Growing Up

“I’ve found that growing up means being honest. About what I want. What i need. What I feel. Who I am.”

.

Jisung memandangi hujan dari jendela lebar yang memagari sisi ruang makan. Berharap ia dapat menangkap rintiknya dalam genggaman tangan. Ia hampir tak ingat kapan terakhir kali dihinggapi dingin. Namun memori Jisung menyimpan baik rasa sakit dari kemarahan kakaknya. Kemarahan yang membuat dirinya tersudut dalam ruang pengekangan. Kemarahan yang memupus semangatnya untuk keluar dari batas yang mengurungnya.

“Haben Sie ein Zimmer frei?”[1]

Jisung mengalihkan atensi pada satu sosok yang memasuki ruangan. Setelan Oxford Clothes makin berkelas membalut tubuh kakaknya. Cara berjalan dan bercakapnya tampak superior. Seolah ia pusat dunia dan apa yang diucapkannya adalah kewajiban paten untuk dilaksanakan.

Tidak ada sapaan atau pelukan yang sering ibu dan ayah mereka lakukan dulu. Jadi, Jisung berpura-pura mengamati set peralatan makan di depannya, yang telah digosok mengilap, tidak peduli pada sikap Eunhyuk.

“Einzelzimmer … ja.”[2]

Meja makan itu memanjang dan berisi selusin kursi yang berjajar di kedua sisi. Sementara ujungnya, tempat duduk kebesaran ayah sewaktu memimpin jamuan bersama rekan kerja. Ruang makan itu didesain untuk jamuan besar, kumpulan orang dewasa yang bercakap soal uang dan karier. Jelas, bukan untuk diisi dua anak lelaki dengan sesuap roti dan susu.

Yang tersisa hanyalah hampa. Ruangan ini. Pilar-pilar penopang langit. Guci keramik dari Tiongkok kecintaan ibu. Karpet beludru yang tampak terlalu sayang untuk diinjak. Tirai-tirai tinggi biru langit. Dan berbanjar-banjar pelayan berseragam hitam-putih yang siap sedia menerima perintah. Semua materi itu tak cukup mengubur kenyataan bahwa mereka tinggal berdua dalam surga yang sunyi.

Jisung tidak pernah senang membenarkan kenyataan ini. Tapi ia tak bisa menampik akan betapa jauhnya hati mereka. Ada canggung dan sungkan yang membuatnya sulit bergerak tiap mata mereka beradu. Seolah ia baru saja mengeluarkan pisau dari sakunya, dan kakaknya menghentikannya lewat pelototan mata. Tapi, tentu saja Jisung tidak pernah menyembunyikan pisau di dalam saku. Pun Eunhyuk tidak pula melototinya.

Atau memang adakah sesuatu yang berbahaya, yang tidak pernah Jisung sadari telah disembunyikannya? Hingga kakaknya harus terus mengawasi tiap gerak dan langkahnya.

“Lain kali aku tidak ingin menghabiskan waktu memesan kamar hotel. Ini tugasmu. Jika kau tidak bisa berbahasa Jerman, kau harus belajar,” kata Eunhyuk pada seorang lelaki yang terus menempel di sisinya.

Dia kepala pelayan sekaligus sekretaris pribadi yang sebelumnya melayani keperluan ayahnya. Terkadang lelaki enam puluhan itu juga bisa jadi penasihat. Ayah sering memuji pekerjaannya yang cekatan dan penuh perhitungan. Ah, ayahnya memang senang memuji orang. Membuat sosoknya mudah diterima dan dicintai semua kalangan.

“Besok aku harus pergi ke Jerman,” ujar kakaknya, kini beralih pada Jisung.

Seperti biasa, Eunhyuk selalu memulai hari dengan membeberkan jadwal kepergiannya. Mungkin, takut kalau Jisung akan sulit menemukannya jika dibutuhkan. Padahal tidak. Jisung tidak pernah peduli pada apa yang dilakukan kakaknya.

Tapi akhir-akhir ini Jisung harus mendengarnya dengan cermat. Sesekali ada beberapa pertemuan kecil yang melibatkan namanya. Orang-orang mulai penasaran dan ingin mengamatinya lebih dekat. Anak kedua dari pasangan yang baru saja meninggal. Jisung menganggap itu simpati kepura-puraan untuk mencuri hati kakaknya. Ya, semua ini memang tentang kakaknya, sang pewaris.

Eunhyuk melanjutkan ceramah paginya, selepas membacakan jadwal hari itu tanpa menyebut nama Jisung. Jisung menghela napas lega. Jisung tidak pernah suka keramaian. Keramaian selalu mengingatkannya pada orang-orang yang pergi dari hidupnya. Bahkan hanya dengan melihat pejalan kaki yang memenuhi pedestrian. Terutama di musim-musim penghujan seperti ini, orang-orang cenderung memakai gelap. Terkesan murung. Membuat mereka tampak seperti menghadiri pemakaman masal.

Jisung melewatkan ceramah pagi itu, tapi ia berhasil menangkap kalimat finalnya. “Selama satu minggu ke depan, jangan berbuat macam-macam. Kepala Pelayan Nam akan mengawasimu untukku.”

Jisung mengangguk. Tidak perlu membantah karena itu bukan haknya. Tidak juga mengiyakan dalam bentuk kata, karena ia tidak benar-benar menyetujuinya. Hadir atau absennya Eunhyuk di rumah besar ini, tidak mempengaruhi Jisung sama sekali. Ia akan tetap dikurung dan dibatasi.

Untuk beberapa saat hanya ada detingan lembut alat-alat makan. Ucapan pertama Jisung di pagi itu harus tertahan sampai suapan terakhir kakaknya. Sementara isi piring miliknya berkurang tak lebih dari setengah porsi.

“Aku mau minta izin untuk menelepon seorang teman.”

Alis Eunhyuk terangkat, memaksa Jisung menambah kalimatnya lagi.

“Mereka mengundangku ke pesta minum teh sore ini.”

“Kau tahu, aku tidak akan menginzinkanmu datang ke perkumpulan semacam itu, benar?”

“Aku mengirim telepon untuk mengabarkan mereka, bahwa aku tidak bisa datang.”

“Bagus.”

Bagus.

Jisung mengunci kata itu dalam peti berlabel ‘sangat buruk’ dalam kepalanya. Jawaban atas nada dingin dan keengganannya. Sayang sekali kakaknya tidak terlalu peka atau memang telah menutup telinga. Jisung berusaha menahan diri untuk tidak berteriak.

“Kau sudah mencapai usia siap untuk kuperkenalkan pada dunia luar.”

Dunia luar, istilah kakaknya untuk menyebut rekan bisnis mereka, orang-orang penting. Para kapitalis yang Jisung musuhi. Meski tak terelak, keluarganya juga masuk dalam golongan itu.

“Empat belas tahun usiamu. Cukup matang untuk berbisnis, Jisung. Kau bisa memulainya dari bagian yang kau suka.”

Jisung bertanya-tanya, bagian mana dari berbisnis yang ia sukai, sementara kakaknya berkata dengan begitu yakin, seolah ia telah melihat jelas kesukaan itu dari raut Jisung. Jisung tidak menginginkan duduk di meja kerja. Menghadapi setumpuk laporan keuangan per bulan. Menghitung rugi dan laba. Menilai para pesaing dan menjilat rekan kerja. Buat apa pula dirinya belajar semua itu, di sisi lain, Eunhyuklah yang telah dipersiapkan menduduki puncak usaha keluarga mereka.

“Jisung, tatap aku jika aku berbicara denganmu.”

Jisung mendongak dan mendapati kemarahan yang menegang di rahang kakaknya.

“Ada apa denganmu, Jisung? Kau tidak bisa bicara?” Suara Eunhyuk meninggi satu oktaf. Jisung ikut merapatkan gigi.

Kakaknya mulai muak. Jisung mulai mual.

“Kau pernah tidak mengamati dirimu di depan kaca? Lemah, tidak ada daya. Kau hampir seperti mayat hidup tidak berguna. Lakukan sesuatu selain mengurung diri di dalam kamar! Hadapi kenyataan kalau ayah dan ibu telah meninggal!”

Kepalan tangan Jisung melayang, memukul meja. Para pelayan yang sejak tadi mengamati dengan waswas ikut tersentak. Napas mereka tertahan ketika si bungsu akhirnya menyahut, “Aku menghadapinya!”

Rasa panas di dadanya naik sampai ke kedua matanya. Jisung tak ingin menahannya lagi.

“Aku sudah menghadapinya!”

Jisung butuh beberapa tarikan napas untuk merangkai kata. Menyelipkan seluruh pemberontakannya dalam kalimat yang tetap sopan, namun menyerang. Pembalasan dimulai.

“Tapi kau selalu ada di sana. Menghadangku dengan semua peraturanmu. Benar, aku sudah empat belas tahun. Dan sudah masanya kau mendengar ucapanku, keinginanku, kebutuhanku, perasaanku. Kau tidak pernah mau mendengarku. Tidak sekali pun!”

Jisung berharap kakaknya akan balik menyerangnya dengan amarah yang meledak, dan memberinya kesempatan lagi untuk membantah. Namun, dari balik kerabunan air matanya, Jisung tidak menangkap apa pun selain seraut kesedihan. Kesedihan serupa yang Jisung lihat ketika mereka kehilangan ayah ibu. Jisung merasa hina.

Lihat, saudara macam apa dia sekarang? Dia telah menenggelamkan wajah kakaknya sendiri di depan kaki para pelayan. Tuhan pantas mengganjarnya ke liang neraka lapis terbawah.

 .

Jisung melintasi ruang keluarga. Ia berhenti tak jauh dari ruang kosong di samping jendela. Dulu ada piano putih tepat di sela kosong itu. Ayahnya punya pemikiran, bahwa musik adalah seni tertinggi yang diciptakan manusia. Tidak peduli dari bangsa mana, berbahasa apa, atau sepandai dan sedungu apa, musik bisa menyatukan semua. Itu adalah sihir musik. Dan piano, sebagai pembawa musik, berhak untuk ditempatkan di tengah-tengah keluarga mereka.

Ayah tidak terlalu pandai memainkan piano selain nada-nada lullaby sederhana. Tapi Jisung sempat punya ambisi menjadi pemain piano hebat. Ayah sangat mendukung dengan mencarikan guru piano terhebat di kota. Dan rasa bangganya begitu jelas di matanya, kala ia menatapi permainan kikuk Jisung.

Seiring kekosongan yang mulai memenuhi rumah, ambisi Jisung ikut meluap. Mereka sepakat memindahkan piano peninggalan ayahnya ke gudang.

Siang itu tidak ada yang menginstrupsi kemalasan Jisung dengan kelas-kelas rutin yang harusnya ia ikuti. Ia berbaring di bangku taman belakang dalam waktu lama. Menyembunyikan dirinya dari terik musim gugur, di balik rimbunan dahan balsam poplar. Tak jauh dari sana, suara air terjun rendah mengalir di sungai buatan, yang tepiannya ditanami rerumputan gelagah dan papyrus.

Semerbak lavender dan mawar diembus angin. Kantuk perlahan memabukkan Jisung. Sesaat, ia merasa damai. Sampai sesuatu yang basah dan dingin menyentuh kakinya. Basah itu juga merayapi dada dan tangannya.

Jisung bangkit. Siap menyembur siapa pun yang berani menyiramnya. Yang dilihat selanjutnya, ternyata lebih dari seember air. Melainkan banjir yang menyentuh tinggi bangku batu yang ditempatinya. Banjir itu membesar, bersama riak-riak gelombang kecil.

“Jisung!”

Eunhyuk memanggilnya dari atas sampan kecil. Kakaknya mendayung mendekat, melawan arus. Sambil mengulur tangan, Eunhyuk terus menyerukan namanya, “Ayo, Jisung, naik! Kau akan tenggelam jika berdiam diri di sana.”

Jisung berjingkat. Air makin meninggi. Ia harus berdiri di atas bangku itu, menolak untuk melemparkan dirinya ke sampan kakaknya.

“Jisung! Ayo, kemari!”

Jisung menggeleng.

“Kenapa, Jisung?”

“Kau tidak pernah memercayaiku. Aku bisa menghadapi ini seorang diri. Aku tidak akan lemah tanpamu!”

Jisung tertegun oleh ucapannya sendiri. Membayangkan apa yang terlintas dalam kepala kakaknya ketika melihat dirinya berteriak sekeras itu hanya untuk menolak uluran bantuannya.

“Jisung.” Dayungan Eunhyuk melemah, membuat sampan kecil itu hanyut mengikuti arus. Jisung tertinggal seorang diri.

Jisung terdiam. Deru air terdengar dari belakang. Jisung berbalik dan melihat ombak besar bergulung-gulung datang. Tidak ada waktu untuk menghindar. Air itu menghantamnya keras. Kepala Jisung timbul tenggelam di permukaan. Sesak di dadanya makin menjadi, seiring banyak air yang mengisi mulutnya.

“Jisung!” Suara kakaknya memanggil-manggil. Jisung berharap, kakaknya mau menariknya keluar dan menyelamatkannya.

“Jisung! Jisung, sadarlah!”

Pipinya yang terasa terbakar ditepuk-tepuk. Jisung mengerjap. Dia mengerang pelan dan mendapati tenggorokannya kering.

“Ayo, bangun dan minum.”

Kepalanya terangkat, ditopang di atas lengan. Tahu-tahu segelas air disodorkan ke mulutnya dan membasahi tenggorokannya sampai puas.

“Berbaringlah dulu,” kata suara itu lembut.

Jisung mengintip dari matanya yang setengah terbuka. Pandangannya masih berkunang-kunang. Kepalanya seperti dibebani sekarung kentang. Dan dia tak punya alasan tepat kenapa tubuhnya demam.

“Ada apa?”

“Aku menemukanmu pingsan di bawah hujan,” sahut kakaknya sambil menaikkan selimutnya sampai ke dagu. Jisung tampak begitu kecil berbaring di tempat tidur, di bawah segulung selimut. Belaian tangan kakaknya di kepala membuat Jisung nyaman.

Ia teringat, dulu kakaknya senang memanggilnya Kecil. Jisung baru mengakui kalau itu olokan yang manis.

“Aku tahu kau sedang mogok belajar. Tapi bukan dengan cara hujan-hujanan seperti ini.”

“Aku tidak hujan-hujanan. Aku bahkan tidak tahu kalau hujan turun.”

“Jadi kau pingsan sebelum hujan? Harusnya aku cepat-cepat memanggilmu tadi.”

Jisung tersenyum. Dulu kakaknya selalu melakukan hal ini tiap kali dirinya sakit. Jisung memang mudah terserang demam dan sakit kepala, apalagi jika hujan menyentuhnya sedikit saja. Sambil mengomel, kakaknya akan merawatnya sepanjang hari dan malam. Menolak permintaan kedua orang tua mereka untuk beristirahat.

“Bukannya kau ada rapat siang ini?”

Eunhyuk terbelalak, terkejut dengan cara menggelikan. “Seperti yang kusangka, ingatanmu tajam sekali.”

Jisung tersenyum meringis. Rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak sesantai ini di depan kakaknya.

“Aku memundurkan jamnya setelah melihatmu tergeletak dengan wajah pucat.”

Obrolan membeku beberapa saat. Hujan di luar bergemuruh.

“Kau bisa membuat daftar hal-hal yang kau inginkan.”

Jisung tahu apa yang dimaksud Eunhyuk. Tapi ia tetap bertanya.

“Seperti?”

“Soal kelas-kelas yang ingin kau pertahankan atau kau tambahkan. Mungkin kau mau kembali bermain piano?”

“Mungkin.”

Jisung bergerak-gerak di dalam selimutnya. Ada yang ingin ia tanyakan, tapi lidahnya berat untuk merangkai.

“Maaf, tadi aku membentakmu.”

Akhirnya. Jisung menghela napas, yang tidak sadar telah ditahannya.

“Ah, Kecil. Kau manis sekali kalau begini. Aku jadi lemah.”

Mereka tertawa. Rindu akan masa-masa itu.

Jisung melirik Eunhyuk. Diam-diam memperhatikan wajah, bahu, dan tangan yang telah dikenalnya sepanjang usia. Mereka tumbuh bersama. Eunhyuk berada di sana, saat ia membuat langkah pertama dalam hidupnya. Eunhyuk terus memegangi jari-jari Jisung. Sigap tiap tubuh Jisung terhuyung-huyung. Tahu-tahu esok harinya, mereka berlarian saling mengejar di lapangan bola.

Betapa kejamnya kematian. Ia merusak kenangan itu dengan torehan luka.

“Kau mau aku suapi?”

Jisung mengangguk, tersenyum. Ia tahu kakaknya tidak akan kembali padanya seutuh yang dulu. Tetapi, setidaknya kakaknya kembali menjadi sosok yang ia kenali. Dan luka itu akan terus menganga, yang perihnya mereka bagi bersama.

.

a/n

[1]Haben Sie ein Zimmer frei? :  Apakah anda memiliki satu kamar kosong?

[2] Einzelzimmer … ja : Kamar single … ya.

  • i thought i would never be fan noona. but now, i even let jisung call me eomma. /what? no!/
  • my cutie little pie, my baby chick ;w;
  • i’m sorry, i’m being rude,  i will compare you with hyuk to forever  ;w;
  • bonus gif baby chick
Advertisements

10 thoughts on “Growing Up

  1. Kak fatim! Aaaah, adududu, aku dah lama gak baca cerita kakak adek seunyu ini (unyudarimanaa). Aku gak nyangka ceritanya bakal berakhir manis ginii, kukira Jisung bakala mmberontak berchapter2 gitu. XD
    Ini menurutku udah rapi dan porsinya pas, jadi no comment lah.. keep writing ya kak! 😀

    Like

  2. rasanya lama banget ya aku ngga baca tulisan eonni.. dan aw… langsung terlena /? banget baca ini huhu
    ngga tau deh gimana, pokoknya nyaman banget pas bacanya. bahasa eonni makin waaaahh. dan feelnya duh, mau ikut nangis masa.. huhu
    makasih eonni atas tulisan ini<3 please keep writing!

    Like

  3. Ehem, kenalan dulu yaa.
    Neng dari garis 96 ^^
    ceritanya manis bgt Kak, aku suka penyampaiannya. Dialog sama narasinya pas. Cerita2 kyk gini emang suka bikin baper jg siih…
    Pokoknya aku sukaa ❤

    Like

  4. halo kacherr ketemu ana lagi nih \^^/
    aduh aku komennya telat banget maaf , abis skrg jarang refresh WS jd gatau kalo kacher kambek. Ah ya btw, aku suka ceritanya. as usual. ya walo aku gatau juga sih jisung itu siapa ㅡ aku ga trlalu tau anak² Nct soale- tapi ga bikin aku ga tertarik yah karena ada hyukjae disini. omong² ganyangka de si hyuk bisa jadi cast yang ah – gimana ya, awalnya agak kaku tapi atinya anget banget. duh, cara dia care walau ga disampein secara kontan itu yang bikin aku tersentuh.hiks.
    padahal awalnya aku udah mau menghujat hyuk kek ‘elo ko gitu sama ade sendiri? gile lo hyuk’ tapi gajadi waktu baca paragraf akhiran. aku selalu terkesan sama diksinya kak cher. lembut, nyantai. jadi berasa kebawa suasana.
    ah pokoknya suka. Keep writing ka cher!!!!! See yaa!!!

    Like

    1. Hello, Ana.
      Whehehe iya, maklum, skrng kebanjiran brondong.Aku nikung Jisung karena mukanya 11-12 sama Hyuk, tapi lebih unyuk /slap/ gap umur mrk 16tahun, jadi ga kaget, sih wkwkwk
      Makasih udah rcl, An 😉

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s