[Writing Prompt] Obrolan Sore di Meja Kayu

photo-1418479631014-8cbf89db3431

by Adelma

Prompt: Misogami

.

“Kamu harus segera menikah, usiamu sudah 28 tahun.” Kalimat itu terselip di antara suara televisi bervolume rendah dan jerangan teh panas yang menghantam permukaan cangkir keramik. Seperti biasa, potret punggung Ibu yang tertangkap kedua manikku menambah kesan dramatis—kali ini berbalut kegawatan yang entah seberapa gawat. Aku menunggu Ibu di meja berbahan kayu jati yang dibelinya saat muda dulu. Sore dan jerangan teh panas adalah sesuatu yang tak asing di rumah ini, aromanya mengingatkan aku pada sore-sore di mana aku berlarian di ruang tengah bersama Mas Deva—mengabaikan teriakan Bapak di balik bentangan koran yang menutupi wajahnya kala itu. Kadang-kadang Ibu ikut marah, bukan karena kaki-kaki kami yang berlarian melainkan karena kekhawatirannya atas keutuhan secangkir teh panas yang ia bawa dari dapur menuju ruang tengah. Yah, momen dua anak yang berlarian di rumah ini takkan terganti, bahkan oleh Sekar dan Anyar sekalipun.

Saat ucapan Ibu sudah terserap sempurna oleh kedua rungu, entah kenapa wajahku tetap terasa biasa; tak memanas ataupun mendingin. Mungkin aku sudah kebal, karena sekarang suruhan menikah buatku tak jauh berbeda dengan suruhan-suruhan receh semacam, ‘kamu harus mengganti warna lipstikmu, aku bosan lihatnya’ atau ‘kamu harus memotong rambutmu, modelnya sudah tak keruan’. Makanya aku suka heran pada mereka yang belum juga terbiasa, padahal hal tersebut mungkin sudah disinggung ratusan kali. Seolah-olah kalimat seperti yang diucapkan Ibu tadi tingkat kekrusialannya sejajar dengan saran semacam, ‘kamu harus segera bertobat, sebentar lagi kiamat’.

Tapi sudahlah, walau bagaimanapun juga semua kembali lagi pada cara masing-masing orang memaknai pernikahan itu sendiri. Kalau sejak kecil sudah disuguhi hal yang menyenangkan, mungkin mindset mereka akan membentuk sebuah gambaran cute serupa sapuan-sapuan lembut dari kuas berlumurkan cat pastel di atas kanvas, dan jika sebaliknya—yah—tumpahan tanpa ampun dari warna tergelap adalah yang paling tepat.

Sebetulnya aku sendiri tidak sedang menunda-nunda pernikahan, karena pada kenyataannya menikah tak pernah ada di dalam life goals-ku, jadi apanya yang harus ditunda?

“Ibu pengin punya menantu baru, ya?” pada akhirnya aku bersuara selepas menerima cangkir berisi teh tawar panas yang disodorkan Ibu. Wanita berusia 59 tahun itu memilih tempat di hadapanku, wajahnya sama sekali tak kelihatan ngotot meski sudah membubuhkan kata ‘harus’ dan ‘segera’ di kalimatnya tadi.

“Yang benar itu, Ibu pengin nambah menantu.”

 “Kalau begitu, suruh saja Mas Deva poligami,” candaku sambil terkekeh.

Selang dua detik, kening itu berkerut sedikit—dengan mata yang masih khusyuk menatap isi cangkir, tentu saja. “Mas Deva belum cukup mapan untuk berpoligami, lagi pula istrinya enggak mungkin mengizinkan, posesif begitu.” Ibu menyeruput tehnya sedikit sebelum melanjutkan, “Belum lagi tahun ini Sekar dan Anyar masuk SD. Biayanya mahal lho, kemarin Mas Deva cerita kalau si kembar mau dimasukan ke sekolah elit. Kalau sampai poligami, nanti dia makin kesulitan mengatur keuangannya.”

Tanggapan Ibu membuat durasi kekehanku menjadi sedikit lebih panjang saja—yah—begitulah, sedang serius saja beliau bisa selucu itu. Belum lagi ekspresinya; kening berkerut dan bibir yang agak mengerucut. Membikin siapa pun yang melihatnya semakin sayang.

“Kamu itu suka salah fokus—ah—enggak, pura-pura bodoh kamu itu,” ujarnya tiba-tiba, seolah tersadar akan sesuatu.

“Apaan, sih, Bu?”

“Kamu tahu maksud Ibu. Enggak usahlah kamu seret-seret Mas Deva ke obrolan ini, pikiran Ibu jadi suka terbagi, dan belakangan Ibu suka sedih kalau mikirin nasib dia.”

Pernikahan Mas Deva memang sedang dibelai huru-hara. Kondisi finansial yang memburuk membuat pernikahannya menjadi tidak harmonis. Belum lagi tersiar kabar di keluarga kalau istrinya itu ada main dengan teman SMA-nya. “Ini semua gara-gara acara reuni sialan itu.” Begitu kata Mas Deva saat curhat padaku. Aku, sih, hanya nyengir. Berpikir bahwa sebenarnya dia juga salah. Ya, Mas Deva itu terlalu lembek buat jadi kepala keluarga. Tak punya pendirian, terlalu gampang dikontrol orang. Ini-itu, boleh. Diamuk sedikit, diam. Dibujuk-bujuk, langsung mengalah. Menyebalkan sekali, kan? Kalau aku mengkritik hal tersebut, bisa saja ngelesnya. Dan ngeles yang paling membuatku mati kutu adalah kalau dia sudah bawa-bawa sikap kasar Bapak. “Aku tuh enggak mau kayak Bapak, yang selalu kasar sama anak dan istri. Aku sebisa mungkin menghadapi semuanya dengan kepala dingin, enggak usahlah pakai teriak atau bahkan ancaman.”

Oke, karepmu, Mas.

“Kamu tuh suka berusaha lari dari obrolan ini,” kata Ibu, suaranya sudah netral, tak segalau beberapa menit lalu.

“Masa, sih? Tapi aku enggak merasa begitu.”

“Lha, itu buktinya kamu mengalihkan pembicaraan. Ibu sudah bertekad untuk membahas pernikahan denganmu sore ini, mumpung kamu kemari, gitu. Tapi kamu malah bawa-bawa Mas Deva, Ibu sebal.”

Aku nyengir. Ya, kuakui, tadi memang kepikiran untuk mengalihkan obrolan. Tapi Ibu sendiri punya kebiasaan tidak fokus dengan obrolannya. “Iya, maaf. Oke, sekarang kita balik lagi ke topik yang seharusnya. Apa, sih? Pernikahan?” Aku menyesap tehku, lantas memasang ekspresi sok serius yang paling tidak disukai Ibu. “Emang kenapa, sih, kalau aku sudah 28 tahun dan belum menikah? Aku masih 28 tahun, Bu. Masih wajar untuk melajang, kalau umurku sudah 40 tahun, baru Ibu khawatir.”

Wanita cantik itu menggeleng pelan, raut khawatirnya membuatku sedikit tidak nyaman. Anak mana yang senang melihat orangtuanya khawatir seperti itu? Terlebih hal yang dikhawatirkannya adalah hal yang sebetulnya tak perlu dikhawatirkan. Paling tidak, itu menurutku.

“Umurmu 28 tahun, umur Ibu 59 tahun. Kamu mau Ibu setua apa, sih, untuk menyaksikan kamu menikah?”

Aku diam, memberi jeda pada kami untuk saling memikirkan satu sama lain. Baiklah, aku tahu ucapan Ibu mengarah ke mana, dan buatku hal itu adalah lumrah—lumrah baginya dan tidak bagiku. Hal tersebut menyiratkan sesuatu yang bertentangan dengan pikiranku, yakni, menikah adalah tolak ukur kebahagiaan seseorang. Seolah-olah mereka yang belum menikah adalah orang yang bahagianya belum afdol, belum klimaks. Ibu sama sekali tidak tahu kalau aku memutuskan untuk tidak menikah, dan sampai kapan pun Ibu takkan tahu karena aku tidak akan memberi tahu. Aku tidak mau dia bersedih dan merasa bersalah karena aku mengambil keputusan seperti ini. Ya, memang agak rumit. Karena pada intinya aku hanya tidak ingin menyakiti siapa-siapa, termasuk diriku sendiri atau bahkan pasanganku nanti. Aku tak bisa menjamin diriku akan loyal dan aku juga tidak bisa percaya kalau pasanganku tak akan curang. Aku tak mau melihat anak-anakku nanti kecewa, aku takut tak bisa mengontrol diri dan berkomitmen untuk tidak menyebar kesakitanku kepada mereka kalau-kalau hal yang tak diinginkan terjadi. Intinya, selain takut tak becus jadi seorang istri, aku juga takut tidak becus jadi seorang Ibu. Payah, memang.

Mungkin dulu Ibu dan Bapak tak pernah bermaksud untuk menunjukkan sisi tak menyenangkan dari pernikahan. Tapi sayang, mataku kelewat awas untuk melihat bilur sekecil apa pun yang hadir di keluarga kami. Bapak dan Ibu sama-sama curang, mereka saling membalas karena merasa paling benar dan sakit. Bapak kasar—mungkin ia hanya sedang kesal kepada Ibu—tapi ia tak pernah berusaha  mengontrol diri saat berhadapan denganku dan Mas Deva. Kedengarannya biasa-biasa saja, sih—karena aku pernah mendengar cerita yang lebih parah—tapi tetap saja hal itu membekas dalam ingatan dan perasaanku, membangun ketakutan-ketakukan yang sebenarnya tak perlu, membatasi rasa percayaku, dan meredam keinginanku untuk mengharapkan sesuatu yang membahagiakan dari sebuah pernikahan.  Ini bukan tentang diriku sendiri, ini tentang diriku dan juga orang-orang yang bakal ada di hidupku. Aku tak ingin menyakiti siapa-siapa, atau menambah kesakitan siapa-siapa. Aku ingin egois untuk hal ini, makanya aku berusaha mencegah dengan membuat keputusan seperti itu. Kadang-kadang aku ingin memberitahu Ibu tentang ini, tapi aku bingung bagaimana membicarakannya. Aku tidak merasa tega untuk membiarkannya merasa bersalah, dan kurasa, berlari mencari-cari alasan adalah yang terbaik.

“Ah, Ibu. Ibu harus pede kalau Ibu bakal panjang umur,” candaku, berniat melunakan suasana. Sumpah, kalau sudah menggeret soal umur, sih, nyaliku biasanya tak tahan untuk menciut.

“Ibu pede, kok. Kamu juga tahu sendiri, kan, kalau Ibu rajin senam?” Kami pun tertawa dalam kekhawatiran. Mata kami saling menatap, sama-sama tahu bahwa kami cuma pura-pura santai.

“Ibu sama sekali enggak bermaksud mendesak kamu, karena—yah—Ibu tahu sejauh ini kamu sudah merasa cukup dengan kehidupan kamu; apa dan siapa yang kamu miliki. Tapi akan ada masa di mana kamu akan merasa kesepian, merasa kosong. Ibu, sih, yakin-yakin saja kamu bakal lolos ujian kekosongan yang Ibu maksud. Hanya saja, Ibu inginnya kamu melewati masa-masa itu dengan sudut pandang yang lebih variatif. Dan dengan menikah, kita akan diizinkan untuk memiliki sudut-sudut pandang yang tak pernah kita miliki sebelumnya.”

“Apa cuma dari pernikahan kita bisa mendapatkan sudut pandang yang Ibu maksud? Dan apa sebegitu pentingnya sudut pandang itu?” Pertanyaan tersebut menggantung begitu saja karena suara cerek air yang berbunyi nyaring. Kami saling menatap, sebelum akhirnya sama-sama melirik ke arah dapur. “Aku aja, Bu,” kataku sambil beranjak dari kursi.

“Makasih, kamu tahu aja kalau Ibu lagi mager,” ucapnya, sontak membuatku ngakak saat menuangkan air ke dalam termos.

Mager. Tahu dari mana, sih, Bu? Sudah enggak cocok, ah.”

“Dari Anyar. Kamu tahu, enggak? Pas Ibu nyuruh dia ambil sapu dia, kan, bilang enggak mau soalnya mager. Karena Ibu enggak ngerti mager apaan, refleks Ibu nengok pagar ke depan, kirain pagarnya diapain gitu lho sama dia.”

Baiklah, ketawaku semakin keras. Dasar si Anyar.

Sebelum kembali ke meja, aku mampir dulu ke salah satu lemari dan mengambil beberapa potong bolu pisang yang Ibu simpan di sana—kebiasaan. Waktu kecil aku sering minta dibuatkan ini, tapi sekarang sudah tidak lagi karena aku bisa membuatnya sendiri. Pangku pernah mencicipinya beberapa kali, dia bilang enak dan minta dibuatkan lagi kalau aku sedang sempat. Kuberitahu bahwa seleranya payah, karena jika dibandingkan dengan buatan Ibu, bolu pisangku tentu tidak ada apa-apanya.

Obrolan kami pun akhirnya terdistraksi oleh bolu pisang—dan aku sangat senang, tentu saja. Aku habis satu potong setengah dan Ibu cuma secuil. Beliau sudah muak dengan kue itu, tapi entah kenapa kalau sedang nganggur bawaannya ingin buat terus. “Lumayanlah, daripada waktunya habis dipakai nonton TV,” katanya.

“Lho, emang Ibu sudah enggak merajut?”

“Ibu bingung bikin apa. Eh, bukan, Ibu tahu mau buat apa cuma Ibu bingung nanti barangnya dikasih sama siapa. Kalau waktu Sekar dan Anyar masih bayi, sih, asyik. Bikin baju hangat, beanie, kaus kaki. Dan yang terpenting semua barangnya terpakai.”

Oh, sudahlah. Aku jadi tidak enak, dari ucapannya saja aku bisa menangkap bahwa Ibu juga ingin tambah cucu. Dengan nasib pernikahan yang seperti itu, aku tak bisa melimpahkan tugas ini kepada Mas Deva. Kalau permintaan itu sampai Ibu utarakan, aku tak bisa menjamin bisa menahan diri untuk tak merutuk panjang-lebar. Jangankan untuk punya anak, menikah saja, kan, aku tidak mau?

“Omong-omong, bagaimana kabar Pangku?”

Pertanyaaan itu muncul bertepatan ketika aku menggigit bolu pisang yang tadi baru kumakan setengah. Jujur saja, aku agak kaget karena ini adalah momen langka. Aku sudah hampir tiga tahun jalan dengan Pangku, dan ini adalah kali kedua Ibu bertanya tentang pria itu. Meski kami cukup sering membahas soal statusku yang tak kunjung berganti, tapi beliau jarang bertanya tentang laki-laki yang dekat denganku secara spesifik. Ibu tahu beberapa tahun terakhir aku tidak benar-benar sendiri, dan entah karena ia sangat menghargai privasiku atau karena memang tak peduli dengan eksistensi Pangku, ia sama sekali tak pernah membahasnya.

Kali pertama ia bertanya soal Pangku adalah dua tahun lalu, saat Ibu sakit dan opname di rumah sakit karena vertigo. Saat itu Pangku datang menjenguk dan mungkin Ibu membaca sesuatu yang hadir di antara kami. “Itu pacar kamu?” tanyanya dengan raut yang agak sumringah, aku hanya menjawab dengan gelengan kepala dan tiga atau empat kalimat panjang yang berisi usaha untuk meyakinkannya bahwa hubungan yang kami jalin tak lebih dari teman. Seolah puas dengan jawabanku, Ibu pun tak pernah bertanya lagi selepas itu.

“Kabarnya baik.” Tak sadar pundakku melorot, entah ekspresi apa yang tengah kutunjukan sekarang. Yang jelas ada ketakutan yang tiba-tiba datang saat nama Pangku disebut di meja ini.

Ibu menyesap tehnya lagi, wajahnya tampak biasa saja. “Sepertinya kamu asyik sekali menjalani pertemanan dengan anak itu. Eh, kalian masih berteman, kan?”

“Masih, kok. Cuma dua minggu terakhir ini kami jarang komunikasi, dia sedang ada kerjaan di Manado.”

“Kalian itu teman apa, sih, sebenarnya?”

“Teman biasa.” Aku tahu ini bukan jawaban yang dinginkan Ibu, dan aku tahu caraku menjawab pertanyaannya barusan seperti anak SMP yang baru ketahuan pacaran.

“Teman biasa itu yang seperti apa?” keningnya lagi-lagi berkerut, membuatku menghela napas cukup panjang.

“Teman jalan, Bu. Teman ngobrol juga. Ya, biasalah, begitu doang.”

“Masa?”

Aku mengangkat bahu, lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Iya, begitu doang.”

“Masa, sih?”

“Iya, Bu.”

“Yang benar?”

“Iya, benar. Teman biasa. Kami jalan, ngobrol, kadang-kadang ciuman juga,” candaku sambil tersenyum jahil. Terlihat matanya menyipit, dan pluk! Ibu melempar cubitan bolu pisangnya tepat ke arah wajahku. “Aduh! Ibu apaan, sih?”

“Sudah ah, Ibu mau pipis dulu,” katanya sambil beranjak dari kursi, dan berjalan kerepotan menuju kamar mandi. “Malam ini kamu ada acara enggak? Antar Ibu ke rumah Mas Deva, Ibu kangen sama si kembar!” ujarnya dari kamar mandi.

“Enggak ada. Oke, Bu Bos!”

Lagi-lagi, sore ini aku lolos dari topik menjemukan itu, dan kuharap di sore-sore yang lain Tuhan masih mau memberi kesempatan kepada kami untuk tetap bisa membicarakan hal ini dengan baik-baik. Biarkan saja tetap seperti ini; aku yang hanya kelihatan seperti keasyikan dengan hidupnya tanpa mengubur keinginan untuk menikah dan Ibu yang masih mau bersabar dan berpikir bahwa cepat atau lambat masa itu akan tiba.

Aku tahu betul, Ibu takkan suka kalau tahu Pangku adalah teman spesial yang bisa diajak melakukan banyak hal bersama. Ibu pun pasti tidak akan suka kalau tahu Pangku tak akan pernah menikah, sama sepertiku. Dan Ibu tidak akan suka kalau tahu kami tak pernah berencana untuk menata kehidupan bersama-sama di masa depan.

Yah, alih-alih membicarakan masa depan, kami lebih suka membicarakan masa sekarang. Masa di mana kami memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk memikiran dan melakukan hal yang menurut kami menarik dan menyenangkan tanpa dibatasi oleh sesuatu yang disebut masa depan. Pangku memiliki sejarah yang lebih parah dariku, dan siapa pun pasti tidak akan percaya kalau orang setenang dan sebijak dia punya idealisme yang bertentangan dengan norma pada umumnya. Kami memiliki prinsip yang mirip, dan mungkin itulah sebabnya mengapa kami masih bisa bersama sampai saat ini tanpa merasa dirugikan satu sama lain. Selama apa yang kami anut sama, selama perasaan saling membutuhkan kami masih ada, selama itu pula kami tak akan saling berbalik. Kami berusaha untuk saling menyemangati agar bisa menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin, kami juga saling mendukung agar kami bisa mencapai individual goals yang belum tercapai. Kami berusaha keras untuk membuat hubungan ini sepositif mungkin, sebenarnya sambil menjadi ajang pembuktian juga kepada mereka yang memandang sebelah mata hanya karena kami tak berminat untuk membangun semua ini dalam ikatan pernikahan, karena kami pikir pernikahan itu seperti mata pisau; berguna dan membahayakan di waktu yang bersamaan—tergantung seberapa pandai kami menggunakannya, dan karena risiko itulah kami lebih memilih untuk menyingkirkannya.

-fin.

 

Advertisements

22 thoughts on “[Writing Prompt] Obrolan Sore di Meja Kayu

    1. NISAAAAAA HEHEHEHEHEHE :)) nis tau gak abis baca ini aku tuh yang kayak: wanjay aing nggak sendirian hahaha. apa ya, apa ya, jangankan si aku yang udah 28 tahun ditanyain ngunu kesel, kebayang gak aku yang masih umur segini tuh kadang udah diginiin: udahlah kamu nikah aja deh ah. buset aku tuh yang, yakali nikah kayak pergi ke indomaret, beli sabun cuci piring, terus pulang xD apa yha. gausa mikir jauh-jauh deh. aku masih pengen hura-hura menghabiskan masa muda (HAHAHAHAHA YA ALLAH ALASAN FIKA GINI AMAT). masih pengen ke sana sini sendirian, free ngunu gitu deh wkwkwkwk. kalo misal uda nikah, iya kalo nanti masnya ngebolehin, kalo engga? masa akunya kabur dari rumah HAHAHA APA SIH GUE xD ABAIKAN NIS PLIS ABAIKAN.

      daaaaan sumpah aku suka topiknya relatable banget apalagi buat wanita-wanita seumuran kita yha nis wkwk. terus pasti deh ngeles kalo udah digituin hahahaha. bolu pisaaaaang tiba-tiba aku pengen :(( yang pisang digulung bolu ijo tuh nis heu enak banget. kalo ke bandung pasti harus beli itu hahaha. (terus aku ngebet ke bandung pengen meet up ama nisa) (nis kalo aku tiba tiba ke bandung terus ngechat, “nis ketemuan yok, aku di bandung” jangan kaget ya hahahahahaha) (lalu ditendang) xD

      anw congrats nis udah selesai 3 prompts ya allah asa abis keluar dari macet-macetan langsung plong gitu hahahahaha xD yokshi nisa. and welcome baaaaaack! nis seriuslah kusuka kusuka kusuka sampe lima juta kali terus dipangkat tak hingga xD keep writing nisaaaa! ❤

      Liked by 1 person

    2. FIKAAAA HEHEHEHEHEHE :)) makasih banyak ya udah baca. sebenere ini semi curhat juga sih dan alasan aku belum kepikiran menikah juga sama sih kayak kamu, yaitu, masih pengen hura-hura WEKAWEKAWEKA. sama belum siaplah intinya mah, makanya suka salut sih sama mereka yang seumuran aku terus udah menikah. sumpah, langkah yang mereka ambil itu besar dan hebat :”) karena kalo balik lagi nanya ke diri sendiri, duh gila menikah, bukannya seneng malah ketakutan sendiri sih 😐
      iya fik ayoooo dong ke bandung xD nanti kita beli bolu pisang sambil ngegosip hehehe. daaaan iya banget ih lega promptnya udah selesai dikerjain semua, lunas deh :)) sekali lagi makasih banyak ya!

      Like

  1. CIYEEEEEE KAK NISAAAA. akhirnya kesampaian juga aku baca tuisan kak nisa setelah sekian lamanya menghilang dari dunia fana ini /engga ding/ hahahahaha. kenalkan, aku ivana, kak. kelahiran 96. salam kenal ya, kak /HAHAAHAHAHA/

    aku yang kaget masa pas baca kalimat awal. duh, ini topik sensitif nih. tapi dengan pengemasan ala kak nisa yang ketche, aku senang waktu baca ini. narasi kak nisa mah udah lah yaaa, aku mah butiran upil, kak nis. asik ah, sore-sore duduk sambil ngemil, bicara tentang kehidupan sama sosok ibu.

    ehm, apa ya. aku engga tau ini hasil pemikiran kak nisa sendiri atau dibuat hanya untuk tulisan belaka. tapi, aku yang ngerasa klop banget pas baca ini. aku sampai yang mikir, ‘kalau ini beneran pemikiran kak nisa di real life, berarti aku engga sendiri.” yha, sama kaya yang kakak bilang, setiap orang kan punya pandangannya masing-masing. tergantung kita mau liat dari sudut pandang yang mana, sih. kan prinsip orang beda-beda. sok atuh, kak niss ❤

    udah, ah. aku jadinya nyampis /ini akunya lagi bete buru-buru ke kampus tapi dosennya engga datang/ untung aja ada tulisan ini. seenggaknya kerinduan dalam diri ini dapat tersalurkan. keep writing yaa, teh nisaaaaaa ❤ ❤ ❤

    Like

    1. halo vana hihi aku juga akhirnya kesampaian nih nulis lagi. udah berapa bulan yha ga nulis? huhu lama sekali :(( thanks banget udah baca yaaaah, syukur kalo relate sama kamu, berarti aku beneran ga sendiri haha emang sih menikah itu bukan hal yang gampang dan perlu dipikirin banget :”) sekali lagi makasih ya vana ^^

      Like

  2. KANEZ TSADEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEST!!!

    mungkin akan terdengar sangat hiperboli, tapi, SUER TAKEWER-KEWER INI BERASA BACA ISI HATIKU, ABISE WHY SO RELATABLE KAK WHYYYY
    Iya memang aku masi 20 pas, tapi burden yang namanya ‘marriage’ tuh beneran kaya apa yang kanis tulis. TSADEST BEUHHHH ASLEK!!!
    Kenapa jadi burden? Kenapa ngga ada di wishlist atau bahkan to-do-list? Ya karena hal di atas itu XD ((lagi-lagi sama kanis uda dijabarin. Lengkap pisan!)) Jadi tuh kaya, kalo menurutku, ngga ada sela untuk pertanyaan ngulik macem, ‘ih kenapa sih nikah doang takut? Enak tau!’
    Sehingga mereka yang ngga sepemikiran, setelah baca ini setidaknya akan mau memaklumi, ooh ternyata soal itu.

    Dan rasanya beneran nyelekit kalo ‘soal itu’ dibilang sepele, lyke… u dunno how it feels, Bruh. Atau yha semacam akhire ngalah saja, oke mungkin aku paranoid. Tapi daripada berabe mah mending ngga dulu lah ya XD Toh yang pada bilang ‘enak tau’ itu juga gabakalan ikut tanggung jawab kalo beneran happen, so menikahlah kleyan dengan bahagia, dan aku akan kasi kado.
    #duhkojahadsik
    Lebih jahad kalo mempertaruhkan nasib calon anak dan calon masa depan dan kebebasanku hahahahhaha (yang terakher).

    Dilemmanya adalah disaat bersamaan muncul perasaan gaenak kalo orang tua resah dan gelisah karena tingkah kita. Rasanya okelah yuk minggirin ego. Tapi dipikir lagi tuh, lah wong yang nikah tar siapa, yang ngerasain siapa. Toh dengan ‘tidak menikah’ yang mana memperkecil kemungkinan memunculkan masalah baru, juga setidaknya bisa membahagiakan orang tua meski itu jaaaaaaaaaaaaaaaauh lebih sedikit dan ngga sebanding.
    Well, ada seribu cara membahagiakan orang tua anyway hahahhahaha ((yaelah ujungnya juga ngales))

    MAAF KANES JADI CURHAT KEMANE-MANE. ADUHLAH AKU MERASA AGAK GIMANA MALAH BUKA AIB DISINI HAHAHAHA TAPI SERIOUSLY AKU MAU MAKASIH BANYAK KANIS SUDAH NULIS INI BIKOS INI RELATABLE BANGET. SEMOGA SEMUA SEGERA PUNYA PENYELESAIANNYA MASING-MASING DAN YANG TERBAIK YHA ❤

    KANEZ TSADDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDEZT!!!
    KEEP BUGAR KANIS ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

    1. uwooo kakpang!!!!!!! komennya panjang banget aku speechless hahaha. soal curcolnya gapapa kok, pemikiran kita mirip soalnya. makanya pas baca, aku tuh yang mangut sambil mikir “iya aku juga gitu sih’ gitu kakpang hehehe.
      mungkin ini hanya masalah waktu saja kakpang, lambat laun ketakutan kita bakal teredam oleh kesiapan kita :”) tapi untuk saat ini, tetep siiiiih aku masih takut untuk menikah HAHAHAHA
      makasih banyak ya kakpang udah baca dan komen ❤

      Like

  3. … dan karena resiko itulah kami lebih memilih untuk menyingkirkannya.
    >> huhuhu, kalimat penutupnya :^)
    Jujur aku tipe yg ngebet pas remaja2 labil #halah, tapi sekarang rasanya marriage life itu sesuatu yg sakral yg gak bisa secara gampang dibentuk,bahkan lebih krusial *?* ketimbang milih mau bekerja apa setelah kuliah kelar, huhuhu..
    Aku jadi sedikit menyesal suka ngomporin nikah2 ini ke temen yg udah kelamaan pacaran *?*, mungkin ada di antara mereka yg sperti ini juga, mungkin aku dah nyakitin hati merekaa *sobs* *udahstopstop*
    Yoshie, keep writing kaknis! 😀

    Like

  4. Wah temanya xD

    Eum gimana ya, gimana ya, jadi gini…,
    Dulu suka banget baca ff yang married life gitu, sampe mikir kayanya nikah muda enak ya wkwkwkw #korbandelusi

    Tapi sekarang liat yang pacaran aja dramanya banyak banget… Kebayang capeknya aja gitu, apalagi nikah yang notabanenya hal sakral dan oh ayolah nikah itu taruhan hidup, kamu, aku dan nanti yang hadir diantara kita /eyaaa

    Tapk aku agak serem sih sama Pangku… hubungannya memang kaya gitu mungkin, tapi gak tahu kenapa serem aja gitu saat ada orang yg nyaman tapi ga berharap lebih,wah jangan jangan ada hal lain juga. Bawaannya curiga aja wkwkw

    Aku merasa berdosa sekarang selalu bertanya kapan nikah sama kaka-kaka kelas hahaha padahal akunya sendiri parno kalo misalnya punya ikatan lebih sama lawan jenis. Well, aku suka sama kalimat yang nyebutin bahwa nikah bukan klimaks dari kehidupan kita. Wooo wooo wooo aku suka.

    Like

    1. hahaha iya sama. 5 taun lalu aku juga mikir kalo nikah tuh kayaknya seru wkwk sekarang mah boro-boro, parno yang ada. makasih banyak ya udah baca ehehehe ^^

      Liked by 1 person

  5. kak nisaaaa, nabil tujuh belas aja belom jadi ga ngerti sih kenapa ada orang belum mau nikah, padahal nabil suka berdoa “ya Allah, semoga sebelum kiamat nabil udah nikah” wahahaha xd tapi pas baca tulisan ini, “oooh mikirin nikah tuh serem yaaa dari sudut pandang yang ini”

    nabil kaya lagi belajar di sekolah pra nikah ajaaa wahaha :))) bagian suruh mas deva (btw guru ppl nabil namanya juga deva) poligami, terus ‘kamu harus segera bertobat, sebentar lagi kiamat’. ngakak banget dibaca di tengah pikiran nabil yang njlimet baca topik yang giniii hihihi

    welcome back kak nisaa ❤

    Like

  6. kalo doa yang itu mah sih sering aku munajatkan juga bil xD eaaak. ah tapi kayaknya nikah ga serem bil, ini mah buah dari keparnoan berlebih aja jadi kesannya serem hohoho.
    oyaaa? nama guru ppl-nya deva? deva mahendra bukan? ehe. makasih banyak lho udah baca topik yg sebenernya lebih cocok buat 20-something ini wkwk someday nabil pasti akan mengerti ^^ sekali lagi makasih banyaaak.

    Like

  7. KAK NISAAAAAA HUHU MAAFKAN DAKU BARU KOMEN ((NINGGAL LIKE UDAH KOK KAK NIS UDAH)).

    /matiinkepslok/
    Gatau ini tuh prompt yang aku tunggu-tunggu banget dan ternyata pengemasannya oke banget…. aku jadi inget sama salah satu cerita yang disuguhkan author lain, but di wattpad, intinya sama. SAMA BANGET malah. ga pengen bikin siapa-siapa terluka. Soalnya duh kita sama tahu lah yha kehidupan sekarang ibu bunuh anak lah, yang ayahnya ngelukain anaknya sendiri, dan broken home di mana-mana, ga tabu lagi anak ga keurus karena broken :” suka pengen nangis kalo denger cerita temen-temenku yang ngalamin langsung, dan hamdalahnya aku enggak :’)

    Tapi emang ngga bisa lepas dari nilai budaya, kalo uda umur segitu dan belum nikah tuh aneh, berasa ga laku gitu dah. Duhhhh pokonya suka banget lah sama pengemasan cerita yang simpel dan bermakna, sepet-sepet piyee gitu. eh btw tau sepet gak? agak-agak pait gitu heheheheh. Keep writing uri Ka Nisaaa!!

    Like

    1. halo niswa, maaf juga nih baru bales komennya.
      pernikahan itu rumit banget sih soalnya, bukan cuma masalah hidup bareng lalala yeyeye hahaha banyak banget kemungkinan hal tidak menyenangkan terjadi, mending kalau teratasi, kalau enggak kan? :”)
      makasih banyak yaaa niswa udah baca hehe. kamu juga semangat terus nulisnya!

      Like

  8. aih terima kasih put koreksiannya, sudah kuedit ❤
    iyaya kalo dipikir-pikir ._. kok njawani??? apa diam-diam aku pengen punya pasangan orang jawa makanya tulisanku suka agak kejawa-jawaan??? ehe.
    alhamdulillah put kalo tulisanku bisa memberi perspektif baru buat kamu :") makasih banyak ya put dah baca. kalo sama taeyong………… AAAAAAH MANA MAU AKU MISOGAMI HAHAHA ❤

    Like

  9. Aku… hmmm, mari dimulai dengan aku merasa bahwa ini tulisan soal setengah kak nisa sendiri, dan aku cukup bisa relate. Kalo ibuku ngomong, “Nanti kamu kalo nikah…”, aku yang kayak, “Emang nikah kapan ya? Belum ada di rencana hidup.” Hahaha. Terus, mau banget punya Pangku (lagi) LOLOL. Orang yang gak terlalu mikirin masa depan kita mau ke mana, jalanin aja dulu, tapi bisa diajak ngomong serius dan setipe juga.

    Anyway, buat tulisannya sendiri as always aku suka banget ❤︎ tulisannya kak Nisa itu pembawaannya beda dari yang lain, santai dan berani, bakal suka sampai entah kapan hahaha.

    Last, keep making something kak! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s