Resonansi

4081192022_aecd69e6d5_z

taken from: here

by aminocte

Tapi hatiku dan hatimu tidak.

“Kukira kau telah paham benar apa artinya resonansi.”

Kau menghampiriku yang masih terpaku di depan kelas. Beberapa saat telah berlalu sejak pengumuman dariku –untuk tidak lupa membawa satu jenis tumbuhan per orang besok pagi– telah  usai. Matamu yang cemerlang tersembunyi di balik sepasang kacamata bermodel usang. Penampilanmu sama sekali tak keren, kata orang dan kataku juga. Namun, agaknya inteligensimu yang kelewat tinggi mampu membuat dadamu membusung sesekali atau beberapa kali, bergantung pada seberapa bodoh orang yang berada di hadapanmu.

Aku mencoba untuk tersenyum, tetapi senyum itu terasa timpang. Tentu saja di depanmu, senyumku tak pernah tulus. Untuk seseorang seangkuh dirimu, mungkin tak ada gunanya tulus tersisip dalam lekuk bibirku.

“Maaf, mungkin saja aku tak paham. Kau lebih pintar dariku, tentu saja kau lebih memahaminya.”

Kau tergelak. Kutangkap aura meremehkan dalam tawamu, yang sama sekali tak kuanggap sebagai hinaan.

“Langganan juara dua di kelas ini tidak mungkin tak tahu resonansi.” Kepongahan itu menguar lagi, membuatku muak. Jelas sekali kau membanggakan posisimu di kelas ini yang tak pernah terjungkal dari juara satu. “Indahnya bunyi petikan dawai gitar, getaran pada kaca jendela kala truk lewat di depan rumahmu, itu semua adalah resonansi.”

“Oh, begitu rupanya. Tak kusangka resonansi itu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terima kasih atas informasinya.”

Senyummu mengembang.

“Tak perlu dipikirkan.”

Lalu hening. Tak begitu lama, mungkin. Telah lewat dua menit, tetapi kau hanya bisa menggaruk-garuk kepalamu, yang entah dijajah serangga pengisap darah atau sekadar kelemumur yang membuatmu gerah.

“Dan … bukannya mustahil resonansi itu terbentuk di antara kita. Maksudku, di antara hati kita. Saat hatiku bergetar, aku yakin hatimu juga sama.”

Denyut jantungku seakan menggila. Apa kau baru saja menembakku?

“Apa aku salah berbicara?”

Aku terkekeh pelan. Resonansi hati kita, katamu? Yang benar saja.

“Dawai gitar boleh saja beresonansi, menciptakan alunan nada yang begitu indah. Deru truk mungkin mampu beresonansi, mengguncang kaca jendela. Tapi hatiku dan hatimu tidak. Apa aku salah?”

Kau tak menjawab. Dengan wajah merah padam kau berbalik, meninggalkanku yang tak henti-hentinya bersorak dalam hati. Membuatmu malu ternyata semudah ini.

fin

 

Advertisements

16 thoughts on “Resonansi

  1. kak amiiiiiiiii >,< aku sedih baca ini, kak. ehm, maksudnya hari ini lagi gaada jadwal kuliah, kan. jadinya gamau inget-inget tugas kampus, tapi baca judulnya aku langsung ingat, wah, aku punya tugas presentasi besok rupanya hahahaa

    tapi kujuga bahagia karena ini melelehkan hatikuuuu /eaaaaa/ ini lagi panas-panasnya di medan dan gerahnya itu engga ketulungan, kak tapi setelah baca ini hati daku jadi lebih adem gitu, kak. 😀 udah bawa-bawa resonansi lagi, kan aku kesel ini manis sekali. udah endingnya jjang! aku yang mikir mungkin si cewe bakal bilang iya terus mereka jadian, tapi ternyata engga. keren ahh, kak ami seperti biasa. aku suka inii, kak ❤

    keep writing yaaa, kak amiii 🙂

    Like

    1. Haloo Ivana, maaf aku telat banget balasnya. Duh, jadi merasa bersalah badahal aku bukannya bermaksud ngingetin tugas ivana (baru ingat resonansi itu perkara fisika haha).
      Wah medan kayaknya panas banget ya *sodorin kipas* dan aku senang kalau ceritanya bisa dinikmati :). Makasih ivana, dan keep writing juga ya 🙂

      Like

  2. HAHAHAHAHAHA shia mau ketawa jahat. Puas gimana gitu begitu ending. Kasihan juga sebnernya tapi suruh siapa songong 😦 Paling nggak suka sama orang yang sombong begitu, kecuali kalau lagi bercanda-bercandaan sih. As usual fiksi kak ami selalu ada pengetahuannya. Lega deh aku belum lupa apa itu resonansi wkwkw itu materi zaman kelas berapa ya 😦 semangat nulisnya kak ❤

    Like

  3. hai, kak amii. greget banget nembaknya tapi nolaknya juga gak kalah greget:3 pengen ketawa tapi miris miris gitu kak hahaa (((((ketawa jahad))))
    anyway aku belum paham betul resonansi sih selain contohnya yang tadi udah tertera meskipun baru kemarin bahas resonansi :3
    keep writing kak amii ❤

    Like

    1. Haii~~ makasih ya sudah mampir 🙂 iya aku ngerasanya juga gitu, si aku ga kalah sadis juga ahaha. Semoga resonansinya bisa cepat dipahami ya 🙂

      Like

  4. Halo amiii pakabar??? Dah lama banget nih ga baca-baca di sini hahaha terus aku baca ini daaaaan ya ampun tuh cowok xD romantisnya jenius ye, kepikiran aja nyatain dengan cara begitu, meskipun ditolak sih heuheu ya gapapalah, try harder man!

    Like

  5. ami ami ami aku boleh tepuk tangan kenceng nggak sekarang? HAHAHAHA. omg kalo aku jadi si kau mah aku pesen tiket keluar negri, pindah kependudukan, ganti nama, terus gausah balik wkwkwkwk malu nih ye maluuuuu xD mengutip kata nisa: try harder man! hahahaha xD yokshi ami! keep writing yaaa :))

    Liked by 1 person

    1. Haloo Kak Fika, maaf aku telah banget balasnya. Iyah, kayaknya dia malu banget trus mungkin nggak masuk sekolah seminggu? XD. Makasih, Kak. Keep writing juga yaa 😀

      Like

  6. ka amiii ❤ uwowowowo cowok yang kaya gitumah tolak aja beneer, lagian pacaran kan gaboleh wahahaha ❤

    kak amii nabil suka sama topiknyaa, soalnya kehidupan anak sma kan gituuu, sukaa ada yang soook gimanaaa gitu. bagian ngumpulin tanaman seorang satu kealaman juga ihhh wkwkwk

    sukaaaa ❤

    Like

    1. Haii nabil~~ ahaha aku suka komennya nabil :). Syukurlah bisa dapet feel smanya (karena kuliah terlalu berat mungkin untuk bisa songong karena juara kelas doang?). Iya, pas banget aku ikut ngawas praktikum botani jadi kebawa deh..hehe. Makasih nabiil~~

      Like

  7. AHEM sebelumnya minta maaf yhaa baru sempet memberi komentar karena baru on untuk menyicil utang komenku di sana-sini uhuhuhuhuhu (nangis apa nyanyi ini xD).

    Langsung aja deh, fiksi kak Ami tuh selalu oke informasinya, sampai yang terkecil pun bisa kakak jadiin fiksi 😀 tapiii alangkah lebih bagus kalau judulnya tuh lebih menarik gitu kak, jangan cari yang terlalu relevan sama isi supaya reader juga agak kepo. Hmm emang urusan judul agak susah siih, tapi monggo dicoba ((aku juga masih belajar kok kaak)). Keep writing, tentunya ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s