[Writing Prompt] Avoided

avoided

uji nyali

by son nokta

Aku tidak pernah terlibat dengan Callan McSangster sebelumnya. Tidak ingin dan tidak akan pernah terjadi—aku bersumpah demi seluruh hidupku.

Seantero Sekolah Menengah St. Rostow tahu kalau dia masuk dalam daftar Albert Einstein abad 21. Urutan kedua setelah Nathan Fliff.  Hanya orang-orang tertentu yang mendapat predikat membanggakan tersebut. Yeah, itu memang sarkasme. Karena percayalah bahwa aroma Callan sudah seperti aroma buku historis yang hanya akan kau temukan di gudang tua penuh sarang laba-laba. Benar-benar bau apek, usang, dan sebaiknya tak usah dijamah.

Setidaknya itu dapat menjelaskan alasan mengapa aku tidak ingin berurusan dengan Callan McSangster.

Kecuali jika ia ingin memperoleh poin pelanggaran dua puluh kali lipat lebih banyak di jurnal kesiswaan. Maka aku akan menyerahkan seluruh bracelet berduri yang kupunya sebagai selebrasi bahwa ia sudah berhasil masuk dalam deretan murid paling dihindari di St. Rostow.

Oh ya, entah ini penting atau tidak. Tapi kenalkan, aku Leana Caroll dari kelas otomotif. Satu-satunya perempuan di sana. Tapi jangan harap aku akan dianggap sebagai primadona. Karena aku bahkan tidak membiarkan rok sebatas lutut tersangkut di pinggangku.

Kalian tahu apa yang lebih buruk dari neraka? Memakai rok dan menggerai rambut.

Jeanny Glow—ketua klub Cheerleader merupakan contoh sederhananya. Dia selalu membiarkan  rambut pirangnya diterpa angin (dan kuharap kutu-kutu mulai merayap ke sana) sambil berlenggak-lenggok di sepanjang koridor Saint Rostow. Oh, jangan lupakan tangannya yang memiting tas bermerk dan rok kotak-kotak seukuran empat jari di atas dengkul. Dia berusaha keras memperlihatkan pahanya yang sudah diasuransikan setelah insiden tokek.

Singkat cerita, aku dihadiahi oleh Paman El seekor tokek berumur dua bulan di ulangtahunku yang kelima belas. Dia adalah tokek jantan dan aku memberinya nama: Garell. Aku yakin telah menempatkan Garell di dalam kandang sebelum berangkat sekolah, tapi kami justru bertemu saat jam makan siang. Garell muncul dari saku celanaku sambil bersuara to-kek, to-kek. Semua orang di kafetaria langsung memekik ketakutan. Lalu tanpa peringatan seseorang melempar Garell ke sembarang arah sampai akhirnya mendarat di—pft—paha Jeanny. Mampus deh.

Dan di sinilah aku, duduk berdampingan dengan Callan sedang di hadapanku ada Mr. Vord selaku penasehat siswa bersama tongkat rotan di tangannya. Ia menatap lamat-lamat kami berdua, kuharap tidak sampai melumat. Kemudian ia bicara padaku. “Nona Caroll. Tahu apa kesalahan Anda?”

Aku yang menurunkan kepala dan terus memukul alas slip on perakku ke keramik hanya akan kalian temukan di ruang konseling.

“Callan…” kutemukan suara Mr. Vord melemah ketika dia memanggil nama lelaki di sampingku. Aku buru-buru menoleh padanya.

Ini jelas pendiskriminasian hak asasi manusia! Dasar Pak Tua Bersulah. Lihatlah dahi berkilauannya sedang bagian kepala lain ditumbuhi rambut ikal itu! Bagaimana bisa ia bersikap ramah pada Callan? Dia bahkan tidak ada lembut-lembutnya menatap aku, bukan apa-apa, ya. Aku ini masih perempuan, maksudku—aku juga punya hak diperlakukan selayaknya Callan tadi. Apa dia mau seluruh kepalanya kubuat mencilang?

“Berpacaran di sekolah adalah pelanggaran besar.”

Voila, Saint Rostow dan peraturan anehnya serta murid yang semuanya katarak.  Aku sudah bilang tidak ingin bermasalah dengan Callan McSangster. Lebih-lebih karena ia diangkat sebagai dewan perwakilan dari kelas otomotif. Apa hidupku tidak bisa lebih parah dari ini?

Selama satu tahun aku berusaha mengabaikan kehadiran Callan di kelas otomotif. Dan itu berhasil. Aku akan bertingkah semauku walaupun ia terus melengket dan membacakan isi kitab peraturan Saint Rostow. Dia mungkin punya nyali menegurku lantaran posisinya sebagai anggota dewan perwakilan kelas. Tapi pernah ia menyeretku ke ruang konseling? Tidak. Ia sama saja seperti murid lain, takut aku balas dendam dan membuat mereka gantian mendapat poin pelanggaran.

Jadi mustahil Callan mampu memperbaiki etikaku. Karena sejauh apapun ia berusaha keras. Aku tetap menganggapnya seperti gas belerang yang keluar setelah aku makan lobster. Hanya berlalu pergi dan sama sekali tak ada pentingnya.

“Mr. Vord, pacarku bukan di sekolah ini.” Skakmat tidak, sih? Demikian kulihat Mr. Vord semakin menuntut jawaban dari Callan.

Tapi dengan soknya lelaki itu menyunggingkan senyum asimetris. “Kedua orangtua kami tidak merestui hubungan ini. Kami bahkan hanya bisa bertemu di sekolah. Apa sekolah juga akan bersikap sama?”

Ap—HAH?

Bagaimana bisa ia bilang begitu? Bagaimana bisa ia terang-terangan membual dengan air muka tak berdosa? Dia sudah gila. Aku yakin dia sudah kehilangan akalnya. Callan sudah kelewat gila sampai sinting. Jujur saja kalau ini bukan di ruang konseling, kepalan tanganku pasti melayang ke wajahnya.

“Hm, hm..” kudengar Mr. Vord berdeham berulang kali. “Saya juga pernah berada di posisi kalian.” Pak tua bersulah itu melepaskan kacamatanya dan memasang ekspresi yang tak bisa kugambarkan.

Opera sabun apa lagi ini?

Dan kenapa aku harus menahan diri demi menunggu kisah hidup Mr. Vord berakhir? Kenapa juga aku harus menyia-nyiakan jam makan siangku dengan duduk di sebelah Callan sambil mendengarkan sejarah perjuangan Mr. Vord mendapatkan istrinya?

“Karena ini satu-satunya cara agar kita bisa menghindar dari poin pelanggaran,” seolah membaca pikiran dan menjawab segelintir pertanyaan di kepalaku—Callan berbisik pelan. “Omong kosong. Ketahuilah, kau yang membuatku diseret ke sini,” tukasku.

Kendati dituding demikian—Callan tetap bersikap tenang. Aku heran hatinya terbuat dari apa.

“Sebentar lagi kau akan mendapat surat pemberhentian keanggotan dewan perwakilan kelas,” aku semakin menekannya.

Callan tertawa jenaka. “Aku tidak peduli.”

Oke, aku berang!

“Berhentilah Callan! Kau sebenarnya tidak seberani itu terlibat masalah denganku. Jangan sok ingin mengaturku, deh!”

Kelas otomotif sedang dalam jam praktik merakit mesin. Alih-alih bekerja, aku justru membersihkan meja yang penuh dengan sarang semut merah. Selepas liburan musim panas ternyata meja kerjaku sungguh tidak terawat. Aku merusak salah satu sarangnya dan otomotis semua koloni semut merah langsung menggerayangi lenganku. Lalu Callan datang—andai saja bisa kuhindari—dia mengusap-usap seluruh tanganku, mencegah agar koloni semut merah itu tidak menggigit. Orang yang sangat ingin kubuang ke laut malah menyelamatkan hidupku. Alih-alih yang lain justru berlarian ke luar kelas untuk melaporkan kami ke pihak konseling.

Mereka kira aku dan Callan sedang bermesraan.

“Jadi menurutmu aku masih kurang berani?” Callan meraup jemariku, menyelipkan jari-jari tangan miliknya di sana meski aku terus memelintir tangan sampai sakit. Kami berpegangan tangan di depan Mr. Vord!

“Apa sekarang kami bisa keluar, Mr. Vord?”

—cut.

Advertisements

16 thoughts on “[Writing Prompt] Avoided

  1. SUKA BANGET SAMA KARAKTERNYA CALLAN ❤ ❤ ❤

    "Jadi menurutmu aku masih kurang berani?"

    Wadawwwww mau dong digodain sama Callan. Serius ini baguuuuus topp deeeh. Kebayang gimana ekspresinya Caroll pas digandeng. pasti dia mikir, mampus gue. wahaha

    keep writing yaaa. salam kenal juga, nabil 99L

    Like

  2. AWEEEEEE. Callan kubawa pulang boleh, nggak? Hahaha.
    Anyway, ini enak sekali lho dibaca. Nggak bosen. Apalagi dari sudut pandangnya Leana yang kayaknya agak bad gurl dan tomboi gitu. Pengin ketawa ngebayangin ekspresinya Leana waktu Callan bikin alasan yang nyeleneh wkwkw.

    Nice sekalii, keep writing!

    Like

    1. JANGAAN NANTI DITONJOK SAMA LEANA (capslok woy)
      iya, leana itu bad girl banget sampe masuk deretan cewek yang musti dihindarin seantero sekolah pft pft. makasih ya sudah membaca :>

      Like

  3. WHOA CALLAN YOU GO BOY!! astaga aku suka bangetttttt sama cerita iniii huhu. karakternya, gaya bahasanya wahhh :” paling kill tuh kata-kata callan yang pas akhir-akhir tuh terus terus karakternya leana juga aku syukaa (mana portrayernya cara delevigne pulak wah pas!) hehe. suka bangettt keep writing yaaa! 😊

    Like

    1. aku juga sukaaaa…suka sama callan (callan di film flipped) x”D
      iya, cara itu mendukung banget kalo untuk cewek yang selengekan macem leana. makasih sudah mau membaca :))

      Like

  4. Aku menganga bacanya :0 Cuma beresin semut merah dari tangan dianggap pacaran? Katarak memang xD. Cara mendeskripsikan si Leana memang top lah, liar gitu *?*, suka 😀
    Cmiiw, maaf aku saran dikit. Aku ketemu tanda baca strip panjang (–) yang sepertinya lebih cocok diganti jadi koma (,). Hehe, itu aja sih ._.v
    Salam kenal, dhila 96. Keep writing ya! 😀

    Like

    1. Hahah. Sederhana banget kan? Ya emang gitu, anak zaman sekarang ngomong ‘pensil kamu jatoh’ aja ke cowok dikatain perhatian, ciee ciee pacaran, dan sebagainya. Apalagi ngebersihan semut di tangan xD
      Makasih dhila untuk sarannya. Akan aku perbaiki lagi di lain kesempatan 🙂

      Liked by 1 person

  5. halo, aku nisa 92l. ah sumpah ini keren xD aku suka karakter leana dan callan!!! mereka tuh klop banget. duh. cara kamu ngebawain ceritanya juga asik, berasa baca novel terjemahan nih hihi. keep writing ya.

    Like

    1. Halo kak nisa :>
      Saya liza, lines 99. Makasiiiih kak, itu juga karena faktor keseringan baca novel terjemahan hahah. Makanya banyak bahasa sarkasme, analogi, dan segala macam.

      Like

  6. Wow hai! Omg, love this so much! Im not good at word but dizis briliant! Berasa baca novel terjemahan. Diksinya really inspired me. Jadi langsung pen nulis juga xD Heoool~~

    Im L bytheway. Salam kenal!

    Like

  7. Hahah. Sederhana banget kan? Ya emang gitu, anak zaman sekarang ngomong ‘pensil kamu jatoh’ aja ke cowok dikatain perhatian, ciee ciee pacaran, dan sebagainya. Apalagi ngebersihan semut di tangan xD
    Makasih dhila untuk sarannya. Akan aku perbaiki lagi di lain kesempatan 🙂

    Like

  8. Model uji nyalinya boljug eh heheheheh. Suka sama idenya, simple but oke. Aku suka juga sama cowo tipikal kayak Callan, hahah seneng ngebayanginnya pas baca. Keep writing anyway ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s