat Mudrick menjadi lebih percaya pada ucapan sang adik ketimbang mempertahankan keyakinannya pribadi.

“Dan ia telah meninggal beberapa minggu yang lalu.”

Bahwa memuja dari kejauhan tanpa mencari tahu bukanlah sebuah pilihan yang tepat dalam hidup.

FIN

Advertisements

9 thoughts on “[Writing Prompt] Memuja di Kejauhan

  1. Super twist!!! Ya ampun, ku pikir yg nari ballet itu anaknya yg lain, bukan angel. Tp ternyataa…. yauda besok besok minum tehnya nggak usah hadap situ lagi ya, Mudrick!

    Sukaa sama pengemasan ceritanya 🙂

    Like

    1. thanks for reading^^ apakah itu termasuk twist kak dd terharu :’) sebenernya angel juga ga tau itu yang nari balet siapa, hanya Tuhan yang tau kak /lalu dikeplak/ makasih udah suka 😉

      Like

  2. kak angel!! yaampun kakak jago ya mainin kosakata gitu. jadi iri deh. dan anyway, twist-nya ngagetin deh :”) jadi… yang diliat mudrick ini… ((ah))

    Like

    1. thanks for reading^^ heii aisss /peluk/ waduh diriku hanya pejalan kaki yang numpang lewat di sini ais masih perlu banyak belajar wkwk. diriku tak menyangka itu termasuk twist omo puja kerang ajaib /sujud/ ah sudahlah jangan dihiraukan apa yang diliat mudrick xD

      Like

  3. Ya ampun, kenapa belakangan ini setiap baca cerita selalu berakhir hantu TvT

    Ini kereeeeen, gak ketebak sama sekali. Dan merinding total di bagian akhir, karna saya ga suka hantu sih.-. Tapi serius ini kereeeen banget. Diksinya aduhay banget :’3 pembawaannya juga gak berat berat amat, dan gak bikin pusing. Rapi pula, seneng bacanya :3

    Btw, lain kali mending Mudrick ketemu dulu aja, jangan jadi pemuja dari kejauhan :’3

    Like

    1. thanks for reading^^ bikos sekarang hantu sedang jadi hitz xD hihi seneng deh ya kalo kamu suka, diriku jadi pengen meluk oppa buat selebrasi kalo gitu :3 /lalu angel dibuang/ ini jadi pelajaran buat semua kalo suka sama orang tuh disamperin, takutnya siapa tau dia bukan orang :’)

      Liked by 1 person

  4. Bahwa memuja dari kejauhan tanpa mencari tahu bukanlah sebuah pilihan yang tepat dalam hidup. => ternyata gebetan sndiri juga hantu krna gak pernah nyapa *eh *janganbaper

    Tulisannya klop cocok gitu, rapih banget, aku sering berhenti sbntar buat menyerap kata2nya, berasa lagi menyesap teh anget sore2 uwuuw.

    Keep writing ya! 😀

    Like

    1. thanks for reading^^ wah kak tiati kak siapa tau gebetanmu juga bukan orang :’) kalimatku emang kadang suka gitu kak harap maklum aja ya hehe /peluk kakdil/ semangat juga :3

      Liked by 1 person

  5. Entah jaman japan ini ff kanjel masih pake marga Park 😄 ternyata we o we ff nya sudah setahun yg lalu wkwkwkw iseng buka2, eh kenapa oh kenapa endingnya begitu. itu mas nya makanya jangan suka minum teh sendirian, apalagi pas mau maghrib, pasti banyak jurig gentayangan. Terus memangnya gak punya tetangga lain apa, mas nya cari temen gih, tuh sama kanjel, daripada kanjel ngarepin mas tiwai gak dapet2///kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

    nb : bahasanya wow… kanjel, kayak puisi, mel jadi pengin mimi teh juga nih 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s