[Writing Prompt] Fugitive

tumblr_npkmxzDH2j1s4nnijo1_500

Prompt: Invisible Throne

By: Ms.Pang

.

(warning for some adult language)

God knows I didn’t mean to fall in love with her. — Ernest Hemingway

.

Pagi itu gerimis. Bulir air menjatuhkan diri dengan malas-malasan dari gumpalan gula kapas kelabu di langit untuk membasahi tepi jalanan berdebu, sementara yang lainnya berkumpul jadi satu membentuk kubangan di sela barisan paving pedestrian. Atmosfer gegap gempita kehidupan London pun terasa beranjak melamban. Hanya segelintir jiwa-jiwa dengan keinginan dan kebutuhan mendesak yang rela keluar dari kungkungan selimut nyaman mereka, atau bangkit dari pelukan sofa empuk dengan segelas cokelat hangat untuk menembus barikade gerimis menghipnotis, atas nama akhir pekan.

Sementara seorang wanita dengan topi bundarnya, duduk di dekat jendela sebuah restoran, tengah mengharap ada hujan badai yang mengarah ke London hari itu juga. Sehingga ia tidak jadi satu-satunya orang yang merana saat ini.

“Kau yakin topi itu tidak mengganggumu?” nada bariton pria yang duduk di hadapannya terdengar jengkel. Di saat bersamaan, si wanita pun tak kalah kesal karena konsentrasi merapal mantra pemanggil hujan badainya terganggu. Pupus sudah harapannya menatap titik air hujan di kaca jendela yang intensitasnya seolah enggan bertambah.

“I’m okay.”

“Tentu kau oke, tapi aku tidak oke.”

Kejengkelan pria tersebut tampaknya belum ada tanda-tanda akan mereda, terlebih dengan tatapannya yang seolah menegaskan, ‘topi itu membuatmu mirip pelancong, bukannya buronan’.

Tidak ingin menarik perhatian pengunjung restoran yang lain, wanita tersebut berinisiatif untuk mengambil peran sebagai protagonis, tanpa melepas topi bundar yang menyembunyikan separuh surai keemasannya, “Tolong, bisakah untuk setengah jam kedepan kau menghabiskan sarapanmu dengan tenang, karena aku—”

“—sedang memikirkan kota tujuan pelarian selanjutnya.”

Oh, sial! Ia lupa kalau lawan bicaranya adalah ahli membaca pikiran.

“Karena menyela kuanggap kau punya masukan?”

“Bukankah sudah kubilang dari semalam kita sebaiknya ke Richmond?”

“Kau tahu? Aku tidak sedang butuh anekdot basi.”

“Apakah Richmond terdengar sepeti lelucon bagimu, Ms. J?”

Si wanita—yang dipanggil dengan nama aliasnya, Ms. J—terpaksa menengadah dari permukaan kopi hitam pesanannya untuk menelurusi gurat emosi si lawan bicara. Dan hasilnya, manik kokoa itu tengah menatapnya lurus sembari berpendar tenang—yang mana menandakan sang empunya tidak sedang berniat melemparkan lelucon. Kendatipun demikian, Ms. J enggan terburu-buru menyimpulkan bahwa apa yang ditampakkan adalah kejujuran, karena bagaimanapun, lawan bicaranya adalah mantan—atau sebenarnya masih—ketua anggota organisasi gelap kenamaan. Tentu hal semacam mengelabui lawan dengan memanipulasi air wajah sudah jadi salah satu keahlian dasar.

“Alasannya?”

“Kau mau lari jauh ke Kepulauan Canaria sekali pun, angkatan bersenjata kami sudah siap mengarahkan moncong senapan ke hidungmu yang runcing bukan main itu, Ms. J. Thanks to Britain spider’s web connection, and surely, the Queen’s watchdogs.

The Queen’s Watchdogs.

Begitulah cara si pria menyebut kalangan bangsawan yang mengabdi sebagai bayangan pemerintah—dan juga keluarganya, dulu—yang mengemban misi memburu warga negara semacam mereka ini. Andai saja lawan bicaranya benar-benar dapat membaca pikiran, ia pasti terkesan bagaimana Ms. J yang agung akhirnya meluruh dengan menyebut dirinya dan si rekan dalam satu kesatuan: mereka.

“Maka, kau yang notabene mantan pemburu, tidak punya pilihan selain bersembunyi di sela-sela sarang pemburu itu sendiri yang sedang lemah. Karena mereka yang punya keahlian sama atau setingkat di atasmu sudah dikirim ke Namibia kemarin malam—destinasi kita dua minggu yang lalu. Tidakkah itu terdengar seperti ide yang brilian?”

Ya, tentu saja seorang otak kriminal sepertimu dapat merencanakannya dengan mudah. Tidak heran bagaimana karier para pendahuluku beruntun berakhir di meja pesakitan, setelah meloloskan bajingan pandai silat lidah sepertimu.

“Kalau mau kau bisa berhenti membuang recehan untuk penerbangan berjam-jam yang hanya akan membuat pantatmu lecet, dan mulai menikmati uap hangat dari secangkir Earl Grey di pagi hari dengan duduk di lengan bersofa yang empuk—alih-alih menyesap kopi pahit. Well, aku dengan baik hati menyarankan tempat tinggalku di Richmond karena selain mereka telah berdebu dan sudah saatnya ditempati kembali, itu yang terdekat.

“Bagaimanapun juga, aku tahu kau merindukan semua ritual sarat kemewahan yang menenangkan semacam itu, lebih dari rasa rindumu pada sepatu kulit rusa asli yang kau tenggelamkan di Sungai Thames semalam, Ms. J.”

Wanita tersebut sudah siap dengan kepalan tinju, namun jingkat congkak salah satu alis si pria menahannya, ‘Aku tidak keberatan dengan koreksi. Lakukan saja jika ada fakta yang salah, atau lupa kusebutkan.’

“Karena jujur, aku pun lelah berlari ke sana kemari—pengecualian untuk pelarian ke Meksiko kemarin, astaga aku belum melupakan senyum para gadisnya begitu manis, tidak seperti milikmu yang hambar—dan aku sudah merindukan kenyamanan bekerja di atas jok limosin. Juga sampanye! Aku bosan terus-terusan menyesap kafein yang asam bukan main atas nama penghematan.”

“Lakukan saja. Lagipula tidak ada yang melarangmu berhenti berlari dan minum sampanye sampai mabuk, Mr. Grumpy.”

“Kau tahu aku tak akan berhenti berlari dan minum sampanye tanpamu, Ms. J.”

“Cheesy.”

“Terserah kau saja. Intinya, pikirkan dalam tiga puluh detik, lalu putuskan ‘ya’ atau ‘tidak’. Kalau tidak, aku akan pesan seporsi fish and chips sebelum kita melanjutkan perjalanan. Karena aku masih lapar.”

Si wanita melirik sebal pada semangkok sereal cornflakes, yang kini tinggal lautan susu vanilla, sembari diam-diam mempertanyakan apakah pria di hadapannya berusia tiga puluh atau tiga belas tahun.

Ya, berarti setuju. Artinya mereka akan pergi dua puluh menit lagi, lalu tiba di The King Cross tepat waktu untuk perjalanan ke arah Richmond—satu-satunya kota dengan lingkaran merah besar pada peta London yang diberikan si pria semalam.

Tidak, berarti harus menunggu tuan muda ‘buronan’ menghabiskan seporsi fish and chips yang mana dapat memakan waktu setengah hari—benar sekali, ia doyan mengunyah kentang goreng dengan ritme lambat yang dibuat-buat—dan artinya mereka akan bepergian di malam hari.

Ms. J yang benci udara dingin dan kabut malam London sudah pasti mencoret pilihan yang terakhir tanpa ragu.

“Baiklah, dengan satu syarat.”

Di sisi lain, seolah enggan menanti silabel lain yang terucap, si pria mencondongkan tubuhnya dari seberang meja untuk mengeluarkan kartu truf andalan. “Jerome Vaughan.”

Sontak manik sewarna almond di soket retina Ms. J melebar tak terima. Kenyataan bahwa informasi penting yang ia perjuangkan selama dua tahun, kini diberikan semudah itu oleh pemiliknya langsung, yang mana setimpal dengan menginjak-injak kerja kerasnya.

“Kau pegang nama asliku—jadi berhenti memanggilku Mr. Grumpy—dan kau boleh menembakku tepat di sini, benar sekali, tepat di dadaku sebelah kiri. Tapi pastikan kau tidak melukai chip yang ditanamkan di jantungku kalau kau berniat mengecek validitas Mr. J, sebelum menyerahkanku ke istana.”

Si pria mengakhiri sesi ‘berbagi informasi’ dengan seuntai senyum kemenangan. Tak cukup sampai di situ, ketenangan yang dipancarkan pria di hadapannya, entah bagaimana, justru membuat Ms. J tak nyaman. Sekalipun seluruh informasi tersulit yang ia inginkan sudah terekam sempurna.

“Tentunya, kau sudah tahu apa konsekuensi seorang pengabdi yang menyelesaikan misi di luar perintah atasannya, bukan? Aku yakin si perut buncit Flynn akan menolak terkesan setelah kau langkahi kekuasaannya, meski kuakui, kau memainkan peran mata-mata ganda yang menakjubkan.”

Which means that I’ll end up in a prison no matter what? Fucking brilliant!

“Jika kau masih menebak-nebak apa yang sebenarnya memperlambat langkah kolega kepercayaanmu .…” si pria beringsut dari tempat duduknya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi dari saku jaket yang ia sampirkan di punggung kursi.

Jemari si wanita menyambut ragu ketika ia diminta membuka kotak merah tua yang disodorkan si pria ke hadapannya. Sisa kepingan kepercayaan kepada sang kolega tengah dipertaruhkannya pada isi kotak tersebut. Akankah keyakinan yang telah ia jaga akan membantunya kukuh bertahan di restoran ini untuk lima belas menit kedepan, atau—

“Rupanya, dia?”

Well, itu sekadar sampel dari beberapa peti berisi amunisi pesanan—permintaan langsung dari paman Flynn Rowan yang kau cintai sepenuh hati, Ms. J.”

Untuk sejemang rasanya oksigen dalam paru-parunya dihisap habis oleh kotak beludru di tangan. Si wanita merasa kesulitan bernapas, karena dadanya kembali disesaki amarah dan kekecewaan yang telah lama coba ia lupakan. Terlepas dari sepuluh revolusi bumi yang telah ia lewati, bukan hal sulit untuknya mengenali kembali benda tersebut—benda yang sama persis dengan yang digunakan untuk mengakhiri hidup kedua orangtuanya.

“Tentunya aku akan mempertimbangkan untuk tidak mengirimmu langsung kepada Sang Ratu, hanya jika kau mau berbaik hati jadi rekanku sekali lagi—mungkin juga kau ingin menyapa pamanmu, sebelum kita bisa beristirahat dengan secangkir Earl Grey besok pagi di Richmond.”

Sembari menunggu Ms. J yang masih terpaku dengan kotak beludru tersebut, si pria menandaskan sisa kopi di cangkirnya lamat-lamat. Karena besar kemungkinan ia tidak akan mendapatkan seporsi fish and chips yang diidamkan untuk mengganjal perutnya lebih lama, jika ia tidak ingin ketinggalan kereta ke Richmond.

Sepertinya ia terlampau asyik berfantasi dalam buaian kafein, hingga tidak menyadari sejak kapan kotak beludru itu diletakkan kembali di meja, sementara wanita di hadapannya telah menyelinap keluar dari restoran. Dengan tergesa si pria melangkahkan tungkainya menyusul gerakan gesit sosok yang ia cari. Hingga dirinya tiba di salah satu peron keberangkatan kereta menuju Richmond, dan di sana wanita tersebut berdiri tegak. Di tepi jalur kereta. Tentu hal itu menjadi jawaban yang lebih dari cukup bagi seorang Jerome Vaughan, untuk merayakan kemenangannya dengan senyum sumringah.

“So, I take it as a yes, Ms. Jaqueline Rowan?”

Bukannya langsung memberi jawaban, si wanita justru melepaskan topi juga alat perekam suara berbentuk jepit rambut yang ia kenakan di baliknya, dengan satu gerakan luwes, kemudian melemparkannya ke jalur kereta. Sepasang manik almond memandang antusias pada lampu kereta yang mendekat, lalu melindas cepat kedua barang tersebut.

Sembari menanti laju kereta melambat, Jaquelin akhirnya buka suara,

“Tentu saja. Karena aku harus menagih sepatu kulit baru dari si tua bangka itu.”

~끝~

 

PANG’s Note:

  • Kepulauan Canaria terdiri dari tujuh pulau vulkanik yang terletak di Samudra Atlantik, sebelah barat laut pesisir Afrika (Maroko danSahara Barat). [Cr: Wikipedia]
  • Yup, Jerome Vaughan and Jaquelin Rowan are Jake and Jane’s parents.
  • Finally, I’ve done my prompt, all three of them! O M G I’m alive, Bruh! ❤
  • Also, I’d like to thank our dearest Q for giving a chance, for me, to introduce my other-half family: The Vaughans, through these prompts.
  • Cie berasa pidato menang piala Oscar cie ❤

 

Advertisements

11 thoughts on “[Writing Prompt] Fugitive

  1. KAPANG MASA DARI AWAL SAMPE AKHIR AKU SERASA PENGEN JUNGKIR BALIK GULING-GULING WHAT HAVE YOU DONE TO MEE?? ((matiin kepslok))

    but seriously, dari awal aku baca ini tuh udah bertanya-tanya siapa si pemeran di cerita. pas sampai di Ms. J tuh aku langsung mikir Jane? ini Jane bukan? lah pas sampai akhir EH TERNYATA MS. J INI SI MAMA VAUGHAN ASDFJKLHKJKGA

    dan huahah, kalimat terakhir :”) sepatu kulit. tahu deh mirip siapa Jane akhirnya :”)

    ambyar lah titan, kapang. ini ketje bikos hello, a spoonful of crime, a sprinkle of drama, and a dash of action? DEFINITELY MY CUP OF TEA AND GOSH I LOVE THE VAUGHANS SO MUCH ❤ ❤ ❤

    keep writing kapang ❤ tolong perbanyak kemunculan keluarga Vaughan yak (terutamajake) ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. JAKE DICARIIN MBAK GEMES NIH ((ampun buk ampun))

      aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa thanks a lot for your support and feedback titan sini kita pelukan teletabizzzzzz ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. Aku butuh beberapa waktu buat nyebur masuk ke cerita mereka. Aduh, maaf, gara2 keganggu sama mas2 1D yg lagi godain cewek;;;

    Sayang banget aku belum kenalan sama Jake and Jane. Jadi, ini malah langsung meluncur ke orang tuanya;;;
    Kurunut satu2, tapi masih ga yakin whehe;; mereka buronan (tapi aku belum ngeh, mrk kena kasus apa) yang satu mantan pemburu, anak buah Flynn Rowan. Yang cowok pemburu yg kerja buat ratu. Tapi mrk kerja sama dan melarikan diri berdua. Si cowok akhirnya ngasih informasi cuma2 yg selama ini diburu Ms J. Dan ngasih tahu kalau bosnya diam2 telah belok, berkhianat. Kenapa mrk lari berdua dan buat apa, aku belum nangkep alasannya ;w; /pembaca gagal/ Mohon bimbngannya;;

    Ada sedikit typo; diatasmu, karir, persakitan dan sekedar.

    Sekian <333

    Like

    1. Hai Kak Cherry! Terima kasih banyak atas koreksiannya, sangat membantu! ❤

      Aku ingin mengonfirmasi beberapa hal:

      1. Jaquelin Rowan, BUKAN bawahan Flynn Rowan, melainkan keponakan. (Sudah dicantumkan diatas)

      2. Jerome Vaughan BUKAN the Queen's Watchdogs. Dia ketua sebuah organisasi gelap. (Sudah dicantumkan diatas juga). Maka, sudah pasti dia jadi buronan negara.

      3. Kenapa Jaquelin disebut mantan pemburu dan jadi buronan? Karena, dia pergi untuk mengusut dan mencari pelaku pembunuh orang tuanya atas inisiatif sendiri (soal ortunya yang dibunuh sudah dibahas di atas, sekilas ya). Saat itu kasus tengah ditangani pamannya (Flynn Rowan) yang ambil alih jadi the Queen's Watchdogs, gantiin bapaknya si Jaquelin. Tapi kerjanya lambat dan dia uda ga sabaran kalo suruh berpangku tangan, maka Jaquelin berinisiatif turun tangan sendiri dengan keyakinan awal sesuai data analisis punya pamannya, bahwa yang bunuh orang tua dia itu si Mr. J, alias Jerome Vaughan–si ketua organisasi gelap.

      Sebenarnya tuduhan buron ini sekadar kamuflase, untuk memperkuat peran bekerja sama sebagai mata-mata untuk pihak Jerome, dia dianggap mengkhianati kerajaan karena bekerja sama dengan buronan (jadi mata-mata pihak Jerome), makanya ditetapkan jadi buronan. Padahal sebenarnya sih dia lagi jadi mata-mata ganda. Etapi ujungnya ketahuan juga sama Jerome. Gimana ngga ketahuan, orang mereka lari dua tahun ngga ketangkep kan pasti menimbulkan kecurigaan, dengan akses informasi kerajaan yang super duper lengkap.

      Daaan apakah setelah misinya selesai: mengungkap pembunuh orang tuanya, Jaquelin kembali jadi the Queen's Watchdogs? Biarkanlah waktu yang menjawab ya kak~

      5. Iya, mereka lari berdua. Karena apa? Satu, Jerome Vaughan bisa menyingkirkan si Flynn ini jika pada waktu barter dihabisi sama Jaquelin karena terbukti bunuh ortunya Jaquelin. Yang mana di saat bersamaan, artinya dia bisa ambil untung dari amunisi yang dipesan dari Flynn Rowan dengan tangan bersih sekalian menyingkirkan dia, karena atasan tertentu Jerome ngga suka bisnis dengan Flynn Rowan yang suka main kotor. Dua, Jaquelin bisa segera 'menghakimi' pamannya. Tiga, bukankah ini jadi semacam simbiosis mutualisme untuk keduanya?

      6. Baiklaaaaah, semoga membantu ya kaaaak ❤

      7. Sampai disini, adakah yang masih ingin ditanyakan, Kak cherry? ❤

      Liked by 1 person

    2. Yak, nikungnya tajem banget AHHAHAHA maafkan aku, ya Allaaaah ;w;
      Kalimat ‘Tentunya aku akan mempertimbangkan untuk tidak mengirimmu langsung kepada Sang Ratu’ jg bikin aku gagal paham. ;;w;;

      Like

  3. KAKPANG ❤ Nabil ga pernah baca crime yang kaya gini, jadi ga begitu mudeng hihi hapunten 😦 Tapi beberapa hal masih ketangkep kok, soal buronan, Queen's Watchdogs, terus profesinya mereka berdua. kalau ini genrenya misteri, kakpang sukses besar! karena nabil penasaran dari awal mr. grumpy dan ms. j ini siapaaaa?

    tapi kaaak, terlepas dari konten ceritanya, nabil suka banget sama narasi, dialog, duuuh semuanya deehh pokoknyaa. kebayang banget ini latar london lagi ujaaan. warbyazah kakpang warbyazaaah ❤ tipikal novel-novel terjemahan gituuu deeh, serius. kakpang, nabil luff this luff ❤ ❤

    dan seperti biasa

    God knows I didn’t mean to fall in love with her. — Ernest Hemingway

    summarynya kakpang emang selalu bikin nagih.

    master of summary, ms.pangsitkoreya

    Liked by 1 person

    1. Haai Nabil! Long time no see dan thank you so muchies sudah bacaaaaa! I’m still learning, apalagi soal summary T^T ❤ #hulkhugnabil #welcomeback

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s